Adakah Efek Samping Chitosan Yang Harus Anda Hindari?

1348

Diedit:

Chitosan, sejenis serat tak larut yang berasal dari senyawa chitin, komponen dari kulit keras dari jenis hewan krustasea seperti udang, kerang, kepiting, dan lobster. Belakangan ini dunia kesehatan dimasuki tren suplemen chitosan yang diklaim punya beragam manfaat.

Dikatakan bahwa serat ini memiliki sederet manfaat kesehatan termasuk sebagai senyawa anti-inflamasi, antibiotik, dan anti-bakteri. Kemampuannya cukup kuat dan sudah diakui oleh sejumlah pakar di dunia, bahkan telah digunakan dalam pengobatan modern.

Juga memiliki kemampuan melancarkan pencernaan, mengatasi peradangan pada pencernaan, mengatasi masalah kolesterol, diabetes, sampai tekanan darah tinggi. Kemampuan anti-toksinnya juga telah ditelaah dalam sejumlah literatur. Sebagaimana juga sudah kami ulas dalam artikel khusus mengenai manfaat chitosan.

Tapi ternyata ada beberapa catatan penting berkaitan dengan konsumsi chitosan. Beberapa orang mengalami reaksi negatif pasca mengonsumsi chitosan, baik itu dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Beberapa catatan mengenai risiko chitosan tersebut antara lain:

Bereaksi Negatif pada Penderita Alergi Seafood

Karena sebagian besar sumbernya berasal dari seafood, maka dalam chitosan juga ditemukan komponen asam amino yang sama dengan yang Anda temukan dalam daging makanan seafood. Dan karenanya dapat memberikan reaksi yang sama pada mereka yang alergi seafood.

Dalam situs LIVESTRONG.com, dijelaskan bagaimana reaksi alergi pada umumnya akan muncul. Reaksi yang paling lazim adalah terbentuknya pembengkakan dan gatal pada permukaan kulit, wajah, bibir, lidah, serta kerongkongan. Kadang juga disertai sesak napas, khususnya sewaktu saluran tenggorokan menyempit akibat adanya pembengkakan.

The Memorial Sloan-Kettering Cancer Center juga menyarankan Anda yang tidak memiliki masalah alergi seafood, tetapi memiliki kecenderungannya seperti genetik alergi, sebaiknya mengonsumsi dengan hati-hati untuk mencegah efek samping chitosan. Perhatikan setelah 2 – 3 hari bilamana Anda menampakkan gejala alergi.

Masalah Pencernaan

Beberapa orang memang memiliki kecenderungan untuk lebih sensitif terhadap serat tidak larut. Karena jenis serat ini tidak diserap tubuh sehingga kadang mendorong kinerja sistem pencernaan. Hal ini memicu produksi asam lambung yang lebih tinggi dan mendorong pelepasan enzim lebih banyak.

Menurut The Memorial Sloan-Kettering Cancer Center, beberapa pengguna chitosan menunjukkan gejala seperti sembelit, mual, kembung, muntah, kehilangan selera makan, dan kram perut. Itu sebabnya pada awal konsumsi sebaiknya dosisnya sedikit saja agar memberikan waktu bagi tubuh untuk beradaptasi.

Solusi lain adalah dengan menambahkan asupan buah-buahan sumber serat larut untuk menetralisir risiko chitosan. Pilih jenis buah dengan kadar serat larut yang cukup tinggi seperti buah Noni. Karena untuk dapat menjaga fungsi pencernaan berjalan baik, Anda membutuhkan keseimbangan serat larut dan tidak larut.

Hanya mengonsumsi salah satunya justru akan menyebabkan sejumlah efek samping. Bahkan bila Anda hanya mengonsumsi buah-buahan tanpa serat tidak larut, Anda bisa mengalami diare dan malnutrisi. Ini karena air yang masuk ke usus membuat sari-sari makanan yang lebih habis diserap tubuh malah terdorong masuk ke dalam usus besar serta diolah menjadi feses.

Menyebabkan Masalah Malnutrisi

Mengonsumsi chitosan dosis tinggi dikhawatirkan akan mengganggu kemampuan tubuh menyerap sejumlah nutrisi, seperti vitamin A, D, E, dan K. Ini karena tubuh membutuhkan perantara lemak agar dapat menyerap jenis vitamin itu. Dan karena lemak dalam pencernaan tersingkirkan oleh chitosan, maka penyerapan ke empat vitamin ini tidak dapat berjalan optimal.

Padahal, vitamin A, D, E, dan K memiliki peran sangat penting bagi tubuh. Tubuh membutuhkannya untuk menjaga kesehatan tulang, mata, proses regenerasi sel, daya tahan tubuh, pembekuan darah sampai yang lebih kompleks, seperti menjaga kesehatan sirkulasi darah, menjaga kesehatan otot dan jaringan, bahkan mencegah kanker.

Memicu Reaksi Pusing

Para pakar belum dalam memahami dengan pasti bagaimana keluhan ini terjadi. Pada beberapa orang yang sensitif, chitosan dapat menyebabkan pusing hingga migrain. Ditengarai adanya efek samping chitosan terhadap kinerja saraf.

Dalam jurnal yang dipublikasikan pada International Review of Neurobiology tahun 2013 ‘The use of chitosan-based scaffolds to enhance regeneration in the nervous system’, memang menunjukkan adanya pengaruh chitosan terhadap fungsi saraf.

Dalam batas tertentu, chitosan bisa membantu kinerja fungsi saraf dan mendorong proses regenerasi dari sel sistem saraf. Namun pada kondisi lain, pasien justru bisa mengalami masalah dengan fungsi sarafnya yang kerap kali ditandai dengan rasa sakit kepala.

Mengencerkan Darah

Pada kasus tekanan darah tinggi yang disebabkan oleh kolesterol dan masalah pengentalan darah, peran chitosan dalam mengencerkan darah memang sangat baik membantu mengatasi hipertensi.

Tapi akan berbeda bila pasien sebelumnya sudah mengonsumsi beberapa jenis obat yang bekerja sebagai “bloodthinner” atau pengencer darah. Efek chitosan akan membuat obat bekerja ganda, dan malah bisa membahayakan pasien. Hal ini dijelaskan dalam laman WebMD.com.

Pasien akan lebih mudah mengalami pendarahan di dalam tubuh. Selain itu jika ia terbentur, bisa saja pasien mengalami pendarahan yang lebih parah. Hal ini juga akan terjadi pada saat pasien mengalami luka terbuka.

WebMD dalam peringatannya juga tidak menyarankan untuk memberikan chitosan bagi ibu hamil atau sedang menyusui. Efek anti-toksinnya kadang menjadi cukup kuat dan dikhawatirkan bisa mengganggu kesehatan janin serta merusak komposisi ASI. Risiko chitosan juga dapat mengganggu kesehatan bayi, bahkan disarankan tidak dikonsumsi oleh anak di bawah usia 12 tahun.

Masih menurut situs WebMD, dijelaskan bahwa dosis aman yang disarankan untuk menghindari efek samping chitosan yakni pada kisaran 1.35 gram 3 kali sehari. Sebaiknya awali dengan dosis lebih rendah, lalu sesuaikan secara bertahap untuk memberi kesempatan tubuh beradaptasi terhadap chitosan.