Deherba.com | Situs Herbal No. 1 Indonesia
hubungi kami

Ilustrasi Kanker Nasofaring Ilustrasi Kanker Nasofaring

Penyebab, Gejala, dan Pengobatan Kanker Nasofaring

Kanker nasofaring memang bukan jenis kanker yang banyak dikenal orang. Harus diakui jenis kanker satu ini memang tergolong jarang. Tetapi belakangan kasus kanker nasofaring mulai banyak muncul dilapangan dan dimungkinkan ini adalah efek sari tingginya tingkat polusi di perkotaan yang sedkit banyak meningkatkan risiko kanker yang merupakan bagian dari kanker kepala dan leher ini.

Dalam pengertian bahasa, kata nasofaring menunjuk pada dua organ yang memang berlokasi berdekatan. Yang pertama adalah naso yang bermakna hidung dan faring yang artinya tenggorokan. Dan posisi nasofaring sendiri merupakan satu bagian pada bagian hidung dalam yang menjadi titik pertemuan antara hidung dan tenggorokan bagian atas.

Menurut Singhealth.com dikatakan bahwa kanker nasofaring merupakan jenis kanker yang banyak menyerang pria dari pada wanita. Posisinya kini pada rangking ke enam sebagai kanker yang paling banyak menyerang pria.

Kasus kanker nasofaring sendiri lebih lazim ditemukan di Asia terutama di beberapa negara Asia tenggara dan Asia Timur. Bahkan kasusnya di Hongkong, Singapura dan daratan China termasu yang tertinggi di dunia. Sedangkan keberadaan kasus kanker nasofaring di Amerika dan Eropa malah terbilang sangat kecil.

Penyebab Kanker Nasofaring

Penyebab kanker nasofaring memang belum sepenuhnya terungkap. Namun beberapa pakar medis mengemukakan pendapat mereka mengenai adanya kaitan erat konsumsi dan paparan toksin, polutan dan oksidan dengan perkembangan kanker nasofaring.

Kebanyakan kasus kanker nasofaring muncul dari terhirupnya polutan dan toksin melalui hidung dalam tempo yang lama. Paparan yang berketerusan ini bisa membentuk iritasi pada hidung. Pada awalnya iritasi ini hanya menyebabkan rasa nyeri. Namun ketika terus berkembang, maka iritasi bisa berubah menjadi infeksi yang membentuk inflamasi, abses sampai akhirnya berubah menjadi pertumbuha sel abnormal seperti kanker.

Namun beberapa kondisi lain juga diyakini menjadi penyebab pertumbuhan sel abnormal pada nasofaring seperti pola makan yang tidak sehat, dengan banyak memakan hidangan yang kaya akan polutan dan toksin. Juga mereka yang sudah terpapar jenis virus tertentu seperti virus Epsteinn Barr (EBV). Virus ini membentuk semacam infeksi pada area pangkal hidung yang memicu terbentuknya regenerasi sel yang bersifat mutasi.

Untuk lebih jelasnya berikut beberapa kondisi yang diyakini menjadi penyebab kanker nasofaring:

  • Gemar Menikmati Ikan Asin

    Memang belum ada riset matang mengenai tingkat resiko dari mengkonsumsi ikan asin terhadap kanker nasofaring di Indonesia. Tetapi di Hongkong dan Cina Selatan, terdapat riset yang menemukan adanya toksin nitrosamin yang juga memiliki sifat karsinogen. Senyawa ini muncul dari proses pengasinan, reaksi kandungan air laut khas Cina selatan dan penjemuran di bawah sinar matahari. Hanya saja beberapa pakar tidak bisa memastikan apakah reaksi yang sama bisa terjadi pada ikan asin di Indonesia.

  • Pemelihara Unggas

    Ternyata dalam unggas terhadap banyak jenis virus yang bisa menginfeksi Anda, termasuk EBV. Keberadaan EBV kadang tidak menunjukan gejala apapun pada unggas dan malah ketika terpapar pada manusia baru menunjukan gejala infeksi dan peradangan serius. Dan virus serta mikroba yang bisa menimbulkan masalah infeksi serius ini bisa terjadi bila seseorang melakukan interaksi berlebihan dengan unggas seperti dengan mencium.

  • Terpapar Asap

    Menurut guru besar FKUI Prof. Susworo, dikatakan adanya peningkatan resiko kanker nasofaring pada mereka yang memiliki dapur dengan sirkulasi udara yang buruk. Juga mereka yang terbiasa berdekatan dengan beragam jenis asap lain, termasuk dupa, asap pembakaran sampah, proses pembuatan genteng dan batu bata serta berbagai paparan asap lain. Dalam asap selalu terdapat banyak toksin lembut yang bertebaran dan begitu terpapar langsung dengan dinding hidung akan membentuk iritasi dan memicu kanker.

  • Terhirup Formaldehide

    Formadehide adalah sejenis senyawa pengawet yang mematikan sel. Pada pekerjaan tertentu, mereka terpaksa berinteraksi dengan cairan senyawa ini dan menyebabkan adanya paparan formadehide dengan rongga hidung. Paparan yang kerap terjadi bisa memicu kondisi karsinogen pada nasofaring.

  • Paparan Mineral Logam

    Mineral logam merupakan jenis toksin berat yang tidak hanya bersifat karsinogen, tetapi juga mengandung sifat abrasi yang juga bisa menyebabkan munculnya iritasi serius pada hidung. Berawal dari iritasi ini bisa menimbulkan inflamasi dan abses yang dapat berkembang menjadi pra kanker.

Selain beberapa penyebab utama di atas, beberapa kondisi bisa menjadi peningkat resiko seseorang mengalami kanker nasofaring. Dan kondisi-kondisi tersebut antara lain:

  • Pria

    Sebagaimana dijelaskan di atas, kanker nasofaring rupanya termasuk dalam 10 besar kanker yang paling banyak menyerang pria dan kini menduduki posisi ke enam di Asia. Sedangkan untuk wanita penyakit kanker nasofaring ini bahkan tidak menduduki posisi 10 besar penyakit kanker yang banyak menyerang wanita.

  • Berusia Diatas 55 Tahun

    Semakin tua seseorang semakin banyak tumpukan toksin yang mengendap dalam tubuhnya, juga semakin buruk kondisi tubuh orang tersebut untuk menjaga metabolisme dan sistem pembuangan toksin. Itu sebabnya pada usia manula, seseorang menjadi berkali lipat lebih rentan mengalami kanker, termasuk kanker nasofaring.

  • Memiliki Masalah Alergi

    Mereka yang secara genetik memiliki masalah alergi dengan hidung mereka seperti memiliki masalah rhinitis, biasanya menjadi kerap mengalami masalah iritasi dan inflamasi dengan hidung. Kondisi ini meningkatkan resiko seseorang mengalami kanker nasofaring.

  • Perokok

    Secara khusus memang rokok tidak bisa menjadi penyebab kanker nasofaring. Namun beberapa pakar meyakini merokok akan meningkatkan kepekaan hidung terhadap senyawa karsinogen sekaligus meningkatkan kadar toksin dalam darah.

  • Memiliki Masalah Polip

    Meski tidak semua polip tumbuh pada bagian nasofaring, namun beberapa kasus polip pada hidung bisa berkembang menjadi kasus pra kanker.

  • Memiliki Masalah Sinusitis

    Masalah sinusitis merupakan bentuk peradangan pada sinus atau tonsil pada hidung. Meski memang posisi sinus tidak berada di nasofaring, namun beberapa pasien kanker nasofaring memang memiliki riwayat sinusitis sebelumnya.

  • Memiliki Riwayat Kanker Nasofaring

    Mereka dengan riwayat keluarga yang mengidap kanker nasofaring akan meningkatkan resiko seseorang mengalami kanker nasofaring.

Gejala Kanker Nasofaring

Gejala kanker nasofaring kerap kali terasa samar karena pasien tidak bisa membedakannya dengan keluhan hidung lain. Tanda-tanda yang muncul kebanyakan menyerupai gejala dari penyakit hidung lain seperti polip dan sinusitis.

Namun bila Anda jeli, ada beberapa gejala kanker nasofaring yang sangat khas. Sifatnya lebih kuat dari sekedar gejala penyakit hidung biasa dan cenderung tak bisa hilang meski sudah diatasi dengan obat-obatan. Adapun gejala kanker nasofaring tersebut antara lain:

  • Hidung Terasa Tersumbat dan Sulit Sekali Diatasi

    Pada kasus hidung tersumbat biasa, ketika pasien berdiri atau mencoba miring ke satu arah, otomatis rasa tersumbat akan hilang, namun pada kasus ini hidung tidak akan menjadi lapang dengan cara maupun pengobatan apapun.

  • Muncul Benjolan pada Leher

    Setidaknya 75% pengidap kanker nasofaring menampakan tanda kemunculan benjolan tanpa nyeri pada leher sekitar area sekitar rahang depan.

  • Pembengkakan pada Hidung

    Amati dengan baik bentuk dan posisi hidung, bila hidung tampak memiliki bengkakan sehingga hidung tampak tidak simetris terutama pada sisi hidung atas, ada baiknya Anda untuk waspada. Pembengkakan bisa jadi adalah massa dari kanker yang muncul pada hidung atas.

  • Muncul Lendir Hidung Berlebihan

    Lendir hidung adalah reaksi alami tubuh terhadap serangan benda asing, dan di sini massa kanker adalah benda asing yang mengganggu sistem kerja hidung. Kadang massa kanker akan merusak sel-sel sehat dalam nasofaring sehingga membentuk inflamasi dan abses. Cairan lendir ini juga menjadi reaksi atas munculnya inflamasi pada hidung.

  • Suara Sengau

    Sengau menandakan adanya lendir pada hidung. Namun ketika suara sengau muncul terus menerus bahkan ketika sedang tidak pilek bisa jadi ada gangguan permanen pada hidung, termasuk pula keluhan kanker.

  • Mimisan

    Mimisan yang kerap terjadi bisa jadi adalah tanda dari adanya kanker dalam hidung. Ini menandakan adanya inflamasi pada hidung sebagai akibat serangan dari kanker.

  • Telinga Berdenging

    Posisi hidung yang masih terkait dengan sistem dalam telinga membuat kehadiran kanker dalam nasofaring juga turut mengganggu sistem dalam telinga. Kadang muncul tanda seperti telingan kemasukan air, berdenging atau malah penurunan kemampuan pendengaran.

  • Sakit pada Area T Wajah

    Area T wajah melibatkan kisaran lingkar mata, batang hidung dan dahi. Ketika kerap muncul rasa nyeri pada area ini ada baiknya Anda waspada terhadap serangan kanker nasofaring. Kadang rasa nyeri ini berkembang menjadi mati rasa di area wajah atas.

  • Penglihatan Ganda

    Beberapa pasien kanker nasofaring juga kerap merasa terganggu dengan penglihatan mereka, biasanya berupa rasa linu pada lingkar mata dan penglihatan ganda.

Pengobatan Kanker Nasofaring

Pengobatan kanker nasofaring sendiri biasanya dijalankan sesuai dengan kondisi dari kanker itu sendiri. Semakin berat kondisi kanker, semakin intensif pengobatan yang dijalankan dengan beberapa prosedur yang harus dilakukan.

Namun secara umum terdapat beberapa langkah yang menjadi prosedur standar dalam pengobatan kanker nasofaring. Dan langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:

  • Radioterapi

    Terapi dengan memanfaatkan efek radiasi dari gelombang radio macam gamma atau proton ini biasanya menjadi prosedur terhadap kondisi kanker stadium awal. Seorang pakar onkologi radiasi akan menentukan titik fokus penembakan gelombang radio tersebut yakni pada area nasofaring, leher rahang dan area selangkangan untuk menitikan terapi pada pusat kelenjar getah bening yang banyak terimbas oleh kehadiran kanker nasofaring ini.

    Radioterapi memiliki beberapa efek samping, seperti pengelupasan kulit, efek terbakar kemerahan pada kulit, efek rasa kering pada mulut dan tenggorokan, ulkus mulut, rasa hidung yang kering sampai kehilangan nafsu makan.

    Langkah terapi ini juga kerap dilakukan sebelum operasi untuk mengecilkan ukuran kanker sehingga mudah untuk diangkat dan pada perawatan pasca operasi untuk membersihkan sisa-sisa sel kanker yang tidak terangkat pada waktu operasi.

  • Kemoterapi

    Ketika kanker sudah mulai menyebar pada beberapa bagian dalam tubuh, atau mulai menyerang sistem linfatik sehingga memungkinkan tebawa dalam aliran limfatik di seluruh tubuh, maka sebaiknya terapi dialihkan pada kemoterapi. Di sini pasien menjalankan terapi dengan disuntikan senyawa khusus yang bersifat mematikan sel kanker.

    Kemoterapi klasik biasanya memberikan efek samping yang keras seperti efek kerontokan, kerusakan kulit, penurunan fungsi indera perasa dan penciuman, mual, hilang selera makan, pusing dan nyeri sendi.

    Namun belakangan muncul model terapi baru dimana karakter terapi lebih focus pada fungsi anti proliferasi yakni menekan kecenderungan sel kanker untuk membelah diri dengan cepat. Juga terdapat terapi biologi berupa antigen untuk membentuk efek anti karsinogen sekaligus menyerang sel kanker untuk menciut dengan alami.

  • Operasi

    Berbeda dengan kebanyakan pengobatan kanker lain, pengobatan kanker nasofaring justru menjadikan solusi operasi pengangkatan sebagai langkah penanganan akhir. Pasarnya ukuran dari organ nasofaring yang relatif kecil dan sempit sehingga ukuran kanker cenderung tidak mudah menjadi sangat besar dan ganas.

    Namun di sisi lain operasi tetap menjadi solusi terbaik untuk kanker nasofaring yang terus berkembang, menjadi sangat ganas sehingga membentuk inflamasi permanen pada telinga dan area otak. Kadang solusi operasi juga diambil untuk kanker yang membentuk benjolan namun sulit mengkerut meski sudah melalui proses terapi.

Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa dalam pengobatan kanker nasofaring, tindakan operasi dianggap sebagai solusi terakhir. Berbeda dengan prosedur pengobatan kanker lain, dimana justru operasi menjadi solusi terbaik dalam mengatasi kanker.

Pilihan ini tidak salah mengingat dengan metode ini sel kanker bisa diangkat secara langsung, dokter juga bisa melihat sendiri bagaimana kondisi kanker dan sejauh apa tindakan pengangkatan yang diperlukan. Dan terbukti metode operasi sendiri sangat efektif mengatasi pertumbuhan massa kanker.

Namun dalam kasus kanker nasofaring, metode ini dianggap tidak efektif. Karena operasi nasofaring sendiri bukan metode yang mudah dengan resiko yang tinggi. Alasannya karena posisi nasofaring yang sempit dan terdesak antara batang hidung dan otak. Sehingga sejauh ini tindakan terbaik mengatasi kanker nasofaring adalah dengan terapi baik itu dengan radiasi, terapi biologi atau dengan kemoterapi.

Namun pada kondisi tertentu, tindakan ini terbukti tidak selamanya efektif membersihkan seluruh kanker pada nasofaring. Malah terdapat beberapa resiko dan efek samping dari terapi juga mengancam kondisi pasien.

Itu sebabnya ada beberapa pilihan lain untuk membantu mengatasi kanker nasofaring baik sebagai solusi alternatif di tadium awal atau untuk dipadukan dengan pengobatan medis. Solusi alternatif ini dengan memanfaatkan khasiat dari beberapa herbal yang terbukti ampuh sebagai anti kanker. Adapun herbal-herbal berkhasiat tersebut antara lain:

  • Sarang Semut

    Herbal Sarang Semut mengandung berbagai jenis antioksidan dan antibakteri yang sanggup mengendalikan perkembangan sel kanker sekaligus menghentikan proses pertumbuhannya. Memang, reaksi herbal pastilah tidak seperti pengobatan medis yang cenderung cepat reaksinya. Herbal bekerja secara bertahap dengan merangsang tubuh untuk memperbaiki diri dan mengembalikan kondisi tubuh berada pada tahap mampu bertahan melawan kanker.

    Memang penelitian yang sudah dilakukan masih tergolong terbatas, namun bahkan dari hasil penelitian yang sudah ada pun Sarang Semut terbukti mengandung beragam senyawa yang secara efektif membantu pengobatan kanker.

    Sarang Semut, yang bisa disebut sebagai "herbal ajaib", ini ampuh dimanfaatkan sebagai obat kanker nasofaring. Senyawa flavonoid di dalam Sarang Semut memiliki berbagai mekanisme dalam melawan kanker, yakni:

    • Anti-proliferasi
      Menghambat proses perbanyakan sel abnormal pada kanker.
    • Inaktivasi karsinogen
      Menonaktifkan zat aktif yang menjadi penyebab kanker.
    • Induksi apoptosis dan diferensiasi
      Merangsang proses bunuh diri sel kanker.
    • Inhibisi angiogenesis
      Menghambat pembentukan pembuluh darah baru pada sel kanker yang berperan dalam menyediakan makanan/nutrisi bagi perkembangan sel kanker. Jika sel kanker tidak mendapatkan nutrisi yang cukup, sel kanker akan mati.
    • Penghambatan siklus sel
      Pada kanker, terjadi kegagalan pengendalian dalam siklus pembelahan sel. Dimana sel mengalami pembelahan secara cepat dan terus menerus. Flavonoid bekerja dengan menghambat siklus pembelahan sel yang abnormal (kanker) tersebut.
    • Pembalikan resistensi multi-obat
      Flavonoid membantu tubuh terhindar dari resistensi/kebal terhadap obat-obat yang dikonsumsi.

    Selain senyawa flavonoid, herbal asli Papua ini pun mengandung tokoferol yang cukup besar, yakni konsentrasinya mencapai sekitar 313 ppm. Ini membuatnya sanggup meredam serangan radikal bebas hingga mendekati angka 100%.

    Karena masih perlu dilakukan lebih banyak penelitian, maka ke depannya bukan tidak mungkin akan ditemukan senyawa-senyawa baru yang terkandung dalam Sarang Semut yang dapat lebih menjelaskan "keajaiban" herbal ini dalam menumpas kanker secara cepat dan tuntas.

  • Noni Juice

    Herbal lain yang juga baik untuk pengobatan kanker nasofaring adalah buah noni. Dengan mengambil sari dari buah yang dikenal sebagai herbal dewa di kawasan Tahiti ini maka Anda bisa memanfaatkan khasiat penyembuhan untuk mengatasi beragam jenis penyakit termasuk kanker nasofaring.

    Menurut penelitian yang dikembangkan oleh Dr Neil Solomon, setidaknya terdapat lebih dari 30 jenis penyakit yang mampu di atasi oleh buah yang juga dikenal memiliki aroma serta rasa khas tersebut. Siapa sangka salah satu rahasia khasiat terbaik buah noni ini terletak pada aroma khasnya yang tidak disukai.

    Di balik aroma khasnya ini terdapat asam kaprat dan asam kaproat yang berfungsi sebagai anti bakteri dan anti virus yang kuat. Ini menjadi salah satu senjata dalam melawan beberapa infeksi yang biasa menjadi pemicu kanker nasofaring.

    Terdapat pula khasiat detoksifikasi, anti proliferasi dan inhibis angiogenesis khas dari flavonoid. Selain itu dalam buah noni terkandung senyawa terpenoid dan protein xeronine yang terbukti ampuh memaksimalkan regenerasi sel sekaligus mencegah penyimpangan regenerasi sel.

    Juga terdapat kandungan scolopetin dan dhamnachantal yang baik untuk menekan efek kerusakan sel karena kanker dan efek kerusakan sel karena terapi. Ditambah khasiat fitonutrien sebagai pemicu produksi antigen dan fungsi polisakarida yang efektif mencegah perilaku metastatis dari sel kanker atau pelepasan sel kanker dari organ induk untuk masuk ke sistem limfatik dan menyebar ke organ lain.

Itulah beberapa jenis herbal yang terbukti kaya khasiat dan efektif untuk anti kanker termasuk kanker nasofaring. Kabar baiknya, kedua herbal ini tak hanya baik sebagai anti kanker, tetapi juga efektif menekan efek samping dari pengobatan kanker nasofaring secara medis.

Pahami dan kenali lebih awal gejala kanker nasofaring, pahami pula apa saja yang menjadi penyebab kanker nasofaring demi mampu menghindari dengan lebih baik faktor-faktor pemicu kanker nasofaring sehingga dapat mencegah penyakit ini muncul pada tubuh Anda.

addfriends en 130
Penting: Form komentar di bawah ini hanya digunakan untuk berbagi informasi antar pengunjung situs web ini. Apabila Anda ingin menghubungi kami silakan kunjungi halaman hotline kami »

Log In or Register