Persalinan ILA: Persalinan dengan Nyeri yang Minimal


By Cindy Wijaya

Kehamilan dan persalinan adalah satu peristiwa yang istimewa bagi sebagian besar wanita. Kehadiran buah hati di tengah keluarga tidak dapat dipungkiri selalu menjadi satu anugrah tersendiri. Tetapi di sisi lain, para calon ibu akan dibayangi ketegangan menghadapi persalinan yang diketahui memberi efek rasa sakit yang cukup berat.

Itulah awal dari munculnya ide persalinan ILA. Beberapa wanita harus mengakui bahwa toleransi mereka terhadap sakit tidak cukup tinggi, sementara rasa nyeri persalinan konon bisa diumpamakan sebagai rasa nyeri ketika beberapa puluh sisi tulang dipatahkan bersama. Dan persalinan ILA adalah satu bentuk cara persalinan yang membantu meredam rasa nyeri dengan risiko yang lebih terkendali.

Fakta adanya keluhan dari kalangan calon ibu yang takut menghadapi nyeri persalinan mendorong beberapa pakar kesehatan wanita mencari ide untuk membantu para calon ibu.

Pada masa lalu, kebanyakan calon ibu ini akan memilih metode persalinan Caesar Section dengan pembedahan perut. Meski persalinan akan dijalankan tanpa sakit, namun para dokter menyadari bahwa proses penyembuhan dan pemulihan kembali pasca operasi akan relatif lama setidaknya hingga 2 bulan.

Inilah yang kemudian membuat tercetusnya ide pemberian analgesik pada calon ibu yang hendak menghadapi persalinan. Pada awalnya, metode yang digunakan adalah metode ELA atau Epidural Labour Analgesia atau pemberian analgesik pada area panggul atau epidural, biasanya dengan menggunakan jenis kokain.

Namun cara ini rupanya menyisakan beberapa masalah dan risiko. Hilangnya rasa nyeri juga dibarengi hilangnya efek refleks mengejan ibu pada persalinan. Persalinan juga melambat karena ketegangan otot menurun serta muncul efek hambatan hormonal yang menyebabkan proses alami persalinan berjalan dalam ritme yang lebih lambat.

Bahkan banyak persalinan yang gagal berjalan sebagaimana mestinya karena ibu tidak bisa mengejan seperti seharusnya. Akhirnya bayi perlu melalui proses vakum untuk bisa dikeluarkan dengan sempurna.

Ini belum membahas adanya efek mengantuk dan lemas dari bayi pasca persalinan yang kadang perlu waktu hingga 1 hari untuk sepenuhnya pulih. Beberapa bayi cukup lemas untuk menyusui dengan aktif sehingga bisa membuat lambung bayi kosong pada 24 jam pertama masa hidupnya, sementara payudara memerlukan stimulan berupa isapan bayi sesegera mungkin untuk bisa aktif menghasilkan ASI.

Baru pada tahun 90-an dikenal konsep anyar persalinan ILA atau Intrathecal Labour Analgesia. Metode ini sebenarnya hampir serupa dengan metode ELA namun dengan memberikan dosis yang lebih ringan namun langsung menyasar pada salah satu pusat saraf tubuh area bawah, yakni pada titik tertentu tulang belakang bawah tepatnya di atas tulang ekor.

Sebagai pusat saraf, pemberian analgesik pada area ini akan membantu dengan cepat menurunkan intensitas rasa nyeri meski dilakukan dengan dosis yang lebih rendah. Dan karena diberikan dalam dosis rendah, maka tidak cukup untuk memberi pengaruh pada janin dan sistem refleks otot persalinan.

Itu sebabnya calon ibu akan tetap merasakan rasa nyeri namun dalam skala ringan, sehingga tetap dapat merasakan dorongan untuk mengejan yang biasa mulai muncul pada pembukaan 8 dan seterusnya. Tidak ada pengaruh perlambatan gerak otot peristaltik dalam vagina dan otot panggul sehingga persalinan tetap dalam berjalan normal.

Ini terbukti dari penurunan kasus prosedur vakum pada penanganan persalinan ILA yang 3 kali lebih rendah dari kasus persalinan ELA. Juga menurunkan risiko robekan perineum atau dinding antara vagina dan anus yang kadang terjadi pada kasus persalinan ELA.

Hanya saja, efek analgesik pada persalinan ILA hanya bekerja dalam periode 12 jam saja. Waktu yang pendek karena dosisnya yang rendah dan cara kerjanya yang memberi efek kebas pada pusat saraf, bukan pada sistem otot pada seluruh bagian panggul sebagaimana pada sistem persalinan ELA.

Itu sebabnya pada persalinan ILA, pemberian analgesik biasanya diberikan beberapa jam menjelang persalinan saja, kadang baru diberikan ketika sudah pecah ketuban atau menjelang pembukaan 9 supaya ketika persalinan terjadi efek analgesik tidak terlanjur berkurang.

Ini berbeda dengan analgesik dalam persalinan ELA yang kadang sudah diberikan pada awal masa persiapan persalinan bahkan sudah dapat diberikan sebelum pembukaan 6, sehingga calon ibu tidak harus merasakan kesakitan yang semakin berat ketika memasuki pembukaan 7.

Kekurangan dari persalinan ILA selain efek analgesiknya yang sebentar, analgesik yang menyerang area pusat saraf kadang memberi efek limbung dan pusing, beberapa calon ibu ada yang mengeluhkan rasa mual. Ada pula reaksi gatal yang biasanya berkaitan dengan efek autoimun terhadap analgesik.

Beberapa ibu juga mengalami efek kebas dan kesemutan pada saat persalinan dan pasca persalinan. Analgesik ini sebaiknya cukup hati-hati untuk diberikan pada ibu hamil dengan kasus dugaan bayi besar, masalah tekanan darah, dan kasus tulang panggul kecil.

Inilah beberapa informasi mengenai persalinan ILA. Persalinan cara modern yang lebih nyaman sekaligus aman untuk Anda dengan toleransi nyeri yang rendah. Konsultasikan dulu dengan dokter kandungan Anda sebelum memastikan menggunakan metode persalinan ILA ini.

Tentang Penulis 

Cindy Wijaya

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting dan di-review oleh Cindy Wijaya seorang editor dan penulis beragam artikel kesehatan. Ia senang meriset dan berbagi topik-topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Tinggal di “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}