Bantuan Psikologik bagi Orang yang Mengalami Obesitas

423

Diedit:

Dahulu, obesitas atau kelebihan berat badan dianggap sebagai lambang kesejahteraan atau bahkan kemapanan seseorang. Orang gemuk akan dianggap bahagia dan sejahtera hidupnya sehingga banyak orang yang bangga dengan tubuhnya yang mengandung banyak lemak dan berbobot di atas rata-rata.

Namun kini, obesitas bukan lagi simbol kesejahteraan dan kebahagiaan melainkan simbol penyakit berbahaya. Banyak orang yang tidak ingin gemuk. Kalangan wanita khususnya, secara spontan akan langsung stres ketika berat badannya naik. Maka, beragam carapun dilakukan untuk menurunkan berat badannya ke keadaan ideal.

Menurut data, orang yang mengalami obesitas jumlahnya meningkat dalam setiap tahunnya baik di negara maju maupun berkembang. Hal tersebut sangat erat kaitannya dengan perubahan gaya hidup secara signifikan dan juga perkembangan teknologi.

Kedua aspek tersebut kalau tak dikelola dengan baik akan berdampak pada buruknya kualitas hidup yang besar kemungkinannya akan bermuara pada obesitas.

Obesitas tak lagi “seksi” dan diharapkan oleh banyak orang seperti zaman dulu, namun ramai-ramai dihindari karena obesitas ialah penyakit. Bahkan para pakar kesehatan telah menyatakan bahwa obesitas ialah penyakit kronik yang disebabkan oleh multifaktor.

Obesitas sangat berkaitan dengan peningkatan mortalitas dan morbiditas beragam penyakit seperti gangguan kardiovaskular, diabetes, hipertensi, problem pada paru-paru dan pernafasan, artritis, gangguan tidur, kandung empedu, gangguan endoktrin, dan lainnya.

Obesitas ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara asupan dan energi yang dikeluarkan sehingga terjadi penumpukan kalori yang kemudian disimpan dalam bentuk jaringan lemak.

Sebagaimana diulas di atas, penyebab obesitas multifaktor yang bisa disebabkan oleh faktor individu seperti biologi dan psikologik maupun juga faktor lingkungan. Faktor-faktor tersebut dipastikan dialami oleh orang yang mengalami obesitas.

Lalu, bagaimana obesitas dalam tinjauan psikologik? Obesitas dalam kajian psikologis, merupakan kondisi tersendiri yang antara lain merupakan gejala dari adanya gangguan makan, bulimia nervosa misalnya, atau merupakan kondisi yang erat kaitannya dengan citra diri dan harga diri yang memiliki dasar psikodinamika tertentu.

Baca juga:  6 Cara Terbaik untuk Melangsingkan Perut Anda!

Penanganan Psikologik pada Penderita Obesitas

Karena luasnya cakupan penyebab yang menimbulkan obesitas pada seseorang, pada artikel ini dibatasi hanya mengenai penanganan psikologik pada obesitas yang mengalami gangguan makan.

Pada pasien yang mengalami masalah kelebihan berat badan yang disebabkan oleh adanya gangguan makan yang didasari oleh depresi, maka cara penanganannya harus disesuaikan dengan penatalaksanaan gangguan depresi yakni dengan cara pemberian prikofarmaka dan prikoterapi.

Adapun psikofarmaka yang diberikan yakni berupa anti-depresi seperti Serotonin Selective Reuptake Inhibitor (SSRI), Reversible Monoamine Oxidase Inhibitor (RIMA), maupun Trisiklik dan juga Tetrasiklik yang disesuikan dengan kondisi si pasien-terkait dengan umur, pekerjaan, kegiatan sehari-hari maupun keadaan sosial-ekonomi.

Kemudian dalam konteks psikoterapi, bisa diberikan kepada pasien berupa psikoterapi dengan pendekatan dinamik atau juga non-dinamik seperti modifikasi perilaku dan terapi kognitif perilaku.

Psikoterapi dinamik bertujuan untuk memperoleh pencapaian tilikan (insight) yakni mengajak untuk memahami kondisi diri dan kehidupan pasien. Dalam proses psikoterapi ini, dokter maupun pasien sama-sama harus berperan aktif untuk memaksimalkan hasilnya.

Tidak boleh hanya salah satu saja yang aktif (misalnya hanya dokter yang aktif) karena akan berdampak pada waktu terapi yang lebih panjang dan hasilnya yang kurang memuaskan.

Kemudian pada terapi kognitif perilaku, pasien biasanya akan diajak untuk menilai cara berpikirnya yang selama ini cenderung irasional untuk kemudian diajak mengubah cara berpikirnya tersebut ke arah yang lebih rasional.

Begitu juga pasien akan diajak bicara untuk bisa menghadapi stres dan perasaan-perasaan negatif lainnya yang berpotensi mengarah pada perilaku tidak sewajarnya dan akhirnya melampiaskannya dengan banyak makan.

Selanjutnya, pada terapi perilaku (behavior modification) dimaksudkan untuk membantu pasien memodifikasi kebiasaan atau pola makannya, meningkatkan aktifitas fisik, dan juga meningkatkan kesadaran pada kedua hal tersebut.

Baca juga:  Apa Perbedaan Kegemukan Dengan Obesitas?

Dalam proses terapi jenis ini biasanya pasien akan diminta untuk mencatat waktu, tempat, dan juga suasana ketika keinginan makan timbul serta frekuensi makannya.

Setelah itu, kemudian pasien akan diarahkan untuk bisa mengontrol stimulus dengan tujuan agar bisa memutus rantai antara peristiwa yang membangkitkan rasa lapar dengan perilaku makannya.

Misalnya, dengan melakukan pembatasan tempat-tempat makan, atau dengan meminum air putih diantara setiap gigitan makan supaya cepat kenyang.

Bagi Anda yang mengalami obesitas atau kelebihan berat badan, jangan resah dan down karena memiliki bentuk dan bobot badan yang jauh di atas orang lain.

Sebaliknya, Anda harus percaya bahwa dibalik setiap pemberian Tuhan terselip hikmah yang apabila disikapi secara positif akan memberikan dampak positif yang besar dalam hidup.

Di samping itu, untuk meminimalkan perasaan frustasi atau stres karena obesitas Anda juga dianjurkan untuk melakukan terapi yang dibimbing oleh dokter atau praktisi kesehatan yang benar-benar ahli di bidangnya. Semoga bermanfaat.

Advertisement
Alinesia