• Home
  • Blog
  • Inflamasi
  • Inflamasi adalah Akar Sebagian Besar Penyakit, Atasi dengan Makanan Anti Inflamasi!

Inflamasi adalah Akar Sebagian Besar Penyakit, Atasi dengan Makanan Anti Inflamasi!


By Cindy Wijaya

Diketahui bahwa hampir setiap masalah kesehatan berkaitan dengan inflamasi (peradangan). Para peneliti dengan sangat bergairah meneliti efek dari inflamasi kronis pada kesehatan dan bagaimana cara untuk mencegahnya.

Ini adalah “bidang penelitian yang baru muncul.” Ujar Dr. David Heber dari The University of California, Los Angeles (UCLA). “Ini adalah konsep baru untuk pengobatan.”

Mengapa disebut konsep baru? Karena pengobatan modern cenderung hanya berfokus pada mengatasi gejala-gejala, sebaliknya daripada mencari akar penyebab penyakit.

Artritis adalah inflamasi pada sendi-sendi. Penyakit jantung adalah inflamasi pada pembuluh-pembuluh arteri. Daripada mencari obat hanya untuk mengurangi gejala nyeri sendi atau untuk menurunkan kolesterol pemicu penyakit jantung, hasil yang lebih baik mungkin diperoleh jika kita berupaya mengurangi inflamasi pada tubuh.

Dr. Tanya Edwards, direktur di Center for Integrative Medicine, menulis bahwa inflamasi sekarang dikenali sebagai “penyebab dasar dari sejumlah besar penyakit.”

Walaupun inflamasi telah lama diketahui peranannya dalam penyakit-penyakit alergi seperti asma, artritis dan penyakit Crohn, namun Dr. Edward mengatakan bahwa penyakit Alzheimer, kanker, kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah), diabetes, darah tinggi, kolesterol tinggi, dan Parkinson kemungkinan semua berkaitan dengan inflamasi kronis pada tubuh.

Apa Itu Inflamasi?

Inflamasi tidak selalu buruk; Ini sebenarnya adalah pertahanan alami tubuh terhadap sel-sel yang rusak, virus, bakteri, dsb. Inflamasi bertujuan untuk menyingkirkan para ‘penyusup’ asing dan berbahaya tersebut, lalu memulai proses penyembuhan diri sendiri.

Inflamasi kadang-kadang keliru disamakan dengan infeksi, tapi keduanya tidak sama. Namun infeksi memang dapat menyebabkan inflamasi, karena infeksi disebabkan oleh ‘penyusup-penyusup’ berbahaya semacam bakteri atau jamur. Sedangkan inflamasi adalah respon tubuh terhadap infeksi. Jika dilihat dari sisi ini, inflamasi sebenarnya bagus. Sayangnya tidak selalu seperti itu.

Terdapat dua jenis inflamasi berbeda. Satu jenis adalah inflamasi akut; yang lain adalah inflamasi kronis. Inflamasi akut mulai secara cepat dan umumnya menghilang setelah beberapa hari, tapi inflamasi kronis dapat berlangsung hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun akibat kegagalan untuk menyingkirkan para ‘penyusup’.

Pola makan yang buruk, stres, alergi-alergi ringan terhadap makanan, gaya hidup kurang gerak, dll, dapat memicu inflamasi kronis. Mari kita lihat bagaimana pola makan yang buruk dapat memicu.

Apa Penyebab Inflamasi?

Para peneliti meyakini bahwa sistem kekebalan yang terlalu aktif menyebabkan tubuh dibanjiri dengan sel-sel dan hormon-hormon pertahanan yang merusak jaringan-jaringan.

Toksin/racun dari makanan serta lingkungan dapat menumpuk di dalam tubuh, sehingga mengaktifkan sistem kekebalan lalu membuatnya sangat reaktif.

Makanan-makanan yang dapat memicu inflamasi antara lain:

  • Minyak jagung dan kedelai
  • Produk susu yang sudah dipasteurisasi
  • Karbohidrat olahan
  • Daging non-organik
  • Gula
  • Lemak trans

Makanan-Makanan Anti Inflamasi

Dr. Edwars mengungkapkan bahwa makanan-makanan anti inflamasi seperti serat, buah-buahan, sayuran, dan teh telah digunakan untuk melawan kanker. Dan vitamin E, kurkumin, acetylcarnitine, dan katekin memiliki efek positif serta pencegahan terhadap penyakit Alzheimer dan Parkinson.

Makanan-makanan yang kaya akan antioksidan membantu mengurangi kerusakan yang disebabkan oleh inflamasi.

Profesor di UCLA, Greg Cole, telah meneliti bagaimana mengendalikan inflamasi dan mencegah penyakit Alzheimer dengan makanan-makanan pengganti seperti kurkumin, flavonoid buah, asam lemak omega-3, dan reservatrol.

Pola makan Mediterania mencakup makanan-makanan anti inflamasi dan telah diperlihatkan sanggup menurunkan kolesterol, trigliserida, serta mengurangi gejala-gejala artritis rematoid. Pola makan tersebut juga dikaitkan dengan penurunan risiko dari penyakit Alzheimer, kanker, kardiovaskular, serta diabetes.

Walaupun bukan manfaat utamanya, tetapi sebagian besar orang yang mengonsumsi diet anti inflamasi juga mengalami pengurangan berat badan.

Dr. Andrew Greenberg dari Tuft University menyatakan, “Tidak ada keraguan bahwa jika berat badan Anda turun, inflamasi pada tubuh Anda juga secara drastis membaik.” Hal ini karena kelebihan asam lemak yang beredar dalam darah mendorong respon kekebalan terhadap inflamasi.

Dengan mengurangi inflamasi, Anda menempatkan tubuh Anda dalam keadaan yang kondusif untuk penyembuhan dari penyakit serta masalah kesehatan lainnnya.

Dr. Nicholas Perricone adalah salah satu pendukung diet anti inflamasi dan telah menulis beberapa buku. Ia mengatakan bahwa “semua makanan dapat digolongkan menjadi 3 kelompok: pro inflamasi, netral, atau anti inflamasi.”

Beberapa makanan anti inflamasi yang direkomendasikan oleh Dr. Perricone adalah:

  • Buah beri acai
  • Sayuran allium (daun bawang lokio, bawang putih, bawang prei, daun bawang, bawang merah)
  • Kacang-kacangan dan kacang lentil
  • Makanan-makanan berwarna hijau
  • Cabai
  • Kacang pohon dan biji-bijian
  • Kecambah

Dr. Andrew Weil juga telah menciptakan piramida makanan untuk makanan-makanan anti inflamasi. Berikut adalah ulasan singkat makanan-makanan anti inflamasi yang dianjurkan olehnya:

  • Sayuran
    Setiap hari konsumsi minimal 4 – 5 porsi akar bit, wortel, sayuran cruciferous (brokoli, kubis, kembang kol, dan kale), sayuran hijau gelap (sawi hijau, kangkung, bayam), bawang-bawang, kacang polong, salad hijau, dan sayuran laut.
  • Buah-buahan
    Setiap hari konsumsi 3 – 4 porsi apel, ceri, jeruk, pir, limau gedang, plum, delima, atau stroberi.
  • Air
    Sepanjang hari minumlah air yang sudah dimurnikan, air mineral, atau teh tanpa pemanis.
  • Kacang-kacangan
    Setiap hari konsumsi 1 – 2 porsi kacang hitam, kacang tunggak, kacang arab, atau kacang lentil.
  • Lemak Sehat
    Setiap hari konsumsi 5 – 7 porsi alpukat, minyak canola organik, minyak zaitun ekstra virgin, biji rami, minyak hazelnut, minyak bunga matahari, minyak wijen, atau minyak kenari.
  • Herbal dan Rempah
    Konsumsi secukupnya herbal anti inflamasi seperti Noni juice dan Sarang Semut, juga rempah seperti cabai, kayu manis, bubuk kari, bawang putih, jahe, rosmarin, dan kunyit.
  • Protein
    Setiap minggu konsumsi 1 – 2 porsi telur, daging hewan pemakan rumput, keju natural, daging unggas, atau yogurt.
  • Teh
    Setiap hari minum 2 – 4 cangkir teh hijau, oolong atau teh putih.
  • Wine Anggur Merah
    Setiap hari minum 1 – 2 gelas wine anggur merah organik.
  • Suplemen
    Co-enzyme q10, karotenoid, minyak ikan, selenium, vitamin C, D, dan E.
  • Camilan Sehat
    Cokelat hitam, sorbet buah, dan buah yang dikeringkan tanpa pemanis.

Walaupun ada banyak jenis biji-bijian utuh, seperti soba dan jelai, yang dianggap sebagai anti inflamasi dan juga mengandung antioksidan serta nutrisi berkhasiat lain, tetapi tidak dianjurkan untuk mengonsumsinya dalam jumlah besar.

Biji-bijian utuh, sesehat apa pun itu, tetap akan berubah menjadi gula dengan cepat di dalam tubuh dan umumnya kurang bernutrisi dibandingkan dengan makanan-makanan sehat lain seperti sayuran.

Jika Anda tidak ingin dibuat pusing oleh masalah inflamasi kronis yang menimbulkan berbagai penyakit berat, maka cobalah hilangkan sumber inflamasi dari pola makan Anda. Makanan-makanan pemicu inflamasi antara lain minyak tengik, gula, daging non-organik, susu pasteurisasi, lemak trans, serta gula.

Mulailah diet anti inflamasi dengan perlahan memasukkan satu makanan anti inflamasi baru ke dalam menu Anda setiap hari. Jangan takut mencoba jenis-jenis makanan baru. Dan jika dibutuhkan Anda bisa menambah asupan suplemen atau herbal anti inflamasi kuat, antara lain Noni juice atau Sarang Semut.

Tentang Penulis 

Cindy Wijaya

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting oleh Cindy Wijaya seorang editor dan penulis beragam artikel kesehatan. Ia senang meriset dan berbagi topik-topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Tinggal di “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}