Waspadai Macam-Macam Gangguan Pendengaran yang Umum Ini


By Cindy Wijaya

Di seluruh dunia diperkirakan sekitar setengah miliar orang (hampir 8% dari populasi dunia) mengalami gangguan pendengaran. WHO bahkan sempat melaporkan bahwa 9,6 juta orang Indonesia mengalaminya, menempati posisi ke-4 sebagai negara terbanyak jumlah penderita gangguan ini. Ada macam-macam gangguan pendengaran yang bisa terjadi pada anak-anak hingga lansia, misalnya gangguan sensorineural, gangguan akibat bising, dan lain sebagainya.

Gangguan pendengaran biasanya akan muncul secara bertahap dan dalam waktu cukup lama. Akan tetapi ada juga yang dapat muncul secara tiba-tiba. Untuk lebih memahami tentang gangguan ini, artikel ini akan merangkum berbagai informasi kredibel tentang macam-macam gangguan pendengaran dan penyebabnya.

Macam-Macam Gangguan Pendengaran

Gangguan pendengaran dapat disebabkan oleh banyak hal. Ada bagian-bagian jalur pendengaran berbeda yang dapat terpengaruh oleh gangguan ini, dan macam-macam gangguan pendengaran dikelompokkan menjadi tiga jenis, tergantung pada bagian jalur yang terpengaruh. Berikut penjelasannya.

Gangguan Pendengaran Sensorineural:

Ini terjadi ketika suara mencapai telinga bagian dalam, tetapi suara tersebut tidak dapat diterjemahkan menjadi impuls saraf (gangguan sensorik) atau impuls saraf tidak dibawa ke otak (gangguan saraf).

Membedakan antara gangguan sensorik dan saraf penting, karena gangguan pendengaran sensorik kadang dapat dipulihkan dan jarang membahayakan jiwa. Tetapi gangguan pendengaran saraf jarang dapat dipulihkan dan mungkin disebabkan oleh tumor otak yang berpotensi mengancam jiwa—umumnya adalah tumor sudut serebellopontin.

Selain itu ada juga gangguan pendengaran spektrum neuropati, yang terjadi ketika suara dapat dideteksi tetapi sinyal tidak dirikim dengan benar ke otak.

Gangguan Pendengaran Konduktif:

Ini terjadi ketika ada sesuatu yang menghalangi suara mecapai struktur sensorik di telinga bagian dalam. Masalahnya mungkin melibatkan saluran telinga luar, gendang telinga (membran timpanik), atau telinga bagian tengah.

Gangguan Pendengaran Campuran:

Ini melibatkan gangguan pendengaran konduktif dan sekaligus sensorineural. Gangguan ini mungkin disebabkan oleh cederah kepala yang berat, infeksi kronis, atau akibat penyakit kelainan genetik yang langka.

Macam-Macam Penyebab Gangguan Pendengaran

Ada macam-macam hal yang bisa menyebabkan gangguan pendengaran, tetapi yang paling umum ialah akibat penumpukan kotoran telinga (serumen), suara bising, penuaan (pada lansia), dan infeksi telinga (terutama pada anak-anak dan orang muda).

Penumpukan kotoran telinga adalah penyebab paling umum dari gangguan pendengaran yang bisa diatasi, terutama pada lansia.

Suara bising bisa menyebabkan gangguan pendengaran sensorineural secara mendadak atau bertahap. Mendengar satu suara bising yang sangat keras (misalnya akibat tembakan pistol atau ledakan) bisa menyebabkan gangguan pendengaran mendadak yang disebut trauma akustik.

Beberapa orang dengan trauma akustik juga mengalami gangguan telinga berdengung (tinnitus). Gangguan pendengaran akibat trauma akustik biasanya akan hilang dalam satu hari, kecuali ada kerusakan akibat ledakan pada gendang telinga atau telinga tengah.

Namun gangguan pendengaran akibat bising lebih sering disebabkan oleh mendengar suara bising secara terus-menerus dalam jangka panjang. Kebisingan yang lebih keras daripada 85 desibel (dB) bisa mengakibatkan gangguan pendengaran apabila terus didengarkan dalam waktu lama.

Hampir semua orang bisa mengalami gangguan pendengaran akibat bising apabila mereka terus mendengarkan kebisingan yang cukup keras untuk waktu yang lama.

Penuaan, bersama dengan faktor suara bising dan faktor genetik, merupakan penyebab umum dari gangguan pendengaran, terutama pada lansia. Gangguan pendengaran yang terkait penuaan (presbycusis) membatasi kemampuan seseorang untuk mendengar suara dalam frekuensi yang lebih tinggi.

Infeksi telinga adalah penyebab umum dari gangguan pendengaran sementara dalam taraf ringan hingga sedang (terutama pada anak-anak). Sebagian besar anak-anak akan pulih pendengarannya dalam waktu 3 – 4 minggu setelah infeksi telinga sembuh, namun ada juga yang pendengarannya tetap bermasalah. Gangguan pendengaran yang tidak kunjung pulih lebih rentan dialami oleh anak-anak yang mengalami infeksi telinga yang kambuh-kambuhan.

Selain macam-macam penyebab umum gangguan pendengaran di atas, ada juga penyebab-penyebab lain yang lebih jarang. Beberapa diantaranya yaitu: gangguan autoimun, kelainan bawaan, obat yang merusak telinga, cedera, dan tumor.

Macam-Macam Gangguan Pendengaran pada Anak

Penyebab gangguan pendengaran yang paling umum pada anak yang baru lahir adalah cacat genetik. Sedangkan pada anak balita dan anak yang sudah beranjak besar, penyebab gangguan pendengaran umumnya adalah infeksi telinga, otitis media sekretori, dan penumpukan kotoran telinga.

Pada anak yang lebih besar, macam-macam penyebab gangguan pendengaran lainnya mungkin akibat cedera kepala, bising (termasuk musik keras), konsumsi obat, infeksi virus, tumor, cedera oleh pensil atau benda asing lain yang masuk ke telinga, dan gangguan autoimun (jarang terjadi).

Jika seorang anak tidak menanggapi suara, kesulitan berbicara, atau mulai berbicara dengan lambat, pendengarannya mungkin terganggu.

Untuk memeriksa apakah seorang anak bayi memiliki gangguan pendengaran, mungkin dokter akan memasang perangkat genggam pada bayi atau melakukan tes yang mengukur respons otak terhadap suara. Pada anak yang lebih besar, gangguan pendengaran bisa diuji dengan berbagai teknik.

Gangguan pendengaran yang tidak dapat diobati dapat menghambat perkembangan verbal, sosial, dan emosional pada anak.

Ada penyebab gangguan pendengaran pada anak yang dapat diobati, namun ada kemungkinan anak tetap perlu memakai alat bantu dengar.

Jika alat bantu dengar tidak efektif membantu, terkadang dokter memasangkan implan koklea untuk membantu pendengarannya.

Gangguan pendengaran relatif umum dialami pada anak-anak. Sekitar 1,9% anak mengalami gangguan pendengaran, dan gangguan pendengaran permanen ditemukan pada lebih dari 1 dari setiap 1000 anak yang diperiksa, tidak soal apakah mereka memiliki gejala-gejalanya atau tidak.

Gangguan pendengaran sedikit lebih sering terjadi pada anak laki-laki. Gagal mengenali dan mengobati gangguan pendengaran dapat berdampak pada kemampuan anak untuk berbicara dan memahami bahasa. Gangguan ini juga bisa membuat anak mengalami kegagalan di sekolah, di-bully oleh teman sebaya, terkucil secara sosial, dan mengalami kesulitan emosional.

Kesimpulan tentang Macam-Macam Gangguan Pendengaran

Apa macam-macam gangguan pendengaran? Terdapat tiga macam utama gangguan pendengaran: gangguan pendengaran sensorineural, gangguan pendengaran konduktif, dan gangguan pendengaran campuran (sensorineural-konduktif).

Gangguan pendengaran sensorineural adalah jenis yang paling banyak diderita orang-orang. Ini terjadi ketika saraf telinga bagian dalam rusak dan tidak mentransmisikan (mengirimkan) sinyal suara dengan benar ke otak.

Ini adalah jenis gangguan pendengaran yang paling umum disebabkan oleh layunya sel-sel rambut di telinga bagian dalam akibat penuaan (pada lansia), akibat bising, atau akibat konsumsi obat. Tanpa sel-sel rambut yang sehat, telinga tidak dapat mendeteksi suara dengan benar.

Gangguan pendengaran konduktif biasanya merupakan akibat adanya penghalang di telinga bagian luar atau tengah, yang mencegah suara memasuki telinga bagian tengah. Suara dan bunyi mungkin terdengar samar-samar, berubah, atau keduanya. Sebagian besar kasus gangguan pendengaran konduktif dapat diobati secara medis atau melalui operasi bedah.

Gangguan pendengaran campuran adalah gabungan dari gangguan pendengaran sensorineural dan konduktif. Gangguan pendengaran ini terjadi jika ada kerusaan konduktif di telinga luar atau tengah dan kerusakan sensorineural di telinga bagian dalam (koklea) atau di saraf pendengaran.

Kebanyakan orang akan mengalami gangguan pendengaran sampai taraf tertentu seraya usia mereka bertambah, dan saat mencapai usia lansia (65 tahun atau lebih) diperkirakan satu dari tiga orang akan memiliki beberapa jenis gangguan pendengaran.

Demikianlah artikel ini yang mengulas tentang macam-macam gangguan pendengaran. Semoga inforamsi ini dapat berguna khususnya bagi Anda yang sedang menghadapi masalah ini. Nantikan juga ulasan-ulasan menarik lain seputar masalah kesehatan hanya di Deherba.com.

Sumber

Sumber Referensi:

Lustig, Lawrence R. Hearing Loss. URL: https://www.msdmanuals.com/home/ear,-nose,-and-throat-disorders/hearing-loss-and-deafness/hearing-loss

Shah, Udayan K. Hearing Impairment in Children. URL: https://www.msdmanuals.com/home/children-s-health-issues/ear,-nose,-and-throat-disorders-in-children/hearing-impairment-in-children

Tentang Penulis 

Cindy Wijaya

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting dan di-review oleh Cindy Wijaya seorang editor dan penulis beragam artikel kesehatan. Ia senang meriset dan berbagi topik-topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Tinggal di “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}