Gangguan Obsesif Kompulsif: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasi

204
gangguan obsesif kompulsif (obssesive compulsive disorder) atau OCD
Gangguan Obsesif Kompulsif (Credit: Shotshop GmbH / Alamy Stock Photo)

Diedit:

Wajar jika Anda khawatir dan memeriksa ulang apakah kompor sudah dimatikan atau apakah pintu sudah dikunci. Tapi jika Anda menderita gangguan obsesif kompulsif (obssesive-compulsive disorder atau OCD), pikiran dan perilaku semacam itu menjadi begitu menyengsarakan sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari. Itu hanyalah satu gejala OCD. Sebenarnya apa penyebab OCD dan bagaimana cara mengatasi OCD?

Artikel ini akan membantu Anda untuk lebih memahami tentang salah satu jenis gangguan kecemasan ini. Dengan terapi dan cara mengatasi yang tepat, Anda bisa membebaskan diri dari pikiran-pikiran yang tidak diinginkan dan kembali pegang kendali atas hidup Anda.

Apa Itu Gangguan Obsesif Kompulsif?

Gangguan obsesif kompulsif (obssesive-compulsive disorder) adalah suatu jenis gangguan kecemasan yang dicirikan oleh pikiran tak terkendali, tak diinginkan, dan perilaku berulang yang dirasa harus dilakukan. Singkatnya, OCD adalah gangguan yang membuat penderitanya punya pikiran dan perilaku yang obsesif serta kompulsif.

Kalau Anda memiliki OCD, mungkin Anda sadar bahwa pikiran dan perilaku berulang tersebut tidak masuk akal. Meski begitu Anda tidak bisa menahan dorongan untuk memikirkan dan melakukannya. Gejala OCD itu seperti kaset rusak yang terus mengulang lagu di dalamnya. OCD membuat otak “mandek” pada pikiran atau dorongan tertentu.

OCD membuat otak menjadi “mandek” pada pikiran atau dorongan hati tertentu. Pikiran dan perilaku OCD bisa diumpamakan seperti kaset rusak yang terus mengulang lagu yang sama.

Sebagai contoh, Anda mungkin harus mengecek kompor 20 kali untuk memastikan apinya sudah mati, atau cuci tangan sekian kali sampai merasa sudah bersih. Meskipun perilakunya tidak masuk akal, tapi Anda bisa merasa agak lega setelah melakukan dorongan dari pikiran yang obsesif.

Baca juga:  Apa itu Obsessive-Compulsive Disorder (OCD)?

Karena merasa tidak tahan dengan pikiran dan perilaku yang obsesif & kompulsif, ada penderita OCD yang mengonsumsi alkohol atau bahkan narkotika untuk “menenangkan diri”. Namun sebenarnya ada banyak cara mengatasi OCD yang jauh lebih aman untuk menenangkan pikiran dan perilaku Anda.

Antara Obsesif dan Kompulsif

Obsesi adalah pikiran, bayangan, atau dorongan hati yang tidak disengaja dan yang muncul berulang kali dalam pikiran. Seorang penderita OCD tidak menginginkan pikiran-pikiran yang obsesif itu, tetapi tidak mampu menghentikannya. Sayangnya, pikiran obsesif itu sering mengganggu dan menyengsarakan.

Kompulsi adalah perilaku atau ritual yang dirasa harus dilakukan lagi dan lagi. Biasanya, penyebab perilaku kompulsif OCD adalah karena ingin menghilangkan atau “memuaskan” pikiran obsesif. Sebagai contoh, karena muncul pikiran atau perasaan takut sakit, seorang penderita OCD melakukan semacam ritual membersihkan diri yang rumit.

Namun pikiran obsesif-nya hanya sebentar saja hilangnya. Bahkan, pikiran itu biasanya akan muncul lagi dengan lebih kuat. Dan ritual dan perilaku kompulsif sering kali hanya akan menimbulkan kecemasan seraya mereka menjadi lebih menuntut dan memakan waktu. Siklus ini disebut “lingkaran setan OCD”.

Seperti Apa Gejala OCD?

Hanya karena sesekali punya pikiran yang obsesif atau perilaku kompulsif bukan berarti Anda pasti mengidap gangguan obsesif kompulsif. Jika memang Anda mengidap OCD, pikiran dan perilaku semacam itu akan sangat menyusahkan, menghabiskan banyak waktu (setidaknya 1 jam per hari), dan mengganggu kehidupan serta hubungan Anda dengan orang lain.

Sebagian besar penderita obsesif kompulsif disorder mengalami gejala obsesif sekaligus kompulsif. Tetapi ada juga yang hanya menderita salah satu saja. Berikut adalah beberapa gejala OCD yang umumnya dialami penderita gangguan ini.

Gejala-Gejala Obsesif

  • Merasa takut terkontaminasi kuman atau kotoran atau takut mengontaminasi orang lain
  • Merasa takut tidak bisa mengendalikan diri dan menyakiti diri sendiri atau orang lain
  • Punya pikiran dan bayangan tentang seksual yang tidak normal atau tentang kekerasan
  • Fokus berlebihan pada pemikiran tentang agama atau moral
  • Merasa takut akan kehilangan atau tidak memiliki hal-hal yang dibutuhkan
  • Merasa segala sesuatu harus ditata teratur atau simetris
  • Percaya takhayul; sangat perhatian pada sesuatu yang dianggap beruntung atau tidak beruntung
ilustrasi gejala OCD
Terlalu Terobsesi dengan Kebersihan (Credit: Stokkete / Shutterstock)

Gejala-Gejala Kompulsif

  • Terlalu sering mengecek sesuatu, misalnya mengecek kunci, peralatan, dan sakelar listrik
  • Berulang-ulang mengecek pasangannya untuk memastikan apakah dia aman
  • Berulang-ulang menghitung, mengetuk, mengulangi kata-kata tertentu, atau melakukan hal-hal tidak masuk akal lainnya untuk mengurangi kecemasan
  • Menghabiskan banyak waktu untuk membersihkan atau mencuci
  • Mengatur atau menyusun berbagai hal dengan cara yang tidak biasa
  • Berdoa secara berlebihan atau melakukan ritual tertentu
  • Mengumpulkan sampah seperti koran bekas atau kotak makan kosong

Apa Sebenarnya Penyebab OCD?

Ada berbagai teori berbeda mengenai penyebab OCD diderita oleh seseorang. Tidak satupun dari teori itu yang sepenuhnya mewakili pengalaman dari setiap penderita OCD. Namun para peneliti telah menyimpulkan tiga teori yang kemungkinan menyebabkan OCD: keyakinan “disfungsional”, pengalaman pribadi, dan faktor biologis.

Keyakinan “Disfungsional”

Satu teori menunjukkan bahwa gangguan obsesif kompulsif disebabkan oleh keyakinan dan penafsiran yang “disfungsional”. Salah satu gejala OCD adalah keyakinan bahwa Anda lebih bertanggung jawab atas terhadap suatu keadaan, padahal sebenarnya tidak. Karena itulah reaksi Anda menjadi tidak sebanding dengan keadaan yang sesungguhnya.

Sebagai contoh: banyak orang memiliki pikiran mengganggu yang muncul tiba-tiba, seperti merasa takut mungkin akan mendorong seseorang ke depan kereta saat berada di peron yang ramai. Biasanya orang akan mengabaikannya dan tidak menganggap bahwa mereka akan benar-benar melakukannya.

Tapi jika Anda memiliki keyakinan “disfungsional”, Anda bisa jadi percaya benar-benar akan melakukan pikiran mengganggu tersebut. Hal ini membuat Anda merasa cemas atau takut. Akibatnya Anda jadi terdorong untuk mencoba mencegahnya terjadi. Ini bisa memulai siklus gejala OCD dari pikiran obsesif ke perilaku kompulsif.

Pengalaman Pribadi

Beberapa teori menunjukkan bahwa penyebab OCD adalah karena pengalaman pribadi seseorag. Perhatikanlah tiga contoh berikut:

  • Jika mengalami trauma masa kecil, Anda mungkin mengembangkan gejala obsesif kompulsif untuk mengurangi rasa cemas. Akan tetapi teori ini tidak sepenuhnya benar karena ada penderita obsesif kompulsif disorder yang tidak pernah mengalami trauma di masa lalu.
  • Jika orang tua memiliki gangguan kecemasan yang sama dan menunjukkan perilaku kompulsif yang serupa – akibatnya Anda meniru perilaku kompulsif tersebut dan menganggapnya sebagai cara untuk mengatasi kecemasan.
  • Rasa cemas atau stres atau mengalami peristiwa yang mengerikan, seperti mengalami kecelakaan mobil, dapat menjadi penyebab gejala OCD atau memperburuk gejala yang sudah ada.

Faktor Biologis

Beberapa teori tentang faktor biologis menunjukkan bahwa penyebab gejala OCD kemungkinan adalah kurangnya zat kimia otak bernama serotonin. Akan tetapi, para ahli masih belum mengetahui apa tepatnya peran dari zat kimia otak ini. Dan masih belum jelas juga apakah kurangnya serotonin merupakan penyebab OCD atau justru merupakan akibat dari OCD.

Para ahli juga sedang menyelidiki apa peran dari faktor genetik dan bagaimana berbagai bagian otak mungkin terlibat dalam menyebabkan gangguan obsesif kompulsif. Namun hingga saat ini mereka belum dapat menyimpulkan apapun.

Teori tentang faktor biologis tidak dapat menjelaskan kenapa gejala OCD muncul berbeda-beda pada setiap orang. Contohnya, mengapa seseorang mengembangkan pikiran obsesif tentang kontaminasi kuman penyakit, sedangkan orang lain mengembangkan pikiran obsesif tentang melukai diri sendiri.

Bagaimana Cara Mengatasi OCD?

Tidak soal seburuk apa gejala OCD yang Anda alami, ada banyak cara yang dapat diupayakan untuk mengendalikannya. Bila Anda merasakan pikiran dan perilaku yang mengarah pada obsesif kompulsif disorder, ada baiknya lakukan pemeriksaan menyeluruh dari dokter yang berpengalaman dalam menangani berbagai gangguan mental dan kecemasan.

Baca juga:  Apa itu Obsessive-Compulsive Disorder (OCD)?
ilustrasi cara mengatasi OCD
Minta Bantuan Dokter untuk Mengatasi OCD (Credit: Dima Sidelnikov / Shutterstock)

Banyak orang telah mengerti cara mengatasi OCD setelah lebih memahami kondisi mereka dan menjalani perawatan yang disarankan oleh ahli kesehatan mental. Anda mungkin juga dianjurkan untuk menyesuaikan diri dengan mengubah pola hidup.

Sebenarnya, pola hidup yang sehat dan aktif punya pengaruh besar untuk mengurangi kecemasan dan mengendalikan pikiran dan perilaku OCD. Berikut adalah beberapa tips yang dapat diupayakan.

Olahraga Teratur

Olahraga adalah cara mengatasi gejala OCD yang alami dan efektif karena dapat mengurangi kecemasan dan meredam pikiran yang obsesif. Untuk mendapat manfaat yang maksimal, dianjurkan berolahraga aerobik 30 menit atau lebih hampir setiap hari dalam seminggu. Jika tidak sanggup langsung 30 menit, Anda boleh membaginya menjadi 10 menit tiga kali dalam satu hari.

Cukup Tidur

Kurang tidur dapat memperburuk pikiran dan perasaan yang mencemaskan. Jika Anda cukup istiharat, akan jauh lebih mudah untuk menjaga keseimbangan emosional. Emosi yang seimbang adalah faktor kunci untuk cara mengatasi gangguan kecemasan seperti OCD.

Hindari Alkohol dan Rokok

Alkohol memang dapat mengurangi kecemasan untuk sementara waktu, tetapi setelahnya akan timbul rasa cemas lagi. Begitu juga, seseorang mungkin merasa lebih baik saat merokok, karena nikotin di dalamnya merupakan zat penenang yang kuat. Namun setelahnya akan muncul lagi rasa cemas. Bahkan merokok justru menimbulkan kecemasan dan gejala OCD yang lebih parah.

Ayo Hadapi Gangguan Obsesif Kompulsif!

Apabila Anda mengalami pikiran dan perilaku yang mengarah pada gangguan kompulsif obsesif, tidak ada salahnya untuk konsultasi ke dokter atau ahli kesehatan mental. Mengalami gangguan kecemasan bukan berarti Anda “tidak normal”.

Sama seperti seorang yang sakit fisik membutuhkan bantuan dokter, seseorang yang sakit secara emosional atau mental juga membutuhkan ahli untuk mengatasinya. Banyak penderita obsesif kompulsif disorder yang pada akhirnya berhasil pegang kendali atas pikiran dan perilaku mereka setelah menerima perawatan medis.

Demikianlah artikel ini mengenai gangguan kompulsif disorder atau OCD. Semoga penjelasan tentang penyebab, gejala, dan cara mengatasi OCD ini dapat membantu Anda. Nantikan juga informasi penting lain seputar kesehatan hanya di Deherba.com.


Referensi Gangguan Obsesif Kompulsif:

Mind. What Is OCD?. URL: https://www.mind.org.uk/information-support/types-of-mental-health-problems/obsessive-compulsive-disorder-ocd/. Accessed: 2019-04-01

HelpGuide. Obssessive-Compulsive Disorder. URL: https://www.helpguide.org/articles/anxiety/obssessive-compulsive-disorder-ocd.htm. Accessed: 2019-04-01