Share:

Sakit jantung kerap dianggap sebagai penyakit yang menakutkan. Ketakutan itu sudah pasti memunculkan kewaspadaan yang tinggi pada masyarakat. Waspada memang bagus, tapi sayangnya ada orang yang menjadi paranoid dan khawatir untuk setiap gejala kecil seperti sakit dada. Padahal ada banyak penyebab nyeri dada selain jantung.

Memang salah satu gejala utama penyakit jantung adalah timbulnya rasa tidak nyaman atau sakit di dada. Tetapi faktanya, tidak setiap keluhan di dada menandakan masalah jantung. Daripada membuat kesimpulan sendiri, kita lebih baik periksakan kondisi kesehatan kita ke dokter.

Penyebab Nyeri Dada Selain Jantung

Ada cukup banyak masalah kesehatan selain jantung yang memunculkan gejala sakit dada. Beberapa bukan masalah serius, beberapa memerlukan perawatan medis yang intensif, dan beberapa yang lain juga sama berisikonya dengan gangguan jantung. Berikut adalah 8 masalah kesehatan lain yang menjadi penyebab nyeri dada selain jantung.

1. Cedera Otot

Beberapa orang memang mengalami serangan jantung saat olahraga. Ini sebenarnya berkaitan dengan kondisi jantung yang menurun sehingga tidak sanggup mengimbangi kebutuhan sirkulasi darah saat aktivitas fisik sedang tinggi.

Tetapi tidak semua nyeri dada ketika atau setelah olahraga merupakan serangan jantung. Menurut situs web Health sebagian besar gejala sakit dada sewaktu atau setelah olahraga disebabkan oleh ketegangan dan cedera otot karena olahraga.

Beberapa gerakan fisk atau angkat beban memang melatih otot di area belikat, dada, dan punggung atas. Di satu sisi, latihan fisik secamam itu membantu menguatkan otot area dada, termasuk otot jantung. Tetapi di sisi lain, jika latihannya berlebihan, otot justru menjadi terlalu tegang bahkan mengalami cedera. Itulah yang menimbulkan nyeri dada.

2. Serangan Panik

Kita mungkin memang mengalami serangan kecil pada jantung—rasa berdebar yang kuat, tekanan di dada yang bikin sulit bernapas, dan sedikit dorongan di dada. Kadang juga disertai keringat dingin, gemetar, mual, hingga pusing.

Tetapi jangan salah sangka, saat itu kita tidak sedang mengalami gangguan jantung. Ini hanyalah reaksi dari hormon adrenalin dan hormon-hormon stres lain yang sedang memacu kuat jantung kita. Ini hanya reaksi alami tubuh ketika menghadapi kepanikan.

Beberapa pakar mengatakan serangan panik itu tergolong masalah genetik, tetapi beberapa ahli psikologi melihatnya sebagai reaksi personal untuk sebuah stimulan psikologis. Bahkan menurut ilmu psikologi, beberapa penderita fobia berat bisa mengalami serangan panik akibat fobia mereka.

Meski begitu serangan panik sebaiknya tidak dianggap sepele. Bila terjadi terlalu sering bisa saja juga memicu gangguan jantung. Apalagi jika ada faktor risiko lain pada tubuh, misalnya kadar lemak tinggi atau memiliki gangguan pada fungsi pembuluh arteri.

Baca juga  Apa Saja Penyebab Utama Nyeri Dada?

3. GERD

Keluhan naiknya asam lambung atau disebut juga acid reflux atau GERD (Gastro Esophageal Reflux Disease) merupakan kondisi ketika asam lambung yang naik dari kantung lambung melalui katup esofagus menuju sisi atas tubuh, hingga tenggorokan.

Ini mengakibatkan saluran di rongga dada terkena asam lambung yang bersifat panas dan korotif. Inilah yang menimbulkan gejala nyeri di dada. Karena efek korosinya menyebabkan rasa panas di dada, rasa nyeri, dan kadang disertai sesak.

Keluhan GERD yang diabaikan juga bisa memicu masalah lebih berat, termasuk peradangan pada saluran pernapasan, asma, hingga sejumlah kanker yang langka. Ini karena rongga dada memiliki kadar asam sangat tinggi dengan kadar pH di bawah 2. Padahal jika kadar asam sebegitu tinggi, tubuh menjadi sangat rentan mengalami inflamasi.

4. Cacar Api

Cacar api atau shingles adalah inflamasi yang disebabkan oleh virus yang sama dengan penyebab cacar air, yakni Varicella zoster. Sewaktu pasien cacar air dinyatakan sembuh, beberapa dari mereka tidak sepenuhnya berhasil menyingkirkan seluruh virus itu dari tubuhnya.

Virus bertahan dalam tubuh dengan kondisi non-aktif. Dan bila muncul pemicu, virus bisa kembali aktif. Hanya saja kali ini reaksi serangan virus sedikit berbeda dan menimbulkan kondisi inflamasi yang lebih berat, bernama cacar api.

Biasanya serangan itu timbul ketika daya tahan tubuh sedang turun. Malah sebagian besar kasus terjadi pada kaum lansia. Karena pada usia tua daya tahan tubuh memang mulai turun.

Cacar api menimbulkan ruam merah dengan bentolan basah kecil-kecil pada tubuh. Ruam bertumpuk seperti sabuk. Rasa nyeri yang ditimbulkan akan lebih mengganggu. Dan biasanya cacar api juga menimbulkan gejala nyeri otot di beberapa titik, termasuk di otot dada. Itulah sebabnya pasien juga sering mengeluhkan nyeri dada.

5. Pankreatitis

Rupanya inflamasi juga menjadi penyebab nyeri dada selain jantung. Inflamasi yang terbentuk di sekitar dada menyebabkan seseorang mengeuhkan nyeri yang kadang cukup kuat dan menekan.

Salah satu penyakit inflamasi yang dapat ditandai sakit dada adalah pankreatitis. Pankreatitis bisa menimbulkan risiko cukup besar bagi tubuh, terutama pada jenis pankreatitis akut dimana serangan terjadi cepat dan mendadak.

Biasanya penyakit ini berkaitan dengan masalah pada empedu. Nyeri yang muncul terasa cukup menekan dan biasanya berpusat di ulu hati. Kemudian semakin lama nyeri akan berkembang dan bergerak menuju area dada.

Keluhan semacam itu tidak boleh diabaikan. Karena meskipun bukan gejala sakit jantung atau serangan jantung, kerusakan pada pankreas tidak kalah buruk dampaknya bagi tubuh kita.

Baca juga  Nyeri Dada Biasa Atau Serangan Jantung?

6. Kostokondritis

Sekitar 13 – 36 % dari kasus nyeri dada yang diperiksa oleh dokter justru mengarah pada penyakit kostrokondritis, bukannya serangan jantung. Ini adalah penyakit inflamasi yang terbentuk pada tulang rawan penghubung antara tulang dada dengan tulang rusuk.

Inflamasi ini umumnya disebabkan oleh cedera, gangguan autoimun, artritis, hingga infeksi tertentu. Penderitanya akan mengeluhkan rasa nyeri yang menusuk dan tajam di dada. Rasa nyeri terpusat di titik dimana inflamasi terbentuk. Akan mudah dibedakan jika inflamasi berkembang di sisi kanan dada, tetapi sering disalahartikan sebagai gejala sakit jantung jika inflamasi ada di dada kiri.

7. Perikarditis

Beberapa orang menyamakan penyakit perikarditis dengan penyakit jantung. Sebenarnya ada perbedaan mendasar antara perikarditis dengan masalah gagal jantung. Perikarditis adalah iritasi dan berkembangnya inflamasi di jaringan perikardium. Perikardium sendiri adalah kantung tipis yang menjadi membran pembungkus jantung. Dia menahan posisi jantung serta melindungi sisi luar jantung.

Tetapi dalam beberapa kasus, lapisan tipis itu mudah mengalami iritasi dan inflamasi. Belum jelas apa penyebab utamanya, tetapi beberapa pakar berpendapat bahwa penyebabnya mungkin gangguan autoimun, sepertinya pada penyakit lupus dan rematik serius.

Karena berkaitan dengan organ jantung dan rasa nyeri yang muncul juga terpusat di dada kiri, orang yang mengalaminya sering keliru menganggapnya sebagai sakit jantung. Tetapi iritasi dan inflamasi ini sama sekali tidak memengaruhi detak jantung serta fungsi jantung dalam mengendalikan sirkulasi darah.

8. Splenomegali

Limpa adalah organ yang berada tepat di antara jantung dan lambung, di bawah tulang rusuk sebelah kiri. Posisinya memang sangat dekat dengan jantung, sehingga gangguan pada limpa menimbulkan rasa nyeri yang mirip dengan gangguan jantung.

Splenomegali atau pembengkakan limpa adalah keluhan yang paling sering terjadi terkait dengan organ ini. Penyakit ini bisa berkaitan dengan masalah endokrin, gangguan hati, infeksi, bahkan kanker.

Dengan membengkaknya limpa yang akan menekan jantung, penderitanya juga akan merasakan sesak akibat jantung tidak leluasa bergerak dan menyempitnya kapasitas rongga udara pada paru-paru. Meski penyebab nyeri dada selain jantung, kondisi ini punya kesan kuat seseorang mengalami serangan jantung.

Selalu pertahankan kewaspadaan kita terhadap setiap gejala dan perubahan pada tubuh, termasuk saat kita mengalami nyeri dada. Pastikan masalah kesehatan apa pun yang dirasa diperiksakan dengan tepat, karena ada cukup banyak penyebab nyeri dada selain jantung.

Cindy Wijaya

Penulis beragam artikel kesehatan berpengalaman. Senang meriset dan berbagi topik-topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Saat ini bekerja sebagai penulis dan editor untuk Deherba.com. Tinggal di “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan.


Artikel di-posting oleh Cindy Wijaya dan di-review oleh tim penulisan deherba.com.