Fibroid Rahim: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

571
fibroid rahim
Shutterstock

Diedit:

Belakangan penyakit fibroid rahim kembali banyak dibicarakan oleh masyarakat. Semenjak salah seorang tokoh artis lokal ternama terbukti mengalami masalah ini, dan diduga pula bahwa fibroid yang dideritanya menjadi penyebab tokoh tersebut sulit untuk hamil.

Apa sebenarnya fibroid rahim itu? Apa pengaruh dari penyakit ini terhadap kesehatan, serta apa saja gejalanya? Juga, bagaimana penanganan yang tepat untuk mengatasi fibroid rahim?

Apa Sebenarnya Fibroid Rahim Itu?

Fibroid rahim adalah salah satu jenis tumor yang paling banyak terjadi pada wanita. Diperkirakan 3 dari 4 wanita setidaknya pernah mengalami masalah ini sekali dalam hidup mereka. Hanya saja kondisi tersebut berhasil teratasi dengan sendirinya, bahkan sebelum menimbulkan masalah.

Dari data yang dilansir medicalnewstoday.com, setidaknya 30% wanita di dunia dalam usia subur memiliki masalah pada fungsi kandungannya, dan itu berkaitan dengan pertumbuhan fibroid pada rahim mereka.

Persentase yang cukup besar, tapi tenang saja, karena masalah ini sebenarnya tidak cukup berbahaya. Bahkan realtif kecil kemungkinannya bagi fibroid rahim untuk kemudian berkembang menjadi kanker. Hanya fibroid yang berukuran besar saja yang dapat berkembang menjadi sejumlah masalah pada area perut, dan itu jarang terjadi.

Menurut sumber medicinenet.com fibroid rahim, yang juga lazim disebut dengan miom rahim, adalah pertumbuhan abnormal dari sel dinding rahim yang memicu terbentuknya pembengkakan atau massa benjolan.

Massa benjolan pada rahim ini terbentuk dari sel yang sama dengan sel pembentuk dinding rahim atau myiometrium. Biasanya sedikit terasa kenyal dan padat dengan bentuk agak bulat.

Massa bisa terbentuk pada sisi luar otot dan melekat pada membran otot pembentuk rahim, yang disebut dengan subserosal fibroid. Fibroid ini akan terbentuk di luar kantung dan melekat pada sisi luar dari dinding rahim. Ketika benjolan membesar, tekanan yang ditimbulkan justru lebih terasa pada area luar rahim, termasuk area pencernaan serta saluran kemih.

Massa juga dapat terbentuk pada sisi tengah dari jaringan lapisan dinding rahim, yang disebut intramural fibroid. Fibroid ini kadang tidak terdeteksi dengan jelas jika ukurannya kecil karena tersembunyi dalam lapisan dinding rahim.

Fibroid lain kadang muncul pada area serviks, yang dikenal sebagai serviks fibroid. Terakhir, fibroid juga bisa terbentuk pada dinding lapisan dalam kantung rahim. Lokasinya tepat di dalam lubang rahim dan menonjol jelas. Jenis fibroid yang juga disebut submucosal fibroid ini dikenal bisa membesar dan menyebabkan lubang rahim menyempit.

Apa Penyebab Fibroid Rahim?

Belum ada kejelasan mengenai apa sebenarnya penyebab fibroid rahim pada seorang wanita. Para pakar kesehatan hanya sepakat bahwa wanita di usia subur cenderung lebih berisiko mengidap fibroid rahim dari pada wanita di usia lainnya.

Sejumlah pakar masih memperdebatkan adanya ketidakannormalan anomali genetik atau dampak dari sirkulasi darah yang tidak normal sebagai penyebab terbentuknya fibroid. Adanya riwayat keloid juga diduga menjadi pemicu pembentukan fibroid.

Beberapa pakar lain juga menduga bahwa ini ada kaitannya dengan pola makan, kadar protein tertentu dari makanan yang memicu proliferasi atau pertumbuhan yang berlebihan. Ada juga yang menyatakan bahwa orang dari ras kulit berwarna (bukan kulit putih) memiliki kecenderungan lebih mudah mengalami miom atau fibroid ini. Selain itu, konsumsi alkohol juga ditengarai sebagai pemicu miom.

Faktor pengaruh estrogen terhadap pembentukan fibroid di rahim juga perlu dipertimbangkan. Itu sebabnya mereka yang mengalami haid sebelum usia 10 tahun memiliki risiko lebih besar mengalami fibroid rahim.

Beberapa wanita hamil didapati mengalami pembesaran fibroid pada trimester pertama kehamilan mereka. Dan secara bertahap fibroid mengecil seiring dengan perkembangan janin, hingga akhirnya luruh bersamaan dengan proses persalinan.

Risiko tertinggi wanita untuk mengidap fibroid rahim adalah pada usia subur. Sekitar 80% kasus terjadi pada wanita di antara usia 20 – 50 tahun, dimana kadar estrogen dalam  tubuh mereka relatif tinggi. Kadang fibroid ini terus ada di dalam rahim mereka selama tubuhnya masih dalam masa subur.

Mereka yang mengalami fibroid rahim menahun juga sangat mungkin mengecil ukuran fibroidnya, bahkan hingga menghilang, bersamaan dengan datangnya masa menopause akibat turunnya kadar estrogen dalam tubuh mereka.

Seperti Apa Gejala Fibroid Rahim?

Pertumbuhan fibroid pada area rahim ini menimbulkan sejumlah gejala khas yang menyebabkan penderitanya akan merasakan sejumlah tanda-tanda. Beberapa gejala firboid rahim tersebut antara lain:

  • Menstruasi dengan keluarnya darah yang berlebihan.
  • Nyeri haid yang berat
  • Nyeri di area panggul, pinggang, hingga kaki bagian atas saat haid
  • Sering sembelit (konstipasi)
  • Perut membuncit, kadang bisa terlihat tidak simetris
  • Kadang muncul linu atau rasa tertekan pada perut saat sedang tidak haid
  • Sering pipis dan muncul rasa ingin pipis secara mendadak
  • Muncul rasa nyeri saat berhubungan intim

Selain sejumlah gejala firboid rahim di atas, penderita juga biasanya akan mengalami gangguan pada kesuburan mereka, termasuk sulit hamil, mudah keguguran, perlekatan janin yang terlalu rendah, dan lain sebagainya.

Apa Pengaruh Fibroid Rahim bagi Kesehatan?

Pada dasarnya, fibroid rahim tidak berbahaya dan bahkan tidak menyebabkan kerusakan pada sel-sel sebagaimana pada kanker. Fibroid rahim juga tidak membahayakan kehidupan. Kemunculannya lebih karena sebagai dampak tingginya kadar estrogen dalam tubuh sehingga memicu sel-sel rahim untuk tumbuh secara agresif.

Hanya saja, pembesaran fibroid pada rahim akan mendesak rahim. Ini menghalangi terjadinya proses pembuahan, juga menghalangi sel telur untuk melekat pada dinding rahim.

Pembesaran itu juga bisa membuat kedua sisi dinding rahim bertemu dan akan memicu terjadinya perlekatan dinding rahim. Bila dinding rahim sudah melekat, tentu dapat memengaruhi kesuburan seorang wanita. Pembesaran juga dapat memicu perdarahan pada masa haid atau hemmoroid.

Tekanan dari fibroid juga bisa ke arah luar rahim, termasuk ke area pencernaan dan area saluran pipis. Ini menimbulkan sumbatan dan tekanan yang mengganggu fungsi organ di sekitarnya.

Bagaimana Cara Mengatasi Fibroid Rahim?

Ada kaitan erat antara estrogen dan sejumlah ketidakwajaran dalam rahim yang memicu terbentuknya fibroid. Itu sebabnya cara mengatasi fibroid rahim dapat difokuskan pada upaya untuk menormalkan kembali kondisi di dalam rahim. Beberapa cara mengatasi fibroid rahim antara lain:

  • Kontrasepsi (Pil KB)

    Karena ada pengaruh estrogen yang kuat dalam pertumbuhan fibroid, maka penderita dapat melakukan terapi kontrasepsi dengan meminum pil KB untuk mengendalikan kadar estrogen dalam tubuh. Biasanya dipilih jenis pil KB yang didominasi oleh kadar progestin tinggi untuk mengatur ulang fungsi ovulasi serta mengendalikan penebalan dinding rahim menjelang masa ovulasi.

  • Levonorgestrel Intrauterine System (LNG-IUS)

    Ini adalah semacam alat dari plastik yang dimasukkan ke dalam rahim untuk melepaskan hormon levonorgestrel ke rahim. Hormon ini akan bekerja meniru cara progesteron menetralkan kadar estrogen. Hormon ini juga membantu mengendalikan fungsi ovulasi serta menormalkan kembali pembentukan dinding endometrium.

  • Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH)

    Ini adalah terapi pengobatan yang bekerja sebagai anti estrogen sehingga dapat secara efektif menurunkan kadar estrogen dalam tubuh. Cara ini efektif untuk mengecilkan ukuran fibroid, juga untuk mengatasi gejala-gejala fibroid rahim yang mengganggu penderitanya.

  • Asam Traneksamat

    Ini adalah terapi pengobatan yang menurunkan intensitas sirkulasi darah menuju rahim serta menurunkan intensitas pendarahan haid. Terapi semacam ini biasanya diberikan pada pasien yang masih ingin hamil. Tapi waspadailah baik efek samping koagulan atau pembekuan darah yang lazim terjadi akibat terapi ini.

  • Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drug (NSAID)

    Terapi ini juga kerap diberikan sebagai bantuan untuk meredakan keluhan nyeri perut pada masa-masa menstruasi. Pada dasarnya terapi ini hanya membantu mengatasi nyeri tetapi tidak mengatasi masalah fibroid itu sendiri.

  • Terapi Progestin

    Terapi progestin adalah progesteron buatan yang akan membantu menekan efek dominasi estrogen di dalam rahim. Terapi ini bekerja efektif menormalkan ketidakseimbangan kadar hormon, juga membantu menekan pertumbuhan fibroid rahim. Terapi bisa diberikan secara oral maupun dalam bentuk suntikan.

  • Ulipristal Acetate

    Ini adalah satu metode baru untuk mengatasi fibroid rahim. Menurut Journal of Pharmacology and Pharmacotherapeutic tahun 2012, ulipristal acetate ini bekerja sebagai modulator reseptor progesteron yang akan membantu proses reaksi tubuh terhadap progesteron. Metode ini membantu meningkatkan fungsi progesteron dalam tubuh sehingga dapat mencegah kehamilan dan menekan pembentukan fibroid.

Selain dengan terapi pengobatan, dokter mungkin juga akan menyarankan cara mengatasi fibroid rahim melalui jalan operasi bedah. Tindakan ini dilakukan bila terapi obat dirasa tak cukup ampuh mengatasi fibroid rahim.

Tetapi biasanya terapi obat juga tetap diberikan seiring tindakan operasi dilakukan. Beberapa tindakan operasi standar untuk penanganan fibroid rahim antara lain:

  • Histeroskopi

    Bedah kecil dengan memasukkan alat serupa selang melalui vagina untuk mencapai rahim. Dengan sistem remote, fibroid yang berada dalam rahim akan diangkat melalui prosedur tanpa sayatan dan luka terbuka.

  • Cryotherapy

    Tindakan ini agak mirip dengan histeroskopi, tetapi di sini, titik-titik fibroid akan disemprotkan  dengan gas bersuhu sangat rendah hingga mencapai suhu -160 derajat C. Jaringan fibroid yang beku akan lebih mudah diangkat dengan mudah tanpa menyisakan luka pada area rahim.

  • Miomektomi

    Tindakan pembedahan ini secara langsung mengangkat jaringan–jaringan fibroid yang muncul di rahim. Operasi ini tetap memungkinkan pasien untuk bisa hamil kembali pasca operasi.

  • Histerektomi

    Ini adalah tindakan pengangkatan seluruh atau sebagian rahim. Meski prosedur ini tak selalu disarankan, karena pada umumnya fibroid tidak mematikan dan berbahaya. Tetapi jika perkembangan fibroid sudah berlebihan dan sangat besar, dikhawatirkan bisa mengakibatkan perdarahan dan tekanan yang cukup menyakitkan. Histerektomi akan membuat pasien tidak akan bisa hamil lagi.

  • Embolisasi Arteri Rahim

    Tindakan ini dilakukan dengan menembakkan radiasi ke arah pembuluh arteri menuju rahim. Ini akan membentuk sumbatan yang menghalangi aliran darah menuju fibroid. Tindakan ini memiliki risiko sehingga perlu dilakukan oleh ahli radiologi khusus.

  • Ablasi Rahim

    Dilakukan dengan cara mengelupas dinding rahim menggunakan sinar laser atau radiasi tingkat rendah. Tetapi efeknya hanya bekerja pada fibroid yang ukurannya kecil dan yang muncul pada dinding rahim bagian dalam.

Cara mengatasi fibroid rahim biasanya tidak cukup hanya dengan satu prosedur. Bahkan mesipun fibroid telah diangkat, tidak menutup kemungkinan fibroid akan muncul kembali. Diperlukan terapi pengobatan untuk membantu mengatasi pertumbuhannya serta mencegahnya untuk tumbuh kembali.

Sebagai kesimpulan dari artikel ini, kita sudah mengerti bahwa fibroid rahim, yang juga disebut miom rahim, pada umumnya bukanlah penyakit yang berbahaya. Banyak wanita di usia subur yang memiliki masalah ini. Dan sering kali ukuran fibroid tidak cukup besar sehingga menimbulkan masalah sulit hamil. Bahkan banyak kasus fibroid dapat mengecil dan menghilang dengan sendirinya, tanpa perlu penanganan khusus.

Advertisement
Alinesia