Gejala Penyakit Epilepsi: Kenalilah Sebelum Bahaya Mengancam!

577

Diedit:

Penyakit epilepsi atau ayan mungkin tak lagi asing bagi Anda. Penyakit ini oleh kalangan awam kerap dibayangkan sebagai kondisi kejang yang juga dibarengi keluarnya busa pada mulut. Tetapi bagaimana sebenarnya penyakit ini dikenali? Apa saja gejala penyakit epilepsi dan kapan saatnya untuk Anda mulai waspada?

Menurut laman WebMD, dikatakan seseorang mengalami kondisi kejang ketika munculi efek kejutan listrik di luar ritme normal yang terjadi pada impuls-impuls saraf pada jaringan saraf pusat atau otak. Sel-sel saraf pada otak inilah yang sebenarnya bekerja mengontrol beragam fungsi dalam tubuh, baik itu sistem otomatis seperti produksi hormonal dan gerak peristaltik, gerak motorik pada tangan dan kaki, indera, kesadaran dan kemampuan berpikir.

Ketika impuls-impuls antar sel saraf ini mengalami kejutan listrik, maka terjadilah gerakan-gerakan tak terkendali yang berwujud gerakan berritme yang biasa dikenal sebagai kondisi kejang.

Namun penting untuk Anda pahami, tak semua kasus kejang merupakan tanda epilepsi. Seseorang baru dikatakan mengidap penyakit epilepsi ketika telah terbukti mengalami beberapa kali keluhan kejang atau terbukti ada masalah dalam sistem impuls sarafnya yang memungkinkan terjadinya kejang berulang.

Menurut catatan WHO, kasus penyakit epilepsi di dunia tidak berada dalam tingkat memprihatinkan. Jumlah penderitanya diperkirakan pada kisaran 50 jutaan orang di seluruh dunia. Sedangkan di Indonesia sendiri diperkirakan jumlahnya berkisar pada angka 2 jutaan orang.

Angka ini memang relatif kecil, tetapi yang memprihatinkan adalah catatan lain WHO bahwa lebih dari 80% penderitanya tidak mendapatkan perawatan memadai. Mereka yang tidak mendapatkan perawatan dan pengobatan yang semestinya akan sulit menjalankan hidup normal.

Mereka akan mudah mengalami serangan kejang ketika lelah atau hanya karena gangguan kesehatan kecil. Sementara banyak kasus kecelakaan terjadi pada penderita penyakit epilepsi dan itu karena mereka mengalami serangan di lokasi berbahaya yang menyebabkan mereka terancam.

Di Indonesia sendiri masalah terbesar dari kasus penyakit epilepsi adalah rendahnya pengetahuan masyarakat bagaimana sebenarnya gejala penyakit epilepsi ini. Karena kebanyakan masyarakat tidak mengenali bagaimana gejala penyakit epilepsi, menyebabkan banyak penderita tidak terdioagnosa lebih awal dan tak mendapatkan cukup penanganan.

Sementara penanganan lebih awal dan cepat akan semakin efektif bagi penderita untuk sesegera mungkin membentuk kehidupan normal sebagaimana mereka yang hidup tanpa epilepsi. Banyak penderita yang akhirnya bisa menjalankan kehidupan normal, bahkan tanpa sama sekali mengalami serangan kejang ulang karena rutin minum obat khusus epilepsi atau dikenal dengan Obat Anti Epilepsi (OAE).

Baca juga:  Kejang: Penyakit Ayan atau Penyakit Epilepsi

Di sisi lain setiap serangan kejang yang terjadi bisa memicu terjadinya kerusakan jaringan saraf pada otak. Efek kejang akan merobek impuls saraf dan menyebabkan sistem impuls yang mengaitkan satu sel saraf ke sel saraf lain rusak dan akan sangat mengganggu fungsi otak. Beberapa pasien epilepsi berat akan mengalami gangguan mental, masalah kecerdasan, sampai keluhan penyakit saraf serius serta kelumpuhan.

Apa saja gejala penyakit epilepsi yang perlu Anda ketahui?

Pada dasarnya terdapat 3 jenis epilepsi dengan gejala yang berbeda. Dua di antaranya tidak identik dengan gejala epilepsi yang kebanyakan orang ketahui. Dan kedua jenis epilepsi inilah yang kemudian kerap tidak terdeteksi karena kurang disadari oleh keluarga dan orang disekitarnya. Berikut ini adalah gejala penyakit epilepsi dari 3 jenis tersebut.

• Kejang parsial

Kejang ini muncul hanya pada beberapa bagian tubuh saja, kadang bahkan hanya terjadi pada tangan atau kaki pada satu sisi saja. Kondisi serangan epilepsi semacam ini terjadi karena efek masalah jaringan impuls saraf otak yang mengatur pada sistem gerak motorik tangan dan kaki. Kebanyakan sifatnya tidak meluas kecuali kondisi ini tidak tertangani, hingga akhirnya kerusakan melebar.

Kadang ada pula gejala epilepsi yang kurang kentara karena masalahnya terjadi pada sistem indera. Pada bagian indera penciuman, pengecap, atau pendengaran saja. Kadang pada kondisi ini muncul sensasi seperti kesemutan di awal yang terjadi pada lidah, hidung, atau telinga.

Biasanya keluhan ini akan disertai sensasi aneh pada tangan atau kaki. Biasanya muncul rasa sulit mengontrol gerak dan beberapa pasien juga mengeluhkan tangan atau kaki seperti kebas. Mereka juga mengeluhkan kondisi pusing, bingung, mual, dan rasa aneh seperti sensasi di alam mimpi ketika serangan akan terjadi yang biasa disebut sensasi aura.

• Kejang general

Ini yang biasa dikenali kebanyakan orang sebagai serangan epilepsi. Kondisi epilepsi yang muncul dengan ditandai kejang yang menyerang seluruh bagian tubuh. Kadang dari mulut keluar busa karena jaringan otot pada kerongkongan dan laring juga mengalami kejang yang membuat air liur terkocok dan berbusa.

Baca juga:  Penyakit Ayan: Bagaimana Cara Menangani Epilepsi?

Menjelang terjadi serangan, biasanya pasien akan mengalami gejala sensasi aura yang lebih berat dan lebih mudah dikenali. Efek kebas terjadi di seluruh tubuh dan sensasi aura terjadi sangat jelas dan ini memberi kesempatan bagi pasien untuk mempersiapkan diri menjelang serangan. Biasanya meski sudah terasa terjadi aura, Anda tidak bisa mencegah serangan, kecuali aura yang muncul sifatnya ringan.

Ketika kejang, mata mereka akan terbuka dan membesar, tangan dan kaki tampak kaku dan bergerak dalam ritme tetap, beberapa bagian seperti perut dan dahi tampak berkedut, beberapa pasien akan sulit mengendalikan tubuh mereka sampai akhirnya menangis, menjerit dengan suara aneh dan mungkin mengeluarkan air kencing. Waspadalah ketika mereka mulai tampak sulit bernafas dengan wajah membiru.

• Epilepsi mal petit

Ini adalah keluhan epilepsi pada anak yang terkesan ringan tetapi bisa sangat berbahaya untuk pertumbuhan dan perkembangan otak anak. Gejalanya bahkan kerap tidak disadari karena pasien hanya akan kehilangan kesadaran beberapa detik, mata berkedip, pandangan kosong, bibir, dan wajah berkedut serta tubuh tampak menegang.

Catatan pentingnya dalam kondisi ini tidak ada gejala kejang yang kentara sehingga sulit dikenali. Biasanya ketika serangan terjadi pasien tidak bisa mengingat apa yang terjadi. Dan yang membuatnya berbahaya, serangan yang terkesan singkat ini bisa merusak ribuan bahkan jutaan sistem impuls anak yang sifatnya memang masih sangat sensitif dan akan menyebabkan kerusakan otak yang bisa bersifat sementara ataupun permanen.

Kapan Anda harus mulai waspada akan gejala penyakit epilepsi?

Sebenarnya setiap tanda epilepsi yang muncul berarti berbahaya. Karena sebuah serangan kejang biasanya akan menimbulkan kerusakan pada sistem jaringan saraf pusat. Dan bisa saja menyebabkan masalah epilepsi yang lebih berat lagi. Pasien bisa mengalami kerusakan berat pada sistem sel-sel otak yang disebut dengan epileptikus yang bisa menyebabkan pasien tidak akan pernah tersadarkan diri lagi.

Risiko lain bisa muncul ketika seorang pengidap epilepsi tengah hamil. Karena efek kejang bisa mengganggu stabilitas kandungan dan turut merusak sistem jaringan dari janin. Banyak kasus keguguran terjadi pada kondisi ini baik karena efek kejang itu sendiri ataupun karena kecelakaan yang terjadi ketika epilepsi menyerang.

Jadi sebaiknya segera tangani gejala kejang dan bawa pasien ke dokter atau rumah sakit terdekat untuk penanganan cepat. Dan sebaiknya pasien mulai mengkonsumsi OAE secara rutin supaya bisa mencegah gejala penyakit epilepsi muncul kembali. Karena tidak ada yang bisa mempridiksi kapan pasien kembali mendapatkan serangan ulang di lokasi atau waktu yang tidak tepat yang bisa mengancam nyawa mereka.