Benarkah Pengobatan Kanker Bisa Dibantu dengan Terapi Baking Soda?


By Cindy Wijaya

Sejumlah konsep terapi alternatif untuk pengobatan kanker belakangan ini banyak dikenalkan di dunia. Konsep pengobatan kanker ini memang menarik untuk diulas, mengingat meski kebanyakan dianggap sebelah mata dalam dunia kesehatan, tetapi diklaim banyak yang sudah dibuktikan melalui riset dan pembuktian ilmiah.

Riset-riset menunjukkan bagaimana terapi alternatif memang memberi sejumlah manfaat dalam pemulihan kanker. Beberapa klinik kanker di berbagai belahan dunia bahkan mulai memberanikan diri mengembangkan terapi-terapi alternatif ini sebagai program utama atau program pendamping untuk pengobatan kanker.

Meski tentu saja, harus dipahami bahwa di balik manfaatnya yang tampak cukup mengagumkan, juga tersimpan risiko-risiko tersendiri. Namun karena kebanyakan terapi alternatif lebih mengedepankan cara-cara alami, efek samping langsung yang menyakitkan, seperti akibat kemoterapi dan radioterapi, biasanya tidak akan terjadi.

Tetapi tidak kemudian menutup kemungkinan akan adanya efek samping lain yang muncul beberapa saat pasca terapi alternatif dijalankan. Jadi sebaiknya Anda betul-betul mempelajarinya sebelum memutuskan terapi alternatif tertentu sebagai bagian dari program pengobatan kanker Anda.

Terapi Baking Soda Untuk Kanker

Salah satu pengobatan kanker alternatif yang cukup ramai diperbincangkan ialah terapi baking soda. Terapi ini ditemukan oleh seorang mantan ahli onkologi (ahli kanker & tumor) bernama Dr. Tullio Simoncini dan hingga kini masih dipandang sebagai salah satu terapi alternatif yang kontroversial.

Terapi ini berbasis pada prinsip bahwa tubuh yang sehat dan normal akan berjalan pada kondisi pH yang berada di kisaran 7.365—dengan kata lain tubuh berada dalam kondisi basa. Dikatakan jika kadar keasaman tubuh menjadi terlalu tinggi, akan menimbulkan sejumlah risiko pada kesehatan seseorang.

Bisa dikatakan bahwa kondisi tubuh dengan keasaman tinggi merupakan sebuah ekosistem yang memiliki kadar oksigen yang rendah. Kondisi ini dapat menjadi ekosistem yang nyaman bagi pertumbuhan segala jenis mkroba, jamur, bakteri, virus, bahkan sel-sel tubuh yang abnormal, termasuk kanker.

Dikatakan juga bahwa mereka dengan kadar pH yang tepat akan memiliki liver yang lebih aktif dan efektif. Termasuk dalam memaksimalkan fungsinya untuk mengelola lemak serta menetralisir racun juga residu metabolisme tubuh. Kondisi basa juga mendorong liver menghasilkan lebih banyak senyawa glutathion yang penting untuk proses regenerasi sel dan imunitas.

Inilah yang membuat anggapan bahwa baking soda atau sodium bikarbonat (NaHCO3) berperan untuk meningkatkan kadar basa tubuh atau menyebabkan terbentuknya kondisi alkalin dalam tubuh. Sebagaimana dijelaskan dalam laman LIVESTRONG.com.

Mengonsumsi baking soda yang sudah dilarutkan selama beberapa hari berturut-turut diyakini akan memperbaiki kadar keseimbangan pH dengan mengembalikan kondisi basa tubuh. Terapi ini dapat dijalankan dengan cara yang sangat sederhana, yakni melarutkan baking soda dengan kadar alumunium 0 persen ke dalam air.

Jarak waktu terapi hanya bisa dijalankan selama 3 pekan. Aturan konsumsinya 2 sendok teh baking soda yang dilarutkan selama 1 minggu pertama, kemudian dilanjutkan dengan 1 sendok teh baking soda yang dilarutkan pada minggu ke-2 dan ke-3. Konsep dasar dari terapi baking soda ini dijelaskan dalam ulasan mengenai terapi baking soda untuk pengobatan dan pencegahan kanker oleh CANCERTUTOR.com berdasarkan hasil temuan asli Dr. Tullio Simoncini.

Terapi ini memang ketat, Anda tidak bisa mengonsumsi larutan baking soda dalam dosis yang melebihi batasan harian, juga tidak boleh dikonsumsi dalam jangka waktu lebih dari 3 minggu. Karena belum ada cukup bukti untuk mengatakan bahwa terapi seperti ini bebas efek samping.

Efek Baking Soda pada Pertumbuhan Sel Kanker

Menurut pendapat Simoncili, kanker terbentuk dari respon imunitas sel tubuh terhadap serangan jamur kandida yang ganas dan masif. Serangan jamur ini mendorong sel untuk melindungi diri sendiri sehingga membentuk perilaku menyimpang, yang kemudian kita kenal sebagai kanker.

Dan karenanya, terapi baking soda dianggap dapat membantu mengatasi kanker. Melalui riset yang ia kemabangkan, didapati bahwa kandida tidak bisa hidup dalam kondisi tubuh alkalin. Sebagaimana sel kanker juga tidak bisa hidup dalam kondisi alkalin.

Pandangan beliau yang kontroversial ini sebenarnya sudah banyak dibantahkan. Banyak pakar beranggapan bahwa kanker umumnya tidak berkaitan dengan infeksi kandida. Bilapun kanker dapat terbentuk dari infeksi, maka kebanyakan infeksinya dipicu oleh bakteri maupun virus, bukan oleh jamur.

Akan tetapi, dugaan bahwa sel kanker bisa diganggu pertumbuhannya serta melalui serangan terapi baking soda ternyata telah dibuktikan secara empiris dengan beberapa riset. Misalnya dalam sebuah jurnal tahun 2009 yang diterbitkan oleh Cancer Research yang berjudul “Bicarbonate increases tumor pH and inhibits spontaneous metastases.”

Dijelaskan bahwa terapi baking soda akan menyebabkan terbentuknya lingkungan basa pada tubuh. Bahkan tikus yang sudah memiliki sel kanker dalam tubuhnya lalu diterapi dengan suntikan larutan baking soda dibantu untuk memperoleh area basa di tubuhnya. Hal ini dapat membantu menghambat pertumbuhan serta proses memperbanyak diri sel kanker dengan cara melemahkan fungsi nukleus sel kanker.

Diduga ini masih berkaitan terjadinya peningkatan kadar oksigen dalam tubuh pada lingkungan basa. Sementara sel kanker cenderung mengalami perlambatan pertumbuhan jika berada di area dengan kadar oksigen yang tinggi.

Pada situs TheTRUTHAboutCANCER.com juga dibahas mengenai terapi temuan Simoncili ini. Diungkapkan bahwa dibutuhkan terapi dengan larutan baking soda berkadar ph 9.0 untuk bisa mengembalikan kondisi normal kadar alkali tubuh. Pada kadar basa yang tepat, maka sistem elektrolida dalam tubuh akan mencapai titik normal, termasuk kadar oksigennya.

Dalam kondisi ini maka sel-sel akan distimulasi untuk kembali pada posisi aktif. Dan sel-sel abnormal yang sudah bermutasi karena bekerja serta hidup tanpa elektrolida yang sehat akan melemah, bahkan mati. Sama halnya dengan mikroba-mikroba tidak sehat dalam tubuh. Pada umumnya sebagian besar sel kanker dan mikroba tidak sehat lebih nyaman hidup dalam lingkungan berkadar asam tinggi.

Baking soda juga dikatakan bermanfaat untuk membantu mengendalikan kerusakan fungsi ginjal dan mengurangi kerusakan akibat efek kemoterapi serta radioterapi. Karena itu beberapa klinik terapi menyarankan pasiennya menjalankan terapi baking soda jangka pendek untuk mengurangi efek samping pengobatan kanker.

Sedangkan dalam riset lain dijelaskan bahwa terapi baking soda bukan hanya membantu pengobatan kanker, tetapi juga bermanfaat untuk mengurangi rasa nyeri hebat yang biasa dialami pasien kanker. Sebagaimana dijelaskan oleh jurnal tahun 2015 bertajuk “Oral Bicarbonate as Adjuvant for Pain Reduction in Patients With Tumor Related Pain” di ClinicalTrials.gov.

Efek Samping Terapi Baking Soda

Di satu sisi benar bahwa terapi baking soda bisa memberi manfaat untuk pengobatan kanker, namun di lain sisi terapi ini masih sangat dianggap riskan oleh kebanyakan pakar kesehatan. Mereka melihat adanya sejumlah risiko yang harus dimengerti pasien sebelum mencoba menjalaninya. Karena sewaktu kadar pH dalam tubuh menjadi terlalu tinggi dan kondisi tubuh menjadi terlalu basa, ada beberapa gangguan yang akan mengancam.

Mereka menyarankan pasien untuk melakukan tes di awal sebelum memutuskan menjalankan terapi baking soda. Pasien harus sudah memastikan dulu kondisi kadar pH sebelum terapi dan kembali melakukan tes secara berkala untuk setiap 1 minggu setelah menjalankan terapi.

Pasien tidak boleh menjalankan terapi ini dalam jangka panjang dan dalam jumlah berlebihan untuk menghindari efek samping yang fatal. Situs CANCERRESEARCHUK.org menjelaskan bahwa dosis 12 gram baking soda untuk berat badan 65 kg per hari memang dapat bermanfaat, namun dosis lebih dua kali lipat saja sudah sangat membahayakan.

Efek samping yang mungkin Anda rasakan bila menjalankan terapi baking soda dengan tidak tepat adalah kondisi alkalosis. Kondisi ini bisa ditandai dengan munculnya efek kesemutan dan kebas pada jari-jari, kadang disertai efek seperti tremor bahkan kram yang parah. Kadang keluhan pusing, kepala seperti berputar, hingga keluhan mual juga muncul dalam sejumlah laporan mengenai efek samping terapi ini.

Terlalu tingginya kadar basa dalam tubuh menyebabkan sistem saraf mengalami gangguan yang bisa menjadi cukup serius sampai-sampai mengakibatkan kejang-kejang hingga koma. Sebagaimana dijelaskan dalam situs LIVESTRONG.com. Kadang dari kondisi ini juga bisa mengarah pada terjadinya masalah dengan tekanan darah, seperti tekanan darah rendah, dan bisa juga memicu terjadinya syok yang berujung pada stroke akibat tekanan darah rendah.

Kerusakan pada fungsi ginjal juga bisa terjadi karena pH sangat berkaitan dengan kondisi likuid dalam tubuh serta elektrolida. Bila pH pada urin menjadi sangat tinggi atau mencapai angka di atas 7.5, maka besar kemungkinan akan terjadi kerusakan pada fungsi ginjal.

Terapi baking soda sebagai alternatif pengobatan kanker sebenarnya memang dapat bermanfaat. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa ada peringatan dari para pakar serta efek samping berbahaya dari kesalahan penggunaan terapi ini. Jika Anda berminat untuk mencobanya, sangat disarankan untuk berkonsultasi dulu dengan dokter atau pakar kesehatan lain yang terpercaya.

Sebenarnya, terdapat pilihan lebih alami untuk mengendalikan kadar pH. Yaitu dengan memaksimalkan asupan sayuran, buah-buahan, atau tanaman herbal seperti buah Noni, alfalfa, brokoli, asparagus, dan jus lemon yang juga telah terbukti bermanfaat dalam menormalkan kadar pH.

Tentang Penulis 

Cindy Wijaya

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting oleh Cindy Wijaya seorang editor dan penulis beragam artikel kesehatan. Ia senang meriset dan berbagi topik-topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Tinggal di “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}