Cacing Hati pada Hewan Qurban, Berbahayakah?


By Cindy Wijaya

Muncul satu pemberitaan mengenai hewan qurban yang belakangan meresahkan masyarakat. Pemberitaa itu mengenai ditemukannya banyak kasus cacing hati pada hewan qurban yang telah dipotong saat hari kurban.

Bahkan dikatakan setidaknya ditemukan ratusan kasus cacing hati pada sapi qurban di kawasan Jogjakarta, Bekasi sampai di beberapa kota lain di Sumatera, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ini memunculkan kekhawatiran seiring dengan munculnya banyak rumor seputar bahaya cacing hati pada hewan qurban.

Seberapa bahayakah mengkonsumsi daging sapi dari hewan yang hatinya sudah terkontaminasi cacing hati sapi? Adakah cara mengenali ciri-ciri keberadaan cacing hati pada hewan qurban? Adakah pula cara untuk mengatasi keberadaan cacing hati tersebut dan mencegahnya mengkontaminasi manusia?

Berbahayakah Cacing Hati pada Hewan Qurban?

Cacing hati pada dasarnya adalah sejenis cacing pipih yang hidup dan berhabitat di dalam sistem hati dan empedu hewan mamah biak herbivora, termasuk sapi, kambing, unta bahkan kerbau. Cacing hati sendiri terbagi dalam dua jenis yakni cacing hati khas Asia (Fasciola gigantica) dan khas Eropa (Fasciola hepatica). Dikatakan cacing hati khas Eropa bersifat lebih ganas dari khas Asia.

Cacing hati ini masuk ke dalam sapi melalui makanan yang mereka makan, yakni dedaunan yang hidup dari area berair . Biasanya di area berair ini muncul banyak larva cacing hati yang juga dikenal dengan nama serkaria. Larva yang tertelan sapi ketika mereka memakan dedaunan inilah yang kemudian menginfeksi hati sapi.

Keberadaan cacing hati pada sapi bisa menyebabkan sapi mengalami beberapa penurunan kondisi kesehatan, seperti penurunan berat badan, masalah pencernaan seperti diare dan kerapnya sapi mengalami muntah dan kembung. Sapi sendiri kehilangan selera makan dan mengalami keluhan fisik seperti tampak layu dan kuyu. Kadang sapi terlihat bermata cekung dan telinga yang turun terkulai.

Namun bagaimana pengaruh keberadaan cacing hati pada hewan qurban? Berdasar riset yang dikembangkan oleh lembaga LIPI yang dilansir langsung dari website resminya, dikatakan cacing hati sapi memang termasuk salah satu jenis cacing berbahaya yang bisa merusak sel hati dengan cepat. Cacing hati sendiri termasuk jenis cacing yang sangat agresif dalam menyerap sari-sari makanan dalam tubuh, sekaligus merusak sel-sel dalam hati dengan cepat sehinga memicu kerusakan hati yang kronis.

Namun, keberadaan cacing hati sapi tidak lantas dengan semudah itu menulari tubuh manusia begitu saja. Karena sebenarnya cacing ini hanya hidup dalam kawasan hati sapi. Kalaupun ada persebaran hanya berkisar pada area pencernaan.

Sedang daging dari sapi sendiri sampai sejauh ini dikatakan aman untuk dikonsumsi. Karena tidak ditemukannya persebaran cacing, telur atau larva dalam daging sapi sekalipun dinyatakan hati sapi positif mengidap cacing hati. Sejauh ini belum ada data resmi yang bisa menjadi acuan adanya serangan cacing hati sapi pada manusia dan sejauh mana prosentasi penularannya. Namun beberapa pakar meyakini kecil kemungkinan adanya penularan cacing hati sapi selama perlakuan dan konsumsi daging sapi terawasi dengan baik.

Bagaimana Menghilangkan Cacing Hati Dalam Hewan Qurban?

Masih menurut informasi yang dirilis dari LIPI.go.id, keberadaan cacing hati termasuk mudah untuk ditanggulangi. Cacing hati sapi mudah dimatikan dengan proses pemanasan. Suhu di atas 70 derajat C sudah cukup mampu membunuh cacing yang ada. Sedang suhu di atas 100 derajat C bisa memecah selubung larva dan telur cacing yang ada.

Namun kebanyakan pakar menyarankan untuk tidak mengkonsumsi hati sapi dan semua jeroan dari sapi yang sudah positif terkontaminasi cacing hati. Sebagaimana dijelaskan bahwa pada temuan cacing hati pada hewan qurban, keberadaan cacing hati sendiri hanya ditemukan pada area organ tersebut.

Tentang Penulis 

Cindy Wijaya

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting oleh Cindy Wijaya seorang editor dan penulis beragam artikel kesehatan. Ia senang meriset dan berbagi topik-topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Tinggal di “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}