Penyakit Cacar Monyet: Gejala, Penyebab & Pencegahan

341
ilustrasi penyakit cacar monyet
Ilustrasi Penyakit Cacar Monyet (Credit: Pavodam / Shutterstock)

Diedit:

Cacar monyet atau monkeypox adalah penyakit langka yang disebabkan oleh virus dan ditularkan dari hewan ke manusia. Sering kali penyebab penularan virus cacar monyet adalah hewan pengerat (tikus dan tupai) dan primata (monyet). Gejala cacar monyet awalnya mirip dengan penyakit cacar air. Meski termasuk penyakit langka, namun cacar monyet dapat menyerang siapa saja.

Dalam artikel ini Anda akan menemukan informasi penting seputar penyakit monkeypox. Mulai dari penjelasan tentang penyebab, pencegahan, dan ciri cacar monyet. Temukan juga informasi tentang herbal yang dapat membantu mencegah penularan virus cacar monyet.

Apa Itu Cacar Monyet?

Cacar monyet adalah penyakit yang disebabkan oleh virus monkeypox (MPXV). Virus ini merupakan jenis orthopoxvirus yang dapat menimbulkan penyakit pada manusia (disebut human monkeypox atau MPX). Jika sudah menginfeksi, virus cacar monyet akan menyebabkan gejala yang menyerupai penyakit cacar, termasuk demam dan bintik-bintik merah.

Setelah penyakit cacar diberantas di seluruh dunia pada tahun 1980, monkeypox muncul sebagai penyakit cacar pada manusia yang paling menonjol kasusnya. Kasus penyakit ini kadang kala dilaporkan terjadi di daerah pedesaan di negeri-negeri Afrika Tengah dan Barat. Khususnya di daerah yang dekat dengan hutan hujan tropis, dimana sering terjadi kontak antara manusia dengan hewan yang sudah terinfeksi virus cacar monyet.

Manusia juga bisa tertular penyakit ini melalui kontak langsung dengan penderita monkeypox. Tetapi sampai saat ini tidak ada bukti bahwa penularan dari orang-ke-orang saja dapat menyebabkan atau memperpanjang wabah monkeypox pada manusia.

Sejak 2016, kasus cacar monyet telah dikonfirmasi terjadi di Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo (Zaire), Liberia, Nigeria, Republik Kongo, dan Sierra Leone; dan ada simpanse yang terinfeksi di Kamerun. Pada Juni 2003, penyakit ini dilaporkan menginfeksi anjing padang rumput (prairie dog) dan manusia di Amerika Serikat.

Dan yang terbaru, pada bulan Mei 2019 dilaporkan seorang warga negara Nigeria menderita penyakit ini saat sedang berada di Singapura. Di Indonesia sendiri Kementrian Kesehatan (Kemenkes) RI meyakinkan bahwa masyarakat tidak perlu panik karena sampai saat ini belum ditemukan kasus penyakit ini di Indonesia. Namun masyarakat tetap diimbau untuk waspada dan menjaga kebersihan agar tidak tertular.

Apa Penyebab Penyakit Cacar Monyet?

Penyebab utama cacar monyet adalah virus monkeypox. Virus ini tergolong sebagai jenis virus orthopoxvirus yang dapat menginfeksi hewan dan manusia. Virus cacar monyet juga dapat menyebar secara zoonosis, yang artinya infeksi ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya.

Saat ini telah teridentifikasi dua sub-tipe (disebut “klad”) virus cacar monyet yang berbeda, yaitu klad Afrika Barat dan klad Cekungan Kongo. Para ahli meyakini bahwa infeksi virus cacar monyet dari klad Afrika Barat menyebabkan infeksi yang lebih ringan, lebih jarang mengakibatkan kematian, dan lebih jarang menular dari manusia ke manusia daripada infeksi akibat klad Cekungan Kongo.

Penularan Virus Penyebab Cacar Monyet: Hewan-ke-Manusia

Virus cacar monyet terutama ditularkan dari hewan-ke-manusia. Dalam sejarahnya, penyebab infeksi pada manusia yang tercacat adalah akibat kontak dengan tikus berkantung raksasa Gambian, tupai, dan monyet. Walaupun namanya adalah penyakit cacar monyet, namun virus penyebabnya paling sering ditemukan pada hewan pengerat.

Penularan infeksi pada manusia diakibatkan oleh kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau luka luar dari hewan yang terinfeksi. Infeksi virus juga bisa menular jika mengonsumsi daging hewan terinfeksi yang tidak dimasak dengan benar.

salah satu hewan yang dapat terinfeksi virus cacar monyet
Dormouse Hutan (Credit: Richard Bailey / Getty Images)

Beberapa Hewan Pengerat Pembawa Virus Cacar Monyet

  • Tikus berkantung raksasa gambian (Cricetomys gambianus)
  • Dormouse hutan (Graphiurus murinus)
  • Tupai matahari (Heliosciurus)
  • Tupai tali (Funisciurus)
  • Tikus bergaris (Hybomys trivirgatus)
  • Landak ekor-sikat (Atherurus africanus)

Penularan Virus Penyebab Cacar Monyet: Manusia-ke-Manusia

Penularan dari manusia-ke-manusia jarang terjadi, tetapi bisa saja terjadi melalui kontak dekat dengan cairan dari saluran pernapasan (ingus, dahak, dsb), luka kulit, atau benda yang baru saja terkena cairan atau luka dari pasien penderita monkeypox.

Karena itu yang paling rentan tertular penyakit ini ialah mereka yang merawat dan tinggal serumah dengan penderita. Meski begitu, sampai saat ini tidak ada bukti bahwa penularan dari manusia-ke-manusia saja dapat menyebabkan atau memperpanjang wabah monkeypox.

Bagaimana Mencegah Penularan Virus Cacar Monyet?

Penyebab cacar monyet adalah virus monkeypox, dan belum tersedia vaksin khusus untuk virus itu. Maka cara terbaik untuk mencegah penularan ialah dengan membantu masyarakat mengerti tentang penyebab penularan penyakit ini serta mengajarkan mereka cara untuk menghindari penyebaran virus cacar monyet.

Dr. Anung Sugihantono, M.Kes, dari Kemenkes RI mengimbau masyarakat untuk mengupayakan perilaku hidup bersih dan sehat untuk mencegah penularan virus monkeypox. Berikut adalah imbauan perilaku hidup bersih dan sehat tersebut:

  • Biasakan mencuci tangan dengan sabun
  • Hindari kontak langsung dengan tikus atau hewan primata, termasuk menghindari kontak dengan darah atau daging yang tidak dimasak dengan baik
  • Hindari kontak fisik dengan orang yang terinfeksi atau benda apapun yang terkontaminasi
  • Hindari kontak dengan binatang liar, termasuk tidak mengonsumsi daging dari hewan liar

Dr. Anung juga menganjurkan orang-orang yang baru kembali dari perjalanan ke wilayah terjangkit cacar monyet untuk memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami gejala seperti demam tinggi, pembengkakan kelenjar getah bening, dan bintik-bintik merah di kulit.

Khususnya jika gejala tersebut muncul dalam waktu kurang dari 3 minggu setelah pulang. Mereka juga dianjurkan untuk memberitahukan ke dokter bahwa mereka baru saja kembali dari wilayah terjangkit monkeypox. Dengan begitu dokter akan memeriksa apakah gejala tersebut adalah tanda dari infeksi cacar monyet atau bukan.

Beliau juga memberi pesan kepada para petugas kesehatan agar mereka menggunakan alat pelindung saat menangani pasien atau hewan yang dicurigai mengalami gejala cacar monyet, paling tidak memakai masker dan sarung tangan.

Bagaimana Gejala Penyakit Cacar Monyet?

Gejala cacar monyet baru akan muncul beberapa hari setelah seseorang terinfeksi virus penyebab nya. Jangka waktu dari infeksi ke timbulnya gejala-gejala disebut sebagai masa inkubasi. Masa inkubasi untuk monkeypox biasanya dari 6 – 16 hari, tapi kadang juga 5 – 21 hari.

Masa infeksi bisa dikelompokkan ke dalam dua masa, yakni masa invasi dan masa erupsi kulit. Kedua masa infeksi cacar monyet itu memiliki ciri khas atau gejalanya sendiri. Berikut adalah ciri dari masing-masing masa infeksi itu:

Ciri Masa Invasi dari Infeksi Cacar Monyet:

  • Masa invasi dimulai 0 – 5 hari setelah infeksi
  • Demam
  • Sakit kepala hebat
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Sakit punggung
  • Sakit atau nyeri otot
  • Kekurangan energi atau lemas

Ciri Masa Erupsi Kulit dari Infeksi Cacar Monyet:

  • Masa erupsi kulit dimulai 1 – 3 hari setelah munculnya demam
  • Mulai muncul bintik-bintik merah (ruam)
  • Ruam biasanya dimulai dari wajah lalu ke bagian-bagian tubuh lain
  • Ruam paling sering muncul di wajah, telapak tangan, dan telapak kaki
  • Ruam juga dapat muncul di dalam mulut, area kelamin, kelopak mata, dan kornea (bola mata)
  • Jumlah ruam bervariasi mulai dari hanya beberapa hingga ribuan
  • Ruam berkembang dari bintik merah datar -> lepuh kecil berisi cairan -> lepuh berisi nanah -> lepuh mengeras menjadi kerak
  • Perkembangan ruam di atas kira-kira terjadi dalam waktu 10 hari

Penyakit Cacar Monyet VS Cacar Air

  • Demam: Pada cacar air, demam terjadi bersamaan dengan munculnya ruam. Pada cacar monyet, demam terjadi 1 – 3 hari sebelum muncul ruam.
  • Perkembangan ruam: Ruam cacar air berkembang dengan cepat. Ruam monkeypox berkembang dengan lambat.
  • Penyebaran ruam: Pada cacar air, ruam lebih banyak di badan, tidak ada di telapak tangan atau kaki. Pada cacar monyet, ruam lebih banyak di wajah dan ada di telapak tangan atau kaki.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening: Cacar air tidak menyebabkan pembengkakan. Cacar monyet bisa menyebabkan pembengkakan.
  • Kematian: Cacar air jarang sekali mengakibatkan kematian. Cacar monyet juga jarang, tapi tercatat memiliki angka kematian 1 – 10 % dari seluruh kasusnya.

Pada umumnya dibutuhkan waktu sekitar 3 minggu sampai kerak-kerak di kulit bekas gejala cacar monyet menghilang sepenuhnya. Penyakit cacar monyet biasanya dapat sembuh sendiri dan gejala-gejalanya mulai pulih setelah 14 – 21 hari.

Tetapi ada juga kasus cacar monyet parah yang membuat penderitanya mengalami gejala yang lebih berat dan lebih lama, serta riskan menimbulkan komplikasi berat. Kasus yang parah itu lebih banyak dialami oleh anak-anak dan orang yang kekebalan tubuhnya lemah atau terganggu.

Segera periksakan diri ke dokter jika mengalami gejala menyerupai ciri-ciri cacar monyet di atas. Diagnosis atau pemastian penyakit hanya dapat dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium. Pengobatan juga dianjurkan hanya dilakukan secara medis oleh dokter yang berpengalaman.

Herbal Noni Juice untuk Pencegahan Monkeypox

Dokter Spesialis Anak RS Hasan Sadikin, Dr. Djatnika Setiabudi, menjelaskan bahwa anak-anak yang punya sistem imun lemah lebih rentan tertular virus cacar monyet. Kasus penyakit cacar monyet pada anak-anak juga dilaporkan dapat lebih parah daripada pada orang dewasa.

Beliau juga mengatakan bahwa angka kematian 1 – 10 % dari kasus monkeypox paling banyak dari penderita anak-anak dan orang yang kekebalan tubuhnya terganggu. Apa artinya itu bagi pencegahan penyakit ini?

Itu berarti pencegahan penyakit ini terutama penting bagi anak-anak dan bagi mereka yang kekebalan tubuhnya lemah atau terganggu. Herbal Noni juice adalah pilihan bijaksana bagi siapapun yang ingin memperkuat kekebalan tubuhnya agar lebih tahan terhadap serangan virus penyebab penyakit.

herbal noni untuk pencegahan monkeypox
Buah Noni, Bahan Baku Noni Juice (Credit: LIKIT SUPASAI / Shutterstock)

Penelitian ilmiah telah menunjukkan potensi herbal Noni untuk meningkatkan kekebalan dan senyawa di dalamnya dapat bertindak sebagai imunomodulator. Imunomodulator adalah senyawa yang dapat menguatkan kekebalan tubuh (imunostimulator) atau menekan reaksi kekebalan yang berlebihan (imunosupresan).

Salah satu penelitian diulas dalam makalah berjudul “The effects of Morinda citrifolia L. (noni) on the immune system: Its molecular mechanisms of action.” Penelitian tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa Noni juice sanggup menyesuaikan sistem kekebalan dengan cara mengaktifkan reseptor CB2, serta menekan IL-4, tetapi meningkatkan produksi sitokin IFNγ. Noni juga diperlihatkan mampu memberikan efek imunomodulasi yang bermanfaat pada kondisi dimana respon kekebalan tubuh tidak memadai.

Efek peningkat kekebalan dan imunomodulator yang dimiliki herbal Noni bisa membantu memperkuat ketahanan tubuh terhadap virus monkeypox. Disamping itu, Noni juice juga aman dikonsumsi oleh anak-anak serta tidak menimbulkan efek samping atau ketergantungan meski dikonsumsi dalam jangka panjang.

Kesimpulan tentang Penyakit Cacar Monyet

Penyakit cacar monyet adalah penyakit akibat infeksi virus yang langka. Virus penyebab cacar monyet disebut virus monkeypox (MPXV). Virus tersebut terutama menular dari hewan ke manusia, dan tidak mudah menular antara manusia ke manusia. Tidak seperti namanya, virus itu paling sering ditemukan pada hewan pengerat (seperti tikus dan tupai), bukan pada hewan primata (monyet dan sejenisnya).

Gejala cacar monyet timbul secara bertahap. Pada 0 – 5 hari setelah terinfeksi (masa invasi), gejalanya dicirikan dengan demam, sakit kepala hebat, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit punggung, nyeri otot, dan lemas.

Pada 1 – 3 hari setelah muncul demam (masa erupsi kulit), gejalanya dicirikan dengan ruam yang berkembang secara bertahap. Ruam tersebut paling sering muncul di wajah, telapak tangan, dan telapak kaki.

Cara terbaik untuk mencegah penularan penyakit ini yaitu dengan menghindari penyebaran virus penyebabnya. Kemenkes RI mengimbau agar masyarakat menerapkan perilaku hidup sehat dan bersih: selalu cuci tangan dengan sabun, tidak mengonsumsi daging hewan yang tidak dimasak dengan baik, menghindari kontak langsung dengan hewan liar, dan menghindari kontak fisik dengan penderita atau benda yang telah terkontaminasi.

Demikianlah artikel ini yang mengulas tentang penyakit cacar monyet. Semoga informasi ini dapat menambah kewaspadaan Anda terhadap penyakit akibat virus ini. Nantikan juga ulasan menarik lain seputar masalah kesehatan hanya di Deherba.com.


Referensi Penyakit Cacar Monyet:

WHO. Monkeypox. Published: 2018-06-06. URL: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/monkeypox. Accessed: 2019-05-20

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Ini tentang Monkeypox (MPX). Published: 2019-05-13. URL: http://www.depkes.go.id/article/view/19051500001/ini-tentang-monkeypox-mpx-.html. Accessed: 2019-05-20

Palu, Afa K, dkk. (2007). The effects of Morinda citrifolia L. (noni) on the immune system: Its molecular mechanisms of action. Journal of Ethnopharmacology. 115(3): 502-6


Advertisement
Alinesia