10 Penyebab Rambut Rontok


By Cindy Wijaya

Semua orang mengalami rambut rontok—beberapa helai sewaktu mencuci rambut atau ketika menyisirnya. Ini normal, karena rata-rata setiap orang akan kehilangan 50 sampai 100 helai rambut dalam sehari. Dan helai-helai tersebut akan digantikan dengan helai rambut baru.

Tetapi jika kerontokan sudah berlebihan, itu bisa sangat mengkhawatirkan bagi seorang wanita maupun pria. Memang benar jika selama ini dikatakan bahwa genetik, stres, penggunaan produk rambut berbasis kimia, alat pemanas rambut untuk styling rambut, pola makan yang buruk, paparan kondisi iklim yang buruk, dan perawatan rambut yang tidak tepat—semuanya bisa jadi penyebab rambut rontok berlebihan.

Tapi kadang-kadang kerontokan rambut disebabkan oleh masalah kesehatan yang tidak terlihat dari luar. Apabila masalah kesehatan tersebut ditemukan dan diatasi, maka masalah rambut rontok biasanya juga akan menghilang dengan sendirinya. Berikut ini adalah penyebab-penyebab rambut rontok bila ditilik dari segi medis.

Alopecia Areata

Alopecia areata adalah penyakit gangguan autoimun dimana sistem kekebalan tubuh menyerang folikel rambut (struktur yang memuat akar rambut). Gangguan autoimun ini merupakan salah satu penyebab rontok rambut yang paling sering dialami orang-orang.

Gangguan ini dapat menyerang pria maupun wanita, namun paling sering menyerang pria yang berusia di bawah 20 tahun, meskipun orang-orang dari segala usia juga dapat mengalaminya.

Penyakit ini ditandai dengan kerontokan rambut sehingga membentuk lingkaran pitak di kulit kepala. Meskipun begitu, alopecia areata jarang menimbulkan kebotakan total. Dalam beberapa kasus, kerontokan rambut bisa terjadi di bagian lain dari tubuh juga.

Penyebab pasti dari gangguan autoimun ini belum diketahui, tetapi para ahli menduga bahwa ini mungkin dipicu oleh stres atau faktor genetik, misalnya karena memiliki riwayat keluarga pengidap diabetes tipe 1 atau rheumatoid artritis.

Saat ini belum tersedia obat untuk menyembuhkan alopecia areata, tetapi ada banyak pilihan pengobatan yang dapat membantu menumbuhkan kembali rambut yang rontok serta mencegah kerontokan rambut berlanjut. Konsultasikanlah dengan dokter Anda untuk mengetahui apakah Anda mengalami penyakit ini.

Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS)

Penipisan rambut serta kerontokan rambut yang berlangsung cepat adalah tanda-tanda umum dari penyakit PCOS—yang menyebabkan ketidakseimbangan hormon dalam tubuh. Sekitar 1 orang dari setiap 10 sampai 15 wanita di Amerika Serikat mengidap masalah kesehatan ini.

PCOS memicu kelebihan kadar hormon testosteron atau androgen dalam tubuh, yang berinteraksi dengan enzim yang terdapat pada folikel rambut lalu mengubahnya menjadi dihidrotestosteron derivatif (DHT). DHT ini mengikatkan diri ke folikel rambut sehingga membuat folikel jadi menyusut kemudian akhirnya mengakibatkan penipisan rambut.

Suatu penelitian di tahun 2011 yang diterbitkan pada International Journal of Women’s Health mencatat bahwa penurunan kadar androgen akibat PCOS menghambat pembentukan rambut baru serta memperlambat pertumbuan rambut yang sudah ada.

Penelitian lain yang dipublikasikan tahun 2013 dalam jurnal yang sama juga menyebutkan bahwa ‘alopecia berpola’ lebih sering dialami oleh wanita dibandingkan pria, umumnya disebabkan oleh masalah gangguan endokrin, seperti PCOS.

Gejala lain dari PCOS yang perlu diperhatikan adalah bertumbuhnya rambut di wajah, menstruasi yang tidak teratur, jerawat, dan kista pada indung telur. Konsultasikanlah dengan dokter bila Anda merasakan gejala-gejala semacam ini yang menyertai kerontokan rambut.

Diagnosis dan pengobatan yang tepat dapat membantu Anda mencegah komplikasi penyakit PCOS, seperti diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, infertilitas, dan depresi.

Anemia Defisiensi Zat Besi

Mereka yang mengidap anemia defisiensi zat besi seringkali mengeluh penipisan dan kerapuhan rambut. Bahkan kerontokan rambut adalah salah satu gejala yang paling menonjol dan paling awal dari masalah kekurangan zat besi dalam tubuh.

Karena kadar zat besi yang rendah, darah jadi tidak memiliki cukup sel darah merah untuk mengangkut oksigen ke sel-sel di seluruh tubuh, termasuk ke folikel rambut. Tanpa oksigen yang cukup, rambut jadi kehilangan nutrisi penting yang dibutuhkannya untuk memelihara kekuatan dan pertumbuhannya.

Suatu penelitian di tahun 2006 yang diterbitkan dalam Journal of American Academy of Dermatology melaporkan bahwa kekurangan zat besi bisa jadi penyebab rambut rontok. Bahkan itu mungkin berhubungan dengan penyakit alopecia areata, alopecia androgenetic, dan telegon effluvium.

Wanita yang kekurangan zat besi berpotensi mengalami kerontokan rambut dengan pola menyebar, demikian yang disebutkan oleh sebuah penelitian tahun 2009 yang diterbitkan pada Acta Dermatovenerologica Croatica.

Penelitian lain tahun 2013 yang diterbitkan Journal of Korean Medical Science memastikan adanya kaitan antara kekurangan zat besi dengan kebotakan wanita, terutama pada wanita pra menopause.

Seiring dengan kerontokan rambut, jika Anda merasakan kelelahan esktrim, tangan dan kaki dingin, kelemahan dan kulit pucat, maka inilah saatnya untuk memeriksakan kadar zat besi Anda ke dokter. Jika Anda ternyata memang kekurangan zat besi, makanlah makanan yang kaya zat besi atau konsumsi suplemen zat besi setelah berkonsultasi dulu dengan dokter.

Hipotiroidisme

Hipotiroidisme, atau tiroid kurang aktif, adalah penyebab rambut rontok yang lainnya. Kelenjar tiroid bertanggung jawab untuk mengeluarkan hormon tiroid, yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh, termasuk rambut Anda.

Jika tiroid menjadi kurang aktif maka ia tidak menghasilkan cukup hormon tiroid sehingga memengaruhi pertumbuhan serta tekstur rambut pada kulit kepala, juga alis dan rambut di seluruh tubuh.

Sebuah penelitian tahun 2008 yang diterbitkan dalam Journal of Endocrinology Clinical and Metabolism melaporkan bahwa hormon tiroid secara langsung memengaruhi beberapa aspek anatomi rambut, mulai dari siklus pertumbuhannya hingga proses pigmentasi rambut.

Penelitian lain yang dipublikasikan oleh Indian Journal of Dermatology pada tahun 2008 mencatat bahwa hipotiroidisme berkaitan dengan penyakit alopecia areata. Penelitian ini juga menekankan perlunya pemeriksaan skrining oleh pasien pengidap gangguan autoimun alopecia areata yang sudah kronis.

Selain kerontokan rambut, gejala lain dari hipotiroidisme ialah kenaikan berat badan, kelelahan, sembelit, depresi serta sulit berkonsentrasi. Diagnosis serta pengobatan hormon tiroid yang tepat dapat menormalkan kembali kadar hormon sehingga dapat menghentikan kerontokan rambut.

Lupus

Lupus adalah penyakit auotimun yang juga bisa menyebabkan kebotakan. Penyakit ini mengakibatkan sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan-jaringan sehat sehingga memicu terjadinya peradangan. Dan peradangan pada kulit kepala bisa menyebabkan kerontokan rambut. Bahkan, penipisan rambut seringkali adalah tanda-tanda awal lupus.

Kerontokan rambut pada pasien lupus mungkin paling sering terjadi pada saat mereka sedang mencuci atau menyisir rambut. Selain itu mereka juga merasa rambut mereka menjadi kering, rapuh, dan kasar.

Di samping itu, lupus juga dapat menyebabkan penyakit gangguan autoimun tiroid yang juga bisa jadi penyebab rambut rontok.

Sebuah penelitian di tahun 2009 yang dipublikasikan oleh North American Journal of Medical Science melaporkan bahwa kerontokan rambut adalah salah satu gejala medis yang paling mencolok dari penyakit lupus eritematosus sistemik aktif.

Seiring dengan kerontokan rambut, para pengidap lupus juga mungkin mengalami kelelahan ekstrim, nyeri sendi, pembengkakan, nyeri otot, sakit kepala, sariawan, sensitif terhadap cahaya, dan ruam berbentuk kupu-kupu di pipi serta hidung. Jika Anda mengalami gejala-gejala semacam itu, segeralah periksakan diri ke dokter.

Telogen Effluvium

Telogen effluvium adalah penyebab rambut rontok yang sangat sering dialami orang-orang. Masalah kesehatan ini ditandai dengan penipisan rambut yang mendadak selama beberapa bulan.

Masalah ini bisa dipicu oleh kondisi lain seperti masa-masa setelah kehamilan, pasca operasi besar, penurunan berat badan yang drastis, atau stres berat. Rambut rontok akibat telogen effluvium sering terlihat pada saat keramas atau merapikan rambut.

Fluktuasi hormon yang terjadi setelah kehamilan dan persalinan sering mengakibatkan rambut rontok berlebihan. Tapi pada waktu hormon kembali normal, biasanya masalah rambut rontok juga akan hilang.

Sama seperti itu, perubahan hormonal yang dialami wanita ketika memasuki menopause dapat menyebabkan kerontokan rambut. Selama masa ini, kadar hormon estrogen menjadi rendah lalu membuat rambut jadi kering serta lebih banyak rontok.

Selain karena masalah ketidakseimbangan hormon, masalah anemia serta hipotiroidisme juga dapat memicu telogen effluvium. Sebuah penelitian tahun 2015 yang diterbitkan dalam Journal of Dermatology & Dermatologic Surgery mengungkapkan bahwa telogen effluvium pada wanita dewasa umumnya terkait dengan anemia defisiensi zat besi dan hipotiroidisme.

Infeksi Kulit Kepala

Kulit kepala yang tidak sehat bisa menimbulkan peradangan di folikel-folikel rambut, sehingga rambut jadi susah untuk bertumbuh. Bahkan lebih buruknya lagi masalah ini dapat menyebabkan kebotakan.

Ada beberapa jenis infeksi kulit kepala, tetapi yang paling umum dialami orang-orang ialah tinea capitis. Jenis ini merupakan infeksi jamur yang juga dikenal sebagai kurap kulit kepala. Jamur dapat hidup di jaringan rambut yang sudah mati dan dengan cepat menyebar. Area yang terinfeksi biasanya terlihat botak dan muncul bintik-bintik hitam kecil.

Yang paling sering terkena infeksi ini adalah anak-anak, tapi biasanya akan sembuh seraya mereka beranjak dewasa. Namun siapapun dari kelompok usia manapun bisa saja terkena infeksi kulit kepala.

Dalam sebuah penelitian tahun 2014 yang dipublikasikan oleh International Journal of Trichology dikatakan bahwa 210 dari 2800 anak-anak yang diperiksakan ke klinik dermatology mengeluhkan kerontokan rambut dan masalah pada kulit kepala mereka.

Di antara 210 anak tersebut, infeksi tinea capitis adalah penyebab rambut rontok yang paling umum (40%), diikuti oleh alopecia areata (26.2%), dan telogen effluvium (17.6%). Diagnosis dan pengobatan yang tepat waktu dapat membantu mengatasi masalah infeksi ini.

Kekurangan Zink

Penyebab rambut rontok yang selanjutnya adalah kekurangan zink di dalam tubuh yang menyebabkan rambut jadi rapuh. Kekurangan zink memengaruhi rambut pada kulit kepala maupun pada alis dan bulu mata.

Zink adalah mineral yang penting untuk mendorong proses reproduksi sel-sel, pertumbuhan serta perbaikan jaringan-jaringan dalam tubuh. Zink membantu menjaga fugnsi kelenjar pensekresi minyak yang melekat pada folikel rambut. Jadi jika tubuh tidak punya cukup zink, ini akan langsung memengaruhi pertumbuhan rambut Anda.

Ditambah lagi, kekurangan zink dapat mengakibatkan kerusakan pada molekul protein yang adalah bahan pembentuk rambut. Selain itu, masalah ini juga dikaitkan dengan hipotiroidisme—salah satu penyebab rambut rontok yang paling sering. Sebuah penelitian tahun 2013 pada International Journal of Trichology memperlihatkan bahwa kekurangan zink berkaitan dengan hipotiroidisme.

Untuk mengatasi penyebab rambut rontok ini, Anda bisa mengonsumsi lebih banyak makanan yang kaya akan zink, misalnya kacang-kacangan seperti biji kenari, kacang pikan, kacang mete, dan almond.

Sumber zink lainnya adalah daging merah, telur, tiram, kepiting, lobster, sereal gandum, dan produk susu seperti keju atau susu rendah lemak. Anda juga boleh mengonsumsi multivitamin atau suplemen zink, namun pastikan Anda sudah berkonsultasi dulu dengan dokter mengenai hal ini.

Kekurangan Protein

Rambut terbuat dari sejenis protein yang bernama keratin, sehingga asupan protein secara langsung berkaitan dengan pertumbuhan dan kesehatan rambut Anda. Protein ini penting untuk mendukung beragam fungsi dalam tubuh—mulai dari regulasi hormon, sampai fungsi untuk memperbaiki jaringan tubuh.

Kekurangan protein dapat menyebabkan berbagai masalah, termasuk kerapuhan rambut sehingga memicu rambut rontok secara tidak wajar. Sayangnya banyak orang belum memenuhi kebutuhan protein tubuhnya, atau bisa jadi tubuh mereka tidak sanggup menyerap protein dengan baik.

Ketidakmampuan tubuh dalam menyerap protein dengan baik dapat menyebabkan intoleransi gluten, gangguan kantong empedu, kegagalan fungsi hati, gangguan pankreas, pergerakan abnormal pada usus, dan berkembangbiaknya bakteri dalam usus yang tidak terkendali.

Jika Anda selama ini merasa kurang memenuhi kebutuhan protein harian, sebaiknya tingkatkan asupan protein dengan mengonsumsi daging (tanpa lemak), unggas, ikan, kacang-kacangan, olahan kedelai, almond, yogurt, dan telur. Ibu yang sedang hamil dan mereka yang sedang membesarkan otot dengan latihan beban harus memenuhi kebutuhan protein yang lebih besar lagi.

Penyumbatan Arteri

Arteri yang tersumbat dapat menyebabkan kebotakan pada pria. Malahan sebenarnya kebotakan di puncak kepala pria adalah tanda-tanda umum dari penyumbatan arteri. Selain itu, masalah ini juga jadi penyebab kerontokan bulu kaki.

Sebuah studi di tahun 2000 yang diterbitkan dalam Archives of Internal Medicine melaporkan adanya hubungan antara pola kebotakan laki-laki dengan penyakit jantung koroner. Masalah kebotakan ini lebih sering dialami oleh pria yang memiliki hipertensi atau kolesterol tinggi.

Penelitian lain di tahun 2013 yang dipublikasikan Indian Dermatology Online Journal juga memastikan bahwa ada hubungan antara pola kebotakan laki-laki dengan penyakit jantung koroner. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam British Medical Journal tahun 2013 menjelaskan bahwa pola kebotakan laki-laki mungkin menunjukkan adanya resistensi insulin, peradangan kronis, atau peningkatan kepekaan terhadap testosteron, yang semuanya terlibat langsung atau tidak langsung dalam memicu penyakit kardiovaskular.

Semua penelitian di atas memperlihatkan bahwa untuk melindungi rambut Anda dari kebotakan, Anda juga harus peduli dengan kesehatan jantung. Ketahuilah apa saja faktor risiko penyakit jantung serta secara teratur periksakan diri ke dokter untuk pemeriksaan jantung rutin.

Selain itu, untuk mencegah kebotakan dini, segeralah berhenti merokok, batasi konsumsi alkohol, rutin olahraga, dan kurangi asupan makanan berlemak untuk meningkatkan kesehatan jantung Anda.

Apakah ada dari ke-10 penyebab rambut rontok ini yang sedang Anda alami? Jika ya, segeralah atasi masalah kesehatan tersebut agar Anda bisa menikmati kesehatan yang lebih baik, termasuk rambut yang lebih lebat.

Selain memastikan penyebab rambut rontok, Anda juga perlu mencari tahu bagaimana merawat rambut yang benar supaya tidak merusaknya. Langkah yang pertama, pastikan Anda menggunakan sampo dan kondisioner yang berbahan alami atau bahan kimia ringan. Minum lebih banyak air untuk menghidrasi rambut.

Jangan lupa untuk rajin mencuci rambut agar tidak terjadi penumpukan keringat atau sel-sel kulit mati di kepala, ini menyebabkan rambut jadi ketombean dan memicu lebih banyak kerontokan. Sering mencuci rambut juga bisa mengurangi gatal-gatal di kulit kepala.

Hindari gaya penataan rambut yang ekstrim, sebab gaya rambut seperti itu mengurangi kelembapannya dan banyak menggunakan pemanas rambut sehingga membuat rambut jadi lebih kering serta rapuh. Intinya, jangan jadikan penataan maupun perawatan rambut Anda malah jadi salah satu penyebab rambut rontok.

Tentang Penulis 

Cindy Wijaya

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting oleh Cindy Wijaya seorang editor dan penulis beragam artikel kesehatan. Ia senang meriset dan berbagi topik-topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Tinggal di “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan.