Melahirkan adalah satu momen penting bagi seorang wanita. Ini adalah pengalaman berharga ketika buah hati tercinta dilahirkan setelah membawanya selama 9 bulan dalam kandungan. Dan kini adalah masa-masa emas berikutnya, masa menyusui. Apa yang istimewa dari masa menyusui?

Menyusui adalah bagian alami dari menjadi ibu. Secara alami tubuh akan membentuk sejumlah hormon untuk menunjang proses produksi ASI ibu bahkan jauh sebelum persalinan terjadi. Dan seketika persalinan berhasil dilakukan tubuh secara natural akan mulai berproses memproduksi tetes tetes pertama ASI.

ASI ibu sendiri adalah komponen penting yang memiliki peran luar biasa dalam perkembangan buah hati. Ada deretan nutrisi penting yang pantang terlewatkan untuk kesehatan buah hati Anda. beberapa komponen nutrisi bahkan hanya bisa Anda dapatkan secara eksklusif pada ASI ibu.

Tetapi faktanya ASI dan segala nutrisi di dalamnya bukan satu-satunya hal istimewa dari masa menyusui. Ada fakta-fakta menarik lain yang terjadi seputar masa menyusui yang perlu pula Anda pahami. sebagaimana akan kita bahas pada kesempatan kali ini.

9 Fakta Menarik Seputar Menyusui dan ASI Ibu

Apa saja fakta-fakta menarik seputar masa menyusui yang perlu Anda pahami sebagai ibu baru? Berikut ulasannya.

Ada Tiga Hormon  yang Berperan Besar

Ketika bicara soal proses produksi susu ibu dan masa menyusui sejak awal tubuh seorang wanita membutuhkan peran setidaknya 6 jenis hormon.

Diawali dari proses peran estradiol, formula dari estrogen dan hormon human placental lactogen yang bekerja mengaktifkan kelenjar susu dan jaringan payudara  pada masa kehamilan. Inilah yang mendorong payudara membesar pada masa kehamilan.

Hormon progesteron akan berperan menahan produksi ASI ibu sebelum masa persalinan tiba. Dan ketika persalinan usai dilakukan, otomatis progesteron akan meningkat dan ASI ibu akan mulai diproduksi. Pada masa ini peran hormon prolactin bekerja. Hormon ini bekerja sebagai stimulan bagi kelenjar susu memproduksi ASI ibu.

Menariknya, bersamaan dengan produksi hormon prolaktin ini tubuh juga memproduksi hormon kortisol dan hormon oksitosin. Hormon kortisol mendorong pembakaran kalori tubuh untuk membentuk ASI ibu. Sedang hormon oksitosin yang membantu ibu merasa relaks dan nyaman, mudah mengantuk tetapi juga membantu proses kembalinya ukuran rahim.

Bisa dikatakan peran hormon oksitosin, hormon kortisol dan hormon prolaktin menempati posisi paling penting pada masa menyusui. Karena sinergi ketiga hormon ini membantu produksi ASI ibu berjalan lancar, kualitas ASI ibu terjaga dan tubuh ibu tetap fit sekalipun kalori tubuhnya diserap menjadi ASI.

Jangan Salahkan Ibu yang Kerap Mengantuk

Menyusui sepertinya hanya aktivitas biasa, bahkan ibu bisa melakukannya sembari berbaring dan duduk dengan santai. Seolah tak ada hal yang sepatutnya melelahkan. Tetapi dengan anehnya ibu akan sangat mudah merasa lelah bahkan mengantuk sewaktu-waktu.

Apa sebenarnya yang terjadi? Biarkan hormon oksitosin yang memberi Anda jawaban.

Karena efek mengantuk yang ibu rasakan sebenarnya tak lain dan tak bukan adalah ulah dari hormon oksitosin ini. hormon ini adalah hormon yang sama yang keluar ketika Anda sedang jatuh cinta, juga hormon yang sama yang dikeluarkan tubuh ketika sedang dalam kondisi mabuk karena obat narkotika.

Hormon ini yang menyebabkan Anda merasa demikian nyaman hanya dengan berada di dekat buah hati Anda. merasa sangat relaks hanya dengan mendekap dan mencium aroma khas dari sikecil. Efek relaks ini membantu Anda melawan efek lelah dan stress yang Anda hadapi sebagai ibu baru.

Ini sebabnya wanita yang menyusui kerap kali merasa mudah mengantuk dan kadang merasa demikian mudah tertidur. Efek relaksasi dan rasa tenang yang dihasilkan oleh hormon ini membuat saraf-saraf dan pembuluh darah pada tubuh mengendur. Sirkulasi darah sedikit melambat hingga suplai oksigen menuju otak akan melambat. Situasi ini yang membuat ibu mudah tertidur.

Di sisi lain, efek relaksasi ini membantu mengendurkan kembali otot-otot pada rahim sehingga lebih cepat untuk kembali pada ukuran normalnya.

Yang menarik ketika bayi menghisap ASI ibu, sebenarnya mereka juga menghisap sebagian hormon oksitosin dari ibu. Ini adalah bagian dari pembentukan keterikatan ibu dan anak. Sehingga kedepannya anak akan terbiasa merasa nyaman berada di sekitar ibu. Dan hormon ini pula yang bertanggung jawab membuat si kecil tidur nyenyak setelah kenyang.

Berat Badan Tetap Turun Sekalipun Makan Lebih Banyak

Fakta menarik lain yang rupanya kerap dialami oleh banyak ibu adalah berat badan yang cenderung turun, tetapi selera makan justru meningkat. Padahal sebelum persalinan datang, ibu akan mengeluhkan masalah kenaikan berat badan yang kadang bisa cukup signifikan.

Bisa dikatakan sebenarnya, ketika seorang ibu mengalami kenaikan berat badan pada masa kehamilan adalah proses alami tubuh untuk membentuk cadangan energi bagi bayi di masa menyusui.

Untuk membentuk ASI ibu, dibutuhkan cukup energi dan itu bisa diperoleh dari cadangan lemak yang terbentuk pada masa kehamilan. Inilah sebabnya ibu akan cenderung mengalami penurunan berat badan setelah masa menyusui selama beberapa bulan.

Kita perlu berterimakasih pada peran hormon kortisol dan hormon prolaktin yang mendorong produksi ASI ibu, sehingga energi cadangan berlebih pada masa kehamilan bisa disalurkan menjadi ASI dan berat badan Anda bisa turun dengan mudah.

menyusui - ASI ibu

Tetapi di sisi lain, kenapa selera makan Anda juga meningkat? Kadang beberapa ibu mengeluhkan rasa lapar bisa muncul sewaktu-waktu tidak melihat jam. Apa sebenarnya yang terjadi.

Lagi-lagi ini adalah ulah dari hormon kortisol dan prolaktin yang terus menerus memproduksi ASI ibu dan terus menerus menuntut suplai energi yang cukup. Meski suplai lemak dan cadangan energi pada tubuh ibu juga sudah cukup berlebih. Tubuh masih membutuhkan suplai energi dari luar.

Selain karena hormon kortisol memang memiliki efek stimulan kepada produksi hormon ghrelin, hormon yang memiliki peran penting mendorong rasa lapar. Semakin kuat dorongan untuk membentuk ASI, semakin tinggi produksi kortisol pada ibu. Dan semakin sering pula hormon ghrelin diproduksi. Ini yang membuat ibu semakin sering merasa lapar.

Beruntung bila kondisi ini terjadi, karena artinya Anda sesekali punya kesempatan makan banyak tanpa menjadi gemuk. Karena alaminya asupan yang Anda konsumsi tetap akan diubah menjadi energi oleh tubuh sehingga tak sempat tertimbun menjadi energi cadangan yang membuat Anda gemuk.

ASI Ibu Bisa Banjir di Waktu-Waktu Tertentu

Fakta menarik yang terungkap di lapangan, ASI ibu bisa tiba-tiba banjir bahkan mungkin “muncrat” ketika masa-masa tertentu. Dan kadang ini sulit dimengerti oleh kebanyakan ibu.

Beberapa ibu mengaku mengalami banjir ASI ketika jam-jam tertentu di masa si kecil sedang terbangun. Juga bisa jadi terpancing keluar banyak ketika mendengar tangis anak kecil atau aspek psikologis lain seperti ketika melihat foto buah hati saat sedang berada jauh dari si kecil.

Tentu saja, ada aspek-aspek unik yang khas dari masa menyusui yang mungkin tidak diduga kebanyakan orang. Bahwa pada dasarnya produksi ASI pada dasarnya akan mengikuti kondisi biologis sikecil.

Otak akan memproduksi ASI lebih banyak saat jam-jam biasa si kecil minum. Otak juga akan mendorong produksi ASI ibu sebanyak kebutuhan si kecil. semakin sering ASI dihisap, semakin banyak produksinya.

Itu sebabnya tak ada istilah ASI habis. Justru ibu menyusui disarankan menyedot ASI bila sedang tida bersama si kecil untuk mempertahankan kuantitas produksi ASI.

Yang menarik, semua ini lagi-lagi ulah dari kinerja 3 hormon di atas. Hormon oksitosin yang bertanggung jawab pada respon positif tubuh terhadap sinyal dan jam biologis yang dibentuk tubuh. Hormon ini menstimulasi prolaktin dan kortisol untuk menyediakan energi dan memproduksi ASI sesuai kebutuhan.

Produksi ASI Ibu Tidak Seimbang

Ini kadang sedikit mengesalkan bahkan mungkin memalukan. Beberapa ibu mengaku bahwa ASI mereka tidak diproduksi dalam kadar yang sama untuk setiap payudara. Akibatnya bayi cenderung tidak nyaman minum dari payudara dengan kadar ASI lebih sedikit.

Yang mungkin membuat ibu tidak nyaman efek dari produksi ASI yang tidak berimbang ini adalah bentuk payudara yang juga turut tidak berimbang, alias besar sebelah. Beberapa ibu merasa ini sedikit memalukan.

Harus diakui bahwa manusia dibentuk dalam ketidak simetrisan. Dan salah satu asimetris yang kerap terjadi adalah kelenjar susu yang tidak berjumlah sama untuk setiap payudara. Kadang perbedaannya cukup signifikan hingga membuat kedua payudara tidak dapat memproduksi susu dalam jumlah yang sama.

Beberapa kasus justru menunjukan payudara yang memproduksi ASI ibu lebih banyak pada anak pertama justru menghasilkan ASI lebih sedikit pada anak kedua. Dan ASI akan datang lebih banyak dari payudara yang di periode lalu memproduksi ASI lebih sedikit. Ini bisa dikatakan cukup unik dan sulit dijelaskan secara medis.

Tetapi sejumlah pakar menyarankan untuk tetap mengusahakan penggunaan payudara seberimbang mungkin untuk membantu menstimulasi produksi ASI ibu tetap seimbang. Bila sikecil tidak nyaman menghisap dari satu payudara, upayakan menyedotnya keluar dengan rutin.

Jangan Takut, ASI Ibu Cukup untuk Bayi

Beberapa ibu kerap mendengar nasehat lama untuk menambahkan asupan MPASI lebih awal atau menambahkan susu formula ketika si kecil terus rewel atau terlihat terlalu kecil.

Padahal secara medis terbukti bahwa setiap ASI ibu selalu cukup dan pas untuk setiap bayi yang dimiliki. Setiap ibu menghasilkan ASI dengan komponen yang berbeda. Bisa dikatakan setiap ASI ibu bersifat personal, hanya dibuat untuk kebutuhan bayi itu sendiri dan belum tentu tepat untuk bayi yang lain.

Sesuatu yang sulit dijelaskan secara medis, tetapi memang demikian faktanya. Tubuh ibu seolah membaca apa yang dibutuhkan oleh bayi mereka dan siap menghasilkan ASI yang sesuai kebutuhan.

Jangan kaget pula bila kadang susu yang keluar terlihat cair. Secara alami ASI memang akan keluar dalam bentuk lebih cair pada awal bayi menghisap karena akan membantu menuntaskan rasa haus bayi.

ASI cair ini justru mengandung banyak elektrolit, mineral dan vitamin sebagai nutrisi mikro bagi sikecil. Baru kemudian keluar ASI ibu yang lebih kental dan pekat. Bagian ASI kedua ini mengandung kadar lemak dan protein yang lebih tinggi.

Akan lebih baik pastikan si kecil menghisap ASI selama minimal 15 menit – 20 menit untuk membantu memenuhi seluruh kebutuhan nutrisi bayi.

Alih-alih menambahkan asupan MPASI atau susu formula sebelum waktunya, coba untuk memperbaiki cara Anda menyusui. Termasuk lama bayi Anda menghisap untuk setiap payudara.

ASI Ibu Lebih dari Sekedar Sumber Nutrisi

Bicara nutrisi tentu saja ASI adalah formula terbaik untuk sikecil. Kandungan nutrisi di dalamnya sudah sangat tepat untuk memenuhi kebutuhan buah hati dan cukup untuk mendukung proses pertumbuhan dan perkembangannya.

Hanya saja, beberapa ibu beranggapan susu formula tak kalah bermanfaat untuk si kecil. kandungan nutrisinya yang kaya sangat layak untuk membantu pertumbuhan si kecil menggantikan asupan ASI.

Padahal ada beberapa hal yang sulit disamakan antara susu formula dari pabrikan dengan susu ASI ibu yang diproduksi alami oleh tubuh.

Salah satunya adalah komponen imun support dari ASI ibu yang demikian kuat hingga dapat tetap memberikan manfaat hingga anak besar. Komponen ini tidak akan diperoleh dari susu formula.

Diawali dari susu kekuningan yang keluar terbatas di awal-awal masa menyusui. Meski terlihat sedikit bahkan kadang sulit untuk dihisap dengan puas oleh si kecil, komponen kolostrum yang membawa pigmen kekuningan ini justru berperan sangat besar untuk daya tahan si kecil hingga jangka panjang.

Efek stimulan anti bodi ini terus diberikan hingga akhir masa menyusui, meski tidak lagi dengan kadar di awal menyusui. Ini sebabnya bayi yang minum ASI ibu cenderung lebih tahan terhadap perubahan cuaca, efek kelelahan, tidak mudah terserang penyakit, tidak mudah diare, bahkan hanya mengalami kenaikan suhu ringan pasca vaksin.

Waspada dengan Depresi

Menarik ketika dikatakan seorang ibu akan merasa demikian nyaman dan tenang dengan hanya memeluk dan menyusui si kecil, tetapi juga dengan mudah merasa depresi karena masa menyusui.

Dikatakan setidaknya 80% ibu baru akan mengalami depresi pada masa awal pasca persalinan. Tentu saja tingkat depresi dari tiap ibu sangat beragam, dari sekedar menjadi lebih mudah mengalami perubahan mood hingga terserang baby blues.

Baby blues akan ditandai dengan sikap dan perangai ibu yang menjadi mudah menangis, mudah tersinggung, merasa sangat sedih dan terlalu kelelahan, mudah sekali tersinggung dan terpancing emosinya. Bahkan kadang merasa tertekan hanya karena melihat sosok bayi.

Sejumlah kasus baby blues terdorong oleh aspek psikologis seperti stress karena tekanan lingkungan, hubungan suami istri yang tidak berjalan baik, kelelahan yang sangat dan aspek-aspek lain.

Tetapi pada dasarnya depresi pada ibu menyusui berkaitan dengan perubahan hormonal pada tubuh yang memicu oksitosin tidak dapat diproduksi dengan optimal.

Menurut studi di the University of Iowa tahun 2014,  dropnya hormon progesteron diduga kuat menjadi penyebab tubuh ibu muda merasa tidak nyaman dan mudah emosional.

Karena pada dasarnya, dalam kondisi normal tubuh wanita membutuhkan kecukupan progesteron untuk membantu seluruh fungsi tubuhnya termasuk seluruh komponen hormonalnya tetap seimbang. Ini membantu tubuh wanita merasa baik-baik saja.

Sementara pada masa awal menyusui, ibu harus mengalami penurunan progesteron secara drastis pasca tubuh sebelumnya mengalami kenaikan drastis progesteron pada masa kehamilan. Perubahan drastis ini yang memicu gangguan pada emosi.

Produksi ASI Ibu Adalah Kontrasepsi Alami

Ini adalah fakta lain yang kerap dikeluhkan para ibu muda. Beberapa dari mereka tidak kunjung mendapatkan menstruasi pasca persalinan. Mereka khawatir sekali ini tanda-tanda mereka kembali mengalami kehamilan. Bahkan beberapa ibu bisa mengalami masa-masa kosong ini hingga lebih dari 6 bulan.

Tak perlu khawatir untuk menjadi kembali hamil. Justru faktanya menyusui bisa menjadi salah satu cara sederhana untuk melakukan upaya kontrasepsi alami.

ASI ibu di masa menyusui

Ini berkat peran hormon prolaktin yang rupanya juga mencegah siklus hormon progesteron dan hormon estrogen kembali pada kadar normalnya.Peran siklus kedua hormon inilah yang bekerja mengatur siklus haid dan produksi telur baru.

Selama siklus kedua hormon ini belum bisa bekerja normal, tubuh tidak dapat memproduksi telur dan siklus haid tidak akan datang. Dan artinya Anda juga tidak akan hamil, karena telur juga belum diproduksi kembali.

Hanya saja efek ini tidak bekerja pada setiap ibu. Beberapa ibu tetap mendapatkan siklus haid dengan normal tanpa ada gangguan setelah masa nifas berakhir. Ini menandakan siklus perubahan hormonal pada tubuhnya tidak cukup sensitif dengan sinyal dari prolaktin.

Itulah sejumlah fakta menarik seputar ASI ibu dan masa masa keemasan menyusui. Rupanya ada banyak keajaiban yang terjadi di masa-masa ini, sekalipun dunia medis dibuat kagum oleh bagaimana ajaibnya dunia menyusui ini. dan kini saatnya bagi Anda menikmati masa-masa emas ini.