Polusi saat Kehamilan Beresiko Penyakit Asma pada Anak


By Fery Irawan

Ternyata ibu-ibu hamil perlu waspada bukan hanya terhadap kebiasaan, tetapi juga terhadap lingkungan tempat tinggal mereka, karena bisa meningkatkan resiko penyakit asma pada anak.

Sebuah penelitian terkini mengungkapkan bahwa ibu hamil yang tinggal di lingkungan berpolusi tinggi dapat menyebabkan kerusakan fungsi paru-paru pada janinnya dan berpotensi menyebabkan penyakit asma pada anaknya di kemudian hari.

Penelitian Fresno Asthmatic Children’s Environment Study (lembaga yang meneliti faktor-faktor pada sakit asma), mencakup pengamatan terhadap dampak polusi atas pertumbuhan fungsi paru-paru.

Studi itu menyimpulkan bahwa salah satu penyebab asma dan alergi adalah udara di lingkungan selama ia dikandung. Kelompok yang diuji terdiri dari anak-anak berusia 6 hingga 15 tahun beserta ibu-ibu mereka.

Mereka mencatat kadar polusi di lingkungan geografis tempat para ibu itu tinggal selama kehamilan, yang mereka dapatkan dari Sistem Pencatatan Aerometrik Lingkungan. Ini adalah sistem yang merekam informasi kadar polusi yang terkomputerisasi.

Tim peneliti ini ingin memastikan faktor-faktor yang bisa jadi terkait dengan penyakit asma pada anak. Karena itu mereka mengevaluasi berbagai polutan, termasuk karbon monoksida, nitrogen dioksida, ozon, dan partikel mikro lainya di udara.

Partikel mikro itu juga termasuk asam, benda organik, logam, dan debu. Dalam kenyataannya, bahan-bahan ini bukan hanya berpotensi meningkatkan resiko penyakit asma pada anak, tetapi juga menjadi alergen bagi orang-orang dewasa yang memiliki penyakit asma.

Setelah itu, mereka melakukan tes terhadap fungsi paru-paru dari anak-anak tersebut. Hal ini dilakukan dengan menggunakan teknik spirometri. Ini adalah teknik pengukuran volume dan kekuatan napas saat meniupkan udara (teknik ini juga biasa digunakan untuk mendiagnosis penderita penyakit asma).

Tinggi, umur, bangsa, dan status ekonomi sosial mereka juga menjadi salah satu yang diperhitungkan dalam studi itu. Hasilnya, didapati bahwa ibu yang terpapar dengan banyak nitrogen dioksida selama trisemester pertama dan kedua kehamilan cenderung dikaitkan dengan rendahnya pertumbuhan fungsi paru-paru sehingga bisa berdampak pada bertambahnya resiko penyakit asma anaknya.

Isu soal penyakit asma ini masih terkait dengan laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berkenaan tingginya konsentrasi PM10 di udara di kota-kota besar.

PM10 adalah partikel-partikel halus yang berukuran sama atau kurang dari 10 mikron. Karena sedemikian halusnya, PM10 bisa menyusup dalam paru-paru dan aliran darah sehingga memicu penyakit asma, jantung, kanker paru-paru, dan infeksi pernafasan akut.

Standar yang ditetapkan oleh WHO untuk PM10 adalah 20 mikrogram/m3 per tahun. Tetapi, coba perhatikan: Konsentrasi PM10 di Ibu Kota Jakarta adalah 43 mikrogram/m3 per tahun—dua kali lipat di atas ambang batas WHO; Surabaya mencapai 69 mikrogram/m3 per tahun; Medan jauh lebih tinggi lagi, mencapai 111 mikrogram/m3 per tahun. Jadi, apakah mungkin kita mempertahankan diri dari polusi dan berupaya mencegah penyakit asma pada anak-anak kita?

Sebenarnya, tubuh kita sudah diciptakan dengan pertahanan. Tubuh kita mengandung apa yang disebut oleh dr. Ray D. Strand, M.D sebagai Epithelial Lining Fluids (ELFs).

Selain menyaring polutan yang masuk ke paru-paru, cairan mukus kental dalam saluran napas kita ini juga mengandung antioksidan, yang dapat menetralisir berbagai polutan, seperti nitrogen dioksida, asap kendaraan, dan partikel halus lainnya.

Dari mana ELFs memperoleh antioksidan itu? Dari asupan harian kita tentunya. Karena itu, untuk melawan pencemaran udara yang bisa mengarah pada penyakit asma, kita sangat membutuhkan antioksidan dalam menu setiap hari.

Selain dari produk jadi, antioksidan khususnya sangat mudah diperoleh dari buah-buahan. Contohnya saja, Noni juice, yang terbuat dari sari buah Noni. Karena kaya akan antioksidan, Noni juice dapat sangat membantu tubuh kita memerangi polusi yang menjadi pemicu penyakit asma.

Kandungan anti-oksidannya antara lain: vitamin A, E, C, dan selenium. Kombinasi Noni juice dengan buah-buahan lainnya akan sangat membantu meningkatkan fungsi paru-paru dan mencegah penyakit asma.

Sebuah kata bijak berbunyi, “Kita mungkin tak bisa meredakan badai, namun kita bisa merubah layar.” Ya, kita sering kali tidak bisa memilih di mana kita tinggal, tapi dengan mengonsumsi antioksidan alami, kita bisa menurunkan resiko penyakit asma pada anak-anak kita.

Tentang Penulis 

Fery Irawan

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting oleh Fery Irawan seorang editor sekaligus penulis yang antusias dan sadar untuk memberikan informasi kesehatan yang tidak berat sebelah. Aktif menulis beragam artikel kesehatan selama beberapa tahun terakhir. Ia selalu berupaya menyampaikan informasi yang aktual dan terpercaya, sesuai dengan ketentuan dan prinsip jurnalistik yang ada.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}