Mikrosefalus: Cacat Ukuran Otak pada Bayi

613

Diedit:

Dalam ulasan artikel sebelumnya mengenai bahaya Virus Zika, terdapat salah satu bahasan mengenai bahaya Zika jika menyerang wanita hamil. Meski masih dalam tahap riset, bukti-bukti menguatkan kalau ibu hamil yang terserang Virus Zika bisa menularkan virus tersebut pada janin di kandungannya dan menyebabkan bayi lahir dengan kondisi mikrosefalus.

Apa Itu Mikrosefalus?

Apa sebenarnya mikrosefalus? Apakah risiko yang harus dihadapi ketika seorang bayi lahir dengan kondisi mikrosefalus? Dan, apa pengaruh dari keberadaan Virus Zika pada ibu hamil sehingga dapat menyebabkan mikrosefalus?

Berdasarkan pandangan Charles Patrick Davis, MD, PhD, salah seorang pakar kesehatan anak dalam ulasannya di laman kesehatan Medicinenet, dikatakan bahwa mikrosefalus adalah kondisi ketika otak dan jaringan di dalamnya tidak berhasil tumbuh sempurna sebagaimana pada bayi normal sehingga berbentuk lebih kecil dari ukuran seharusnya.

Ukuran yang kecil dari otak juga akan diikuti dengan bentuk tempurung kepala yang terlihat sedikit mengerucut dan datar di puncaknya sehingga wadah otak juga akan lebih kecil dari wadah seharusnya pada bayi normal.

Pada beberapa anak, kondisi mikrosefalus justru tidak tampak di awal kelahiran. Setidaknya bentuknya belum terlalu menonjol dan kentara. Kadang bentuk kepala mikrosefalus baru terlihat setelah anak berusia diatas 1 tahun. Beberapa kondisi mikrosefalus juga baru disadari orang tua setelah anak terlihat kesulitan belajar berjalan dan bicara serta kesulitan menunjukan beberapa refleks normal.

Apa Penyebab Mikrosefalus?

Menurut laman Mayoclinic, penyebab mikrosefalus sendiri belum sepenuhnya bisa dipahami. Namun beberapa kasus diyakini disebabkan oleh faktor genetik dan DNA. Beberapa yang lain diakibatkan keracunan darah oleh toksin yang terserap janin sehingga mengganggu keseimbangan DNA dalam tubuh janin selama masa pertumbuhannya dalam rahim.

Beberapa keluarga dengan garis keturunan yang memiliki banyak anggota keluarga dengan kondisi down syndrome dan beberapa keluhan saraf dan motorik lain bisa saja memiliki keturunan dengan kondisi mikrosefalus.

Namun sebagian besar kasus mikrosefalus justru berasal dari akibat radioaktif dan serangan virus tertentu yang mengganggu kondisi pertumbuhan sel otak. Beberapa jenis virus yang perlu diwaspadai oleh ibu hamil antara lain Rubella, Zika, Cytomelovirus, Varicella, Pneumococcus dan beberapa serangan virus ganas lain.

Virus-virus ini mengganggu pembentukan sel-sel dalam otak janin, membentuk impuls dan korteks otak yang biasanya terjadi sepanjang usia kehamilan 4 bulan hingga 8 bulan. Ketika menginjak usia 6 – 7 bulan dimana proses pembentukan tempurung kepala disempurnakan, maka tengkorak akan terbentuk lebih kecil sesuai dengan ukuran otak yang terbentuk.

Ditemukan pula beberapa kondisi bayi dengan mikrosefalus yang ibunya punya riwayat kecelakaan selama kehamilan. Ini dapat memicu terjadinya kerusakan pada jaringan otak serta masalah suplai oksigen yang menyebabkan aliran darah dan oksigen menuju otak janin tidak maksimal. Otak janin adalah jaringan semi-jadi yang masih sangat rapuh, sehingga kesalahan kecil bisa menyebabkan kerusakan yang fatal.

Kerusakan jaringan dalam otak kadang juga mengacaukan pertumbuhan dan pembentukan jaringan otak. Sehingga pertumbuhan otak yang awalnya berjalan normal akan mengalami hambatan untuk kembali tumbuh hingga terbentuk ukuran otak yang lebih kecil.

Efek dari Mikrosefalus

Kondisi yang muncul pada anak dengan kondisi mikrosefalus bisa berbeda-beda bergantung pada keparahan kondisi otak dan seberapa jauh perlambatan pertumbuhan otak yang terjadi dan secepat apa penanganan yang diberikan pada anak.

Sebagian besar kasus mikrosefalus akan menyebabkan anak mengalami kondisi serius dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Mereka akan mengalami kesulitan untuk berjalan dan menggerakan tubuh mereka, mengendalikan sistem motorik dan refleks mereka. Sebagian besar pasien mikrosefalus juga mengeluhkan anak yang kesulitan bicara. Mereka juga cenderung lemah dalam kemampuan mengingat serta menangkap informasi.

Mereka cenderung tumbuh lebih pendek dari teman sebayanya, cenderung tampak gemuk dan lemas karena otak juga terganggu dalam memberikan sinyal kepada sel untuk melakukan pembakaran. Beberapa juga mengalami ketidakseimbangan tubuh, mata sedikit juling, dan kondisi otot yang lemah. Dijumpai juga beberapa kasus penderita mikrosefalus yang mudah kejang.

Beberapa anak dengan mikrosefalus masih bisa menjalankan hidup normal atau hanya menunjukan sebagian gejala saja. Efek yang paling sering muncul adalah keluhan dalam berjalan, motorik, dan kemampuan bicara. Namun sebagian hanya mengalami sedikit gejala saja tanpa tanda-tanda lain sebagaimana disebutkan di atas. Bahkan beberapa anak mampu menumbuhkan jaringan otaknya menyusul ukuran normal anak seusianya seiring berjalannya usia mereka.

Apa Perawatan Khusus untuk Mikrosefalus?

Perawatan bagi anak penderita mikrosefalus sangat bergantung pada seberapa parah kondisinya dan sebaik apa perawatan yang dilakukan kepada anak. Pakar kesehatan Charles Patrick Davis, MD, PhD mengatakan bahwa perawatan sejak awal akan memberi efek positif pada anak.

Karena di usia dini kondisi tengkorak belum sepenuhnya mengeras sehingga masih memungkinkan untuk mendorong ukuran tengkorak untuk menjadi lebih lebar dengan memacu pertumbuhan otak sebaik mungkin. Meski begitu, tidak ada satupun terapi yang memiliki kemampuan untuk mengembalikan ukuran otak pada ukuran normal yang seharusnya.

Terapi cenderung bekerja untuk membantu mengaktifkan pertumbuhan, menekan beberapa kondisi kelemahan yang dapat muncul, dan membantu mengaktifkan sel-sel otak serta impuls yang ada.

Biasanya terapi yang dilakukan berupa pengobatan saraf dengan asupan berbagai jenis vitamin dan asam amino khusus untuk membantu meredam efek kejang dan membantu mendorong perkembangan sistem saraf seoptimal mungkin.

Beberapa anak harus menjalankan diet untuk menekan efek hiperaktif dan membantu mengoptimalkan sistem saraf mereka. Tentu saja akan diperlukan beberapa fisioterapi seperti latihan bicara, latihan jalan, dan bantuan latihan pada otot.

Meski banyak anak dengan kasus mikrosefalus bisa bertahan dan hidup dengan baik, tetapi dengan memahami gambaran mengenai apa itu mikrosefalus, sebaiknya ibu hamil tetap berhati-hati menghindari kondisi-kondisi yang bisa menyebabkan bayi lahir dengan mikrosefalus.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai cara melindungi janin dalam kandungan Anda dari bahaya serangan Virus Zika, silakan kunjungi artikel: Cara Melindungi Janin dari Serangan Virus Zika.

Advertisement
Alinesia