Mengenal Penyakit Plasenta Previa dan Cara Mengatasinya

1350

Salah satu hal yang paling penting dalam masa kehamilan adalah kondisi plasenta dalam perut. Plasenta baru akan terbentuk dalam perut wanita ketika ia sedang hamil. Fungsi dari plasenta adalah sebagai penyalur nutrisi dan oksigen yang diberikan dari tubuh ibu ke si janin melalui tali pusar.

Normalnya, plasenta akan naik ke atas seiring dengan berkembangnya rahim dan menjauhi serviks atau leher rahim untuk memberi jalan pada saat persalinan. Jika plasenta tidak berkembang dan tetap berada di bawah rahim, maka jalan ke leher rahim untuk melahirkan normal akan tertutup sebagian atau sama sekali. Kondisi inilah yang disebut dengan plasenta previa.

Apa yang Jadi Faktor Penyebab Plasenta Previa?

Plasenta previa termasuk kondisi yang agak jarang terjadi, perbandingannya adalah 1 dari 200 ibu hamil akan mengalami plasenta yang menempel di leher rahim. Plasenta previa pada umumnya terjadi pada masa awal kehamilan dan meningkatkan resiko ibu mengalami pendarahan sebelum melahirkan.

Pendarahan disebabkan karena pembuluh darah pada rahim yang menipis membentang dan pecah. Seiring dengan bertambahnya usia kandungan terutama pada trisemester kedua dan ketiga, leher rahim akan melebar untuk membuka jalan bagi persalinan. Leher rahim yang terlalu tipis akan menyebabkan plasenta menempel dan tidak dapat bergerak ke atas.

Beberapa faktor yang bisa menyebabkan ibu hamil mengalami plasenta previa adalah sebagai berikut:

  • Pernah melahirkan anak kembar
  • Kehamilan sebelumnya mengalami kondisi yang sama
  • Pernah melahirkan denga operasi caesar
  • Hamil di atas usia 35 tahun
  • Pernah menjalani operasi untuk rahim misalnya akibat keguguran atau miom
  • Merokok dan/atau menggunakan narkotika

Ibu hamil patut curiga jika mengalami pendarahan pada saat kandungan berusia 21 sampai 40 minggu. Jika terjadi pendarahan pada rentan waktu masa kandungan akhir trisemester kedua hingga awal trisemester ketiga maka ada kemungkinan ibu mengalami plasenta previa dan harus melakukan USG untuk memastikannya.

Pendarahan yang terjadi melalui vagina tidak terasa nyeri. Ibu hamil dengan kondisi plasenta yang tidak normal pada usia kandungan sudah tua beresiko bayi dilahirkan prematur, atau melahirkan dengan cara caesar. Caesar harus dilakukan terutama jika plasenta menutup seluruh jalan kelua rahim sehingga tidak memungkinkan untuk melahirkan normal. Sedangkan jika terjadi pada usia kandungan masih muda beresiko terjadi komplikasi pada saat persalinan.

Tidak semua ibu hamil yang mengalami plasenta previa akan menjalani persalinan dengan cara caesar. Persalinan normal masih bisa dilakukan terutama jika kondisi ini terjadi pada masa awal kehamilan atau trisemester pertama. Pada masa awal kehamilan, air ketuban masih banyak sehingga janin masih bebas bergerak yang berpengaruh juga terhadap pergerakan plasenta.

Dokter akan memantau pergerakan plasenta, jika pada saat sudah mendekati waktu persalinan plasenta sudah bergerak ke atas maka Anda bisa melahirkan secara normal. Namun jika plasenta previa terjadi pada akhir masa kehamilan atau plasenta masih tetap di bawah ketika mendekati persalinan maka operasi caesar tidak dapat dihindari.

Bagaimana Tindakan Pencegahan Plasenta Previa?

Untuk menghindari resiko fatal yang bisa disebabkan karena kondisi plasenta previa, ibu hamil yang mengalami hal ini sebaiknya jangan menggunakan produk pembersih vagina yang dijual bebas atau obat-obatan lainnya. Ibu hamil dengan kondisi ini juga sebaiknya jangan berhubungan seks terlebih dahulu hingga dinyatakan aman.

Kondisi plasenta previa seperti telah disebutkan rentan menyebabkan pendarahan yang dapat membahayakan baik ibu maupun si janin, pendarahan dapat terjadi pada saat masa kehamilan, sebelum melahirkan, bahkan setelah melahirkan. Darah yang keluar bermacam-macam banyaknya mulai hanya berupa tetesan sampai seperti saat haid.

Agar mengurangi resiko pendarahan dan melahirkan secara prematur dan tidak normal, sebaiknya ibu hamil dengan plasenta previa melakukan hal-hal berikut ini:

  • Bed rest

    Banyak-banyaklah istirahat agar tidak terjadi tekanan pada area rahim dan plasenta, jangan mengangkat barang-barang yang berat dan sebaiknya menggunakan toilet duduk pada saat buang air.

  • Rajin kontrol

    Jika pada usia kehamilan sudah memasuki trisemester ketiga plasentanya menutupi sebagian rahim namun tidak mengalami pendarahan, Anda harus sering rutin kontrol ke dokter untuk memantau kondisi rahim dan perkembangan janin. Keputusan untuk melahirkan normal atau tidak dilihat dari letak plasenta yang menutupi jalan rahim.

  • Pelvic rest

    Karena rentan terjadi pendarahan, ibu hamil sebaiknya tidak melakukan treatment apapun pada area vagina seperti membersihkan cairan pembersih, melakukan hubungan seks, atau memakai pembalut vagina. Jika ingin mencegah noda darah melebar ke mana-mana gunakan saja pembalut dari kain seperti kain popok atau celana dalam yang sudah rusak dan tidak dipakai sebagai pengganti pembalut kapas.

Meskipun agak jarang, namun plasenta previa bukan merupakan kondisi yang darurat. Asalkan ibu hamil rajin ke dokter dan melakukan USG untuk memantau letak plasenta dan kondisi janin, komplikasi pada saat persalinan bisa diminimalisir. Pada kondisi yang sudah parah atau pendarahan yang terjadi sangat banyak, biasanya ibu hamil harus diopname agar dokter bisa memantau dengan intensif.

Karena penyebab pastinya belum diketahui, cara untuk mencegah mengalami plasenta previa adalah dengan memenuhi kebutuhan nutrisi bagi ibu hamil maupun janin agar plasenta bisa menyalurkan nutrisi dan oksigen dengan baik kepada janin. Ibu hamil juga tidak disarankan untuk merokok karena pada umumnya rokok adalah biang dari banyak masalah kesehatan. Asap rokok yang mengandung racun akan berbahaya bagi janin karena apa yang masuk ke dalam tubuh ibu masuk juga ke dalam tubuh janin.