Apakah Vaksin Covid 19 menyebabkan masalah kesuburan Pria?


By Nurul Kuntarti

Meski sudah banyak dibantah, masih banyak rumor yang mengatakan bahwa vaksin Covid 19 menyebabkan masalah kesuburan pada pria. Kita akan melihat lebih jauh bagaimana pengaruh Covid 19 terhadap kesehatan reproduksi pria dan bagaimana pengaruhnya bila virus diperoleh melalui vaksin.

Ini akan menjawab informasi simpang siur yang beredar di masyarakat seputar Covid 19 dan vaksin yang dirumorkan dapat menyebabkan infertilitas pada pria. Meluruskan kesalah pahaman seputar vaksin  Covid 19 yang dikhawatirkan banyak orang.

Pengaruh Infeksi Covid 19 terhadap kesuburan pria

Membahas soal pengaruh Covid 19 terhadap kesuburan pria akan menghantarkan kita pada sejumlah riset yang mengangkat adanya temuan jejak jejak virus pada testis beberapa bulan setelah pasien terserang infeksi Covid 19.

Salah satunya dijelaskan dalam The World Journal of Men Health tahun 2020 yang melaporkan risetnya terhadap sel sel dalam testis, sel leydig dan sel sertoli pada pasien yang mengidap Covid 19 dan pasca penyembuhan dari Covid 19.

Meski riset ini memiliki keterbatasan sampel, dari tes ini ditemukan adanya jejak virus dalam semen dan sel sel pada testis dan penis. Ini menjadi salah satu referensi utama untuk melihat lebih jauh pengaruh negatif dari infeksi Covid 19 terhadap pria. Dan menjadi acuan kekhawatiran dunia medis akan adanya potensi pengaruh Covid 19 menyebabkan masalah kesuburan pria.

Dalam riset lain yang dijelaskan pada Urology Times Journal tahun 2021 diungkap bahwa pengaruh virus corona terhadap spermatogenesis dan produksi testosteron dapat terlihat hingga 9 bulan pasca infeksi Covid 19.

(healthymale/iStock)

Benarkah Covid 19 Menyebabkan Masalah Kesuburan Pria?

Jadi, bagaimana sebenarnya pengaruh Covid 19 terhadap kesehatan seksual dan reproduksi pada pria? Hingga kini memang belum ada kepastian sejauh mana pengaruh dari infeksi virus ini terhadap kesuburan, reproduksi dan seksualitas pria.

Dalam Archivio Italiano di Urologia Andrologia tahun 2021, dijelaskan bahwa sejumlah fakta seputar pengaruh Covid 19 terhadap kesuburan pria belum sepenuhnya dapat dibuktikan. Karena keterbatasan sampel yang digunakan.

Jurnal ini sekaligus membantah kepastian bahwa Covid 19 dapat menular melalui semen. Belum ada bukti cukup kuat untuk pendapat tersebut. Namun, jurnal ini juga sekaligus mengakui sejumlah potensi negatif yang mungkin terjadi. Meski tingkatannya belum dapat diukur.

Pandangan ini juga dilandaskan pada sejumlah fakta lain yang juga terungkap seputar bagaimana virus Covid 19 terdeteksi pada organ reproduksi dan seksual pria. Adapun fakta fakta seputar potensi Covid 19 menyebabkan masalah kesuburan pria antara lain adalah sebagai berikut.

  • Sebuah riset menunjukan 19% pasien sampel mengalami ketidak nyamanan pada skrotum yang dapat dikaitkan dengan peradangan ringan pasca atau saat infeksi Covid 19 berlangsung.
  • Riset yang diadakan di Cina menunjukan 39% sampel mengalami penurunan jumlah sperma di bawah normal. Beberapa mengalami penurunan hingga 61%. Sebelumnya seluruh sampel telah dipilih dari mereka yang sebelumnya telah memiliki setidaknya 1 anak.
  • Riset lain menunjukan kembali adanya penurunan jumlah sperma dan mortilitas sperma pada 33% sampel. Mortilitas adalah kemampuan bergerak dan berenang sperma.
  • Dari riset yang sama juga dibuktikan bahwa 25% dari sampel mengalami gangguan disfungsi ereksi pasca infeksi dan kendala hipotestosteron dalam varian penurunan yang berbeda beda.
  • Studi di Iran terhadap sampel selama 60 hari dengan pengambilan sampel setiap 10 hari sekali menunjukan adanya ketidak stabilan kadar hormonal pada pasien. Bersamaan dengan itu, terlihat adanya kondisi penurunan kualitas dan kuantitas sperma dalam jumlah bervariasi.
  • Sedang dalam korespondensi di Italia ditemukan adanya peningkatan kasus Disfungsi Ereksi pada pria pasca mengidap infeksi Covid 19.
  • Riset di USA menemukan adanya jejak jejak virus pada semen dan sel sperma meskipun setelah 9 bulan pasca pasien sudah sepenuhnya dinyatakan sembuh.
  • Sebuah riset di Florida pada hasil tes biopsi pasien Covid 19 yang telah meninggal mengalami sejumlah tanda tanda seperti kerusakan pada sel leydig dan sel sertoli. Juga terdapat jejak peradangan pada tubulus seminiferus dimana sperma dibentuk dan dimatangkan dalam testis.
  • Dalam riset di Tulane dijelaskan bahwa ada potensi infeksi Covid 19 dalam meningkatkan resiko disfungsi ereksi, gangguan hipogonadisme dimana tubuh kekurangan hormon seksual hingga masalah kerusakan kualitas sperma.

Bagaimana virus dapat memberi efek negatif pada produksi testosteron dan proses pematangan sperma, ini karena virus akan berada di dalam testis dalam jangka panjang.  Di dalam testis sendiri terdapat dua sel gonad utama yakni sel leydig yang bertanggung jawab dalam produksi testosteron. Dan sel sertoli yang bekerja dalam proses pembentukan dan pematangan sperma. Dengan sel leydig dan sel sertoli terserang virus maka ada potensi kerusakan pada fungsi kedua sel gonad tersebut.

Apakah Yang Sebenarnya Terjadi Pada Kesuburan Pria Pasca Covid 19?

Sulit untuk memastikan sejauh mana sebenarnya pengaruh keberadaan virus dan infeksi ini terhadap kesehatan seksual dan kesuburan pria. Apakah sifatnya akan permanen atau sementara? Apakah pengaruhnya akan cukup kuat atau hanya terjadi dengan aspek aspek pendukung lain?

Masih diperlukan riset lebih mendalam dan berjangka panjang untuk dapat memastikan sejauh mana infeksi Covid 19 menyebabkan masalah kesuburan pria. Kemudian yang menjadi pertanyaan.

Bagaimana bisa penyakit infeksi corona virus yang notabene adalah penyakit pada saluran pernafasan dapat terdeteksi dalam sistem organ reproduksi? Apa yang terjadi sebenarnya?

Tanpa Anda sadari, sebenarnya terdapat kesamaan antara sel sel pada organ reproduksi dengan organ pernafasan. Ini adalah keberadaan reseptor angiotensin converting enzyme-2 (ACE-2). Pada organ pernafasan, virus mentarget reseptor ini sebagai mediator terbentuknya infeksi. Dan rupanya reseptor yang sama dapat Anda jumpai pada organ reproduksi termasuk testis dan penis.

Sehingga ketika seorang pasien terserang infeksi Covid 19, virus yang telah menyerang sistem pernafasan mendeteksi keberadaan reseptor ACE-2 pada organ tubuh lainnya. Ini kemudian mendorong virus menyebar menuju organ organ yang terdeteksi tadi dan menginfeksi organ organ lain itu pula. Termasuk di antaranya adalah organ reproduksi pria.

Bagaimana virus menginvasi organ reproduksi, sejauh mana efek serangan terjadi termasuk perkembangan infeksi itu sendiri sifatnya akan beragam untuk tiap pasien. Ini bergantung pada efek sitokin yang dihasilkan dan sejumlah aspek lain yang hingga saat ini belum seluruhnya dapat diterjemahkan.

Sebagaimana dipahami, sitokin adalah senyawa protein dalam sistem imun yang akan mendorong terjadinya peradangan dalam tubuh mereka. Pada level aman, sitokin sangat membantu membentuk garda imunitas bagi tubuh. Mencegah virus dan bakteri dalam tubuh menjadi sangat aktif merusak sel tubuh.

Namun pada kasus Covid 19, sitokin bisa datang dengan cukup besar menimbulkan sesuatu yang disebut dengan badai sitokin. Ini ditandai dengan pembentukan peradangan dan inflamasi di seluruh tubuh. Dan di antaranya adalah pada organ testis mereka.

Ditemukan adanya kasus penderita Covid 19 skala ringan yang mengalami gangguan fungsi reproduksi yang relatif berat beberapa bulan lamanya pasca infeksi terjadi. Namun ditemukan pula kasus Covid 19 berat yang hanya mengalami gangguan kesuburan ringan dan berlangsung dalam durasi yang singkat.

Yang juga menarik, meski pasien telah dinyatakan sembuh dari penyakit infeksi Covid 19, ditemukan adanya potensi virus tetap berdiam di dalam sel sel leydig dan sel sertoli dalam testis dalam jangka waktu beberapa bulan.

Virus ini sifatnya bisa pasif dan ketika pasien dalam kondisi lemah, dikhawatirkan ini mungkin memicu infeksi kedua, meski sejauh ini sifatnya masih asumsi dan dugaan. Namun kali ini infeksi bermula justru dari organ reproduksi pria karena disanalah virus berdiam.

Itupun belum sepenuhnya dipahami bagaimana virus memilih area reproduksi sebagai ruang berdiam selama masa pasif. Dan bagaimana untuk mencegah situasi ini muncul.

vaksin covid 19
vaksin covid 19 (publichealth/iStock)

Apakah Vaksin Juga berbahaya Untuk Produksi Sperma?

Bila infeksi Covid 19 ditengarai dapat menyebabkan gangguan pada organ reproduksi pria. Bagaimana dengan virus itu sendiri, lepas dari infeksi apakah virus Covid 19 menyebabkan masalah kesuburan pada pria.

Dalam uji terbatas, terbukti virus Covid 19 dapat menyebabkan infeksi berat. Dan infeksi ini menajdi salah satu penyebab gangguan fertilitas. Namun, perlu dipahami bahwa aspek yang dianggap berbahaya sebenarnya adalah infeksi yang terjadi dan tidak virusnya itu sendiri.

Virus dapat berdiam di dalam testis dan penis pasca infeksi terjadi, bahkan mungkin berada di sana hingga beberapa bulan setelah infeksi. Namun tidak selamanya virus ini mengganggu kerja testis dan penis, kecuali kemudian virus ini menginfeksi dan menyebabkan peradangan pada organ tersebut.

Itu sebabnya, ketika seseorang melakukan vaksin Covid 19, tidak lantas mereka akan mengalami masalah infertilitas sebagaimana ditemukan pada kasus infeksi Covid 19. Karena dipastikan virus pada infeksi tidak sama dengan virus pada vaksin. Dan situasi pasien dengan infeksi Covid 19 berbeda dengan situasi tubuh pasien yang mendapatkan vaksin.

Penjelasan Seputar Keamanan Vaksin Covid 19 terhadap Kesuburan Pria

Dalam Irish Journal of Medicine Science tahun 2021 menjelaskan hasil pengambilan sampel pada pria usia subur yang telah menjalankan dua prosedur vaksin Covid 19. Dari hasil pengambilan sampel tidak ditemukan adanya penurunan parameter semen dan sperma. Bahkan setelah test pada hari ke 70 pasca vaksin kedua dilakukan.

Menurut penjelasan pakar urologi dari Houston Methodist  Dr. Nathan Starke, vaksin sepenuhnya aman untuk kesuburan pria. Tidak ada bukti yang menunjukan potensi bahaya vaksin Covid 19 menyebabkan masalah kesuburan pada pria.

Pada penjelasan lain, Human Reproductive Journal tahun 2021, dikatakan bahwa vaksin tidak selamanya menghantarkan virus dalam bentuk utuh kepada manusia. Sejumlah vaksin hanya menyertakan mRna dari virus yang memberi stimulant antibodi pada tubuh, tidak dalam formula virus utuh. Sedang vaksin lain sifatnya adalah virus pasif yang tidak lagi memiliki unsur unsur yang sifatnya invasif.

Karena itu, tidak seharusnya vaksin Covid 19 menyebabkan masalah kesuburan pria. Karena unsur unsur yang memicu gangguan kesuburan tidak Anda dapatkan dalam vaksin. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, gangguan kesuburan terjadi karena infeksi dan efek invasi virus melalui reseptor ACE-2. Dan jelas vaksin tidak memiliki reaksi yang sama terhadap reseptor tersebut.

Justru dikatakan, bahwa mereka pasangan muda yang sedang mengharapkan kehamilan atau tengah dalam program kehamilan diharapkan untuk memprioritaskan vaksin Covid 19. Karena ini akan menjadi cara efektif untuk mereka mencegah infeksi Covid 19. Selain dengan menjalankan sejumlah tips untuk menjaga imunitas tubuh.

Karena ketika mereka terserang infeksi Covid 19, ada kemungkinan cukup besar Covid 19 menyebabkan masalah kesuburan pada nantinya. Dan memaksa mereka untuk menunda rencana kehamilan lebih lama lagi. Jadi, justru vaksin Covid 19 dianggap aman untuk kesuburan. Serta dianggap lebih direkomendasikan untuk mencegah gangguan kesuburan pada pria akibat infeksi Covid 19.

Sumber

Covid 19 menyebabkan masalah kesuburan:

Eden McCleskey. Houston Methodist. 2021. Does COVID-19 Affect Male Fertility?. https://www.houstonmethodist.org/blog/articles/2021/aug/does-covid-19-affect-male-fertility/

Lisette Hilton. Urology Times. 2021. COVID-19 and men’s health: What we know so far. https://www.urologytimes.com/view/covid-19-and-men-s-health-what-we-know-so-far

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}
>