Hormon Estrogen Adalah Penyebab Kanker Payudara; Benarkah?

598
Shutterstock

Diedit:

Para onkologi khawatir dengan hormon estrogen; bagi mereka hormon ini perlu ditakuti seperti laba-laba beracun, harus dimusnahkan atau diinjak. Tapi benarkah estrogen sebegitu buruk? Tidak! Anda sebetulnya membutuhkan estrogen untuk menurunkan risiko penyakit jantung dan untuk membangun tulang yang kuat dan sehat.

Sebenarnya, estrogen penting bagi kesehatan dari seluruh bagian tubuh—mulai dari mata, ke jantung, lalu ke otak, dan semua bagian tubuh lain.

Apakah Anda khawatir mengira hormon estrogen adalah penyebab kanker payudara? Memang benar bahwa estrogen merangsang pertumbuhan sel-sel kanker sehingga meningkatkan risiko kanker payudara.

Namun peranan estrogen tidak bisa dijabarkan sesimpel itu! Kita membutuhkan estrogen untuk hidup; sayangnya hormon ini benar-benar disalahmengerti.

Peran Keseimbangan Antara Hormon Estrogen dan Progesteron

Pernahkah Anda tahu bahwa estrogen dan progesteron saling bertentangan dengan tujuan untuk mencapai keseimbangan, atau “homeostasis”? Tetapi jika Anda memiliki terlalu banyak estrogen dan terlalu sedikit progesteron, tubuh tidak lagi berfungsi dalam homeostasis yang sempurna.

Progesteron berperan untuk menyeimbangkan aktivitas estrogen. Sementara estrogen dikaitkan dengan kanker payudara dan jenis kanker lain, maka progesteron mempunyai efek-efek anti-kanker.

Estrogen juga menaikkan retensi (penahanan) cairan, sedangkan progesteron adalah diuretik (mendorong pengeluaran cairan) alami—yang menjadi salah satu alasan mengapa wanita yang kurang progesteron mengalami gejala PMS yang lebih banyak. Dan bila ada estrogen yang tidak ditentang karena kekurangan progesteron, maka terjadilah penigkatan risiko kanker.

Menyalahkan estrogen sebagai penyebab kanker payudara sama saja seperti menyalahkan kelompok perempuan pada sebuah tim menari. Jika ada 10 perempuan di tim tersebut tapi hanya 5 laki-laki, apakah itu salah perempuan jika ada di antara mereka yang tidak punya pasangan menari?

Ya, memang bisa saja si ketua memasukkan lebih sedikit perempuan ke dalam timnya, tapi bukankah lebih masuk akal jika dia seharusnya memasukkan lebih banyak laki-laki agar jumlahnya seimbang?

Begitu juga, jika kadar hormon estrogen normal—atau lebih rendah dari normalnya—apakah memang masuk akal untuk mengurangi saja kadar progesteron?

Sebenarnya, mungkin lebih baik untuk meningkatkan progesteron agar menyeimbangi estrogen, sehingga keseimbangan normal bisa dicapai. Bila kekuatan progesteron untuk menentang estrogen meningkat, maka efek negatif dari hormon estrogen juga akan menurun.

Sains Dibalik Hormon Estrogen, Progesteron, dan Penyebab Kanker Payudara

Estrogen telah tiperlihatkan dapat memicu aktivitas, atau “menghidupkan” gen BCL2, yang jika dikeluarkan dalam tingkat tinggi akan menyebabkan sel kanker tumbuh secara cepat dan agresif.

Di sisi lain, progesteron meningkatkan pengeluaran dari gen P53 yang disebut “penekan-tumor”, yang juga dikenal sebagai “sang penjaga genom” berkat kemampuannya mencegah mutasi DNA.

Keberadaan gen P53 yang lebih banyak membuat sel-sel kanker berhenti tumbuh, atau bahkan mati dengan cara mendorong mereka untuk melakukan bunuh diri (sebuah proses yang disebut “apoptosis”).

Sebaliknya gen BCL2 dalam tingkat tinggi merangsang pertumbuhan sel-sel kanker sehingga memperbesar risiko kanker. Progesteron menentang aksi gen BCL2 dengan merangsang produksi gen P53, yang memicu sel kanker untuk mati.

Misalnya, progesteron telah terbukti dalam uji laboratorium untuk menyebabkan kematian pada sel-sel kanker T47-D (lapisan sel kanker payudara pada karsinoma duktal invasif/metastasis dengan reseptor hormon).

Baca juga:  Kanker Payudara Sembuh Total, Bagaimana Caranya?

Jadi apabila hormon estrogen memicu kenaikan tingkat gen BCL2 sedangkan progesteron merangsang produksi P53, mengapa tidak mengubah fokus kita untuk mendukung aktivitas gen P53? Benar, kelihatannya kita bisa.

Ahli onkologi Mitchell Gaynor, MD, menjelaskan bahwa kita dapat mengubah cara gen kita berperilaku dengan mengupayakan konsumsi makanan yang baik. Menurut Dr. Gaynor, kandungan resveratrol dalam anggur merah (tentunya yang organik) mampu mengaktifkan gen P53.

Seperti yang Anda ketahui, resveratrol terdapat pada senyawa tanaman bernama polifenol, yang diyakini memiliki sifat antioksidan dan melindungi tubuh dengan mengecilkan risiko kanker serta penyakit jantung.

Sayuran kubis-kubisan (cruciferae)—terutama selada air, juga kembang kol, kubis, selada kebun, bok choy (sawi hijau), brokoli, dan kubis brussel (dengan kandungan tinggi senyawa anti-kanker PEITC alami, atau phenyl isothiocyanate) sanggup mendukung pengeluaran gen P53.

Selain itu, herbal semacam sage, rosmarin, jahe, serta curcumin (bahan aktif utama di dalam kunyit), dan ashwagandha (dikenal sebagai ginseng India) juga didapati mampu mendukung aktivitas P53.

Vitamin C adalah pendukung P53 lain nya, yang menjadi salah satu alasan mengapa terapi vitamin C intravena tampaknya sangat efektfi dalam melawan kanker. Di sisi lain, makanan olahan, tepung halus, dan gula, semuanya telah dibuktikan dapat mengganggu aktivitas P53.

Herbal dari Mediterania seperti rosmarin, thyme, basil (selasih), dan sage (semuanya kaya akan asam ursolik dan rosmarinat—diyakini bersifat antioksidan) telah didapati sanggup menghambat aktivitas gen BCL2.

Penjelasan lengkap seputar makanan serta gaya hidup pengubah gen menurut Dr. Gaynor dijelaskan dalam buku karangannya, yang berjudul The Gene Therapy Plan, Taking Control of Your Genetic Destiny with Diet and Lifestyle.

Apa yang Mengurangi Kadar Hormon Progesteron dalam Tubuh Kita?

Kasus kekurangan progesteron dan kanker cukup jarang terjadi sebelum masa revolusi industri, dimana orang-orang masih mengonsumsi makanan utuh tanpa pestisida dan tambahan hormon, juga sebelum maraknya penggunaan bahan kimia berat serta peningkatan polusi udara drastis. Mengapa?

Kemungkinan besar karena tambahan hormon, xenoestrogen, hormon buatan (sintesis), dan residu pestisida memiliki struktur kimia yang menyerupai estrogen sehingga mengelabui tubuh kita, lalu mengganggu homeostasis.

Akibat dari gabungan masalah tersebut adalah stres yang terus-menerus ada dalam kehidupan kita sekarang. Tidak heran kalau ketidakseimbangan hormon menjadi merajalela.

Kadar rendah progesteron juga merupakan hasil dari fungsi adrenal yang buruk, fungsi tiroid yang terganggu, serta fungsi hati yang jelek (mengakibatkan lambatnya pembuangan racun).

Penting untuk diingat bahwa gluten, umumnya terdapat dalam makanan-makanan dari gandum, gandum hitam, dan jelai, juga bisa mengganggu kelenjar tiroid dan adrenal dengan menghalangi penyerapan mineral dan nutrisi vital.

Hormon Estrogen dan Penyebab Kanker Payudara: Estrogen Tidak Semuanya Sama

Estrogen adalah istilah umum yang dipakai untuk beberapa jenis hormon mirip estrogen yang diproduksi oleh tubuh, antara lain estriol, estrone, dan estradiol. Estriol adalah estrogen lemah dan tidak memicu pembentukkan kanker.

Estriol kemungkinan bersifat melindungi tubuh dari kanker karena perannya menyeimbangkan efek pro-kanker estrone dan estradiol. Estrone adalah estrogen lebih kuat, sementara estradiol adalah yang paling kuat dan sayangnya merupakan yang paling dominan di antara estrogen-estrogen alami.

Pada wanita sebelum masa menopause, estrogen diproduksi secara alami di ovarium, adrenal, dan jaringan lemak. Selama menopause, produksi estrogen menurun hingga lebih dari 50 persen dan terutama diproduksi oleh adrenal dan jaringan lemak.

Baca juga:  Makanan untuk Penderita Kanker Payudara

Ketika tubuh berada dalam keadaan homeostasis hormonal, maka progesteron menentang estrogen, sehingga menjaga kadar hormon estrogen tetap dalam batasnya. Ketika Anda memiliki lebih banyak estrogen dari yang dibutuhkan dibandingkan dengan progesteron, maka Anda dianggap berada dalam keadaan dominasi estrogen.

Bahkan seorang wanita yang memiliki kadar estrogen rendah bisa saja mengalami dominasi estrogen bila tubuhnya tidak memproduksi cukup progesteron untuk mengimbanginya.

Mengapa Anda Harus Menghindari Xenoestrogen?

Estrogen yang paling berbahaya adalah “xenoestrogen”—yang merupakan estrogen kimiawi yang tidak dikenali oleh tubuh dan secara drastis memperbesar risiko kanker.

Xenoestrogen terdapat pada produk-produk perawatan diri, juga dalam wadah dan botol plastik. Mereka ini berbahaya karena merupakan pengganggu endokrin yang diketahui bisa mengubah fungsi normal dari hormon-hormon alami dalam tubuh.

Bahan-bahan kimia ini memiliki kemampuan untuk meniru hormon alami serta mengikat reseptor hormon. Ketika xenoestrogen masuk ke dalam tubuh, estrogen menjadi menumpuk, sehingga memicu terjadinya dominasi estrogen.

Sayangnya, xenoestrogen tidak dapat terurai secara biologis, jadi mereka disimpan di dalam sel lemak kita—dan jaringan payudara kebanyakan terdiri dari sel lemak. Walaupun organ hati melakukan tugas yang menakjubkan untuk mendetoksifikasi estrogen alami, tapi dia tidak mungkin diharapkan untuk mendetoksifikasi serangan estrogen kimiawi yang berbahaya.

Fitoestrogen: Adalah Anti-Estrogen

Fitoestrogen, meskipun ada yang menyamakannya jenis estrogen lain, sebenarnya pada umumnya bermanfaat, bukan berbahaya.

Fitoestrogen adalah estrogen tanaman yang dapat benar-benar bekerja sebagai anti-estrogen dengan cara mengurangi aktivitas estrogen di dalam tubuh serta melindungi kita dari estrogen kuat (estradiol) yang diproduksi tubuh serta xenoestrogen dari sekitar kita. Bukan hanya itu, mereka juga mengandung senyawa yang mampu mengurangi pertumbuhan juga penyebaran sel-sel kanker.

Fitoestrogen seperti lignan, didapatkan dari flaxseed (biji rami), bertindak lebih sebagai penghalang estrogen daripada menyerupai estrogen; mereka membantu mengatur produksi, ketersediaan, juga aksi dari hormon-hormon.

Mengendalikan Kadar Hormon Estrogen yang Tinggi

Bagi wanita yang memiliki terlalu banyak estrogen alami (sering kali akibat kelebihan paparan toksin/racun dan stres jangka panjan), langkah yang bisa membantu adalah dengan mengurangi kadar enzim bernama aromatase. Aromatase juga dikenal sebagai estrogen sintetase atau estrogen sintase—merupakan enzim yang bertanggung jawab dalam produksi estrogen.

Akan tetapi, lebih baik Anda tidak mengandalkan obat-obat penghambat aromatase untuk menurunkan kadar enzim ini. Manfaatkanlah makanan-makanan seperti jamur kancing, biji labu, dan biji rami dapat secara efektif membantu menjaga kadar enzim tetap terkendali.

Disamping itu, suplemen semacam DIM (Diindolylmethane) mungkin bisa membantu melindungi Anda dari faktor penyebab kanker payudara, rahim, dan kolorektal. DIM diyakini bekerja dengan bertindak seperti estrogen—walaupun di bawah kondisi tertentu suplemen ini juga menghalangi aksi-aksi estrogen.

Suplemen lain, calcium-D-glucarate, mirip dengan bahan kimia alami yang disebut asam glucaric yang terdapat dalam tubuh kita, juga pada jeruk, apel, kubis brussel, brokoli, dan kubis. Calcium-D-glucarate bisa digunakan untuk menghilangkan agen, toksin, juga hormon steroid penyebab kanker payudara dari dalam tubuh.

Sewaktu hati dan usus besar menajdi lamban akibat buruknya fungsi tiroid, stres, dan terlalu banyak racun, maka tubuh tidak sanggup memecah dan membuang kelebihan estrogen dengan baik dari sistemnya.

Kelebihan estrogen itu akhirnya disimpan di sel-sel lemak dari jaringan payudara. Anda bisa mendukung proses pembuangan oleh hati dengan mengonsumsi makanan-makanan seperti sayuran kubis-kubisan, bawang, bubuk whey, dan suplemen yang cocok.

Mengenai pembahasan lebih lengkap cara menyeimbangkan hormon estrogen dengan progesteron, bacalah artikel ini: Pencegahan Kanker: Cara Menyeimbangkan Hormon Estrogen dengan Progesteron.

Sekali lagi, tujuannya tidak selalu untuk mengurangi hormon estrogen—sebaliknya, tujuannya adalah untuk mencari tahu penyebab kadar tinggi estrogen atau ketidakseimbangan hormon yang Anda alami dengan cara menghindari xenoestrogen, meningkatan produksi progesteron, mengurangi stres, juga perubahan gaya hidup lain yang diperlukan untuk membantu menciptakan homeostasis sekaligus mengoptimalkan kesehatan.

Advertisement
Alinesia