Granulomatosis Wegener Pada Pembuluh Darah

170
Granulomatosis Wegener
Sumber Gambar - Shutterstock

Diedit:

Pernahkah Anda mendengar tentang keberadaan penyakit Granulomatosis Wegener? Penyakit ini jarang terjadi di Indonesia, namun gangguan kesehatan ini bisa saja menimpa setiap orang. Seperti apakah kondisi penyakit ini? Adakah pengobatan yang tepat untuk penderitanya? Seberapa berbahaya pengaruh dari penyakit ini?

Dalam artikel ini, Anda akan melihat informasi penting mengenai gejala Granulomatosis Wegener. Selain itu Anda juga akan melihat bagaimana pemeriksaan dan tindakan medis dilakukan. Simak selengkapnya dalam artikel berikut!

Granulomatosis Wegener

Granulomatosis wegener, pernah mendengar nama penyakit unik ini? Meski kasusnya jarang terjadi di Indonesia, tidak ada salahnya jika Anda menilik sejenak seperti apa gejala dan dan dampak penyakit ini. Pertama, mari kita mulai dengan mengetahui apa itu granulomatosis wegener.

Granulomatosis wegener adalah kondisi dimana terjadi peradangan pada pembuluh darah di seluruh tubuh (vaskulitis generalisata) yang disebabkan oleh reaksi autoimun pada tubuh Anda. Akibatnya, aliran darah menuju organ-organ vital dalam tubuh menjadi terhambat dan menyebabkan berbagai komplikasi serius.

Gejala Granulomatosis Wegener

Pada tahap awal, penyakit ini lebih sering memengaruhi saluran pernafasan Anda, terutama pada bagian sinus, tenggorokan, dan paru-paru. Jika pengobatan tidak segera dilakukan, organ-organ vital lain seperti jantung dan ginjal, dapat terkena dampaknya. Tanda dan gejala ketika kondisi semakin memburuk, antara lain meliputi:

  • Pilek terus-menerus.
  • Mimisan.
  • Sinusitis.
  • Batuk darah (hemoptisis).
  • Infeksi telinga.
  • Nyeri dada.
  • Sesak nafas.
  • Penurunan berat badan.
  • Nyeri sendi.
  • Darah dalam urin (hematuria).
  • Demam.
  • Luka pada kulit.

Segera kunjungi dokter jika beberapa tanda dan gejala di atas terjadi pada diri Anda. Diagnosa dini sangat penting dalam pengobatan granulomatosis wegener yang efektif.

Pemeriksaan Granulomatosis Wegener

Selain menanyakan tanda-tanda dan gejala yang Anda alami, melakukan pemeriksaan fisik, dan menanyakan riwayat medis Anda, beberapa tes berikut, bisa jadi dilakukan untuk menegakkan diagnosis.

  • Tes ANCA (Anti Neutrophyl Cytoplasmic Antibodi) — Pada sejumlah penyakit akibat autoimun, termasuk granulomatosis wegener, autoantibodi ini dapat ditemukan dalam tes darah yang dilakukan.
  • Tes sedimentasi eritrosit — Tes sedimentasi eritrosit adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan melihat kecepatan laju pengendapan sel darah merah dalam tabung darah selama 1 jam. Umumnya, sel darah merah lebih cepat mengendap dalam tabung darah ketika terjadi peradangan dalam tubuh.
  • Biopsi — Biopsi dapat dilakukan pada jaringan organ yang diduga kuat terkena dampak granulomatosis wegener. Umumnya, dokter dapat menemukan granuloma pada jaringan penderita granulomatosis wegener dengan pemeriksaan sampel jaringan di bawah mikroskop.
  • Tes penunjang untuk melihat komplikasi — Rontgen dada dan tes urin dapat dilakukan untuk melihat sejauh mana granulomatosis memengaruhi paru-paru dan ginjal.

Semakin dini diagnosa ditegakkan dan semakin cepat pengobatan dilakukan, potensi kesembuhan akan semakin besar. Sebaliknya, penundaan pengobatan bisa berakibat fatal, diantara komplikasi fatal yang umumnya terjadi, antara lain berupa gagal ginjal dan serangan jantung.

Pengobatan Granulomatosis Wegener

Untuk mengatasi granulomatosis wegener, dokter biasanya meresepkan obat-obatan untuk menekan reaksi imun tubuh yang mengalami kelainan, diantaranya obat-obatan golongan kortikosteroid, siklofosfamid (Cytoxan), azathioprine (Azasan, Imuran) atau metotreksat (Rheumatrex, Trexall).

Selain itu, Rituximab juga dapat digunakan untuk mengurangi jumlah sel B dalam tubuh Anda yang terlibat dalam proses peradangan yang terjadi. Biasanya, Rituximab digunakan untuk mengobati granulomatosis wegener yang parah dan terjadi berulang.

Namun, potensi efek samping yang besar bisa terjadi akibat penggunaan obat-obatan imunosupresan tersebut, dimana kekuatan imun tubuh Anda akan berkurang dalam menangkal resiko infeksi.

Karena itu, dokter boleh jadi akan menambahkan obat-obatan pelengkap untuk menekan efek samping obat-obatan imunosupresan, diantaranya meliputi Sulfametoksazol-Trimethoprim (Bactrim, Septra) untuk mencegah infeksi paru-paru, bifosfonat (Fosamax) untuk mencegah keropos tulang (osteoporosis) akibat penggunaan prednisone (kortikosteroid), dan asam folat guna mencegah luka dan gejala lainnya yang berhubungan dengan menipisnya folat dalam tubuh Anda akibat penggunaan metotreksat.

Tindakan Medis

Pada kasus dimana pengobatan dengan obat-obatan tersebut dinilai tidak efektif, dokter bisa jadi memberikan obat-obatan eksperimental (masih dalam tahap penyelidikan) seperti mycophenolate mofetil (Cellcept), infliximab (Remicade), imunoglobulin intravena, deoxyspergualin, dan globulin antithymocyte.

Tindakan pembedahan, bahkan transplantasi organ mungkin dibutuhkan ketika sudah terjadi komplikasi serius pada organ-organ vital Anda. Meski granulomatosis dapat kambuh, pengobatan yang dilakukan dengan cepat dan tepat, setidaknya mengurangi resiko komplikasi yang dapat berujung pada kematian.

Patut diketahui, bahwa prognosis penderita granulomatosis wegener yang tidak melakukan pengobatan sangat buruk dan rata-rata penderitanya akan meninggal dalam kurun waktu 5 bulan sejak diagnosa dilakukan.

Baca juga:  Wegener: Penyakit Baru yang Mirip Flu Biasa, tapi Berbahaya!