Modifikasi Gaya Hidup dan Faktor Resiko untuk Pengobatan Penyakit Jantung


By Fery Irawan

Modifikasi gaya hidup dan faktor resiko adalah bagian dari pengobatan penyakit jantung koroner yang tidak terpisahkan. Tak hanya itu, gaya hidup dan modifikasi faktor resiko juga merupakan sarana pencegahan penyakit jantung yang bisa dilakukan oleh setiap individu.

Penyebab jantung koroner dan kelainan jantung lainnya lebih baik dicegah sebelum terlambat. Namun, jika sudah divonis mengidap penyakit jantung, perubahan gaya hidup dan penurunan faktor resiko sangat membantu pengobatannya.

Berhenti Merokok

Merokok dianggap sebagai faktor resiko utama terhadap perkembangan kematian otot jantung (myocardial infarction) yang fatal maupun yang tak fatal.

Pada penderita penyakit jantung yang meneruskan kebiasaan merokoknya, mereka memiliki persentase kematian hingga 82%. Sedangkan mereka yang memilih untuk berhenti hanya memiliki 37% persentase kematian.

Banyak dokter yang akan memberikan berbagai bentuk dukungan untuk berhenti merokok bahkan bagi mereka yang dikategorikan sebagai perokok berat (lebih dari 10 batang/hari) akan ditawarkan terapi pengganti nikotin sebab keberhasilan dengan terapi ini cukup tinggi.

Perubahan Pola Makan/Modifikasi Diet

Perubahan pola makan sangat jelas merupakan tambahan yang dianjurkan sebagai terapi penurunan lemak. Namun, diet rendah lemak hanya akan menurunkan kadar kolesterol dalam darah sebesar 5% bahkan untuk mereka yang konsisten.

Sedangkan modifikasi dalam diet akan memberikan keuntungan lebih berupa sarana pencegahan. Keuntungan lebih ini biasanya didapatkan oleh mereka yang menerapkan pola Mediteranian diet atau yang menambahkan lemak ikan beromega tinggi.

Selain itu, mengonsumsi minuman beralkohol maksimal 21-28 unit per minggu (1 unit=8gr) untuk pria dan 14-21 unit untuk wanita dapat menurunkan resiko terserang jantung koroner.

Obesitas

Ada hubungan erat antara indeks masa tubuh/body mass index (BMI) dengan resiko penyakit jantung. Tidak ada percobaan yang dilakukan untuk menunjukkan bahwa penurunan berat badan pada pasien obesitas dengan penyakit jantung koroner akan berefek pada gejala yang timbul.

Baca Juga:  Ternyata, Tidur Siang Bisa Menekan Resiko Terkena Penyakit Jantung

Namun, sangat masuk akal bahwa penurunan berat badan akan menurunkan frekuensi angina, faktor resiko penyakit jantung seperti hipertensi dan diabetes melitus, dan prognosis (prediksi tentang penyakit: akan sembuh/tidak, dengan cacat atau tidak).

Olahraga dan Pemulihan Jantung

Dibandingkan mereka yang menghabiskan sepanjang hari tanpa bergerak, mereka yang aktif melakukan olahraga hanya memiliki resiko penyakit jantung 1/2 nya saja. Olahraga teratur akan berefek pada tekanan darah dan kadar lemak.

Para ahli menyarankan untuk olahraga minimal 3 kali seminggu, 30 menit setiap kali berolahraga. Olahraga aerobik rutin akan memproteksi seseorang dari bahaya berkembangnya penyakit jantung koroner.

Menurunkan Faktor Resiko Penyakit Jantung

Jika seseorang memiliki faktor resiko penyakit jantung seperti diabetes melitus, hipertensi, dan hiperkolesterolemia, maka faktor resiko ini harus diobati. Banyak dari penderita diabetes bukan meninggal akibat penyakit gula itu sendiri tetapi karena komplikasi jantung.

Orang dengan jantung koroner diwajibkan untuk memiliki tekanan darah di bawah 140/85 mmHg. Penderita hiperkolesterolemia dengan kadar kolesterol rata-rata (<5.0 mmol/L) dianjurkan untuk menjalani terapi penurunan lemak hingga kadar lemak mencapai kurang dari 4.0 mmol/L.

Tentang Penulis 

Fery Irawan

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting oleh Fery Irawan seorang editor sekaligus penulis yang antusias dan sadar untuk memberikan informasi kesehatan yang tidak berat sebelah. Aktif menulis beragam artikel kesehatan selama beberapa tahun terakhir. Ia selalu berupaya menyampaikan informasi yang aktual dan terpercaya, sesuai dengan ketentuan dan prinsip jurnalistik yang ada.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}