Kaitan Erat Antara PMS dan Migrain

547

Diedit:

Banyak riset memang sudah membuktikan adanya hubungan erat antara keluhan migrain dengan masa menstruasi. PMS dan Migrain dianggap merupakan satu paket yang sering menjadi masalah wanita tiap bulannya.

Hal ini dibuktikan dengan tingginya kemunculan kasus migrain pada kalangan wanita dewasa di sekitar masa menstruasi mereka. Sebuah riset dikembangkan oleh The London Migraine Clinic pada tahun 2004 dan dirilis pada sebuah jurnal Neurology. Riset ini melibatkan 155 pasien wanita dewasa dengan keluhan migrain. Dari hasil riset ini ditemukan sekitar 25% wanita mengeluhkan migrain saat 5 hari menjelang menstruasi. Angka meningkat drastis menjadi 71% ketika menjelang 2 hari sebelum menstruasi.

Sedangkan lebih dari 60% wanita mengakui mengalami migrain di kisaran 1 – 2 hari pertama menstruasi mereka. Dari angka 60%, setidaknya 42% adalah mereka yang juga mengeluhkan migrain pada 2 hari menjelang menstruasi.

Hasil riset tersebut meneguhkan temuan-temuan sebelumnya yang menunjukkan ada kaitan erat antara PMS dan migrain. Bahwa migrain pada PMS terjadi karena masalah hormonal yang tidak seimbang dan tiba-tiba sehingga menimbulkan masalah dengan sistem saraf dan keluhan pada kelancaran aliran darah.

Berbeda dengan data yang diperoleh oleh The Internasional Headache Society of America yang membuktikan setidaknya 21% wanita dewasa mengalami keluhan PMS dan migrain pada periode mentruasi mereka. Dan lebih dari 64% dari angka tersebut sudah mengalami keluhan serupa sejak haid pertama mereka di awal belasan tahun.

Pada masa menjelang PMS, tubuh mengalami penurunan kadar estrogen yang diimbangi dengan peningkatan hormon androgen. Hormon androgen memberi stimulasi pada sistem saraf yang kadang tidak mudah diadaptasi oleh sistem saraf pusat dan menimbulkan sakit berdenyut pada kepala. Kadang stimulasi bekerja secara tidak seimbang, melainkan hanya pada satu sisi tubuh sehingga mendorong efek migrain.

Baca juga:  Ragam Pengobatan Migrain, Medis dan Alternatif

Estrogen juga berperan dalam menjaga ketahanan sistem saraf, sehingga penurunan hormon estrogen akan meningkatkan gejala migrain. Di sisi lain, ketidakseimbangan hormonal ini juga menyebabkan masalah pada pembuluh darah, misalnya pembuluh darah pada otak melebar dan meningkatkan aliran darah ke otak. Di sisi lain, pembuluh darah pada leher justru mengerut sehingga darah tertahan pada kepala. Hal ini menyebabkan otak dan sistem saarafnya menjadi tegang.

Kondisi ini semakin memburuk karena pada beberapa wanita PMS selalu disertai dengan mood yang buruk dan kerap meningkatkan tekanan stres yang akan meningkatkan tekanan saraf dan memperberat migrain.

Lalu bagaimana mengatasi dan mencegah migrain saat PMS? Secara umum dokter mengatakan tak mudah mengatasi serangan migrain di masa PMS. Beberapa kasus migrain tak bisa dicegah sama sekali kecuali diatasi dengan obat pereda nyeri. Beberapa hanya dapat dikurangi efeknya dengan beberapa metode diet serta olahraga.

Biasanya dokter akan menyarankan pasien wanita dengan keluhan PMS dan migrain untuk mengonsumsi beberapa jenis obat pereda sakit seperti Asam Mefenamat, Ibuprofen, Ketoprofen, atau Parasetamol yang dipadukan dengan sejumlah kecil kandungan kafein.

Namun untuk dapat mencegah atau mengurangi intensitas rasa sakit dari serangan PMS dan migrain, beberapa pakar menyarankan pasien menjalankan pola hidup sehat dengan cukup tidur, rajin olahraga, dan memperbaiki pola makan menjelang masa menstruasi.

Beberapa makanan kaya magnesium, zat besi, dan vitamin B kompleks rupanya memberi pengaruh positif untuk meredakan efek PMS dan migrain. Jadi tambahkan menu sayuran hijau, telur, kacang-kacangan, tempe dan susu. Beberapa pakar juga menyarankan menambahkan asupan sayuran dan buah dengan warna gelap karena kandungan flavonoid di dalamnya dapat membantu mengurangi intensitas PMS dan migrain.

Baca juga:  Mencegah Migrain, Lebih Bijak Dibandingkan Mengobatinya