Obat Anti Inflamasi Non Steroid, yang Sering Digunakan sebagai Painkiller

714

Diedit:

Beberapa dari Anda mungkin sudah cukup familier dengan beberapa obat yang kerap diresepkan atau dijual bebas sebagai obat anti nyeri seperti ibuprofen atau aspirin. Taukah Anda apa sebenarnya jenis dari kedua obat tersebut dan bagaimana cara kerja serta ciri khasnya?

Ibuprofen dan aspirin sebenarnya bagian dari jenis obat anti inflamasi non steroid atau dikenal pula dengan sebutan Non Steroidal Anti-Inflammation Drugs atau NSAID. Obat jenis NSAID termasuk jenis yang heterogen, bahkan setiap jenisnya memiliki susunan kimia yang berbeda satu dengan yang lain. Kesamaan dari jenis obat ini adalah fungsinya sebagai anti inflamasi untuk mengatasi peradangan, anti piretik untuk menormalkan suhu tubuh, dan fungsi analgesik untuk pereda nyeri.

Penyebutan non steroid sebenarnya sebagai pembeda dengan jenis anti inflamasi lain yang bersifat steroid. Perbedaan mendasar antara bentuk anti inflamasi steroid dengan non steroid terletak pada cara kerjanya. Jenis steroid cenderung lebih dini dalam mencegah respon nyeri pada tubuh sehingga cocok untuk jenis trauma atau kerusakan jaringan yang lebih berat. Sedangkan jenis non steroid sifatnya lebih dangkal dan cocok untuk jenis luka dan trauma yang lebih ringan.

Mekanisme kerja dari obat anti inflamasi non steroid ini fokus pada penghambatan isoenzim COX-1 (cyclooxygenase-1) dan COX-2 (cyclooxygenase-2). Enzimcyclooxygenase ini memiliki peran dalam mendorong proses pembentukan prostaglandin dan tromboksan dari arachidonic acid. Untuk Anda ketahui prostaglandin merupakan molekul penting dalam proses pembawaan pesan trauma menuju sensor otak dan saraf pada proses inflamasi (radang).

Dengan mengasup NSAID, pasien dengan kondisi trauma atau luka, iritasi dalam dan luar, juga peradangan baik itu di permukaan kulit atau di dalam permukaan kulit akan dapat meredakan rasa nyeri yang mereka rasakan atau menjadi fungsi analgesik.

Selain membantu meredam rasa nyeri dengan memanipulasi produksi enzim penghantar sinyal trauma, obat anti inflamasi non steroid ini juga dapat bekerja sebagai anti piretik. Anti piretik adalah fungsi untuk membantu mengatasi kenaikan suhu tubuh.

Biasanya bersamaan dengan inflamasi atau peradangan, akan muncul demam dalam berbagai skala. Demam ini adalah reaksi alami tubuh terhadap peningkatan kerja sistem imunitas dalam melawan peradangan. Pada dasarnya ini adalah reaksi adaptasi karena proses kinerja imunitas yang meningkat akan mendorong peningkatan atau induksi suhu tubuh.

Baca juga:  Piroxicam: Manfaat, Dosis Aman, dan Efek Sampingnya bagi Kesehatan

Obat NSAID akan bekerja dengan cara memengaruhi hipotalamus dalam merespon sinyal dari interleukin dalam menginduksi suhu tubuh. Ini juga berkaitan dengan fungsi NSAID dalam menekan produksi prostaglandin. Biasanya cara yang dilakukan untuk menjalankan fungsi anti piretik adalah dengan mendorong aliran darah menuju perifer dan memicu tubuh berkeringat untuk mengadaptasi suhu tubuh tinggi kembali turun.

Pada dasarnya jenis obat anti inflamasi non steroid di dalam dunia farmasi sendiri terbagi dalam beberapa jenis. Dan jenis-jenisnya akan kami jabarkan sebagai berikut.

  • Golongan salisilat

    Bekerja mengatasi peradangan dan infeksi dengan meredakan gejala yang muncul, tetapi tidak mengatasi masalah utamanya, melainkan hanya mengatasi bentuk peradangan yang muncul seperti pembengkakan, efek memar, rasa nyeri, dan rona merah akibat radang.

    Jenis yang termasuk dalam golongan ini antara lain aspirin atau asam asetilsalisilat, metil salisilat, magnesium salisilat, salisil salisilat, dan salisilamid. Jenis NSAID ini juga efektif untuk membantu meredakan jerawat meradang, keluhan penggumpalan darah, sehingga juga efektif untuk keluhan jantung dan stroke.

  • Golongan asam arilalkanoat

    Yang termasuk dalam jenis obat golongan ini adalah diklofenak, indometasin, proglumetasin, dan oksametasin. Bekerja dengan cara yang sama sebagaimana obat anti inflamasi non steroid lain, jenis ini juga bekerja tripel sebagai anti analgesik, anti inflamasi dan anti piretik. Biasa bekerja untuk masalah ketegangan otot dan saraf yang memicu efek nyeri seperti migrain dan sakit leher.

  • Golongan profen

    Jenis ini mungkin termasuk pula jenis yang familier, seperti ibuprofen, alminoprofen, fenbufen, indoprofen, naproxen, dan ketorolac. Sifatnya kerjanya cukup cepat, karena kemampuannya untuk mudah dicerna dalam lambung.

  • Golongan Perizolidin

    Jenis ini bisa Anda temukan di pasaran dalam bentuk enilbutazon, ampiron, metamizol, dan fenazon. Jenis ini tak begitu lazim dijumpai dalam pengobatan lokal di Indonesia,namun cukup biasa dikenal sebagai anti rematik di berbagai negara di belahan Eropa. Namun belakangan metamizol juga kerap diresepkan dalam pengobatan reumatik dan asam urat.

  • Golongan Oksikam

    Anda mungkin juga sudah terbiasa dengan obat analgesik yang paling sering diresepkan dalam pengobatan reumatik dan asam urat. Bahkan juga kerap menjadi obat untuk Anda yang mengalami pegal linu berat. Mengandung efek kantuk yang menjadikannya tidak cocok untuk Anda yang menyetir.

  • Golongan asam fenamat atau asam N-arilantranilat

    Jenis ini biasa digunakan untuk membantu meredakan nyeri yang diakibatkan ketegangan otot, kontraksi otot dan saraf seperti sakit kepala, migrain dan keluhan nyeri haidh. Biasanya Anda jumpai dalam bentuk asam mefenamat, asam flufenamat, dan asam tolfenamat.

  • Golongan lain

    Ada banyak jenis lain dari obat anti inflamasi non steroid yang juga bekerja dengan cara yang sama namun dalam beragam jenis kondisi. Sebut saja asetaminofen atau parasetamol, licofelone atau nimesulide.

Baca juga:  Meloxicam: Manfaat, Dosis Aman, dan Efek Sampingnya bagi Kesehatan

Secara umum fungsi dari obat anti inflamasi non steroid ini adalah sebagai pereda segala jenis nyeri. Mulai dari nyeri pada area otot karena efek peradangan akut seperti reumatik, arthritis, asam urat, carpal sindrom, saraf terjepit, dan lain sebagainya. Juga efektif untuk membantu mengatasi nyeri sendi karena keseleo, pegal linu hebat, dan lain sebagainya.

Namun obat jenis ini juga bisa bekerja efektif untuk meredakan sakit kepala, nyeri akibat perawatan seperti nyeri karena suntikan imunisasi atau nyeri haid. Tentu saja tidak semua obat bisa digunakan untuk semua jenis keluhan.

Obat anti inflamasi non steroid secara umum sebenarnya tidak berbahaya, tentu saja selama dikonsumsi dengan dosis yang aman. Karena ada dua risiko efek samping dari mengonsumsi obat jenis ini terutama bila Anda mengknsumsinya secara berlebihan atau dalam jangka panjang.

Dua efek samping yang lazim muncul adalah penyakit tukak lambung dan mual yang bisa muncul karena efek proses penghambatan prostalgladin yang rupanya memiliki manfaat dalam fungsi lambung. Selain itu masalah ginjal bisa muncul karena efek oskidasi berlebihan dari obat jenis ini dan terendap dalam ginjal. Beberapa kasus juga bisa memunculkan kecacatan trombosit.

Advertisement
Alinesia