Wanita Berpendidikan Lebih Berisiko Terserang Kanker Otak, Benarkah?

660

Sebuah riset yang dikembangkan di Swedia dan telah dipublikasikan pada Journal of Epidemiology & Community Health pada tahun 2016 ini menyatakan adanya kaitan antara wanita dengan pendidikan tinggi dengan risiko mengalami kanker otak. Pernyataan ini cukup membuat kisruh karena riset ini secara tidak langsung mendukung pandangan ketidaksetujuan wanita untuk meraih pendidikan tinggi, namun apakah benar demikian?

Dalam riset ini dikatakan wanita yang mencapai pendidikan kesarjanaan sekurangnya selama 3 tahun memiliki peningkatan risiko untuk mengalami serangan kanker otak jenis glioma. Peningkatan risiko ini sebesar 23% jika dibandingkan dengan wanita yang sama sekali tidak menempuh pendidikan universitas.

Sangat menarik untuk dipahami karena terbukti dalam riset yang sama bahwa pria hanya mengalami kenaikan risiko hingga 19% dibandingkan dengan pria yang tidak menempuh pendidikan kesarjanaan sama sekali.

Mereka yang Punya Jabatan Tinggi Juga Berisiko Kanker Otak

Riset ini mengungkap risiko kanker otak pada mereka dengan penghasilan lebih tinggi yang beriringan dengan profesionalitas kerja yang tinggi dan dalam tuntutan tanggung jawab tinggi seperti pada strata manajerial juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami kanker otak.

Kaum pria dengan latar belakang ini, bisa mengalami peningkatan sekitar 20% untuk kasus glioma dan 50% untuk kasus akustik neuroma, sejenis tumor otak non-kanker yang menyerang fungsi pendengaran dan kendali otak pada fungsi pendengaran dan keseimbangan.

Tidak berhenti di sana, riset ini juga menarik kesimpulan mengenai adanya peningkatan risiko jenis tumor otak non-kanker berjenis meningioma sebanyak 16% pada wanita dengan latar belakang pendidikan tinggi.

Akan tetapi riset ini tidak menguak bagaimana kondisi-kondisi di atas bisa terjadi. Dan apa yang melatari wanita memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan pria. Juga kaitan antara profesionalitas dan tanggung jawab berat dengan risiko kanker otak.

Sejumlah dugaan bermunculan berkaitan dengan adanya pengaruh beban dan kinerja otak dengan risiko kanker otak. Diduga beban dan tekanan yang berlebihan pada otak cenderung membuat otak lebih rentan kelainan fungsi, kerusakan sel, dan regenerasi abnormal.

Sebagaimana diketahui pemikiran wanita yang cenderung rumit, lebih detil dengan kemampuan multitasking. Mereka bisa menjalankan beberapa fungsi sekaligus; misalnya sebagai wanita karier sekaligus ibu rumah tangga berkat kemampuan otaknya yang lebih detil. Namun justru kemampuan ini kadang memberi beban berlebihan pada otak dan memudahkan terjadinya kerusakan sel dan memicu terjadinya pertumbuhan sel abnormal pada otak.

Demikian juga dengan mereka yang bekerja dengan tuntutan profesionalitas dan tanggung jawab yang tinggi, disertai tekanan kerja dan non-kerja yang datang memberi tekanan pada otak, dorongan untuk bekerja ekstra menjalankan pekerjaan sekaligus menghadapi tekanan dan mengelola emosi. Ini memberi efek tekanan yang memudahkan terjadinya kerusakan sel dan regenerasi abnormal.

Namun dugaan-dugaan di atas hanyalah prognosis dari beberapa pakar psikologi dan pakar neurologi dunia menyikapi riset baru ini. Beberapa pakar menyarankan melanjutkan riset tersebut demi menjawab pertanyaan besar: Bagaimana risiko bisa meningkat dan kondisi apa yang sebenarnya menjadi pemicu?

Aktivitas Otak yang Padat Diduga Memicu Perkembangan Kanker Otak

Riset di Swedia ini dilakukan dengan melibatkan sekitar 4,3 juta warga Swedia dalam kurun waktu 17 tahun. Penelusuran riset ini sejak tahun 1993. Setiap partisipan dicatat dengan keterangannya seputar pendidikan, pekerjaan, kondisi ekonomi dan latar belakang, termasuk faktor genetik.

Dari riset tersebut, selama 17 tahun ditemukan 5.735 orang pria dan 7.101 wanita yang mendapatkan serangan kanker otak. Demikian berdasarkan keterangan oleh Department of Clinical Neuroscience, Rumah Sakit Karolinska, Solna, Swedia pada pertengahan tahun 2015.

Riset ini bagai sebuah pernyataan yang menjawab sejumlah pendapat kalangan neurologi dunia, bahwa ada peningkatan risiko kalangan pintar untuk mengalami kanker otak. Demikian setidaknya pendapat salah seorang pakar neurologi Dr. Raj K. Narayan, kepala bagian neurologi Rumah Sakit North Shore, Manhasset, New York.

Dugaan mengenai tingginya aktivitas otak seperti “buah simalakama”—di satu sisi berguna untuk mencegah terjadinya demensia dan alzheimer, namun di sisi lain malah menyebabkan sejumlah stimulan abnormal yang mengacu pada regenerasi sel yang abnormal.

Namun, masih menurut Dr. Raj, dugaan lain mengenai peningkatan risiko kanker otak pada kalangan berpendidikan bisa jadi tidak sepenuhnya bisa disalahkan pada faktor beban kerja otak. Masih ada kemungkinan kenaikan risiko ini turut dipicu oleh faktor gaya hidup.

Seiring dengan semakin tinggi pendidikan dan taraf ekonomi seseorang, termasuk semakin tingginya tekanan kerja mereka semakin cenderung memiliki gaya hidup tidak sehat, termasuk di dalamnya alkoholik, suka makanan cepat saji, lemak jenuh, dan lain sebagainya. Diduga ini juga memberi peran besar hingga seseorang mengalami peningkatan risiko kanker otak.

Meskipun belum ada kesimpulan pasti apa faktor penyebab peningkatan risiko kanker otak ini, Anda tidak bisa santai-santai saja, khususnya jika Anda seorang wanita karier. Sebaiknya Anda segera terdorong untuk mengupayakan pola hidup sehat.

Misalnya menghindari stress, mengoptimalkan istirahat, dan mengasup makanan yang memiliki kandungan antioksidan yang tinggi akan memberi banyak manfaat untuk mengurangi risiko Anda menjadi korban dari serangan kanker otak.