Benarkah Pemanis Buatan Aspartam Tidak Aman Dikonsumsi?

526

Diedit:

Jika bicara soal diabetes, sudah hampir pasti juga akan bicara soal diet gula. Di antara konsep diet gula, yang cukup terkenal adalah menggunakan pemanis artifisial atau pemanis buatan. Dan salah satu jenis pemanis buatan yang populer di seluruh dunia yaitu aspartam. Akan tetapi muncul pandangan bahwa aspartam itu berbahaya. Benarkah?

Sebenarnya, aspartam menjadi begitu populer bukan karena penggunaannya sebagai bagian dari diet gula. Melainkan karena penggunaannya dalam sejumlah minuman dan makanan kemasan pabrikan. Dengan alasan ekonomis atau karena ingin diklaim sebagai produk diet, gula yang seharusnya ditambahkan pada makanan atau minuman diganti dengan aspartam.

Rata-rata produk berlabel bebas gula sebenarnya besar kemungkinan ditambahkan aspartam. Namun di Indonesia masih banyak produk bebas gula dan minuman kemasan yang memakai pemanis buatan non aspartam, misalnya sakarin.

Apakah Aspartam Aman Dikonsumsi?

Aspartam sendiri adalah sebuah senyawa dengan rasa manis yang diperoleh dari perpaduan senyawa asam aspartik dan fenilalanin. Menurut Healthline, kedua senyawa ini dalam skala kecil sebenarnya dibutuhkan tubuh, bahkan asam aspartik merupakan salah satu senyawa asam amino yang dapat dihasilkan oleh tubuh. Sedangkan fenilalanin termasuk jenis asam amino esensial, yakni tidak dapat diciptakan oleh tubuh.

Dalam proses cernanya, kedua senyawa ini akan menghasilkan produk metanol—sejenis alkohol yang dalam skala kecil sebenarnya cenderung aman. Tetapi bila dalam jumlah berlebihan akan bekerja sebagai racun yang sangat mengoksidasi sel.

Jangan khawatir, meski bercap produk turunan alkohol, bukan lantas produk ini memberi efek mabuk. Malah hampir semua buah yang terasa sangat manis biasanya juga akan menghasilkan metanol dalam proses cernanya.

Aspartam memang kerap diserang dan ditunjuk sebagai salah satu penyebab berbagai masalah kesehatan. Mulai dari masalah liver, pembuluh darah, otak, sampai masalah kanker dan sisem kekebalan tubuh.

Padahal aspartam adalah produk pemanis buatan yang sepenuhnya legal. Mulai dari FDA, WHO, sampai BPOM Indonesia telah mengesahkan aspartam sebagai pemanis buatan yang aman serta layak konsumsi. Setidaknya fakta ini menjadi bukti bahwa aspartam tidak seberbahaya yang dikhawatirkan orang-orang. Atau mungkin juga pembuktian mengenai bahaya aspartam masih memerlukan kajian lebih mendalam.

Malah ulasan PLOS ONE bertajuk ‘Low-dose aspartame consumption differentially affects gut microbiota-host metabolic interactions in the diet-induced obese rat’ pada tahun 2014 mengatakan bahwa penggunaan aspartam sebagai pengganti gula murni terbukti dapat membantu mengurangi kalori tubuh. Ini bermanfaat baik bagi pasien diabetes dan obesitas.

Di tahun 2013, European Food Safety Authority menerbitkan jurnal berjudul ‘Scientific Opinion on the re-evaluation of aspartame (E 951) as a food additive.’ Dikatakan bahwa berdasarkan resume dari 600 data seputar aspartam dan kasus yang dicurigai berkaitan dengan aspartam, tidak ada bukti yang cukup kuat untuk menuding aspartam sebagai senyawa berbahaya.

Ini berbeda dengan jenis pemanis buatan lain seperti sakarin dan siklamat yang sudah terbukti klinis memang memiliki efek samping berbahaya, bahkan salah satunya adalah pemicu kanker. Hal inilah yang turut mendorong lembaga FDA untuk mengeluarkan peringatan kepada kedua produk ini.

Adakah Efek Samping dari Penggunaan Aspartam?

Meski dinyatakan legal oleh instansi-instansi kesehatan, tetapi bukan berarti aspartam benar-benar bebas efek samping. Sejumlah temuan memperlihatkan bahwa aspartam kemungkinan juga bisa berdampak negatif dalam tubuh. Terutama mengingat senyawa-senyawa yang terkandung di dalamnya sebenarnya juga tidak bebas risiko.

Menurut FDA, setidaknya tubuh hanya dapat mentoleransi asupan aspartam hingga 50 mg untuk setiap kilogram berat badan kita. Terdengar sangat kecil, tetapi sebetulnya sangat cukup mengingat rasa manis aspartam bisa 200 kali lebih kuat dari manisnya gula biasa. Jadi seujung sendok teh pemanis buatan ini saja sudah cukup memaniskan secangkir teh.

Coba bandingkan dengan minuman kemasan seperti soda sugar free, yang mungkin mengandung aspartam sekitar 185 mg per kalengnya. Artinya kalau berat badan Anda 68 kg, akan membutuhkan 18 kaleng soda untuk mencapai batas maksimal toleransi tubuh. Jadi sebenarnya toleransi tubuhnya cukup tinggi, ya?

Walaupun begitu, ternyata Anda juga bisa mengalami masalah akibat konsumsi aspartam bila setiap hari dikonsumsi dalam jumlah besar. Penumpukan senyawa asam aspartik dan fenilalanin akan berdampak buruk bagi kesehatan jangka panjang. Beberapa masalah tersebut antara lain:

  • Fenilketonuria
    Fenilketonuria adalah kondisi dimana kadar fenilalanin dalam tubuh meningkat sampai ambang batas. Selain karena aspartam, Anda bisa saja mengalami over dosis senyawa ini dengan mengonsumsi makanan lain seperti daging-dagingan berlebihan. Tapi yang jelas dalam kondisi over dosis fenilalanin, tubuh akan memandang senyawa ini sebagai toksin yang membahayakan fungsi hati.
  • Tardif Dyskinesia
    Penyakit ini berkaitan dengan skizofrenia. Perpaduan antara pengobatan medis dari gangguan skizofrenia dengan konsumsi senyawa fenilalanin dapat memicu terjadinya kerusakan yang lebih berat.
  • Hepatoksin
    Meski masih dalam tahap wacana dan hanya dibuktikan melalui riset-riset kecil, tetapi sejumlah pakar melihat bahwa aspartam bisa jadi berdampak negatif terhadap kesehatan hati. Pengaruh metanol yang dihasilkan dan mengendap dalam tubuh akibat kebanyakan mengonsumsi aspartam bisa menjadi toksin bagi fungsi hati.
  • Memperparah Depresi
    Mirip dengan dugaan adanya efek hepatoksin dalam aspartam, beberapa riset kecil juga menunjukkan adanya efek samping aspartam bagi kinerja hormonal pada otak. Dan ini mengarah pada gejala keluhan depresi. Kadang juga berpengaruh buruk pada mood, kemampuan berkonsentrasi, dan selera makan. Bahkan beberapa aktivis mengklaim adanya kaitan aspartam dengan alzheimer, ketidaksuburan, serta imunitas.

Jadi, apakah aspartam itu aman? Para pakar kesehatan menyatakan bahwa konsumsi pemanis buatan ini aman-aman saja, asalkan dibatasi di bawah ambang maksimal dari FDA, yakni di bawah 50 mg per kilogram berat badan.

Lembaga FDA telah mempertimbangkan banyaknya penelitian mengenai keamanan aspartam sehingga menyimpulkan bahwa tidak ada alasan untuk mengubah status aspartam dari aman menjadi berbahaya. Bila Anda ingin menggunakan aspartam sebagai bagian diet, maka silakan saja, tetapi pastikan untuk mengonsumsinya secara bijak.