Menjawab 5 Pandangan Keliru Soal Vaksin

497

Diedit:

Meski kita sebenarnya sudah mengenal vaksin bahkan lebih dari 30 tahun, hingga kini pertanyaan klasik seputar “Apakah vaksin aman?” masih saja muncul pada masyarakat. Seiring dengan semakin maraknya pula gerakan anti vaksin yang cukup rutin mencoba mengulik titik-titik bahaya dan keraguan seputar penggunaan vaksin.

Pertanyaan klasik semacam “Apakah vaksin aman?” Sebenarnya bukan pertanyaan baru. Pertanyaan ini muncul bersamaan dengan munculnya konsep vaksin itu sendiri. Dan semakin berkembangnya temuan vaksin di dunia tak cukup mampu membungkam rasa penasaran akan tingkat keamanan vaksin. Dan dari sanalah lahir beberapa mitos dan pandangan yang memberi cap bahwa vaksin tak aman dan berbahaya.

Sejauh mana sebenarnya kebenaran dari pandangan tersebut? Apakah benar vaksin sebenarnya tidak sepenuhnya aman? Dan benarkah bahwa sebenarnya anak Anda tidak mutlak membutuhkan vaksin? Dan benarkah sebenarnya vaksin tidak seefektif yang selama ini Anda kira?

Pada masa lalu, sejumlah kasus efek samping memang berkembang terkait dengan paparan vaksin pada masa awal pembuatannya. Namun seiring perkembangan sejumlah efek samping tersebut sudah teratasi dengan pembuatan formula baru. Dan sayangnya kasus-kasus tua tersebut masih saja diungkit seolah masih update dengan kondisi sekarang.

Inilah yang kemudian membangun pandangan-pandangan seputar vaksin yang menggiring pada pemikiran bahwa vaksin tidak sepenuhnya aman dan bermanfaat. Beberapa pandangan seputar vaksin berikut ini dijawab oleh beberapa pakar vaksin dunia. Dan berikut adalah 5 jawaban dari sejumlah pandangan keliru seputar vaksin.

Vaksin Tidak Membunuh Penyakit

Sejak awal, fungsi vaksin adalah untuk membentuk sistem imunitas. Jadi tidak ada satupun klaim yang menyatakan bahwa vaksin akan menghilangkan keberadaan penyakit, virus dan bakteri yang bertebaran di dunia ini. Vaksin bekerja secara personal dengan membangun sistem kekebalan tubuh untuk melawan serangan virus atau bakteri bersangkutan.

Artinya, kinerja vaksin hanya bisa dinilai pada sejauh mana dia berhasil melawan serangan dan mencegah pasien mengalami sakit. Bukan berarti kemampuan ini akan mampu menghilangkan penyakit ini sepenuhnya, tetapi setidaknya akan mengurangi penyebarannya dengan efektif.

Memang di atas kertas seharusnya dengan vaksin, semakin sedikit pasien yang terserang dan akhirnya bisa mengurangi jumlah persebaran pada angka minimal. Terbukti pada beberapa daerah, kasus cacar bisa dikatakan hilang sama sekali dalam setidaknya 1 dekade. Namun, sebenarnya ekspektasi tedekat hanya mengurangi jumlah kasus pada angka minimal, dan bukan menghilangkan sama sekali.

Baca juga:  Ternyata Orang Dewasa Juga Butuh Vaksin Loh!

Vaksin MMR Tidak Menyebabkan Autis

Rasanya pandangan satu ini sudah bertahan setidaknya selama lebih dari 15 tahun, sekalipun beberapa pakar sudah menunjukan fakta terbaru sebagai jawaban. Pandangan ini berawal dari sebuah riset pada tahun 1998 oleh Dr. Andrew Wakefield. Studi ini sebenarnya hanya melibatkan 12 sampel dan memang 8 diantaranya mengalami autis setelah mendapat suntikan MMR kemudian menyimpulkan adanya kaitan antara MMR dan autis.

Namun, riset ini dinyatakan tidak valid mengingat sampel yang digunakan sangat minim dengan adanya pengaruh asumsi yang terlalu kuat. Bantahan terbesar datang dari salah satu riset besar yang dikembangkan oleh New England Journal of Medicine pada tahun 2002

Riset tersebut melibatkan 537 ribu anak dan membuktikan bahwa MMR tidak memiliki kaitan baik secara material maupun dalam kasus di lapangan terhadap kasus Autis.

Vaksin 100% Aman Asalkan Diberikan dengan Teknik Tepat

Klaim bahwa vaksin 100% aman juga tidak bisa dibenarkan, dan faktanya secara resmi WHO juga memberikan sejumlah “disclaimer” untuk membantu memandu tenaga kesehatan memahami cara tepat pemberian vaksin. Salah satu materinya adalah peringatan perihal beberapa kondisi yang memungkinan pasien mengalami resiko atas pemberian vaksin tertentu. Ini jelas menandakan bahwa vaksin tidak 100% aman.

Namun, dengan adanya disclaimer ini, WHO juga memberikan tanda bahwa selama diberikan dengan cara dan teknik tepat, pasien akan aman mendapatkan vaksin. Dan resiko dari pemberian vaksin jelas berkali lebih rendah dari resiko tidak memberikan vaksin. .

Dalam salah satu clausal, dijelaskan bahwa setidaknya anak harus dalam kondisi sehat untuk mendapatkan asupan vaksin. Ini karena vaksin sendiri adalah bentuk virus atau bakteri yang sudah dilemahkan sehingga bagaimanapun tubuh akan membutuhkan imunitas untuk bereaksi membentuk imun. Ketika tubuh sedang rentan, masuknya virus ini bisa memberi efek negatif terhadap tubuh.

Vaksin Ampuh dalam Pencegahan Penyakit

Anda mungkin menemukan beberapa pandangan seputar keraguan akan kemampuan vaksin dalam mencegah serangan. Terbukti, setelah si kecil mendapatkan vaksin campak, ternyata si kecil tetap saja mengalami serangan campak.

Baca juga:  Penyakit-Penyakit yang Bisa Dicegah dengan Vaksin

Yang Anda tidak tau, campak yang dialami si kecil sebenarnya berkali lipat lebih ringan dari serangan campak berpuluh tahun lalu. Pada tahun 1963, setidaknya seluruh orang di Amerika mengalami campak sebelum menginjak usia 15 tahun. Dan tak sedikit dari kasus ini mengalami kondisi berat bahkan kematian.

Kini kasus campak hanya berkisar pada angka di bawah 7% pertahunnya dengan kasus kematian 0%. Campak juga berkembang menjadi kasus cenderung ringan yang akan teratasi dalam tempo kisaran 10 hari serangan setelah masa inkubasi tanpa adanya efek yang cenderung serius.

Di Indonesia sendiri, kasus dipteri sempat menjadi salah satu ancaman besar pada tahun 60 – 70an. Namun kini angka kasus yang muncul di masyarakat cenderung rendah dengan tingkat kasus tak sampai 250 pertahunnya di seluruh Indonesia.

Jadwal Vaksin yang Masuk Akal

Vaksin memang sebaiknya diberikan seawal mungkin, bahkan pada saat bayi masih belum menginjak usia 1 tahun. Alasannya supaya bayi lebih siap menghadapi serangan virus sebelum mereka akhirnya benar-benar berinteraksi aktif dengan virus. Asumsinya bayi pada usia di bawah 1 tahun cenderung beraktivitas dalam lingkungan terbatas dengan kemungkinan mengalami serangan yang relatif kecil.

Dan pada faktanya, daftar tersebut sama sekali tidak berlebihan. Vaksin hanya sebagian kecil dari tantangan yang harus dihadapi oleh imunitas setiap harinya. Dalam keseharian, anak sudah harus berinteraksi dengan sejumlah paparan virus, kotoran, toksin yang menjadi tantangan bagi sistem imunitas.

Menurut sebuah riset yang dikembangkan oleh pakar imunologi di University of California, San Diego membuktikan anak dalam kondisi sehat bisa menahan setidaknya 100 ribu vaksin dalam dosis terukur dalam tempo 2 tahun.

Sejumlah jawaban di atas seharusnya meyakinkan Anda bahwa buah hati Anda dan mungkin Anda sendiri membutuhkan vaksin. Dan pahami bahwa vaksin diciptakan untuk membantu Anda dan buah hati menjalani hidup dengan lebih sehat dan aman. Jadi jelas bukan jawaban dari pertanyaan “Apakah vaksin aman?”