Pertimbangkan 6 Hal Ini Sebelum Anda Mengonsumsi Anti Depresan!

549

Diedit:

Depresi adalah masalah kesehatan yang serius, meski banyak dari kita mengabaikannya. Dari masalah ini, Anda bisa mengalami sejumlah masalah kesehatan serius lainnya yang bahkan bisa cukup mematikan jika diabaikan. Karenanya Anda perlu segera mengambil langkah medis untuk mengatasi depresi tepat saat menyadari keberadaannya.

Hanya saja, mengatasi depresi tidaklah sesederhana mengatasi serangan batuk atau bahkan mungkin tidak segamblang mengatasi diabetes. Anda bisa dengan mudah mengatasi keluhan batuk Anda dengan cukup istirahat dan mengonsumsi obat selama beberapa hari. Atau mengatasi diabetes dengan rutin mengonsumsi obat-obatan yang sesuai untuk menurunkan kadar glukosa disertai mengatur pola makan harian.

Masalah depresi memiliki aspek penentu yang demikian kompleks dan rumit. Depresi bisa berkaitan dengan sejumlah masalah sehingga tak bisa dengan serta-merta segera teratasi hanya dengan mengonsumsi obat anti depresan.

Demikian kompleks sampai kadang penderitanya sendiri tidak menyadari kalau mereka sedang depresi. Ini karena depresi sifatnya relatif abstrak, dengan melibatkan emosi, unsur psikologis, dan beragam lain. Depresi juga melibatkan sejumlah fungsi hormon, sirkulasi darah, dan beberapa aspek kesehatan lain yang membuat penanganannya tak semudah dengan hanya mengonsumsi anti depresan.

Menurut Prevention.com, sebaiknya pastikan Anda sudah mempertimbangkan 6 hal berikut sebelum memutuskan untuk mengonsumsi obat anti depresan demi mengatasi depresi yang sedang dialami.

1. Bisa jadi depresi berasal dari masalah kesehatan Anda

Beberapa masalah kesehatan bisa berujung pada keluhan depresi. Ada sejumlah alasan yang bisa membuat sebuah kondisi kesehatan membuat seseorang mengalami depresi. Ada banyak alasan seseorang mengalami depresi secara medis seperti peran perubahan hormonal, keluhan sirkulasi darah menuju otak yang tidak berjalan lancar, kondisi tiroid, kekurangan sejumlah nutrisi atau bahkan akibat alergi.

Anda bisa melakukan pengecekan kadar glukosa, kesehatan jantung, keluhan kolesterol, kesehatan hati, masalah alergi dimana histamin yang menjadi pemicu alergi juga bisa memicu depresi, PCOS, kehamilan dan masih banyak lagi. Beberapa penyakit di atas cenderung bisa memicu depresi.

Pada kondisi depresi yang dipicu oleh penyakit, cara terbaik mengatasi depresi jelaslah dengan mengatasi penyakit yang bersangkutan. Seiring membaiknya kondisi kesehatan Anda, biasanya mood Anda juga akan turut membaik.

2. Bisa jadi depresi disebabkan oleh obat yang sedang Anda konsumsi

Beberapa jenis obat yang diresepkan untuk pengobatan sejumlah penyakit juga bisa memicu terjadinya depresi. Anda perlu waspada jika selama masa pengobatan tiba-tiba mood Anda memburuk atau emosi menjadi tidak stabil. Sejumlah obat bekerja pada fungsi neurotransmitter dan fungsi saraf pusat sehingga mengganggu produksi hormon, termasuk hormon yang memengaruhi mood Anda.

Baca juga:  Alprazolam: Manfaat, Dosis Aman, dan Efek Sampingnya bagi Kesehatan

3. Apakah Anda sedang mengalami masalah

Menurut pakar Psikologi dan penulis buku You Are WHY You Eat, Ramani Durvasula Ph.D, depresi sangat wajar terjadi pada mereka yang memang sedang mengalami masalah seperti pada masa-masa pasca kehilangan sosok penting, pasca pensiun, setelah perceraian, dan sebagainya.

Kondisi kehilangan tersebut memang sangat rentan menyebabkan seseorang mengalami depresi dan mengonsumsi anti depresan terlalu awal pada keluhan depresi semacam ini bukan langkah yang bijak.

Menurut Michael J. Solomon, pakar psikologi dari North Shore Hospital Yew York, depresi yang disebabkan aspek psikologis, seperti kehilangan, masih dianggap normal bila berlangsung setidaknya dibawah waktu 6 bulan. Dan periode pendek ini cukup diatasi dengan sejumlah terapi psikologis dan bukan dengan anti depresan.

Masih menurut Michael, terapi psikologis juga tak melulu dengan cara konsultasi dengan psikologis, sejumlah pakar menemukan adanya bantuan pendekatan spiritual yang juga efektif membantu mengatasi depresi jenis ini.

4. Perhatikan kebiasaan harian Anda

Sejumlah kebiasaan dan gaya hidup ternyata memiliki relevansi dengan depresi. Dan mereka yang memiliki masalah depresi berat, biasanya juga memiliki gaya hidup yang cenderung tidak sehat.

Menurut Will Courtenay, psikologis dari California mengatakan bahwa mereka yang rutin berolahraga cenderung memiliki daya tahan terhadap depresi yang lebih baik. Ada pengaruh antara hormon endorfin, sirkulasi darah yang membaik, sejumlah kinerja sistem imun, dan beberapa kinerja pada neurotransmitter yang mendapatkan lebih banyak asupan oksigen. Dan semuanya bekerja memberi manfaat mengatasi depresi.

Selain masalah olahraga, istirahat yang cukup juga penting untuk mencegah dan mengatasi depresi. Sejumlah orang yang memiliki masalah tidur yang kurang cenderung mengalami masalah depresi. Ini berkaitan dengan menurunnya metabolisme, sejumlah kinerja hormonal yang tidak berimbang dan masalah otak yang tidak tersuplai oksigen memadai.

Sejumlah diet yang Anda jalankan juga bisa memicu depresi. Pola makan tidak berimbang dengan diet ketat membuat tubuh Anda kekurangan gula, kekurangan lemak dan kadang juga kekurangan sejumlah unsur mineral dan vitamin essensial seperti vitamin C, B, dan zat besi yang rupanya berperan besar terhadap mood. Mengonsumsi minuman beralkohol atau hobi makanan manis juga ternyata bisa memperburuk depresi.

Jadi pertama-tama cobalah untuk memperbaiki pola makan dan gaya hidup Anda menjadi lebih teratur dan berimbang. Coba amati perubahan pada mood Anda setelah perubahan gaya hidup selama beberapa pekan, bisa jadi Anda sebenarnya hanya butuh mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat ketimbang beberapa butir pil anti depresan.

Baca juga:  Alprazolam: Manfaat, Dosis Aman, dan Efek Sampingnya bagi Kesehatan

5. Sebaik apa kualitas psikologis Anda

Mereka yang depresi kadang mengabaikan pentingnya menjaga keseimbangan antara tugas dan beban pekerjaan dengan kehidupan sosial dan waktu me time. Ketiga aspek ini menjadi penentu sebaik apa kualitas psikologis Anda, dan semakin buruk kualitas psikologis Anda semakin rentan Anda mengalami depresi.

Anda terlalu tenggelam dalam pekerjaan sampai lupa untuk bersosialisasi, memiliki hubungan yang sehat dengan pasangan dan keluarga, berteman dengan pergaulan yang nyaman, serta waktu pribadi untuk memuaskan kebutuhan personal Anda seperti menjalankan hobi atau sekedar memanjakan diri.

Cobalah untuk menjaga keseimbangan antara pekerjaan, kehidupan personal Anda, sosialisasi, dan me time. Kadang keseimbangan ini membantu Anda mengatasi stress dengan lebih efektif ketimbang membiarkannya berkembang menjadi depresi sehingga harus mengonsumsi anti depresan.

6. Coba kendalikan stress Anda

Ini bukan soal menjaga keseimbangan gaya hidup, pola makan atau kualitas psikologis, tetapi bagaimana mengatur mood Anda melalui upaya yang lebih nyata. Yang Anda perlukan adalah sebuah rencana yang membantu Anda meredakan stress sebelum berkembang menjadi depresi akut.

Beberapa orang memang cenderung lebih rentan mengalami depresi, seperti akibat beban pekerjaan yang berat atau karena hidup di kota besar yang hiruk-pikuk. Kendali terbaik adalah dengan rutin menjalankan aktivitas pereda stress seperti dengan rutin berolahraga, meningkatkan aktivitas ibadah, dan sebagainya. Artikel ini dapat membantu Anda: 6 Cara Gampang Untuk Mengatasi Stress.

Coba pahami apa penyebab stress Anda. Mungkinkah karena masalah rumah tangga Anda? Atau mungkin beban kerja yang kadang melampaui batas? Pengambilan keputusan dan pemikiran yang bijak dan tepat akan membantu Anda terlepas dari masalah pemicu stress. Karenanya alih-alih stress dengan masalah Anda, cobalah cari solusi dengan tenang di saat emosi Anda sedang stabil. Ini akan jauh lebih efektif dari anti depresan.

Beberapa pakar depresi memang akan menyarankan penderita depresi untuk mengonsumsi anti depresan. Hanya saja, anti depresan sendiri bisa memberi pengaruh tertentu pada sejumlah pasien yang membuat obat ini dijadikan sebagai pilihan terakhir. Coba terlebih dulu mengatasi depresi dengan beberapa pertimbangan di atas untuk meredakan depresi dengan cara yang lebih sehat.