Penyebab Nyeri Betis: Mulai dari Kram Otot Hingga Penggumpalan Darah


By Cindy Wijaya

Ada berbagai penyebab nyeri betis, mulai dari cedera otot hingga masalah kesehatan kronis yang memengaruhi aliran darah dan fungsi saraf. Sering kali penyebabnya adalah karena cedera ringan, mislanya karena terkilir, atau kram di kaki.

Namun rasa nyeri yang parah atau sakit betis tak kunjung sembuh bisa menjadi tanda bahwa otot-otot tersebut tidak mendapat cukup aliran darah. Dalam artikel ini akan dibahas mengenai apa penyebab nyeri betis serta kapan nyeri betis harus diperiksakan ke dokter.

Ada Berbagai Jenis Nyeri Betis

Nyeri betis bisa dibagi menjadi dua jenis: nyeri yang berkaitan dengan otot, dan nyeri yang tidak berkaitan dengan otot. Nyeri otot biasanya akibat cedera fisik, yang sering terjadi saat berolahraga atau aktivitas fisik lainnya.

Di sisi lain, jika nyeri betis Anda tidak jelas penyebabnya, itu mungkin ada masalah kesehatan yang mendasarinya. Nyeri yang tidak berkaitan dengan otot dapat disebabkan oleh kerusakan pada saraf, penyakit arteri, cedera berat, atau hal lainnya.

Apa Penyebab Nyeri Betis yang Berkaitan dengan Otot?

Cedera pada otot betis bisa terjadi mendadak (cedera akut) atau terjadi seiring waktu (cedera penggunaan berlebihan). Keduanya umum terjadi pada olahraga yang membutuhkan gerakan-gerakan cepat, seperti tenis, sepak bola, atau lari cepat. Rasa nyeri otot betisnya berkisar dari kram hingga robekan.

Kram Otot Betis

Kejang atau kram otot betis maksudnya adalah kontraksi tiba-tiba yang tidak disengaja pada satu atau beberapa otot betis. Sekitar 60% orang dewasa mengalami nyeri betis pada malam hari akibat kram atau kejang otot, yang rata-rata berlangsung 9 menit setiap kali. Setelahnya, otot betis mungkin terasa sakit hingga beberapa hari.

Kram otot betis bisa sangat kencang dan menyakitkan, dan bahkan mungkin ada simpul yang terlihat atau sensasi berkedut.

Tidak jelas apa penyebabnya, namun ada beberapa dugaan. Pertama, kram betis mungkin terkait dengan kelelahan otot setelah olahraga keras. Kedua, beberapa obat dapat memicunya, seperti clonazepam, celecoxib, zolpidem, dan naproxen. Ketiga, ada masalah kesehatan yang memicu kram kaki, termasuk penyakit arteri koroner dan sirosis.

Ketegangan Gastroknemius

Ketegangan gastroknemius adalah cedera akut yang terjadi ketika otot betis tiba-tiba meregang. Hal itulah yang dapat menjadi penyebab nyeri betis karena robekan kecil pada serat otot.

Ketegangan gastroknemius sering terjadi selama olahraga atau aktivitas fisik yang melibatkan lari cepat atau melompat. Ini adalah salah satu jenis ketegangan otot betis yang paling umum.

Beberapa orang mungkin mendengar bunyi “pop” saat cedera terjadi, dan mungkin tidak terasa sakit saat itu. Biasanya, rasa sakit muncul setelah mengambil beberapa langkah, dan itu dapat digambarkan sebagai nyeri tajam atau robek.

Jika ketegangannya parah, mungkin akan ada pembengkakan dan memar. Dalam beberapa kasus, rasa sakitnya mungkin terlalu parah sehingga susah berjalan.

Memar Otot Betis

Memar otot betis terjadi ketika pembuluh darah di bawah kulit robek atau pecah. Akibatnya, pembuluh darah bocor ke jaringan otot.

Cedera jenis ini sering terjadi setelah seseorang terjatuh, terbentur sesuatu, atau terkena hantaman ke betis. Biasanya, memar menyebabkan perubahan warna kulit, disertai dengan nyeri saat ditekan atau rasa sakit parah. Pembengkakan juga dapat membatasi kemampuan untuk bergerak.

Dengan istirahat dan perawatan, darah di bawah kulit akan diserap kembali ke dalam tubuh saat memar sembuh. Namun, memar kadang dapat menyebabkan hematoma—pengumpulan darah di bawah kulit.

Kebanyakan hematoma bisa sembuh dengan sendirinya. Tapi dalam kasus yang parah, dokter mungkin harus melakukan pembedahan untuk mengalirkan darahnya, terutama jika ada risiko infeksi.

Ketegangan Otot Soleus

Otot soleus dibutuhkan agar kita bisa mengangkat tumit dari tanah. Otot ini juga penting untuk menstabilkan postur tubuh saat berjalan atau berlari, mencegah kita jatuh ke depan.

Otot ini sangat penting bagi pelari. Karena itu ketegangan otot soleus adalah cedera yang umum terjadi pada pelari jarak jauh.

Jika apa penyebab nyeri betis Anda adalah ketegangan otot soleus, Anda mungkin merasakan nyeri atau tekanan yang dalam saat menekan tendon Achilles, berjalan berjinjit, atau menarik jari-jari kaki ke arah tulang kering.

Banyak pelari tidak ingat dengan kejadian tertentu yang menyebabkan ketegangan soleus mereka. Sebaliknya, gejala cenderung muncul secara bertahap dari waktu ke waktu, dimulai dengan kelelahan otot betis. Pembengkakan, memar, dan rasa sakit yang tajam dapat memburuk hingga sangat menyulitkan untuk berlari.

Ruptur Otot Plantaris

Ruptur otot plantaris terjadi ketika banyak beban tubuh tiba-tiba diletakkan di pergelangan kaki saat lutut diluruskan. Jika penyebab nyeri betis adalah kondisi ini, Anda mungkin merasakan sakit yang tiba-tiba di bagian belakang kaki saat cedera terjadi.

Memar, nyeri, dan bengkak mungkin akan terjadi dalam beberapa menit, jam, atau bahkan berhari-hari setelah cedera terjadi. Beberapa orang mungkin juga mengalami kram pada otot betis mereka. Untungnya, cedera ini juga bisa sembuh dengan sendirinya.

Apa Penyebab Nyeri Betis yang Tidak Berkaitan dengan Otot?

Di samping masalah pada otot betis, ada berbagai penyebab lainnya yang tidak berkaitan dengan otot betis. Rasa sakit di betis mungkin berasal dari masalah saraf, masalah sendi lutut, atau masalah pada kaki dan pergelangan kaki. Anda mungkin membutuhkan perawatan dokter atau terapi fisik jika penyebabnya adalah hal-hal tersebut.

Tendinitis atau Ruptur Achilles

Tendon Achilles adalah tendon terbesar di tubuh. Letaknya ada di sisi belakang kaki dan menghubungkan otot betis ke tulang tumit.

Jika tendon mengalami iritasi, biasanya karena terlalu sering digunakan, Anda mungkin meraskaan sakit yang membakar di bagian belakang kaki, biasanya tepat di atas tumit. Anda mungkin juga mengalami nyeri dan kaku di betis. Kondisi ini disebut sebagai tendinitis Achilles.

Sedangkan jika terjadi robekan di tendon Achilles, itu disebut sebagai ruptur Achilles. Saat tendon robek, Anda mungkin mengalami rasa sakit yang parah dan tiba-tiba di bagian belakang kaki. Anda mungkin juga kesulitan untuk menahan beban pada kaki Anda. Beberapa orang juga mendengar bunyi “pop” ketika cedera terjadi.

Bekuan Darah

Bekuan darah atau gumpalan darah dapat terbentuk di vena dalam kaki—suatu kondisi yang disebut sebagai trombosis vena dalam. Ini dapat menyebabkan pembengkakan, kemerahan, kehangatan, dan nyeri kram yang lembut di betis.

Ada beberapa kondisi tertentu yang membuat seseorang berisiko mengalaminya, seperti: bertambahnya usia, kehamilan, kegemukan, kurang aktivitas fisik, kanker, dan baru saja operasi.

Apabila penyebab nyeri betis adalah bekuan darah di vena dalam kaki, Anda kemungkinan akan mengalami rasa nyeri yang disertai kemerahan dan bengkak. Mungkin juga terasa hangat atau panas. Bila tidak diobati, bekuan darah kadang bisa mengalir ke paru-paru (emboli paru) dan mengancam jiwa.

Kista Baker

Kista Baker sebenarnya bukanlah kista, melainkan kumpulan cairan di sendi lutut yang terkumpul di belakang lutut. Ini biasanya terjadi pada orang yang menderita radang sendi (artritis).

Jika kista Baker pecah, cairannya bisa bocor ke daerah betis, menyebabkan rasa sakit di betis yang disertai pembengkakan.

Saraf Terjepit

Saraf terjepit ketika saraf betis menjadi tertekan oleh jaringan di sekitarnya. Ini bisa terjadi karena penggunaan berlebihan atau cedera mendadak.

Saraf yang paling rentang mengalami saraf terjepit adalah saraf peroneal. Saat saraf peroneal terjepit, Anda mungkin merasakan mati rasa, kesemutan, dan nyeri tajam di kaki atau bagian atas kaki.

Dalam kasus yang parah, saraf peroneal yang terjepit dapat menyebabkan foot drop—kesulitan mengangkat bagian depan kaki karena kelemahan otot.

Sciatica

Saraf sciatica, yang terbesar di tubuh, ada di kedua kaki kanan dan kiri. Ini mengirimkan impuls saraf bolak-balik antara kaki dan tulang belakang, dan mengontrol aktivitas motorik (gerakan) di kaki kita.

Nyeri saraf sciatica sangat umum terjadi dan dapat memengaruhi betis. Seperti banyak kondisi nyeri kronis lainnya, beberapa orang mengalami lebih banyak nyeri betis pada malam hari.

Nyeri sciatica disebabkan oleh saraf yang terjepit, jadi pengobatannya sering difokuskan untuk mengatasi rasa sakit melalui obat-obatan dan kadang pembedahan jika sakit betis tak kunjung sembuh. Perawatan juga dapat mencakup terapi fisik dan perawatan akupunktur.

Tendinitis Popliteus

Tendon popliteus membungkus sendi lutut kita, menghubungkan tulang paha dengan otot popliteus. Tendon popliteus dan otot popliteus kita bekerja sama untuk memutar dan menstabilkan lutut.

Tendinitis popliteus terjadi ketika tendon meradang, biasanya karena penggunaan yang berlebihan. Ini menyebabkan rasa sakit tepat di atas betis serta di belakang dan samping lutut. Rasa sakitnya memburuk saat berjalan atau berlari menurun.

Dalam kasus yang jarang terjadi, tendon popliteus juga bisa robek. Ini adalah cedera akut yang biasanya disebabkan oleh trauma, seperti pukulan langsung ke bagian dalam lutut. Cedera tersebut menyebabkan rasa sakit dan pendarahan ke dalam sendi lutut.

Arteri Popliteal Terjepit

Arteri popliteal terjepit apabila otot gastroknemius memberi tekanan pada arteri popliteal—arteri di bagian belakang kaki dan lutut. Ini dapat membatasi aliran darah di kaki.

Kondisi ini mungkin bawaan (sudah ada saat lahir) atau mungkin berkembang seiring waktu. Ini biasanya terlihat pada atlet muda, karena arteri popliteal mereka menjadi tertekan saat tubuh mereka masih bertumbuh.

Gejala arteri popliteal yang terjepit antara lain kram, tekanan, dan nyeri di betis, terutama setelah aktivitas fisik kaki bagian bawah yang kuat, seperti bersepeda atau berlari.

Penyakit Arteri Perifer dan Klaudikasio

Penyakit arteri perifer dapat mengurangi aliran darah di arteri kaki bagian bawah, yang menyebabkan klaudikasio (nyeri kram saat beraktivitas). Ini karena arteri yang menyemut atau tersumbat di paha tengah atau lutut.

Jika penyebab nyeri betis adalah klaudikasio, Anda mungkin merasakan sakit juga di tempat-tempat lain, seperti di pantat, pinggul, paha, dan/atau kaki saat berjalan jarak pendek. Beberapa orang mengalami rasa sakit di kaki mereka saat berbaring di tempat tidur, misalnya nyeri betis pada malam hari—ini adalah tanda bahwa kondisinya semakin parah.

Kapan Sebaiknya Nyeri Betis Diperiksakan ke Dokter?

Jika Anda tidak yakin apa penyebab nyeri betis yang Anda rasakan, atau jika tidak tahu cara merawat kondisi Anda, sebaiknya lakukan pemeriksaan ke dokter. Perawatan yang akan disarankan dokter bisa berbeda-beda tergantung pada penyebab spesifik dari nyeri betis Anda.

Berikut adalah beberapa tanda bahwa Anda harus periksa ke dokter:

  • Tidak mampu untuk berjalan dengan nyaman di sisi yang sakit.
  • Cedera yang menyebabkan kelainan bentuk kaki bagian bawah.
  • Nyeri betis pada malam hari atau saat istirahat.
  • Sakit betis yang tak kunjung sembuh
  • Pembengkakan di bagian betis atau pergelangan kaki.
  • Muncul tanda-tanda infeksi, seperti demam, kemerahan, dan kehangatan.
  • Mengalami gejala-gejala tidak biasa lainnya.

Apabila penyebab sakit betis adalah cedera yang cukup parah, Anda mungkin membutuhkan terapi fisik untuk memulihkannya. Dokter bisa merekomendasikan terapi fisik yang cocok sesuai kebutuhan Anda. Dan Anda mungkin membutuhkan obat-obatan atau perawatan medis lainnya jika penyebabnya adalah masalah pada saraf, aliran darah, atau patah tulang.

Demikianlah artikel ini yang membahas tentang apa penyebab nyeri betis. Sering kali penyebabnya hanya cedera ringan dan dapat membaik dengan sendirinya. Tetapi sebagian penyebabnya cukup serius dan membutuhkan perawatan oleh dokter.

Sumber

Verywell Health. Causes of Calf Pain and Treatment Options. URL: https://www.verywellhealth.com/causes-of-calf-pain-and-treatment-options-2549387

Cleveland Clinic. Calf Muscle Pain. URL: https://my.clevelandclinic.org/health/symptoms/22274-calf-muscle-pain

Healthline. Calf Pain: Causes and Treatments. URL: https://www.healthline.com/health/calf-pain

Tentang Penulis

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting oleh Cindy Wijaya seorang editor dan penulis beragam artikel kesehatan. Ia senang meriset dan berbagi topik-topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Tinggal di Bogor “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan. Silakan klik di sini untuk kontak penulis via WhatsApp.

Anda mendapat manfaat dari artikel-artikel kami? Mohon berikan ulasan untuk terus menyemangati kami menulis > Google Review

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}