Autisme Ringan: Bagaimana Cara Menghadapi Sindrom Asperger?

528
Google Image

Diedit:

Sindrom Asperger—tak banyak orang yang mengenal istilah tersebut, namun ini merupakan salah satu penyakit yang masuk dalam kategori autisme ringan. Sindrom Asperger pertama kali dijelaskan oleh seorang dokter bernama Hans Asperger pada tahun 1944. Sindrom ini tidak berkaitan dengan salahnya pola asuh atau kurangnya dukungan, sama seperti pada kasus autisme, beberapa penyandangnya seringkali cerdas. Lalu dimana letak permasalahannya?

Apa Ciri Penyandang Sindrom Asperger?

Seorang penyandang sindrom Asperger seringkali sulit untuk memulai percakapan, namun jika sudah membicarakan topik yang mereka sukai tampaknya percakapan bukanlah masalah bagi mereka. Biasanya mereka sulit memahami ekspresi wajah atau isyarat tubuh lawan bicaranya, sehingga mereka sulit memahami pikiran ataupun perasaan orang lain. Karena sindrom ini dapat memengaruhi sistem saraf, tak heran jika mereka sulit berkomunikasi dan berinteraksi.

Selain itu, mereka juga sering di pandang sebelah mata, misalnya: mereka bisa dianggap aneh dan sulit diatur bahkan terlihat memiliki kepribadian yang kasar, lantaran mereka sulit lepas dari rutinitas yang sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka dan biasanya meresahkan jika mereka mencoba rutin yang berbeda—mereka bisa merasa khawatir atau frustasi bahkan tertekan.

Penyandang sindrom asperger sebenarnya memiliki penampilan yang normal dan tidak berbeda dengan orang lain. Setiap orang yang menyandang sindrom asperger juga dapat hidup normal seperti kebanyakan orang. Karena karakteristik yang berbeda-beda penyandang sindrom Asperger tidak selalu menunjukkan gejala yang sama, namun sulit berinteraksi dan berkomunikasi selalu menyertai penderitanya.

Bantuan Bagi Penyandang Sindrom Asperger!

Jika seorang anak di rasa menyandang gangguan semacam ini, tak ada salahnya untuk melakukan terapi komunikasi yang mencakup pelatihan dalam memahami ekspresi wajah maupun gerak tubuh. Terapi semacam ini membantu mereka untuk dapat bersosialisasi lebih baik.

Terapi lainnya adalah terapi kepribadian, sehingga mereka bisa mengendalikan diri, mengatasi perasaan cemas, bahkan memiliki prilaku yang lebih menyenangkan. Namun, yang terutama penyandang sindrom Asperger perlu memiliki sikap terbuka.

Misalnya, Clara salah satu penyandang sindrom Asperger yang berhasil merubah caranya berinteraksi dengan orang lain. Ia mengatakan bahwa setiap orang perlu tahu bahwa ia menyandang sindrom Asperger, sehingga ia dapat lebih mudah berbicara dengan orang lain. Memang menunjukkan keterbukaan sewaktu berinteraksi tidak selalu mudah, namun masih ada orang yang dengan tulus berupaya memahami Anda.

Lalu, bagaimana Anda membantu mereka yang menyandang sindrom Asperger?

Ketahuilah, walau terkadang mereka tampaknya canggung sewaktu bicara—sebenarnya mereka membutuhkan dukungan dari para sahabat yang pengasih. Walaupun terkadang mereka tampaknya menjengkelkan, seringkali itu bukanlah maksud mereka yang sebenarnya.

Dibutuhkan banyak kesabaran dan berupayalah memahami mereka, sewaktu mengutarakan sesuatu ada baiknya untuk memberikan detailnya sehingga tidak samar-samar, penyandang sindrom Asperger seringkali mengartikan langsung apa yang Anda katakan.

Bila memang ada rutinitas yang perlu diubah, ada baiknya untuk menjelaskannya secara terperinci dan terkadang butuh contoh untuk melakukan sesuatu sesuai dengan yang Anda inginkan. Karena mereka seringkali tertekan dengan apa yang dilihat atau didengar ada baiknya untuk menganjurkan mereka agar tetap fokus pada hal yang menyenangkan dan menenangkan.

Advertisement
Alinesia