10 Penyebab Rambut Rontok: Bagian 1

508

Diedit:

Semua orang mengalami rambut rontok—beberapa helai sewaktu mencuci rambut atau ketika menyisirnya. Ini normal, karena rata-rata setiap orang akan kehilangan 50 sampai 100 helai rambut dalam sehari. Dan helai-helai tersebut akan digantikan dengan helai rambut baru.

Tetapi jika kerontokan sudah berlebihan, itu bisa sangat mengkhawatirkan bagi seorang wanita maupun pria. Memang benar jika selama ini dikatakan bahwa genetik, stres, penggunaan produk rambut berbasis kimia, alat pemanas rambut untuk styling rambut, pola makan yang buruk, paparan kondisi iklim yang buruk, dan perawatan rambut yang tidak tepat—semuanya bisa jadi penyebab rambut rontok berlebihan.

Tapi kadang-kadang kerontokan rambut disebabkan oleh masalah kesehatan yang tidak terlihat dari luar. Apabila masalah kesehatan tersebut ditemukan dan diatasi, maka masalah rambut rontok biasanya juga akan menghilang dengan sendirinya. Berikut ini adalah penyebab-penyebab rambut rontok bila ditilik dari segi medis.

Alopecia Areata

Alopecia areata adalah penyakit gangguan autoimun dimana sistem kekebalan tubuh menyerang folikel rambut (struktur yang memuat akar rambut). Gangguan autoimun ini merupakan salah satu penyebab rontok rambut yang paling sering dialami orang-orang.

Gangguan ini dapat menyerang pria maupun wanita, namun paling sering menyerang pria yang berusia di bawah 20 tahun, meskipun orang-orang dari segala usia juga dapat mengalaminya.

Penyakit ini ditandai dengan kerontokan rambut sehingga membentuk lingkaran pitak di kulit kepala. Meskipun begitu, alopecia areata jarang menimbulkan kebotakan total. Dalam beberapa kasus, kerontokan rambut bisa terjadi di bagian lain dari tubuh juga.

Penyebab pasti dari gangguan autoimun ini belum diketahui, tetapi para ahli menduga bahwa ini mungkin dipicu oleh stres atau faktor genetik, misalnya karena memiliki riwayat keluarga pengidap diabetes tipe 1 atau rheumatoid artritis.

Saat ini belum tersedia obat untuk menyembuhkan alopecia areata, tetapi ada banyak pilihan pengobatan yang dapat membantu menumbuhkan kembali rambut yang rontok serta mencegah kerontokan rambut berlanjut. Konsultasikanlah dengan dokter Anda untuk mengetahui apakah Anda mengalami penyakit ini.

Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS)

Penipisan rambut serta kerontokan rambut yang berlangsung cepat adalah tanda-tanda umum dari penyakit PCOS—yang menyebabkan ketidakseimbangan hormon dalam tubuh. Sekitar 1 orang dari setiap 10 sampai 15 wanita di Amerika Serikat mengidap masalah kesehatan ini.

Baca juga:  Cara Mengatasi Rambut Rontok secara Alami

PCOS memicu kelebihan kadar hormon testosteron atau androgen dalam tubuh, yang berinteraksi dengan enzim yang terdapat pada folikel rambut lalu mengubahnya menjadi dihidrotestosteron derivatif (DHT). DHT ini mengikatkan diri ke folikel rambut sehingga membuat folikel jadi menyusut kemudian akhirnya mengakibatkan penipisan rambut.

Suatu penelitian di tahun 2011 yang diterbitkan pada International Journal of Women’s Health mencatat bahwa penurunan kadar androgen akibat PCOS menghambat pembentukan rambut baru serta memperlambat pertumbuan rambut yang sudah ada.

Penelitian lain yang dipublikasikan tahun 2013 dalam jurnal yang sama juga menyebutkan bahwa ‘alopecia berpola’ lebih sering dialami oleh wanita dibandingkan pria, umumnya disebabkan oleh masalah gangguan endokrin, seperti PCOS.

Gejala lain dari PCOS yang perlu diperhatikan adalah bertumbuhnya rambut di wajah, menstruasi yang tidak teratur, jerawat, dan kista pada indung telur. Konsultasikanlah dengan dokter bila Anda merasakan gejala-gejala semacam ini yang menyertai kerontokan rambut.

Diagnosis dan pengobatan yang tepat dapat membantu Anda mencegah komplikasi penyakit PCOS, seperti diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, infertilitas, dan depresi.

Anemia Defisiensi Zat Besi

Mereka yang mengidap anemia defisiensi zat besi seringkali mengeluh penipisan dan kerapuhan rambut. Bahkan kerontokan rambut adalah salah satu gejala yang paling menonjol dan paling awal dari masalah kekurangan zat besi dalam tubuh.

Karena kadar zat besi yang rendah, darah jadi tidak memiliki cukup sel darah merah untuk mengangkut oksigen ke sel-sel di seluruh tubuh, termasuk ke folikel rambut. Tanpa oksigen yang cukup, rambut jadi kehilangan nutrisi penting yang dibutuhkannya untuk memelihara kekuatan dan pertumbuhannya.

Suatu penelitian di tahun 2006 yang diterbitkan dalam Journal of American Academy of Dermatology melaporkan bahwa kekurangan zat besi bisa jadi penyebab rambut rontok. Bahkan itu mungkin berhubungan dengan penyakit alopecia areata, alopecia androgenetic, dan telegon effluvium.

Wanita yang kekurangan zat besi berpotensi mengalami kerontokan rambut dengan pola menyebar, demikian yang disebutkan oleh sebuah penelitian tahun 2009 yang diterbitkan pada Acta Dermatovenerologica Croatica.

Penelitian lain tahun 2013 yang diterbitkan Journal of Korean Medical Science memastikan adanya kaitan antara kekurangan zat besi dengan kebotakan wanita, terutama pada wanita pra menopause.

Baca juga:  Mengatasi Rambut Rontok Itu Mudah Kok!

Seiring dengan kerontokan rambut, jika Anda merasakan kelelahan esktrim, tangan dan kaki dingin, kelemahan dan kulit pucat, maka inilah saatnya untuk memeriksakan kadar zat besi Anda ke dokter. Jika Anda ternyata memang kekurangan zat besi, makanlah makanan yang kaya zat besi atau konsumsi suplemen zat besi setelah berkonsultasi dulu dengan dokter.

Hipotiroidisme

Hipotiroidisme, atau tiroid kurang aktif, adalah penyebab rambut rontok yang lainnya. Kelenjar tiroid bertanggung jawab untuk mengeluarkan hormon tiroid, yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh, termasuk rambut Anda.

Jika tiroid menjadi kurang aktif maka ia tidak menghasilkan cukup hormon tiroid sehingga memengaruhi pertumbuhan serta tekstur rambut pada kulit kepala, juga alis dan rambut di seluruh tubuh.

Sebuah penelitian tahun 2008 yang diterbitkan dalam Journal of Endocrinology Clinical and Metabolism melaporkan bahwa hormon tiroid secara langsung memengaruhi beberapa aspek anatomi rambut, mulai dari siklus pertumbuhannya hingga proses pigmentasi rambut.

Penelitian lain yang dipublikasikan oleh Indian Journal of Dermatology pada tahun 2008 mencatat bahwa hipotiroidisme berkaitan dengan penyakit alopecia areata. Penelitian ini juga menekankan perlunya pemeriksaan skrining oleh pasien pengidap gangguan autoimun alopecia areata yang sudah kronis.

Selain kerontokan rambut, gejala lain dari hipotiroidisme ialah kenaikan berat badan, kelelahan, sembelit, depresi serta sulit berkonsentrasi. Diagnosis serta pengobatan hormon tiroid yang tepat dapat menormalkan kembali kadar hormon sehingga dapat menghentikan kerontokan rambut.

Apakah Anda selalu melihat ada banyak rambut terkumpul di lubang pembuangan air atau di sisi-sisi kamar mandi? Atau selalu ada banyak helaian rambut yang lepas dan tertinggal di sisir? Atau bahkan Anda sudah melihat di cermin bahwa rambut kepala sudah mulai menipis sehingga kulit kepala semakin terlihat?

Kalau sudah begitu, berarti saatnya Anda mencari tahu apa penyebab rambut rontok, apalagi jika Anda masih berusia muda dan orangtua juga tidak punya riwayat kebotakan dini. Siapa tahu dengan mengetahui penyebabnya, Anda bisa mengatasinya dengan pengobatan yang tepat lalu rambut bisa kembali lebat. Nantikan ulasan 3 masalah kesehatan penyebab rambut rontok selanjutnya di artikel bagian kedua.

Advertisement
Alinesia