Memotong Rantai Maut TBC

605

Diedit:

TBC adalah suatu penyakit yang biasanya menyerang dengan perlahan-lahan merusak paru-paru, tetapi dapat juga menyebar ke bagian tubuh yang lain, khususnya otak, ginjal, dan tulang.

Yang beresiko tinggi terkena TBC yaitu orang yang berhubungan dekat dengan penderita, tinggal dalam ruangan yang kotor dengan ventilasi buruk, dan orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. 

Sebelum seseorang jatuh sakit karena TBC, ada dua hal yang harus terjadi. Pertama, ia harus terinfeksi bakteri TBC (Mycobacterium tuberculosis). Kedua, infeksi tersebut harus berkembang menjadi penyakit.

Basil yang dihirup oleh seseorang yang terinfeksi berkembang biak di dalam rongga dada. Akan tetapi, pada 9 dari 10 orang, sistem kekebalan menghentikan penyebaran infeksi, dan orang yang terinfeksi tidak sampai jatuh sakit.

Adakalanya, basil yang tidak aktif dapat aktif kembali jika sistem kekebalan menjadi sangat lemah akibat HIV, diabetes, perawatan kanker dengan kemoterapi, atau penyebab lain.

TBC pada paru-paru dapat mengakibatkan batuk-batuk, kehilangan berat badan dan nafsu makan, mengeluarkan banyak keringat pada malam hari, lemas, terengah-engah, dan rasa nyeri di dada.

Pencegahan TBC

Hanya ada satu vaksin—dikenal sebagai BCG. Ini mencegah TBC berat pada anak-anak tetapi tidak banyak membantu bagi remaja dan orang dewasa. Vaksinasi ini paling-paling hanya melindungi untuk waktu 15 tahun.

BCG hanya melindungi orang-orang yang belum terinfeksi; ini tidak ada manfaatnya bagi orang-orang yang telah terinfeksi. Selain upaya pencegahan vaksinasi, Anda juga bisa melakukan pencegahan dengan mengusahakan berada dalam ruangan yang berventilasi baik sehingga cukup cahaya dan udara segar.

Pengobatan TBC

Perawatan TBC yang efektif lamanya lebih dari enam bulan dan menuntut agar pasien meminum empat butir obat dengan teratur sesuai dosis. Pasien mungkin harus menelan selusin pil setiap hari.

Baca juga:  Tuberkulosis: Waspadai Penularan dan Gejala-Gejalanya

Jika pasien tidak meminum obat secara teratur atau tidak menuntaskan perawatan, berkembanglah jenis TBC yang sulit atau tidak mungkin dibunuh.

Beberapa jenis basil kebal terhadap tujuh obat standar TBC. Merawat pasien yang mengidap jenis TBC yang kebal terhadap berbagai jenis obat bukan hanya sulit, tetapi juga mahal. Kalau begitu, adakah alternatif pengobatan lain?

Sarang Semut terbukti berkhasiat mengatasi TBC. Kemampuan Sarang Semut dalam mengatasi TBC berkaitan dengan kandungan flavonoidnya yang tinggi. Pada penderita TBC, Sarang Semut terutama bekerja dengan mengaktifkan sistem kekebalan tubuh guna melawan bakteri yang masuk ke dalam tubuh. 

Dalam sistem kekebalan tubuh, ada sel-sel yang bertempur untuk mempertahankan tubuh yang disebut leukosit, atau sel darah putih. Ada tiga unsur sel darah putih yang penting dalam tahap pertarungan ini, yakni monosit, neutrofil, dan limfosit.

Sewaktu mendengar sinyal-sinyal kimiawi yang menunjukkan adanya problem di daerah tertentu, monosit akan meninggalkan aliran darah dan menembus jaringan yang bermasalah, tempat mereka menjadi makrofagus, yang artinya “si pemakan yang rakus”. Di sana mereka melahap semua zat asing termasuk bakteri.

Selain itu, mereka mengeluarkan senyawa penting yang disebut sitokin, yang mempersiapkan tubuh untuk memerangi infeksi. Kemudian, neutrofil juga akan  bergegas datang untuk membantu makrofagus dalam  melahap bakteri.

Setelah itu, makrofagus akan memberikan potongan-potongan patogen kepada limfosit untuk memperingatkan mereka pada serangan bakteri. Limfosit akan memproduksi senyawa yang disebut antibodi, yang secara khusus memerangi suatu jenis fragmen kuman atau bakteri tertentu.

Terdapat dua komponen utama pada limfosit, masing-masing memiliki kesanggupan yang berbeda. Yang pertama adalah sel B, yang melepaskan antibodi yang diproduksinya ke dalam aliran darah.

Sel B akan melepaskan antibodi yang akan mencari kuman atau bakteri yang mereka kenali dan mereka akan menghunjam lokasi vital pada kuman.

Baca juga:  Tips untuk Pencegahan TBC

Komponen berikutnya pada limfosit, yaitu sel T, menjaga antibodi yang ia kenali tetap terpancang pada permukaan sel. Mereka menggunakan antibodi ini untuk menghantam musuh—seolah-olah mengajaknya bertarung satu lawan satu.

Selain itu, sekelompok unsur pada sel T, yang disebut pembantu sel T, membantu rekan-rekan mereka, sel B, untuk mengeluarkan antibodi dalam jumlah besar. Sebelum serangan berlangsung, pembantu sel T ini berkomunikasi satu sama lain.

Riset baru-baru ini memperlihatkan bahwa melalui sinyal-sinyal kimiawi, sel-sel ini saling “berbicara” dengan antusias, saling bertukar informasi tentang unsur asing, dalam bentuk komunikasi getar.

Bantuan lain juga diberikan oleh kelompok sel penting lainnya, sel pembunuh alami. Sel-sel ini tidak menghasilkan antibodi, tetapi mereka siap membunuh langsung sel-sel yang menjadi “asing” karena terinfeksi. Jadi, sel pembunuh alami pun turut melindungi kesehatan tubuh.

Kemudian, berkat jasa memori imunologinya, limfosit sanggup mengingat karakteristik suatu kuman atau bakteri sehingga jika jenis kuman semacam itu muncul lagi, limfosit ini telah mempunyai antibodi spesifik untuk langsung menghancurkannya.

Makrofagus, sel-sel yang mengaktifkan respons sistem kekebalan, juga turut menuntaskan pekerjaan ini dengan membersihkan daerah yang bermasalah dari sel-sel mati yang telah gugur dalam menjalankan tugasnya melawan kuman dan bakteri. 

Dengan kandungan antioksidannya yang tinggi, Sarang Semut bekerja dalam sel dengan mengaktifkan dan menstimulasi fungsi kekebalan tubuh tersebut untuk melawan bakteri penyebab TBC.

Tak hanya itu, kandungan antioksidannya yang tinggi juga akan bermanfaat dalam pemulihan jaringan dan sel-sel yang rusak akibat infeksi bakteri. Bila sel-sel dalam tubuh sehat, maka tubuh pun menjadi sehat dan bebas TBC.

Baca juga artikel kami lainnya tentang Ingin Lebih Bergairah? Wujudkan Impian Anda!

Advertisement
Alinesia