Penyebab Skizofrenia


By Cindy Wijaya

Pada 2015, hampir sebanyak tiga juta orang dewasa didiagnosis skizofrenia. Ini adalah gangguan mental yang dicirikan dengan gejala-gejala psikotik, halusinasi, delusi, tingkah tidak keruan, dan bicara ngawur. Meskipun kita bisa tahu seperti apa gejala dari gangguan mental ini, sayangnya para ahli masih belum bisa tahu apa penyebab skizofrenia.

Walaupun begitu, hingga saat ini masih terus dilangsungkan penelitian-penelitian untuk lebih memahami akar masalah dari gangguan mental ini. Di artikel ini akan dibahas mengenai beberapa hal yang telah diteliti sebagai pemicu skizofrenia, atau sering disebut ‘faktor-faktor risiko’.

Penyebab Skizofrenia: Faktor Genetik

Salah satu penelitian terbaru yang paling menjanjikan dilaksanakan oleh Broad Institute di Boston dan dilaporkan hasilnya pada 2016. Mereka memeriksa genom-genom dari 65.000 orang dan untuk pertama kalinya berhasil mengidentifikasi suatu gen tertentu yang berkaitan erat dengan skizofrenia.

Di penelitian ini terlihat bahwa risiko skizofrenia meningkat karena ada varian (perbedaan) khusus pada C4. C4 sendiri adalah gen yang terlibat dalam pemotongan sinapsis-sinapsis otak. Dan sinapsis ialah titik dimana neuron-neuron saling berkomunikasi.

Hasil penelitian tersebut didukung oleh fakta-fakta bahwa banyak orang memang pertama kali mengalami gejala skizofrenia saat mereka remaja. Yaitu ketika aktivitas pemotongan sinapsis-sinapsis otak sedang aktif-aktifnya, dan otak dari penderita skizofrenia seringnya memiliki lebih sedikit sinapsis-sinapsis.

Penyebab Skizofrenia: Faktor dalam Otak

Pada Mei 2016, para ilmuwan dari Lawson Health Research Insitute di Ontario menggambarkan data imaging yang memperlihatkan adanya sedikit peningkatan di jaringan beberapa area otak. Hal itu terjadi terlepas dari hilangnya jaringan yang terkait dengan skizofrenia.

Dr. Lena Palaniyappan, salah satu dari ilmuwan, mengungkapkan bahwa “seberat apa pun kerusakan jaringannya, otak penderita skizofrenia terus-menerus berusaha menata ulang dirinya sendiri, mungkin untuk menyelamatkan diri atau untuk mengurangi kerusakannya.”

Astrosit dalam Otak

Laporan penelitian lain di tahun yang sama oleh para ilmuwan di Stanfod University meneliti astrosit dalam otak dan peran penting mereka dalam perkembangan otak. Astrosit berubah dari waktu ke waktu dalam sebuah proses yang “dianggap penting untuk perkembangan normal otak, dan penyimpangannya dianggap menyebabkan berbagai gangguan kesehatan neurologis serta mental,” termasuk skizofrenia.

David Panchision dari NIMH berkomentar: “Karena astrosit membentuk proporsi sel otak yang lebih besar pada manusia daripada spesies lainnya, itu mungkin mencerminkan kebuuhan astrosit yang lebih besar dalam fungsi otak manusia normal, dengan konsekuensi lebih signifikan bila tidak bekerja dengan benar.”

Penyebab Halusinasi Suara-Suara

Pada akhir 2017, University of New South Wales merilis penemuan yang mengemukakan penyebab gejala umum skizofrenia, yaitu halusinasi suara-suara. “Sejauh yang dikenali oleh otak kita, berbicara kepada diri sendiri (monolog) dalam hati mungkin pada dasarnya sama dengan mengungkapkan pendapat kita melalui kata-kata, sebagaimana diperlihatkan oleh penelitian yang baru.”

Saat kita siap berbicara, otak membuat salinan instruksi yang dikirim ke mulut kita, disebut salinan efference. Salinannya dikirim ke area otak yang mengolah suara. Menggunakan elektroensefalografi untuk mengukur produksi monolog dalam hati, penelitian ini menemukan bahwa monolog dalam hati juga menghasilkan salinan efference.

Disimpulkan: “Kita semua mendengar suara-suara dalam hati. Mungkin yang jadi masalah adalah jika otak tidak mampu mengenali bahwa kita sendiri lah sumber suara-suara itu.” Kemungkinan yang menarik.

Tapi itu tidak menjawab pertanyaan mengapa halusinasi yang didengar penderita skizofrenia seringnya sangat kasar, menghina dan merendahkan mereka. Diharapkan akan muncul temuan-temuan lain yang semakin menjelaskan penyebab skizofrenia.

Penyebab Skizofrenia: Kejadian/Perubahan dalam Hidup

Stres akibat kejadian atau perubahan dalam hidup memang tidak dapat dibilang sebagai penyebab, lebih tepatnya disebut pemicu. Peristiwa-peristiwa yang terutama mampu memicu skizofrenia misalnya:

  • Kehilangan seseorang yang disayangi
  • Kehilangan pekerjaan atau rumah
  • Perceraian
  • Berakhirnya suatu hubungan
  • Pelecehan fisik, seksual, atau emosional

Ada hipotesis yang terkenal untuk penyebab skizofrenia, yaitu “dua-pukulan”: faktor genetik atau sesuatu yang terjadi saat masih janin (pukulan pertama) membuat seseorang rentan mengalami skizofrenia, tetapi ada sesuatu yang lain di masa remaja atau awal masa dewasa (pukulan kedua) yang memicu perkembangan skizofrenia. “Pukulan kedua” itu bisa jadi adalah peristiwa-peristiwa seperti di atas.

Para ilmuwan telah menjelaskan bahwa stres bisa menyebabkan kerusakan fisik pada otak. Walaupun skizofrenia bukan gangguan mental yang hanya dikaitkan dengan stres, tapi tampaknya stres punya peran penting dalam perkembangannya.

Proses Timbulnya Stres

Stres dimulai dari pelepasan hormon-hormon tertentu dalam otak. Itu memicu efek fisiologis yang membuat jantung bekerja lebih keras, mengatur reaksi “fight or flight”, kewaspadaan meningkat, serta meningginya kadar kortisol secara berlebihan.

Stres dan kortisol diperlihatkan mampu merusak—bahkan menghancurkan—sel-sel saraf di hipokampus, yang berperan penting untuk ingatan. Bagian-bagian dari proses stres ini—kelebihan produksi kortisol, kerusakan pada hipokampus, dan terganggunya jenis-jenis ingatan tertentu yang berhubungan dengan hipokampus—semuanya biasa dialami oleh penderita skizofrenia.

Penelitian menunjukkan bahwa pasien skizofrenia memiliki volum hipokampal yang lebih kecil daripada orang normal. Hal ini didukung oleh penelitian yang sudah menemukan bahwa pasien skizofrenia menderita masalah di area fungsi otak yang terkait dengan hipokampus. Misalnya fungsi ingatan dan kemampuan untuk mengkoordinasikan serta melaksanakan tugas-tugas.

Penyebab Skizofrenia: Ganja & Zat Psikotropika Lainnya

Obat atau zat tertentu tidak serta-merta menyebabkan skizofrenia. Namun penelitian memperlihatkan bahwa penyalahgunaan zat dapat memperbesar risiko seseorang untuk menderita skizofrenia atau gangguan mental serupa.

Zat-zat tertentu, khususnya ganja, kokain, LSD, atau amfetamin, bisa memicu gejala skizofrenia pada orang-orang yang sudah rentan. Mengonsumsi amfetamin atau kokain dapat mengarah ke gejala-gejala psikosis, dan bisa mengakibatkan kekambuhan pada orang-orang yang sudah pernah mengalami episode skizofrenia.

Ada tiga penelitian besar yang melibatkan para remaja di bawah 15 tahun yang rutin mengonsumsi ganja, terutama jenis “skunk” dan jenis-jenis lain yang efeknya lebih kuat. Didapati bahwa mereka mempunyai kemungkinkan empat kali lebih besar untuk menderita skizofrenia pada usia 26 tahun.

Yang Lebih Berisiko Mengalami Skizofrenia

Ada sekitar 1 dari setiap 100 orang yang didiagnosis skizofrenia. Tampaknya gangguan mental ini sama-sama memengaruhi pria maupun wanita, karena jumlah penderitanya kurang-lebih sama pada pria dan wanita. Sebagian besar orang yang terdiagnosis adalah yang berusia 18 – 35 tahun, dan pria cenderung terdiagnosis di usia sedikit lebih muda daripada wanita.

Para ahli menyimpulkan bahwa skizofrenia bisa jadi disebabkan oleh gabungan dari berbagai faktor, misalnya antara faktor genetik, struktur otak, dan stres dalam kehidupan. Ada juga kemungkinan bahwa yang jadi penyebab halusinasi suara yaitu kegagalan otak dalam mengenali sumber suara itu—yang sebenarnya berasal dari monolog dalam kepalanya sendiri. Dan penyalahgunaan zat-zat psikotropika, misalnya ganja, juga diyakini mampu memicu kemunculan gejala skizofrenia.

Demikianlah artikel ini yang mengulas penyebab skizofrenia. Baca juga artikel-artikel terkait lainnya, yaitu tentang: gejala skizofrenia dan pengobatan skizofrenia. Temukan juga ulasan menarik lain seputar info kesehatan, tips kesehatan, serta pengobatan alami hanya di Deherba.com.

Tentang Penulis 

Cindy Wijaya

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting oleh Cindy Wijaya seorang editor dan penulis beragam artikel kesehatan. Ia senang meriset dan berbagi topik-topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Tinggal di “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}