Share:

Terakhir Diedit:

Penyakit muntaber (muntah dan berak) bisa berbahaya kalau sampai dehidrasi. Semua orang—bayi, anak-anak, dan orang dewasa—bisa mengalami muntaber. Anda perlu tahu bagaimana gejala muntaber, apa saja penyebab muntaber yang perlu dihindari, dan bagaimana cara mengobati muntaber sebelum menjadi parah.

Dalam artikel ini Anda akan menemukan info penting seputar gejala, penyebab, dan cara mengobati muntaber. Dengan mengetahui langkah-langkah yang perlu dilakukan sewaktu muntaber, Anda dapat mencegah hal-hal buruk dari penyakit ini.

Apa Itu Penyakit Muntaber?

Muntaber adalah istilah awam yang digunakan untuk penyakit bernama gastroenteritis. Gastroenteritis adalah kondisi peradangan pada dinding usus yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit. Gastroenteritis merupakan penyakit yang banyak dialami oleh orang-orang yang tinggal di negara berkembang, termasuk Indonesia.

penyakit muntaber - gejala muntaber - penyebab muntaber - cara mengobati muntaber

Penyakit muntaber dapat menyebar dengan mudah. Meskipun sering kali tidak berdampak serius pada penderitanya, namun penyakit ini bisa mengakibatkan dehidrasi parah. Dengan penanganan yang tepat, Anda bisa mencegah dehidrasi tersebut.

Walaupun dapat dialami oleh siapa pun, tetapi muntaber paling berisiko apabila terjadi pada anak kecil, orang tua, dan orang-orang yang sistem kekebalannya lemah. Karena itu, Anda perlu tahu kapan penyakit ini perlu mendapat penanganan khusus dari pihak medis.

Bagaimana Gejala Muntaber?

Seperti yang ditunjukkan oleh namanya, gejala muntaber yang paling utama adalah berak-berak (diare). Apabila usus besar (kolon) ikut terinfeksi oleh virus, bakteri, atau parasit penyebab muntaber, usus besar tidak akan mampu mempertahankan cairan. Akibatnya, tinja menjadi cair (mencret). Selain diare, ada juga gejala muntaber yang lainnya seperti berikut:

  • Muntah-muntah
  • Mual
  • Sakit atau kram di perut
  • Demam
  • Susah makan (pada anak kecil)
  • Berat badan cepat turun (mungkin tanda dehidrasi)
  • Keringat berlebihan
  • Kulit lembap
  • Nyeri otot atau kaku di persendian

Karena gejala muntaber di atas, terutama muntah-muntah dan diare, seseorang bisa dengan cepat kehilangan banyak cairan dan menjadi dehidrasi. Sangatlah penting bagi Anda untuk mewaspadai tanda-tanda dehidrasi, antara lain:

  • Rasa haus berlebihan
  • Warna urin lebih gelap, atau jumlah urin berkurang
  • Kulit kering
  • Mulut kering
  • Pipi atau mata tampak cekung ke dalam (wajah terlihat tirus)
  • Pada bayi atau balita, popoknya tetap kering selama lebih dari 4 – 6 jam

Segera pergi ke dokter jika mengalami gejala muntah dan diare terus-menerus. Anda juga harus minta bantuan dokter jika dehidrasi sudah terjadi dan tidak bisa pulih meski sudah berusaha menggantikan cairan yang hilang.

Selain itu diare yang tidak berhenti lebih dari 7 hari atau muntah-muntah lebih dari 2 hari juga menandakan sesuatu yang serius, jadi periksalah ke dokter. Dokter dapat melakukan cara mengobati muntaber yang terbaik untuk kasus yang serius.

Apa Saja Penyebab Muntaber?

Adakalanya gejala muntaber ringan akan menghilang setelah beberapa hari meski tanpa pengobatan dokter, sehingga penyebab muntaber tidak diketahui. Dan meskipun sudah ditangani dokter, tetapi dokter tidak melakukan tes lebih terperinci, maka penyebab muntaber tidak akan diketahui jelas.

Namun dari kasus-kasus penyakit muntaber di seputar dunia, para ahli telah menemukan tiga penyebab utamanya. Tiga penyebab muntaber tersebut yaitu: virus, bakteri, dan parasit. Berikut akan dijelaskan masing-masing.

Infeksi Virus:

Norovirus: Menurut eMedicineHealth, 50 – 70 persen kasus gastroenteritis pada orang dewasa disebabkan oleh norovirus. Virus ini sangat mudah menular dan cepat menyebar.

penyakit muntaber - gejala muntaber - penyebab muntaber - cara mengobati muntaber

Norovirus dapat menyebar melalui konsumsi makanan/minuman yang terkontaminasi, atau menyentuh benda yang terkontaminasi lalu memasukkan tangan ke mulut. Penularan juga bisa terjadi jika ada kontak langsung dengan orang yang terinfeksi, misalnya berbagi makanan/minuman dengannya.

Rotavirus: Virus penyebab muntaber ini menyebar melalui tinja. Seseorang yang sudah terinfeksi bisa menularkan virus ini jika ia telah mengalami gejala muntaber dan selama jangka 3 hari setelah sembuh.

Virus dapat menular bila tangan menyentuh tinja yang memiliki rotavirus, lalu tangan itu dimasukkan ke mulut. Atau menyentuh benda-benda yang terkontaminasi, lalu tangan dimasukkan ke mulut. Virus juga menular bila mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi.

Baca juga  Flu Lambung (Gastroenteritis), Apa Penyebabnya?

Adenovirus: Di samping menjadi penyebab muntaber, adenovirus lebih sering menyebabkan penyakit pernapasan. Adenovirus juga dapat mengakibatkan penyakit lain, seperti infeksi kandung kemih dan ruam di kulit.

Parvovirus: Ini adalah bocavirus pada manusia (HBoV) dan termasuk dalam famili Parvoviriade.

Astrovirus: Infeksi astrovirus merupakan penyebab muntaber ke-3 paling sering pada bayi.

Infeksi Bakteri:

E. coli: Infeksi bakteri ini bisa menimbulkan komplikasi cukup serius. Salah satu jenis E. coli (O157:H7) dapat menyebabkan komplikasi pada sekitar 10% dari penderita gastroenteritis. Komplikasi tersebut misalnya gagal ginjal pada anak-anak, diare berdarah, dan thrombotic thrombocytopenic purpura pada lansia.

Salmonella, Shigella, dan Campylobacter: Ketiga bakteri ini juga penyebab umum penyakit muntaber. Salmonella masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi, atau dengan menyentuh daging mentah yang membawa bakteri ini.

Campylobacter dapat masuk jika mengonsumsi daging yang tidak matang atau makanan lain yang terkontaminasi. Anak bayi mungkin terinfeksi bakteri ini ketika menyentuh daging mentah saat dibawa berbelanja ke pasar.

Bakteri ini juga diduga dapat terbawa di susu yang tidak dipasteurisasi atau air yang terkontaminasi. Infeksi Campylobacter juga dapat menyebar ke manusia melalui tinja dari hewan peliharaan yang terinfeksi. Tetapi biasanya bakteri ini tidak menyebar dari orang ke orang.

Shigella umumnya menyebar melalui orang ke orang. Bakteri ini terbawa ke tinja dari orang yang terinfeksi. Infeksi Shigella juga dapat menyebar jika mengonsumsi makanan/minuman yang terkontaminasi, atau berenang di kolam yang tercemar. Shigella juga dapat menyebar di antara pria yang berhubungan seks dengan sesama pria.

Clostridium difficile: Bakteri penyebab muntaber ini dapat berkembang terlalu cepat pada usus besar setelah seseorang menerima antibiotik. Meskipun hampir semua antibiotik bisa memicu kondisi itu, tetapi yang paling berisiko memicu perkembangan C. difficile adalah antibiotik clindamycin, fluoroquinolon, penicilin, dan cephalosporin.

Hal yang yang dapat membuat seseorang rentan terinfeksi C. difficile yaitu rawat inap di rumah sakit, berusia di atas 65 tahun, dan mengalami penyakit kronis.

Infeksi Parasit:

Giardia: Parasit penyebab muntaber ini dapat masuk ke tubuh melalui konsumsi air yang telah terkontaminasi kotoran (tinja) hewan. Ini bisa terjadi jika seseorang minum dari air sungai atau danau. Kadang Giardia juga ada di kolam renang, sumur, dan bak air.

Cryptosporidium: Parasit ini hidup di dalam usus dari orang atau hewan yang telah terinfeksi. Jika sudah terinfeksi, parasit akan terbawa ke tinja yang dikeluarkan. Parasit ini dapat menyebar melalui makanan, minuman, tanah, atau benda-benda yang telah tercemar oleh tinja tersebut.

Seseorang bisa tertular apabila mengonsumsi minuman yang tecemar, makanan yang belum matang, atau buah dan sayur yang tidak dicuci. Penularan juga dapat terjadi jika menyentuh benda-benda seperti perlengkapan mandi, mainan, atau bekas popok dari orang yang terinfeksi.

Virus, bakteri, dan parasit penyebab muntaber dapat menginfeksi siapa saja. Namun ada orang-orang yang lebih rentan tertular dibandingkan yang lain. Mereka adalah anak-anak di tempat penitipan anak (daycare), siswa atau mahasiswa yang tinggal di asrama, personel militer, dan orang yang sedang bepergian.

Bagaimana Cara Mengobati Muntaber?

Bila sudah mengalami gejala muntaber, Anda perlu cepat melakukan penanganan untuk menjaga asupan cairan bagi tubuh agar tidak dehidrasi. Apabila sudah terjadi dehidrasi, kemungkinan diperlukan perawatan medis untuk mengganti kehilangan cairan melalui infus.

Anda biasanya tidak harus pergi ke dokter untuk mengobati penyakit muntaber, karena penyakit ini seringnya sembuh sendiri. Tetapi Anda disarankan segera pergi ke dokter jika mengalami situasi berikut:

  • Mengalami gejala muntaber yang parah; misalnya terus-menerus pusing, urin hanya keluar sedikit atau sama sekali tidak keluar, atau mulai hilang kesadaran.
  • Mengalami diare berdarah.
  • Terus muntah-muntah dan tidak bisa minum cairan apapun.
  • Demam di atas 38 deracat C.
  • Gejala muntaber tidak membaik setelah beberapa hari
  • Memiliki penyakit lain yang serius, seperti penyakit ginjal, radang usus, atau kekebalan tubuh yang lemah.
Baca juga  Flu Lambung (Gastroenteritis): Bagaimana Cara Mencegahnya?

Dokter mungkin akan meresepkan obat untuk mengurangi gejala muntaber Anda; memberikan cairan pengganti melalui infus untuk mengatasi dehidrasi; atau meresepkan antibiotik jika hasil tes menunjukkan bahwa penyebab muntaber Anda adalah infeksi bakteri.

Cara Mengobati Muntaber Sendiri di Rumah

Sewaktu mengalami gejala muntaber, hal yang terbaik yang bisa dilakukan adalah istirahat di rumah. Tidak ada cara mengobati muntaber khusus yang bisa langsung menyembuhkan. Jadi Anda perlu memberikan waktu bagi tubuh untuk mengatasi penyakit ini sendiri.

Bila gejala-gejala yang dirasakan tidak parah, Anda bisa merawat diri sendiri di rumah. Berikut adalah tips-tips cara mengobati muntaber yang dapat Anda ikuti:

  • Minumlah banyak air untuk mencegah dehidrasi. Selain air Anda juga bisa minum jus buah atau makan yang berkuah.
  • Anda bisa minum obat paracetamol untuk mengatasi demam atau rasa nyeri di badan.
  • Cukupi kebutuhan tidur dan istirahat.
  • Jika sudah bisa makan, cobalah makan sedikit makanan hambar, misalnya sup, nasi, atau roti.
  • Minumlah larutan oralit (bisa dibeli di apotek) jika muncul tanda-tanda dehidrasi, seperti mulut kering atau urin berwarna gelap.

penyakit muntaber - gejala muntaber - penyebab muntaber - cara mengobati muntaber

Penyakit muntaber bisa dengan mudah menyebar, jadi Anda harus sering-sering cuci tangan agar tidak menularkan ke orang lain. Anda juga sebaiknya tidak masuk kerja atau sekolah paling tidak sampai 2 hari setelah sembuh.

Cara Mengobati Muntaber dengan Herbal

Ada sejumlah bahan alami yang bisa digunakan untuk mengatasi penyakit muntaber. Bahan-bahan tersebut antara lain: jahe, daun mint, teh chamomile, dan kayu manis. Berikut penjelasan dari cara mengobati muntaber menggunakan herbal tersebut.

Jahe:

Jahe memiliki kandungan aktif untuk meredakan infeksi di usus dan melindunginya dari bakteri berbahaya. Anda bisa mengatasi gejala mual dengan mengunyah langsung jahe. Atau Anda bisa menyeduh jahe dengan air panas untuk dijadikan teh herbal.

Daun Mint:

Daun mint terkenal dengan kemampuannya untuk mendinginkan, menenangkan, dan mengatasi peradangan. Kunyahlah beberapa daun mint yang sudah dicuci bersih. Atau seduhlah daun mint menjadi teh untuk diminum.

Kayu Manis:

Kombinasi kayu manis dan madu dapat menjadi cara mengobati muntaber yang efektif. Kedua bahan alami ini bermanfaat untuk mengatasi peradangan dan menambah kekebalan tubuh. Seduhlah kayu manis dengan air panas, lalu tambahkan madu secukupnya setelah airnya mendingin.

Ketiga herbal di atas dapat meringankan gejala muntaber sekaligus membantu menguatkan kekebalan tubuh. Di samping menjaga asupan cairan untuk mencegah dehidrasi, Anda bisa mencoba cara mengobati muntaber dengan herbal ini untuk mempercepat proses pemulihan.

Kesimpulan tentang Penyakit Muntaber

Penyakit muntaber, atau gastroenteritis, adalah kondisi peradangan pada dinding usus akibat infeksi. Ada tiga penyebab muntaber yang paling umum, yaitu infeksi bakteri, virus, dan parasit. Sering kali bakteri, virus, atau bakteri masuk ke dalam tubuh melalui makanan/minuman yang tercemar. Atau karena menyentuh benda yang terkontaminasi lalu jari atau tangan dimasukkan ke dalam mulut.

Bila sudah terjadi infeksi, maka gejala muntaber akan muncul dalam watu 12 – 48 jam setelahnya. Gejala-gejala tersebut antara lain muntah-muntah, diare, mual, dan sakit atau kram di perut. Bila muntaber tidak parah, biasanya keluhan-keluhan itu akan membaik dalam waktu 2 – 10 hari meski tanpa perawatan dokter.

Untuk cara mengobati muntaber yang tidak parah, Anda dianjurkan istirahat yang banyak, minum banyak cairan, dan mengonsumsi makanan yang hambar dulu selama beberapa hari. Namun ada baiknya segera ke dokter jika mengalami tanda-tanda dehidrasi, seperti mulut kering, warna urin yang gelap, dan urin hanya keluar sedikit. Dokter mungkin akan memberikan cairan melalui infus untuk mengatasi dehidrasi.

Demikianlah ulasan mengenai penyakit muntaber. Semoga Anda jadi lebih tanggap dengan masalah kesehatan ini. Nantikan juga ulasan menarik lain seputar info penyakit, tips kesehatan, dan pemanfaatan herbal hanya di Deherba.com.

Sumber Referensi:

EMedicineHealth. Gastroenteritis (Stomach Flu). Published: 2017-08-31. URL: https://www.emedicinehealth.com/gastroenteritis/article_em.htm. Accessed: 2018-08-08. (Archived by WebCite®)

Nidirect. Diarrhoea and Vomiting (Gastroenteritis). Published: 2017. URL: https://www.nidirect.gov.uk/conditions/diarrhoea-and-vomiting-gastroenteritis. Accessed: 2018-08-08. (Archived by WebCite®)

Cindy Wijaya

Penulis beragam artikel kesehatan berpengalaman. Senang meriset dan berbagi topik-topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Saat ini bekerja sebagai penulis dan editor untuk Deherba.com. Tinggal di “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan.


Artikel di-posting oleh Cindy Wijaya dan di-review oleh tim penulisan deherba.com.