Bipolar Disorder: Siapa yang Berisiko Mengalaminya?

503

Diedit:

Akhir-akhir ini gangguan mental jadi topik pembicaraan yang semakin menarik dibahas. Ditambah dengan adanya figur-figur publik yang diketahui ternyata mengalami gangguan mental, bahkan ada yang sampai mengakhiri nyawanya karena dipicu oleh bipolar disorder yang dimilikinya. Sungguh tragis bukan?

Bipolar disorder, disebut juga gangguan manik-depresif, merupakan suatu penyakit mental yang menyebabkan seseorang mengalami perubahan mood ekstrim/parah dan berulang kali dari sangat bersemangat (mania) ke depresi. Orang yang didiagnosis bipolar disorder biasanya mengalami lebih banyak masa-masa depresi dibandingkan mania.

Apa Penyebab Bipolar Disorder?

Para ilmuwan menduga bahwa salah satu penyebab gangguan bipolar adalah faktor genetik yang artinya bisa diwariskan dalam keluarga. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kombinasi beragam faktor dapat menciptakan fungsi abnormal pada sirkuit otak yang akhirnya menghasilkan gejala-gejala depresi dan mania. Contoh faktor-faktor yang berasal dari luar mencakup stres, penyalahgunaan obat-obatan atau alkohol, dan kurang tidur.

Siapa Saja yang Rentan Mengalami Bipolar Disorder?

Bipolar disorder dapat memengaruhi siapapun, tak terkecuali pria dan wanita dari segala suku bangsa maupun kelas sosial-ekonomi. Meskipun pria dan wanita tampaknya sama-sama memiliki risiko yang sama, namun perubahan mood yang sangat cepat lebih sering dialami oleh wanita.

Wanita juga cenderung mengalami masa gejala-gejala depresi dan campuran depresif-manik yang lebih lama. Seorang pria yang menderita bipolar depresi biasanya pertama kali mengalami masa-masa mania, berbeda dengan wanita yang cenderung pertama kali mengalami masa depresi.

Bipolar disorder bisa terjadi di usia berapapun, tetapi kemunculan gejala-gejala umumnya terjadi sekitar usia 25 tahun.

Apakah Bipolar Disorder Bisa Diturunkan?

Sejumlah penelitian menemukan bahwa penderita bipolar seringkali memiliki paling tidak satu anggota keluarga dekat yang juga menderita bipolar. Anak-anak dengan orangtua penderita bipolar memiliki peluang 10%-50% mengembangkan bipolar juga. Jika seorang anak kembar non-identik memiliki bipolar, maka kembarannya berpeluang 10%-25% memilikinya juga. Sedangkan pada kasus anak kembar, risikonya meningkat jadi 40%-70%.

Baca juga:  Pengobatan Gangguan Bipolar

Para ilmuwan mendapati bahwa bipolar disorder tidak disebabkan oleh satu gen tapi oleh beberapa gen, yang apabila digabungkan dengan faktor-faktor eksternal seperti stres, kebiasaan gaya hidup, dan gangguan tidur, dapat mengakibatkan bipolar disorder. Mereka sedang berupaya mengidentifikasi gen-gen ini dengan harapan bahwa ini akan membantu menemukan metode diagnosis dan pengobatan yang lebih baik.

Bisakah Gaya Hidup Meningkatkan Risko Bipolar Disorder?

Kurang tidur meningkatkan risiko mengalami gejala-gejala mania. Penggunaan obat antidepresan juga memicu perasaan sangat bersemangat. Minum alkohol berlebihan atau penggunaan obat-obat juga bisa memicu gejala-gejala bipolar. Penelitian memperlihatkan bahwa sekitar 50% penderita bipolar disorder kecanduan obat-obatan atau alkohol. Mereka sering memanfaatkan alkohol dan obat-obatan dalam upaya untuk mengatasi suasana hati yang amat sedih atau karena ceroboh akibat terlalu bersemangat.