Apa Itu Penyakit Polymyalgia Rheumatica?

515
Empills

Diedit:

Kalau selama ini Anda mengira penyakit terkait sendi dan otot hanya seputar asam urat dan reumatik, maka Anda perlu membaca informasi satu ini. Rupanya penyakit arthritis sendiri bisa dalam begitu banyak jenis penyakit dan salah satunya adalah Polymyalgia Rheumatica.

Apa Itu Polymyalgia Rheumatica?

Polymyalgia rheumatica (PMR) menurut arthritis.org adalah keluhan inflamasi yang biasanya mulai muncul pada mereka di usia kisaran 60 – 70an tahun dengan ditandai keluhan nyeri dan efek kaku. Menurut sumber mayoclinic.org, keluhan linu dan nyeri ini biasa terjadi pada area bahu.

Hal ini lebih sering terjadi pada wanita daripada pria, dan lebih kerap menyerang orang dengan ras Kaukasian daripada ras lainnya. Mereka dengan darah campuran kaukasian atau dikenal dengan sebutan lokal “indo” juga bisa memiliki resiko tinggi.

Kondisi Polymyalgia rheumatica ini  adalah kondisi yang membatasi ruang gerak dan bisa memunculkan efek nyeri bahkan selama bertahun-tahun dengan ketergantungan pada pereda nyeri dan anti inflamasi. Sekitar 15 persen orang dengan PMR mengembangkan kondisi yang berpotensi berbahaya yang disebut Giant Cell Arthritis (juga dikenal sebagai arthritis temporal).

Apa Gejala Polymyalgia Rheumatica?

Gejala PMR terjadi akibat radang sendi dan jaringan di sekitarnya. Biasanya bentuk keluhan yang muncul terjadi simetris di kedua sisi bahu. Gejala dapat muncul dengan perlahan namun kadang bisa pula muncul  tiba-tiba.

Pasien biasa mengeluhkan rasa kaku yang berat dan  lebih buruk di pagi hari. Kadang rasa linu, kaku dan nyeri bisa pula muncul mendadak setelah Anda diam terlalu lama dalam satu posisi, atau tidak aktif dalam beberapa tempo.

Terkait dengan pasien yang kebanyakan adalah kalangan manula, keluhan sakit kerap ditindak lanjuti dengan mengurangi aktivitas fisik pada bagian tubuh yang sakit. Ini menyebabkan pasien akan kerap mengalami pelemahan otot pada area tubuh yang sakit.

PMR juga dapat terjadi dengan kondisi serius lain yang disebut arteritis sel raksasa (juga dikenal sebagai arteritis temporal), yang bisa berbahaya. Sakit kepala – terutama di sisi nyeri kepala – kulit kepala, perubahan penglihatan atau nyeri rahang saat makan bisa menjadi tanda kondisi ini.

Untuk lebih detilnya berikut adalah sejumlah tanda yang biasa muncul pada penderita Polymyalgia Rheumatica.

  • Nyeri menekan pada area pundak (seringkali merupakan gejala pertama)
  • Nyeri dalam pada leher, lengan atas, pantat, pinggul atau paha
  • Kekakuan di daerah yang terkena dampak, terutama di pagi hari atau setelah tidak aktif dalam waktu lama
  • Terbatasnya rentang gerak di daerah yang terkena dampak
  • Nyeri atau kekakuan di pergelangan tangan, siku atau lutut (kurang umum)

Pasien juga akan dapat mengeluhkan sejumlah tanda dan gejala yang lebih umum, termasuk:

  • Demam ringan
  • Kelelahan
  • Perasaan lesu dan rasa seperti masuk angin (malaise)
  • Kehilangan selera makan
  • Penurunan berat badan
  • Depresi ringan

Apa Penyebab Polymyalgia Rheumatica?

Penyebab penyakit Polymyalgia Rheumatica sebenarnya masih belum dapat dipastikan. Sejumlah pakar melihatnya seperti penyakit yang bekerja serupa dengan keluhan penyakit autoimun dimana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan ikat.

Karena jarang terjadi pada orang di bawah usia 50 tahun, penyebabnya bisa dikaitkan dengan proses penuaan. Aspek otot yang mulai mengalami penurunan proses regenerasi sel lebih rapuh dan mudah mengalami kerusakan yang sulit di atasi.

Dalam sejumlah dugaan pakar melihat adanya kemungkinan unsur genetik atau faktor turunan yang terlibat dalam pembentukan penyakit ini. Tetapi dalam pandangan lain, diperkirakan adanya pengaruh masuknya sejenis virus, yang dapat memicu terbentuknya inflamasi pada otot yang menjadi asal terbentuknya Polymyalgia Rheumatica. Hanya saja sampai sekarang belum ditemukan adanya virus spesifik yang bisa dipastikan menjadi penyebab penyakit Polymyalgia Rheumatica ini.

Menurut sumber mayoclinic.org, juga diduga adanya kaitan antara Polymyalgia Rheumatica dengan Giant Cell Arthritis. Ini berkaitan dengan fakta bahwa 20% kasus Polymyalgia Rheumatica juga mengidap Giant Cell Arthritis dan sejumlah dugaan akan pengidap Giant Cell Arthritis akan bertahap mulai mengembangkan kasus Polymyalgia Rheumatica.

Giant Cell Arthritis sendiri adalah bentuk inflamasi lapisan arteri, terutama arteri yang terletak pada area pelipis. Keluhan ini dapat menyebabkan sakit kepala, nyeri rahang, masalah penglihatan dan rasa nyeri kuat yang muncul pada sisi permukaan kepala. Dan bila penyakit ini diabaikan, bisa menyebabkan stroke atau kebutaan.

Dan menurut sumber mayoclinic.org , mereka dengan kondisi-kondisi tertentu seperti di bawah ini bisa meningkatkan resiko serangan penyakit Polymyalgia Rheumatica.

  • Mereka dengan usia di atas 60 tahun memiliki resiko lebih tinggi untuk mengidap masalah Polymyalgia Rheumatica. Mereka dengan usia di atas 70 tahun akan semakin memiliki resiko tinggi mengidap Polymyalgia Rheumatica.

  • Mereka dengan faktor genetik yang kuat untuk memiliki resiko  Polymyalgia Rheumatica. Mereka yang memiliki orang tua yang juga mengeluhkan Polymyalgia Rheumatica, bisa memiliki masalah yang sama di usia senja mereka.

  • Mereka dengan kelamin wanita, karena jenis kelamin juga memiliki peran dalam menentukan resiko seseorang mengalami masalah Polymyalgia Rheumatica. Dikatakan sebagian besar serangan Polymyalgia Rheumatica terjadi pada wanita, bahkan 2/3 kasus Polymyalgia Rheumatica terjadi pada wanita.

  • Mereka yang memiliki garis keturunan kaukasian juga memiliki resiko lebih tinggi untuk mengalami Polymyalgia Rheumatica. Termasuk pula mereka yang memiliki darah campuran Asia dan kaukasian. Belum ada kepastikan kenapa ras kaukasian memiliki kerentanan lebih tinggi.

Diagnosis untuk Polymyalgia Rheumatica

Polymyalgia Rheumatica termasuk penyakit yang sulit didiagnosis. Dokter akan memerlukan informasi seputar gejala dan riwayat kesehatan pasien sekaligus melakukan pemeriksaan fisik. Pasien mungkin perlu melakukan sejumlah tes darah untuk memeriksa kondisi peradangan.  Dokter perlu berhati-hati karena keluhan seperti lupus dan rheumatoid arthritis juga bisa memiliki gejala yang serupa.

Bagaimana Pengobatan Polymyalgia Rheumatica?

Pengobatan Polymyalgia Rheumatica berfokus pada terapi yang bertujuan untuk mengurangi rasa sakit, mengurangi pembengkakan serta mengurangi kekakuan, rasa tidak nyaman yang muncul.Kadang juga diperlukan terapi untuk menangani efek demam. Pengobatan untuk Polymyalgia Rheumatica  fokus pada pengobatan dengan terapi anti-inflamasi dan beberapa latihan fisik khusus.

Terapi oral

Terapi yang diberikan pada penderita Polymyalgia Rheumatica fokus untuk meredakan nyeri dan peradangan. Karenanya sejumlah terapi pereda nyeri biasa diberikan terutama untuk pasien pada tahap awal. Terapi dengan obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID), seperti ibuprofen dan naproxen biasa menjadi pilihan yang direkomendasikan.

Tetapi, ketika peradangan sudah berkembang, jelas terapi dengn NSAID tidak akan cukup. Anda butuh terapi yang efektif mengatasi inflamasi. Beberapa terapi kortikosteroid biasanya menjadi pilihan dalam kasus semacam ini.

Kortikosteroid adalah obat anti-inflamasi yang akan efektif membantu mengurangi peradangan dan sekaligus akan mengurangi kekakuan dan nyeri. Boleh dikatakan sejauh ini kortikosteroid adalah andalan dalam pengobatan Polymyalgia Rheumatica.

Terapi fisik

Untuk membantu mempercepat penyembuhan dan efektifitas manfaat pengobatan,pasien Polymyalgia Rheumatica justru disarankan untuk menjalankan terapi fisik yang bertujuan menjaga kelenturan, elastisitas, kekuatan dan aliran darah pada area peradangan pada otot. Terapi fisik diberikan dalam skala ringan, tetap memberi tekanan namun dengan cara moderat, sehingga tidak membebani otot berlebihan.

Karena Polymyalgia Rheumatica, pasien kerap mengalami keterbatasan ruang gerak. Beberapa posisi akan cukup menekan dan sakit. Hal ini kemudian justru membuat banyak pasien memutuskan mengurangi gerakan fisik. Keputusan ini sebenarnya tidak disarankan, karena ketika aktivitas fisik dikurangi,maka kekuatan otot juga akan turut menurun. Dan di saat inilah otot akan semakin rentan untuk mengalami kerusakan lebih lanjut.

Anda cukup menjalankan beberapa olahraga ringan yang aman untuk otot Anda yang sudah rentan. Beberapa bentuk olahraga itu antara lain berjalan kaki, bersepeda statis, berenang, taichi dan beberapa latihan kardio ringan. Sesuaikan beban dengan kemampuan otot Anda untuk menghindari efek cedera.

Bagaimana Mencegah Polymyalgia Rheumatica?

Menurut sumber medicinenet.com, sebenarnya tidak ada cara efektif yang bisa diharapkan mencegah terjadinya serangan Polymyalgia Rheumatica. Kasus ini bisa muncul begitu saja, terutama pada mereka dengan kecenderungan genetik mengalami masalah tersebut.

Namun menurut sumber livestrong.com, karena penyakit ini berkaitan dengan kasus inflamasi, maka sejumlah makanan yang memicu terjadinya inflamasi akan menjadi pemicu yang memperburuk dan memungkinkan kondisi Polymyalgia Rheumatica muncul.

Karenanya disarankan pasien menghindari makanan daging olahan, makanan awetan, makanan sumber lemak jenuh dan minyak sayur yang mengandung banyak lemak trans. Ubah sumber protein Anda pada jenis produk ikan-ikanan yang kaya lemak omega 3 yang baik untuk mengatasi dan menekan unsur inflamasi.

Kurangi kadar glukosa darah, karena semakin tinggi kadar glukosa pada darah, semakin rentan Anda terhadap inflamasi. Karenanya kurangi asupan makanan kaya karbohidrat sederhana dan gula, alihkan dengan makanan karbohidrat kaya serat dan makanan pemanis pengganti seperti stevia.

Advertisement
Alinesia