Pemakaian Obat Tergantung Kondisi Pasien


By Fery Irawan

Harus dipahami bahwa penggunaan obat-obatan pada tiap-tiap orang harus dibedakan berdasakan kondisi yang dialaminya. Meskipun penyakitnya sama, namun pemakaian obatnya tak bisa disamaratakan.

Misalnya, penggunaan obat pada orang normal dengan wanita yang sedang hamil harus dibedakan karena perempuan hamil sangat rentan terhadap pemakaian obat dan harus selalu dikonsultasikan dengan dokter. Mari kita perhatikan beberapa kondisi yang harus dipertimbangkan sewaktu hendak mengonsumsi obat.

Penggunaan Obat pada Wanita Hamil

Pada wanita hamil, sebisa mungkin untuk menghindari pemakaian obat jenis apapun terutama pada trimester pertamanya. Penggunaan obat pada wanita hamil sangat beresiko menimbukan kecacatan pada bayi terutama ketika obat yang dikonsumsi tersebut kemudian tembus sampai ke plasenta.

Pemberian obat pada wanita hamil bisa dipertimbangkan apabila pemakaian obat tersebut memiliki manfaat yang lebih besar bagi wanita tersebut dan tanpa atau hanya beresiko kecil bagi janinnya.

Intinya, penggunaan obat pada wanita hamil harus sangat hati-hati dan diresepkan oleh dokter dan juga untuk jangka waktu pemakaian yang sesingkat mungkin.

Penggunaan Obat untuk Ibu Menyusui

Tak jauh berbeda dengan wanita hamil, pemakaian obat pada masa menyusui juga cukup rentan bagi si bayi. Obat yang diminum oleh sang ibu dapat memengaruhi air susu.

Misalnya, perempuan dengan penyakit gondok kemudian meminum obat untuk gondok dan kandungan obatnya diminum oleh bayinya ketika menyusui sangat beresiko karena sang anak dapat menjadi kerdil.

Sedapat mungkin, hindari penggunaan obat pada wanita yang menyusui atau menghentikan pemberian air susu ibu (ASI) jika pemakaian obat harus dilanjutkan.

Jika penggunaan obat diperlukan, pakailah obat dengan efek samping teraman, terutama obat-obatan yang memiliki ijin untuk digunakan pada bayi. Konsultasikan pada dokter untuk memperoleh saran yang tepat sehubungan dengan penggunaan obat yang aman pada saat menyusui.

Penggunaan Obat pada Bayi dan Anak

Sebagaimana diketahui, anak-anak belum mencapai taraf sempurna tingkat pertumbuhannya sehingga penggunaan obat dapat memunculkan beragam resiko. Pada bayi yang berumur 6 bulan, ginjal belum efisien mensekresikan obat sehingga dapat mengakibatkan konsentrasi yang tinggi di darah.

Pada organ hati, enzim-enzim belum terbentuk sempurna sehingga obat tidak termetabolisme dengan baik dan dapat mengakibatkan konsentrasi obat yang tinggi di tubuh anak.

Seringkali, dosis bagi anak-anak sulit untuk ditentukan. Pemanfaatan pengalaman klinis merupakan acuan terbaik dalam menentukan dosis yang paling sesuai untuk bayi maupun anak-anak.

Penggunaan Obat pada Lansia

Jika pada bayi dan anak-anak organ-organ tubuhnya masih belum sempurna, pada lansia justru kemampuan organ-organ tubuh tersebut telah mengalami penurunan. Proses penuaan akan mengakibatkan terjadinya beberapa perubahan fisiologi, anatomi, psikologi, dan sosiologi.

Perubahan fisiologi yang terkait usia dapat menyebabkan perubahan yang bermakna dalam penatalaksanaan obat.  Anda sebaiknya perlu memiliki pengetahuan menyeluruh tentang perubahan-perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik yang muncul.

Penggunaan obat yang tidak tepat merupakan problem utama dalam terapi pasien lanjut usia. Keahlian klinis farmasis, termasuk evaluasi terhadap pengobatan, dapat digunakan untuk memperbaiki pelayanan dalam bidang ini.

Efek samping obat lebih sering terjadi pada mereka yang lanjut usia. Pasien lanjut usia tiga kali lebih beresiko masuk rumah sakit akibat efek samping obat.

Oleh sebab itu, sebaiknya mulai sekarang harus diperhatikan pemakaian obat pada orang-orang yang termasuk dalam kondisi khusus di atas. Obat memang dimaksudkan untuk menyembuhkan namun kalau diberikan kepada mereka yang sedang hamil, menyusui anak, atau usia lanjut tanpa pengawasan maka yang terjadi sangat mungkin bukanlah kesembuhan melainkan resiko yang lebih besar.

Tentang Penulis 

Fery Irawan

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting dan di-review oleh Fery Irawan seorang editor sekaligus penulis yang antusias dan sadar untuk memberikan informasi kesehatan yang tidak berat sebelah. Aktif menulis beragam artikel kesehatan selama beberapa tahun terakhir. Ia selalu berupaya menyampaikan informasi yang aktual dan terpercaya, sesuai dengan ketentuan dan prinsip jurnalistik yang ada.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}