Inkontinensia Urin, Penyebab Buang Air Kecil Tidak Bisa Ditahan


By Cindy Wijaya

Beberapa orang memiliki masalah tidak bisa menahan buang air kecil, bahkan batuk, bersin, atau tertawa saja sudah membuat urin keluar. Masalah ini disebut inkontinensia urin, yang berarti mengeluarkan urin secara tidak sengaja. Meski bisa terjadi pada siapa saja, penyebab buang air kecil tidak bisa ditahan lebih sering dialami oleh orang tua, terutama wanita.

Masalah ini bisa membuat penderitanya merasa malu dan membuatnya menghindari aktivitas normal mereka. Tetapi inkontinensia seringkali dapat diatasi atau setidaknya dikendalikan.

Apa yang mendasari masalah tidak bisa menahan buang air kecil ini? Apa saja jenis-jenis inkontinensia urin? Dan bagaimana cara mengatasinya? Simak penjelasannya di artikel ini.

Fungsi Kandung Kemih dalam Mengendalikan Buang Air Kecil

Kandung kemih menjadi tempat penyimpanan urin sebelum dikeluarkan dari tubuh. Kandung kemih terletak di panggul. Kandung ini kosong di bagian dalam dan mengembang saat diisi dengan urin, berfungsi agaknya seperti balon. Kandung kemih orang dewasa dapat menampung antara 1,5 sampai 2 cup urin.

Urin akan dibawa keluar dari tubuh melalui uretra, saluran tipis yang terletak di antara kandung kemih dan bagian luar tubuh. Ketika kandung kemih penuh, otak menerima sinyal bahwa sudah waktunya untuk buang air kecil.

Ada dua set otot, yang disebut sfingter, yang membantu mengontrol aliran urin. Sfingter ini berbentuk menyerupai cincin dan terletak di leher kandung kemih dan uretra.

Ketika otot-otot sfingter menutup, mereka menahan urin di dalam kandung kemih. Ketika otot-otot sfingter mengendur, urin dialirkan ke uretra dan keluar dari tubuh.

Normalnya seseorang memiliki kendali atas otot-otot sfingter dan dapat mengatupkannya atau mengendurkannya. Bila tidak memiliki kendali penuh untuk menghentikan dan/atau memulai pengeluaran buang air kecil, maka dapat menyebabkan inkontinensia urin.

Kehilangan kendali atas otot-otot sfingter inilah yang bisa menjadi penyebab buang air kecil tidak bisa ditahan.

Jenis-Jenis Inkontinensia Urin

Terdapat sejumlah jenis inkontinensia urin dan setiap jenis masalah ini memiliki penyebab yang berbeda.

Inkontinensia Stres

Inkontinensia stres terjadi jika urin keluar dari tubuh dengan gerakan fisik seperti batuk, bersin, tertawa, membungkuk, olahraga, berhubungan seks, atau mengangkat sesuatu yang berat. Inkonintesia stres lebih sering dialami oleh wanita daripada pria.

Jenis inkontinensia ini disebabkan oleh kelemahan otot-otot sfingter urin atau uretra. Ketika suatu kekuatan ditempatkan pada otot-otot di perut, itu dapat menyebabkan tekanan pada kandung kemih dan menyebabkan kebocoran urin.

Inkontinensia stres dapat berkembang sewaktu otot-otot melemah saat melahirkan, dan itu dapat mulai terjadi selama kehamilan. Ini juga dapat terjadi setelah operasi prostat, yang melemahkan otot-otot sfingter.

Bagaimana cara mengatasi ikontinensia stres? Perawatan awal untuk masalah tidak bisa menahan buang air kecil ini adalah dengan melakukan latihan otot-otot dasar panggul. Pelatihan kandung kemih juga dapat membantu Anda mempelajari bagaimana dan kapan harus buang air kecil sesuai jadwal untuk menghindari inkontinensia stres.

Terdapat perangkat khusus untuk mengatasi inkontinensia stres. Seorang pasien dapat memasuukkan dan mengeluarkan perangkat sisipan uretra sesuai kebutuhan. Selain itu dokter juga dapat menanamkan pessary vagina.

Juga ada prosedur operasi untuk membantu menopang otot-otot di uretra dan leher kandung kemih untuk mencegah kebocoran urin.

Ikontinensia Mendesak

Inkontinensia mendesak adalah perasaan ingin buang air kecil secara tiba-tiba yang diikuti dengan hilangnya kendali otot dan keluarnya urin. Beberapa orang yang mengalami inkontinensia mendesak juga perlu lebih sering ke kamar mandi, dan kadang terbangun di malam hari (nokturia).

Penyebab buang air kecil tidak bisa ditahan ini adalah kontraksi abnormal pada kandung kemih. Otot-otot berkontraksi tanpa sadar dan menyebabkan terjadinya buang air kecil.

Ada beberapa faktor risiko inkontinensia mendesak, termasuk operasi perut yang pernah dijalani sebelumnya (seperti operasi ceasar atau operasi prostat), obesitas, kanker kandung kemih atau prostat, infeksi saluran kemih, dan usia yang sudah tua.

Bagaimana cara mengatasi inkontinensia mendesak? Perawatan untuk inkontinensia mendesak dapat dimulai dengan biofeedback, yaitu jenis pelatihan untuk mempelajari bagaimana dan kapan buang air kecil untuk menghindari kebocoran urin. Ada juga latihan Kegel yang melibatkan kontraksi otot-otot tertentu di dasar panggul.

Obat-obatan, terapi stimulasi saraf, dan operasi juga dapat digunakan untuk memperbaiki inkontinensia yang tidak kunjung membaik.

Apabila Anda sering mengalami terbangun di malam hari untuk buang air kecil, ini mungkin merupakan tanda diabetes atau apnea tidur obstruktif, dan Anda harus melakukan pemeriksaan medis untuk kondisi ini.

Ikontinensia Luapan

Inkontinensia luapan terjadi ketika kandung kemih tidak sepenuhnya kosong setelah buang air kecil. Dan Anda mungkin tidak memiliki keinginan untuk buang air kecil (merasa ingin pipis) meski kandung kemih sudah penuh. Itu menyebabkan kelebihan urin yang tersisa di kandung kemih, yang akhirnya menyebabkan luapan urin yang tertahan.

Jenis inkontinensia ini lebih sering dialami oleh pria daripada wanita. Beberapa penyebab inkontinensia luapan antara lain penyumbatan uretra, kerusakan saraf di kandung kemih, melemahnya otot-otot di kandung kemih, dan obat-obatan tertentu.

Bagaimana cara mengatasi inkontinensia luapan? Mengobati inkontinensia luapan dapat dimulai dengan praktik yang disebut “berkemih ganda”, yang berarti dua kali buang air kecil—berselang beberapa menit. Ini dapat membantu mengosongkan kandung kemih sepenuhnya. Tips perawatan lainnya termasuk mengatur waktu asupan cairan yang cermat dan segera buang air kecil ketika merasakan dorongan untuk melakukannya.

Mengobati kondisi terkait yang mendasarinya, misalnya masalah pada prostat, juga mungkin disarankan dokter untuk membantu mengatasi inkontinensia luapan.

Inkontinensia Fungsional

Jenis inkontinensia urin ini dicirikan dengan tidak bisa menahan buang air kecil untuk sampai pada waktunya di kamar mandi. Ini juga dapat terjadi akibat efek samping dari obat-obatan tertentu. Inkontinensia fungsional lebih sering dialami oleh wanita daripada pria.

Dalam beberapa kasus, penyebab buang air kecil tidak bisa ditahan ini adalah masalah pada tulang belakang, saraf, atau kondisi neurologis seperti penyakit Parkinson atau multiple sclerosis.

Pergerakan yang terbatas, seperti karena radang sendi, dapat membuat Anda membutuhkan waktu terlalu lama untuk pergi ke kamar mandi, terutama jika letak kamar mandinya jauh. Mungkin juga terjadi pada penderita cacat intelektual, ketika ia tidak mengenali kebutuhan untuk pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil.

Bagaimana cara mengatasi inkontinensia fungsional? Pelatihan kandung kemih dan menjadwalkan waktu untuk ke kamar mandi dapat membantu mengatasi masalah ini. Bagi orang-orang yang mengalami perubahan mobilitas mungkin pengobatannya melibatkan menyediakan akses yang lebih mudah untuk ke kamar mandi.

Inkontinensia Campuran

Inkontinensia campuran adalah kombinasi antara inkontinensia stres dan inkontinensia mendesak. Perawatan untuk jenis inkontinensia urin ini mungkin melibatkan strategi-strategi yang digunakan untuk mengatasi salah satu atau kedua jenis inkontinensia stres dan inkontinensia mendesak.

Tips-Tips untuk Mengendalikan Inkontinensia Urin

Inkontinensia urin cukup umum menjadi penyebab buang air kecil tidak bisa ditahan. Banyak orang terganggu aktivitasnya karena masalah ini. Beruntung ada banyak perawatan tersedia untuk menangani berbagai jenis inkontinensia. Dalam beberapa kasus, masalah dapat dikendalikan melalui penggunaan tindakan non-invasif seperti latihan dasar panggul atau biofeedback.

Untuk masalah tidak bisa menahan buang air kecil yang menghalangi Anda untuk bekerja atau menghadiri acara sosial, Anda bisa memakai pembalut atau pakaian dalam khusus. Ini dapat menjadi solusi sementara sampai dokter dapat membantu Anda dengan perawatan untuk solusi jangka panjang.

Ilustrasi Cara Mengatasi Inkontinensia Urin
Pembalut untuk Inkontinensia Urin (Credit Photo: Tolikoff Photography/Shutterstock)

Penting untuk berkonsultasi dengan dokter mengenai inkontinensia urin, meskipun itu topik yang tidak nyaman untuk dibicarakan. Sejumlah penyesuaian gaya hidup lain mungkin disarankan oleh dokter untuk membantu mengatasi masalah ini, antara lain:

  • Menghindari minum beberapa jam sebelum tidur, jika masalahnya adalah terbangun untuk buang air kecil.
  • Menghindari minuman beralkohol, kafein, dan makanan pedas jika terjadi iritasi.
  • Latihan dasar panggul seperti senam Kegel untuk memperkuat otot-otot di area itu.
  • Mengurangi atua mengubah dosis atau jadwal minum obat yang mungkin terkait dengan inkontinensia.
  • Menjadwalkan untuk pergi ke kamar mandi setiap beberapa jam.
  • Melatih kandung kemih untuk buang air kecil pada jadwal yang teratur melalui penundaan buang air kecil (seusai pengarahan dokter).

Dokter umum, dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis uroginekologi, dan dokter spesialis urologi adalah beberapa dokter yang dapat membantu mendiagnosis dan mengobati inkontinensia urin.

Memang, mendiskusikan mengenai masalah tidak bisa menahan buang air kecil kepada dokter bisa cukup membuat malu. Namun apabila masalah ini sudah berdampak besar pada aktivitas dan kehidupan Anda, ingatlah bahwa dokter dapat membantu Anda memperoleh perawatan yang tepat untuk mengatasinya. Dengan perawatan itu, Anda kemungkinan dapat kembali leluasa beraktivitas.

Demikianlah artikel ini yang membahas tentang inkontinensia urin, penyebab buang air kecil tidak bisa ditahan. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda dan keluarga. Baca juga artikel-artikel menarik lain seputar kesehatan hanya di Deherba.com.

Sumber

Verywell Health. What Is Incontinence?. https://www.verywellhealth.com/urinary-incontinence-5078106

NIH. Urinary Incontinence in Older Adults. https://www.nia.nih.gov/health/urinary-incontinence-older-adults

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}
>