Pengobatan Kanker Serviks Berdasarkan Stadiumnya

692

Diedit:

Pengobatan kanker serviks akan sangat bergantung pada tingkat keparahan penyakit kanker serviks sendiri (stadium penyakit kanker serviks). Selain faktor stadium, ada beberapa faktor lainnya yang perlu dipertimbangkan sebelum dilakukan pengobatan.

Sebut saja faktor usia pasien, keinginan pasien apakah tetap ingin memiliki anak atau tidak, dan faktor kondisi medis pasien. Penanganan pasien kanker serviks tidak hanya ditangani oleh seorang dokter spesialis onkologi saja, melainkan juga adanya bantuan dari beberapa dokter spesialis lainnya.

Berdasarkan pertimbangan faktor stadium, terdapat dua jenis pengobatan kanker serviks. Pertama, pengobatan kanker serviks tahap awal, yaitu pembedahan atau operasi pengangkatan kanker, rahim yang terinfeksi kanker rahim, atau bahkan keseluruhan rahim pasien. Pasien akan diberi treatmen khusus berupa radioterapi (terapi sinar). Namun jika memungkinkan, pasien akan diberi treatmen kombinasi keduanya. Tahap pengobatan penyakit kanker yang kedua yaitu pengobatan penyakit kanker stadium akhir yang berupa kombinasi kemoterapi dan radioterapi, serta bahkan disertai dengan operasi.

Tentu akan sangat berbeda penangannya apabila kasus kanker serviks pada seorang pasien telah diketahui sejak dini. Kemungkinan pasien akan sembuh total sangatlah besar. Namun jika kanker telah menyebar bahkan hingga ke organ-organ vital, peluang untuk bisa sembuh total sangatlah kecil. Khusus untuk penyakit kanker serviks yang sulit ditangani, pasien dapat diberi penanganan khusus berupa perawatan paliatif di mana paliatif ini dimaksudkan untuk menghambat pertumbuhan sel-sel kanker dan juga memperlambat metastase sel-sel kanker. Dengan demikian, usia pasien sedikit dapat diperpanjang. Pemberian perawatan paliatif ini juga dapat mengurangi beberapa gejala penyakit kanker serviks yang biasa muncul seperti pendarahan dan rasa sakit yang sangat luar biasa.

Terdapat beberapa prosedur pengangkatan sel-sel yang berpotensi menjadi sel kanker. Pertama, dengan melakukan biopsi kerucut. Biopsi kerucut yaitu prosedur pengangkatan di area di mana sel atau jaringan yang dikaim tidak normal berada. Pengangkatan ini dilakukan melalui pembedahan. Kedua, dengan menggunakan terapi laser. Terapi laser ini bertujuan untuk membakar sel-sel yang tidak normal (sel-sel abnromal). Ketiga, dengan melakukan LLETZ (Large Loop Excision of Transformation Zone), yaitu pemotongan sel-sel abnromal dengan menggunakan kawat yang sangat tipis yang telah diberi arus listrik.

Pembedahan untuk Pengangkatan Kanker Serviks

Terdapat 3 jenis pembedahan kanker serviks, yaitu radical trachelectomy, operasi pengangkatan rahim (Histerektomi), dan Pelvic Exenteration. Radical trachelectomy adalah jenis operasi pengangkatan kanker serviks yang mana pasien masih dapat memiliki peluang untuk hamil. Bagian rahim yang diangkat dengan menggunakan jenis operasi ini hanyalah leher rahim serta bagian-bagian lain yang ada di sekitar leher rahim. Umumnya operasi ini dilakukan terhadap pasien yang ingin memiliki anak dengan penyakit kanker serviks stadium awal. Pasien yang telah menerima penanganan medis ini dapat mulai hamil minimal 6 bulan pasca operasi.

Operasi pengangkatan rahim alias histerektomi dilakukan apabila sel kanker telah menyebar ke seluruh bagian rahim. Kemungkinan besar pasien yang disarankan untuk menjalani operasi pengangkatan rahim juga dianjurkan untuk menjalani radioterapi. Informasi tambahan, terdapat dua jenis histerektomi, yaitu operasi pengangkatan rahim beserta leher rahim.

Kedua, operasi pengangkatan rahim beserta bagian-bagian keseluruhan organ reproduksi dalam seperti ovarium, nodus limfa, dan tuba falopi. Operasi histerektomi jenis kedua ini umumnya dilakukan pada pasien kanker serviks stadium pertama lanjutan atau stadium kedua awal.
Operasi pelvic exenteration perlu dilakukan apabila sel kanker serviks telah muncul kembali. Dokter akan mengambil keputusan untuk melakukan treatmen ini dengan satu kondisi, yaitu apabila sel kanker ditemukan di daerah panggul, belum menyebar ke area lain.

Pengobatan Radioterapi

Radioterapi dapat dikombinasikan dengan operasi/ pembedahan atau hanya radioterapi saja (untuk kanker serviks stadium awal). Namun jika kanker telah memasuki stadium akhir, radioterapi perlu dikombinasikan dengan kemoterapi dan bahkan operasi. Penanganan kanker serviks dengan radioterapi biasanya memerlukan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 1 hingga 2 bulan.

Sayangnya, pengobatan ini tidak hanya membunuh sel-sel kanker saja, melainkan juga sel-sel normal yang terkena sinar radiasi. Kemudian, pasien yang menjalani terapi sinar juga akan mengalami efek samping hingga berbulan-bulan lamanya dan bahkan hingga tahunan. Pada beberapa kasus tertentu, efek samping radioterapi dapat bersifat permanen.

Pengobatan Kemoterapi

Kemoterapi diberikan dengan tujuan untuk membunuh sel-sel kanker serta menghilangkan gejala-gejala kanker serviks yang selama ini dirasakan oleh pasien. Kemoterapi merupakan pemberian obat-obatan pada pasien kanker serviks dan kanker lainnya di mana obat-obatan ini memiliki kemampuan untuk menghancurkan sel-sel kanker.

Berbeda dengan operasi dan radioterapi yang hanya akan membuahkan efek samping pada area sekitar saja, kemoterapi dapat menghasilkan efek samping ke seluruh bagian tubuh. Obat khusus pembunuh sel kanker ini diberikan pada pasien bersamaan dengan cairan infus. Pasien yang menjalani kemoterapi wajib melakukan tes darah secara rutin guna mengecek fungsi dan kesehatan organ ginjal karena terdapat beberapa jenis obat kemoterapi yang sangat berpotensi merusak ginjal.

Adapun beberapa efek samping paska kemoterapi yang umumnya dirasakan oleh pasien kanker, khususnya pasien kanker serviks antara lain:

  • Selera makan yang menurun
  • Pasien menderita sariawan
  • Pasien merasa lelah dan lemah
  • Pasien sering mengalami mual dan muntah
  • Pasien akan mengalami kerontokan rambut
  • Jumlah sel darah merah pasien berkurang secara signifikan

Pasien yang menjalani kemoterapi sebaiknya dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang bernutrisi agar jumlah sel darah merah di dalam tubuh kembali normal. Yang sering menjadi masalah bagi pasien usai menerima kemoterapi adalah ketidakmauan untuk makan dan minum karena mual dan muntah terus menerus. Apabila hal ini terus dibiarkan, pasien akan sangat berisiko terkena gagal ginjal karena tidak adanya asupan nutrisi dan cairan yang masuk ke dalam tubuh.