Detoksifikasi, Mitos Atau Fakta?

428

Diedit:

Sulit memang membedakan informasi yang rilis dewasa ini. Kadang sebagian tak lebih dari hoax yang dilengkapi dengan sederet fakta yang entah bisa dipertanggung jawabkan atau tidak. Belum lagi dengan berbagai kontroversi dengan sumber berbeda dan saling bertentangan.

Itulah yang juga berkembang ketika kita membahas mengenai detoksifikasi. Dalam salah satu artikel dalam laman Guardian.com, dikatakan bahwa sistem detoksifikasi yang selama ini dijabarkan oleh banyak orang itu sebenarnya tak lebih dari scam dan upaya pemasaran halus beberapa pihak demi kepentingan penjualan produk herbal.

Benarkah detoksifikasi hanya sebuah mitos yang dihembuskan orang tidak bertanggung jawab? Untuk menjawab pandangan tersebut, kami mencoba mengutip ulasan jawaban yang berhasil kami peroleh dari laman huffingtonpost.

Dalam ulasan tersebut, kita akan cari tahu terlebih dulu mengenai makna dari toksin. Toksin sebenarnya adalah segala benda, senyawa dan material asing yang masuk dan terpapar pada tubuh manusia, mengkontaminasi jaringan dan darah dan bisa memicu penurunan kondisi.

Toksin sendiri sangat beragam jenisnya. Ada yang datang dari luar seperti yang berasal dari makanan, polusi udara dan air. Sedang toksin lain juga bisa muncul dari dalam tubuh seperti efek pembentukan senyawa hormonal yang muncul karena Anda stress, serta residu dari berbagai proses metabolisme dan sekresi makanan dalam tubuh seperti contohnya zat purin yang menyebabkan masalah asam urat.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dalam the Fourth National Report on Human Exposure to Environmental Chemicals dikatakan bahwa setidaknya ditemukan sekitar 212 jenis senyawa kimia asing yang bersifat toksin dalam darah dan urin manusia. Jumlah dan jenis berbeda untuk tiap orang.

Beberapa jenis toksin terbilang jenis yang cukup mematikan bila berada dalam angka yang cukup relevan seperti arsenik, sianida periksoda, acrylamide,  bisphenol A, perchlorate, perfluorinated, polybromilated, formaldehyde dan banyak lagi.

Baca juga:  10 Cara Natural dan Sederhana untuk Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

Kebanyakan toksin ini bahkan masuk ke dalam tubuh dari sarana yang tidak Anda duga, mulai dari matras yang Anda gunakan untuk tidur, panci anti lengket Anda, plastik minuman si kecil, udara kotor yang keluar dari knalpot, lap serat fiber sampai sate ayam  dan cake almond favorit Anda serta masih banyak yang lainnya.

Jadi memang tidak salah kalau kemudian banyak pandangan yang menyatakan Anda membutuhan solusi terbaik untuk mengatasi masalah toksin. Bagaimana tidak, dengan daftar yang demikian panjang, rasanya wajar kalau saat ini Anda sendiri mungkin mulai cemas.

Namun kembali Guardian.com menyampaikan pandangannya bahwa semua toksin yang dinyatakan berbahaya ini sebenarnya tidak seberbahaya yang disampaikan selama ini. Secara umum toksin dalam tubuh memang bukan masalah, bahkan setidaknya 80% bahkan 90% dari masalah ini bisa ditanggulangi oleh  sistem filter alami tubuh, yakni fungsi hati, ginjal dan pencernaan.

Kembali kita lihat bersama bagaimana sebuah sistem filter dalam kinerja ginjal dan hati bekerja. Terdapat dua fase dalam proses filterisasi terhadap toksin dalam tubuh. Fase pertama adalah tahap melakukan proses perusakan atau penghancuran komponen senyawa kimia dari toksin. Memecahnya menjadi molekul kecil yang lebih mudah untuk diatasi dan memisahkannya dari komponen darah.

Sebagai catatan darah sendiri sebenarnya komponen penting dalam proses filterisasi. Darah sebenarnya tidak hanya merupakan komponen penghantar oksigen dan nutrisi ke seluruh sel tubuh. Tetapi juga menarik sisa-sisa metabolisme yang terjadi dalam sel dan mengalirkannya menuju hati. Untuk itu darah harus berada dalam densitas yang tepat, kekentalan yang tepat untuk mampu meluruhkan residu dalam sel.

Fase kedua dari proses filterisasi ini adalah proses menetralisir kandungan toksin tadi, memisahkannya menjadi komponen netral secara kimiawi dan meluruhkannya ke dalam aliran urin, keringat dan kotoran tinja.

Baca juga:  18 Kondisi pada Kaki Anda Ini Bisa Jadi Tanda Bahaya Lho! (3)

Jadi pada dasarnya diakui bahwa benar apa yang dikatakan bahwa sebenarnya tubuh secara alami sudah melakukan fungsi detoksifikasi. Tetapi apakah dengan demikian berarti tubuh tidak lagi membutuhkan asupan detoksifikasi alami dan benarkah detoksifikasi hanya mitos?

Mari kita lihat lebih dalam bagaimana fungsi detoksifikasi dari sistem ginjal, hati, darah, kelenjar tiroid bahkan pencernaan bekerja. Pada dasarnya semua fungsi ini membutuhkan materi penting untuk bisa bekerja, yang pertama adalah energi dan kedua adalah suntikan nutrisi tertentu yang akan bekerja mendorong kemampuan ginjal, hati, pencernaan dan lain sebagainya.

Bila kita kupas satu persatu, Anda bisa lihat bagaimana darah artinya membutuhkan cukup air untuk menjaga densitasnya sedang selama ini selalu diungkapkan bagaimana air putih adalah detoksifikasi terpenting bagi tubuh.

Bagaimana segala jenis serat sangat berperan bagi pencernaan dan membantu dengan sangat efektif kelancaran pembuangan, sementara di sini dijelaskan pembuangan tinja adalah aspek sangat penting dalam proses pembuangan toksin.

Dan faktanya hati dan ginjal membutuhkan vitamin B kompleks, vitamin C, vitamin A, vitamin E, flavonoid dalam segala bentuknya, glutathione, phospoliphyd,  limonene, tokoferol polifenol dan masih banyak lagi untuk membantu memaksimalkan fungsinya. Dan ini bukan sekedar isapan jempol. Karena sudah banyak fakta yang bisa disampaikan untuk menguatkan pandangan ini.

Jadi benarkah detoksifikasi itu hanya sekedar mitos dan scam yang bersumber dari kepentingan bisnis belaka? Rasanya memang kurang tepat memandangnya demikian, mengingat ada sederet riset kuat yang telah terjurnalkan yang menguatkan fakta kita memang membutuhkan asupan detoksifikasi.

Hanya saja tak sedikit pula informasi terkait detoksifikasi yang sebenarnya tidak bisa sepenuhnya Anda percaya kebenarannya. Karena mereka menggunakan sumber riset yang tidak terjurnalkan, tidak dapat dipertanggungjawabkan dan memiliki banyak kerancuan. Jadi Anda memang perlu lebih berhati-hati mencari sumber informasi terutama terkait kesehatan.

Advertisement
Alinesia