Apa itu Intoleransi Laktosa?

505
flickr.com

Diedit:

Jika perut terasa mual, kram atau kembung sehabis minum susu, bisa jadi Anda menderita intoleransi laktosa. Jangan khawatir, Anda tidak sendirian. Menurut sebuah penelitian, diperkirakan 70 persen populasi dunia menghadapi masalah yang berkaitan dengan laktosa. Jadi, apa sebenarnya intoleransi laktosa itu?

Intoleransi Laktosa adalah ketidakmampuan tubuh untuk mencerna laktosa sepenuhnya. Laktosa adalah zat gula alami pada susu dan produk susu lainnya. Walaupun menimbulkan perasaan tidak nyaman, kondisi ini biasanya tidak berbahaya.

Sebagian besar penderita intoleransi laktosa masih bisa menikmati beberapa produk susu. Tapi, mereka harus memilihnya dengan hati-hati dan dalam jumlah yang terbatas.

Apa penyebab intoleransi laktosa? Biasanya ini terjadi karena kurangnya laktase (enzim yang memecah laktosa selama proses pencernaan) dalam tubuh.

Normalnya enzim laktase bekerja dengan cara mengikatkan diri ke molekul-molekul laktosa yang ada pada produk susu. Kemudian, enzim ini menghancurkan molekul laktosa ke dalam dua bentuk yang lebih sederhana (glukosa dan galaktosa) yang bisa diserap tubuh melalui aliran darah.

Jika kekurangan enzim laktase, maka sebagian besar laktosa akan masuk ke usus besar tanpa melalui proses penghancuran molekul laktosa. Inilah yang jadi penyebab perut kembung, mual, atau diare.

3 Jenis Intoleransi Laktosa

  • Intoleransi laktosa primer. Normalnya, tubuh memproduksi laktase dalam jumlah besar ketika lahir. Namun seraya anak bertambah besar, produksi laktase pun semakin berkurang dan menyebabkan tubuh mengalami ketidakmampuan dalam mencerna susu.
  • Intoleransi laktosa sekunder. Terjadi karena suatu penyakit (celiac, gastroenteristis, dan radang usus) atau cedera yang mengakibatkan berkurangnya produksi laktase.
  • Intoleransi laktosa bawaan. Walau jarang, ada kemungkinan bayi dilahirkan dengan kelainan ini dan membuatnya tidak dapat menerima laktosa pada produk susu termasuk ASI.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi intoleransi laktosa. Beberapa di antaranya adalah:

Baca juga:  Tetap Menikmati Susu Meski Punya Intoleransi Laktosa: Mungkinkah?

Usia—seiring bertambahnya usia kadar enzim laktase semakin berkurang, sehingga intoleransi laktosa semakin riskan terjadi.

Ras atau etnis—intoleransi laktosa lebih sering diderita oleh orang Asia, Hispanik, serta orang asli Amerika (suku Indian).

Kelahiran prematur—bayi yang lahir prematur memiliki kadar produksi laktase yang lebih rendah.

Sebelum Anda mencari pengobatan, ada baiknya memastikan apakah Anda benar-benar menderita intoleransi laktosa.

Langkah awal adalah mengenali gejalanya. Tanda atau gejala intoleransi laktosa seringkali terjadi 30 menit sampai 2 jam sehabis makan atau minum produk susu. Gejala dapat berupa diare, mual, kram perut, dan kembung.

Ada baiknya untuk berkonsultasi kepada dokter, dengan begitu Anda bisa menguji batas toleransi laktosa melalui tes toleransi laktosa, tes pernapasan hidrogen (hydrogen breath test) atau tes keasaman kotoran (stool acidity test).

3 Tes Intoleransi Laktosa

  • Anda diwajibkan berpuasa sebelum melakukan tes toleransi laktosa. Setelah itu, pasien akan diberi minum cairan yang mengandung laktosa. Sampel darah diambil untuk menentukan seberapa baik laktosa dicerna.
  • Begitu juga dengan tes pernapasan hidrogen, Anda diharuskan untuk meminum cairan yang mengandung laktosa. Lalu, dokter akan mengukur jumlah hidrogen yang terdapat dalam pernapasan. Jika jumlah hidrogen melebihi batas normal, maka Anda mengidap intoleransi laktosa.
  • Sedangkan tes keasaman kotoran biasanya dilakukankan pada bayi atau anak-anak. Jika anak mengidap intoleransi laktosa, maka asam laktat dan asam lainnya akan terdeteksi pada sampel kotoran (tinja).
Advertisement
Alinesia