Jahe: Kegunaan dan Efek Sampingnya


By Cindy Wijaya

Siapa yang tidak kenal dengan tumbuhan yang satu ini? Hampir semua orang Indonesia paling tidak pernah mendengar tentang jahe dan kebanyakan dari mereka pasti pernah mencicipi jahe.

Jahe adalah rempah yang juga digunakan sebagai obat alami. Tanaman rempah ini bisa dikonsumsi dalam bentuk yang masih segar, sudah dikeringkan, dijadikan bubuk, atau yang sudah diolah jadi minuman.

Jahe biasanya digunakan untuk mengobati beragam jenis “masalah perut”, misalnya mabuk perjalanan, mual di pagi hari, kolik, sakit perut, kentut berlebihan, diare, mual yang disebabkan oleh pengobatan kanker, serta mual dan muntah yang terjadi paska operasi.

Kegunaan lain dari jahe mencakup sebagai pereda rasa nyeri artritis atau nyeri otot, nyeri haid, infeksi saluran pernapasan atas, batuk, dan bronkitis. Jahe juga terkadang dimanfaatkan untuk mengurangi nyeri di dada, punggung bawah, dan nyeri perut.

Beberapa orang menuangkan jus jahe ke kulit untuk mengobati luka bakar. Minyak yang terbuat dari jahe adakalanya dioleskan ke kulit untuk meringankan rasa sakitnya.

Dalam dunia kuliner, rempah ini telah lama dikenal sebagai penambah cita rasa. Masakan yang ditambahkan rempah ini akan memiliki rasa pedas khas yang menghangatkan tenggorokan dan badan.

Selain untuk dikonsumsi, jahe juga dijadikan bahan untuk sabun dan kosmetik. Salah satu zat yang terkandung dalam jahe pun dimanfaatkan sebagai bahan untuk obat laksatif, anti-gas, dan antasida.

Bagaimana Cara Kerja Jahe sebagai Obat?

Jahe mengandung zat-zat kimia yang sanggup meredakan mual dan peradangan. Para peneliti memercayai bahwa bahan kimia tersebut bekerja secara khusus di lambung dan usus, serta membantu otak dan sistem saraf untuk meringankan mual.

Efek Samping dari Penggunaa Jahe

Jahe kemungkinan aman bagi kebanyakan orang. Akan tetapi, beberapa orang mungkin akan merasakan efek samping ringan, seperti mulas, diare, dan sakit perut biasa. Ada juga yang mengalami perdarahan menstruasi lebih banyak apabila mengonsumsi jahe. Dan jika dioleskan ke kulit, jahe bisa menimbulkan iritasi kulit.

Baca Juga:  Hebatnya Manfaat Jahe sebagai Obat Radang Sendi Artritis

Kehamilan: Mengonsumsi jahe selama masa kehamilan tidak dianjurkan. Ada kekhawatiran bahwa jahe memengaruhi hormon seksual dari janin. Ada juga laporan keguguran usia kehamilan 12 minggu pada ibu hamil yang rutin mengonsumsi jahe untuk mengobati mual di pagi hari. Meski begitu, risiko kelainan pada perkembangan janin tampaknya tergolong rendah, sekitar 1%-3%. Adapun kekhawatiran jahe dapat meningkatkan risiko perdarahan sehingga para ahli menyarankan agar tidak dikonsumsi mendekati waktu melahirkan.  

Masa Menyusui: Tidak cukup banyak diketahui mengenai efek samping penggunaan jahe selama menyusui. Ada baiknya berkonsultasi kepada dokter sebelum memutuskan mengonsumsi jahe.

Diabetes: Jahe dapat menurunkan kadar gula darah, jadi kemungkinan Anda harus menyesuaikan dosis atau jenis obat-obatan yang diresepkan dengan berkonsultasi dengan dokter.

Gangguan Jantung: Jahe dalam dosis tinggi dapat memperburuk beberapa masalah jantung.

Dibalik semua dugaan efek samping jahe, yang jelas manfaat jahe bagi kesehatan tidak diragukan lagi. Bahkan jahe sudah dimanfaatkan dari sejak dahulu kala di Asia sebagai obat tradisional. Dan hingga kini, jahe tetap jadi primadona sebagai obat alami sekaligus bumbu dapur.

Tentang Penulis 

Cindy Wijaya

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting oleh Cindy Wijaya seorang editor dan penulis beragam artikel kesehatan. Ia senang meriset dan berbagi topik-topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Tinggal di “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}