Apakah Itu Inkontinensia Urin pada Orang Lanjut Usia?


By Fery Irawan

Semakin maju zaman, semakin kompleks juga penyakit yang mengiringinya. Salah satunya ialah inkontinensia urin. Mungkin banyak orang awan yang mengernyitkan dahi ketika mendengar nama penyakit yang satu ini. Secara sederhana, inkontinensia urin ialah ketidakmampuan seseorang dalam menahan air kencingnya sendiri.

Gangguan kesehatan ini lebih banyak terjadi—bisa dua kali lipat—pada wanita yang sudah pernah melahirkan. Perubahan otot pada wanita pasca melahirkan anak menjadi penyebab terjadinya inkontinensia urin ini.

Selain itu, perubahan beberapa organ tubuh pada usia lanjut juga memengaruhi terjadinya penyakit ini. Ada beberapa kategori klinis inkontinensia urin ini. Mari kita perhatikan satu-persatu.

Inkontinensia Urine Stres

Mungkin Anda pernah menjumpai orang yang ketika tertawa atau batuk kemudian diikuti oleh keluarnya air kencing, baik sedikit ataupun banyak. Umumnya, kejadian tersebut disebabkan oleh adanya pelemahan otot pada bagian dasar panggul.

Meskipun bukan penyebab satu-satunya, namun keseringan terjadinya inkontinensia karena adanya pelemahan otot panggul tersebut. Inkontinensia kategori ini biasanya terjadi pada lansia yang sudah berusia 70-an tahun dan seringnya diderita oleh wanita.

Inkontinensia Urine Urgensi

Beberapa problem neurologis yang dikaitkan dengan inkontinensia urin urgensi ini seperti demensia, penyakit Parkinson, stroke, atau cedera medulla spinalis. Yang terjadi pada jenis inkontinensia urin ini ialah pasien mengeluhkan tidak cukupnya waktu untuk sampai ke toilet namun urin sudah keluar terlebih dulu.

Prosesnya sangat cepat antara keinginan berkemih dan proses keluarnya urin sebelum pasien berada di kamar mandi. Tipe ini biasanya terjadi orang yang telah berusia lanjut, di atas 70-an tahun.

Inkontinensia Urine Luapan

Mungkin inkontinensia jenis ini agak jarang terjadi. Tidak terkendalinya urin yang keluar dalam inkontinensia jenis ini dikaitkan dengan terjadinya pembesaran prostat atau multiple sclerosis, yang dapat menyebabkan tidak berkontaksinya kandung kemih pasien.

Faktor obat-obatan juga bisa menyebabkan terjadinya inkontinensia urin luapan ini. Bagaimana kejadiannya? Pasien yang menderita inkontinensia urin luapan ini biasanya hanya mengeluarkan urin sedikit saja tanpa merasakan sensasi ketika kandung kemihnya penuh.

Inkontinensia Urin Fungsional

Untuk jenis ini, kebanyakan terjadi karena demensia berat, faktor lingkungan, dan juga faktor psikologis. Pada pasien yang menderita inkontinensia jenis ini biasanya dibarengi dengan kemunculan berbagai macam gejala dan juga terjadinya gambaran urodinamik yang lebih dari satu jenis inkontinensia urin.

Evaluasi sangat diperlukan untuk mengetahui si pasien positif menderita inkontinensia urin atau tidak. Jika positif, apa yang menjadi penyebabnya perlu diketahui, untuk segera diambil tindakan pengobatan.

Pengobatan inkontinensia ini umumnya menggunakan cara operasi. Namun, jika masih dalam tahap ringan, maka bisa dicoba dengan melakukan terapi konservatif. Penggunaan obat-obatan, stimulasi, dan juga penggunaan alat mekanis ialah cara populer yang bisa dilakukan untuk mengobati inkontinensia urin ini tanpa operasi.

Beberapa terapi yang bisa dilakukan pada penderita inkontinensia urin ini antara lain:

  • Terapi non-farmakologi
    Biasanya hal yang dilakukan dalam terapi ini ialah dengan cara melatih otot panggul untuk menahan kemih dengan teknik distraksi dan relaksasi. Usahakan supaya berkemih terjadi 6-7 kali saja dalam sehari. Para lansia akan dilatih untuk menahan keinginan berkemihnya sendiri yang tadinya tidak terkontrol menjadi terkontrol, dalam waktu-waktu tertentu saja. Mula-mula bisa dilakukan tiap jam, kemudian diperpanjang intervalnya menjadi 2-3 jam.
  • Terapi farmakologi
    Terapi ini tentu saja menggunakan obat-obatan seperti dicylomine, flavoxate, propanteine, dan imipramine.
  • Terapi pembedahan
    Terapi ini biasanya dilakukan pada penderita inkontinensia tipe urgensi dan stres. Dengan catatan, apabila kedua cara terapi di atas sudah dilakukan dan tidak berhasil. Terapi ini dilakukan dengan pembedahan untuk menghilangkan retensi pada urin.

Inkontinensia urin ini memang banyak menyerang para lanjut usia dan kebanyakan wanita. Namun, tidak menutup kemungkinan Anda yang seorang laki-laki dan belum lansia juga bisa menderitanya.

Makanya, perlu cepat tanggap ketika Anda atau orang tua yang terindikasi kuat menderita inkontinensia urin dengan cara segera memeriksakannya ke bagian urologi. Jangnan sampai pasien telah menderita penyakit ini secara akut baru kemudian diperiksakan ke dokter.

Tentang Penulis 

Fery Irawan

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting oleh Fery Irawan seorang editor sekaligus penulis yang antusias dan sadar untuk memberikan informasi kesehatan yang tidak berat sebelah. Aktif menulis beragam artikel kesehatan selama beberapa tahun terakhir. Ia selalu berupaya menyampaikan informasi yang aktual dan terpercaya, sesuai dengan ketentuan dan prinsip jurnalistik yang ada.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}