Share:

Belakangan Indonesia dikejutkan oleh pemberitaan mengenai mewabahnya penyakit difteri di beberapa daerah. Ini termasuk kejadian luar biasa mengingat Indonesia sudah dinyatakan bersih dari penyakit ini sejak puluhan tahun lalu.

Apa yang sebenarnya terjadi sehingga Indonesia kembali mengalami wabah difteri? Apa pula sebenarnya penyakit difteri itu? Sejauh mana bahayanya bagi penderitanya? Dan bagaimana itu bisa menular? Beberapa informasi berikut ini akan membantu Anda lebih waspada terhadap penyakit tersebut.

Mengenali Penyakit Difteri

Menurut healthline, difteri adalah penyakit peradangan yang serius pada tenggorokan yang disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheria. Akibat infeksi ini terbentuk lapisan putih kelabu pucat pada area pernapasan, termasuk di pangkal mulut, tenggorokan, bahkan sampai rongga hidung dan laring.

Lapisan ini sebenarnya merupakan reaksi toksin (racun) yang dilepaskan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria. Lapisan ini membuat area yang tertutupi olehnya terasa perih, kaku, dan tersumbat.

Benarkah Penyakit Difteri Mematikan?

Penyakit difteri termasuk penyakit serius yang bisa mematikan. Ada beberapa kondisi yang cukup serius dapat terjadi bila penyakit ini tidak ditangani dengan cepat. Masa inkubasi yang singkat dan penyebaran penyakit yang relatif cepat membuatnya berisiko tinggi.

Pada minggu ke-1 hingga ke-2 setelah inkubasi, penderita dapat mengalami gangguan pada jaringan jantungnya, bahkan dapat menyebabkan gagal jantung. Bersamaan dengan itu, penderita akan mengalami masalah serius dalam pembekuan darah akibat kadar trombositnya yang rendah.

Pada minggu ke-2 hingga ke-3, penderita mulai mengalami neuritis dimana sejumlah saraf penting dalam tubuhnya mengalami kerusakan. Penderita akan kehilangan kemampuan indera, kemampuan motorik, sistem refleks, dan fungsi saraf dasarnya, termasuk kemampuan bernapas dan berkedip.

Kondisi-kondisi komplikasi seperti itu menyebabkan penderitanya yang terlambat ditangani akan mengalami masalah serius dan sudah sulit untuk ditangani.

Sayangnya, banyak orang tak mengerti bagaimana gejala-gejala difteri, sehingga menganggapnya sebagai keluhan flu dan radang tenggorokan biasa. Inilah yang mengakibatkan tingginya angka kematian akibati penyakit difteri.

Lapisan ini juga mendorong terbentuknya mukus atau lendir kental yang mengganggu pernapasan. Pasien biasanya mengeluhkan tersumbat pada hidung dan rasa sesak untuk bernapas.

Baca juga  Penyebab dan Tanda Penyakit Difteri pada Anak yang Perlu Diketahui

Selain membentuk lapisan pada dinding tenggorokan, toksin ini juga memicu kerusakan pada sel-sel dengan menghambat proses penyampaian protein menuju sel-sel, juga memiliki efek merusak pada jaringan jantung, pembuluh darah, saraf, dan komposisi darah.

Menurut MedicalNewsToday, pada tahap tertentu toksin ini dapat memicu terjadinya miokarditis (peradangan jaringan jantung), neuritis (peradangan sistem saraf), trombositopenia (kadar trombosit rendah), dan proteinuria (kadar protein tinggi pada urin).

Gejala-Gejala Difteri


Seperti pada kebanyakan kasus radang tenggorokan ringan yang biasa Anda alami, tanda-tanda difteri awalnya cenderung serupa dengan gejala flu ringan biasa. Penderita akan mengalami sejumlah gejalanya seperti:

Gejala Difteri Awal

  • Demam dengan rasa dingin dan meriang
  • Rasa perih pada tenggorokan
  • Bengkak pada kelenjar di leher
  • Batuk yang terdengar dalam
  • Pilek dengan hidung tersumbat
  • Denyut jantung tinggi
  • Lidah terlihat putih keabuan
  • Kulit tampak pucat
  • Tampak bercak biru pada beberapa titik
  • Bibir terlihat merah
  • Tubuh terasa pegal linu

Gejala Difteri Lanjutan

  • Lidah tampak dilapisi selaput putih tipis
  • Lidah terasa kasar dan berkurang kepekaan indera perasanya
  • Lapisan putih kelabu di area batang tenggorokan
  • Kesulitan untuk menelan dan bicara
  • Leher terlihat kaku dan tegang
  • Leher tampak besar dan bengkak
  • Mulut mudah berdarah dan hidung mudah mimisan

Pada tahap akhir, kadang lapisan putih kelabu pucat yang terbentuk tampak meluas dan menggumpal. Warna dari lapisan itu kadang tak lagi hanya putih, tetapi kehijauan atau bahkan hitam, karena sudah ada perdarahan di sisi dalam lapisan.

Penyebab Difteri


Penyebab difteri adalah bakteri ganas yang menyerang melalui penularan. Penularan bakteri tergolong mudah, hanya melalui perantaraan udara. Anda akan menjadi lebih rentan tertular ketika berada di kawasan dengan lingkungan yang sedang banyak kasus penyakit tersebut.

Karena menurut MedicalNewsToday, udara yang terkontaminasi oleh hembusan atau tetesan cairan dari seorang penderita penyakit ini akan berisiko menularkan penyakit ini. Berinteraksi dengan mereka yang sudah terinfeksi bakteri penyebab difteri, termasuk bersentuhan dengan tempat tidur, pakaian, handuk, dan bekas duduk pasien juga berisiko tertular penyakit ini.

Ada anggapan bahwa penderita difteri yang meninggal bahkan tidak boleh dimandikan oleh keluarga, karena dikhawatirkan dapat menularkan penyakit pada lingkungan sekitarnya.

Baca juga  Penyebab dan Tanda Penyakit Difteri pada Anak yang Perlu Diketahui

Penularan Difteri


Pada dasarnya bakteri Corynebacterium diphtheria bukan hanya bisa menginfeksi area tenggorokan. Infeksi penyakit ini juga dapat terjadi pada permukaan kulit yang gejalanya lebih tampak seperti bisul disertai pembentukan selaput kelabu di sekitarnya.

Bisul di kulit ini lebih mudah ditangani dibandingkan dengan difteri pada tenggorokan. Tetapi Anda perlu waspada, sebab penyakit ini juga bisa menyerang membran mukosa lain, termasuk di area mata dan area genital. Dan bila kedua area tersebut terserang penyakit ini, dampaknyanya bisa cukup membahayakan.

Masa inkubasi* dari bakteri ini terbilang singkat daripada jenis penyakit pernapasan lain. Hanya butuh waktu 5 hari sampai penderita merasakan gejala-gejala. Dan dalam 12 – 24 jam, kondisi penderita akan memburuk, ditandai dengan kesulitan bernapas, kesulitan bicara, kesulitan menelan, batuk yang dalam menggonggong, dan rasa nyeri yang sangat mengganggu.

*) Inkubasi adalah periode waktu dari saat bakteri penyebab difteri masuk ke dalam tubuh (saat penularan) sampai ke saat timbulnya gejala-gejala difteri.

Pengobatan Difteri


Tetapi untuk memastikan, dokter akan mengambil sampel jaringan dari selaput itu untuk pemeriksaan lebih lanjut. Setelah pasien terbukti mengidap penyakit ini, sejumlah pengobatan secara medis akan diterapkan, seperti berikut ini:

  • Pengobatan Antibiotik

    Pengobatan ini merupakan terapi standar yang diberikan pada pasien yang terinfeksi bakteri. Untuk kasus difteri, pasien akan mendapatkan pengobatan antibiotik dengan obat erythromycin atau penicillin. Kedua jenis antibiotik ini efektif membasmi bakteri serta mencegah penyebaran bakteri.

  • Pengobatan Antitoksin

    Pengobatan ini adalah terapi khusus yang diberikan untuk mengatasi efek toksin (racun) dari bakteri Corynebacterium diphtheria. Terapi ini bekerja menetralisir toksin yang dihasilkan bakteri serta mencegahnya merusak sel-sel sehat yang terinfeksi. Juga bekerja mencegah serta mengatasi penyebaran selaput putih akibat reaksi toksin.

Penyakit difteri biasanya mudah sekali dikenali karena kemunculan gejala khas berupa selaput yang terbentuk di batang tenggorokan. Secara kasat mata, selaput ini akan terlihat dalam pemeriksaan oleh dokter.

Pencegahan Difteri


Sejak tahun 1920, vaksin untuk penyakit difteri sudah ditemukan, dengan mengidentifikasi jenis toksin yang muncul lalu menghadirkan sistem imun alami dengan cara menyuntikkan toksin yang sudah dijinakkan ke dalam tubuh manusia sehat.

Dan hingga kini vaksin sejenis masih dimanfaatkan untuk membantu mencegah infeksi penyakit tersebut. Sebenarnya sekarang penyakit ini sudah relatif jarang terjadi.

Belakangan penyakit ini mulai mewabah kembali akibat orang-orang yang tidak tertib menjalankan vaksin sebagaimana sudah diatur oleh pemerintah. Menurut Depkes, penyakit ini sudah termasuk dalam jenis penyakit wajib vaksin bagi bayi, balita, dan anak-anak.

Vaksin diberikan pada saat bayi berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, dan 18 bulan. Kemudian vaksin disempurnakan ketika anak masuk usia kanak-kanak, tepatnya saat anak kelas 1 SD, 2 SD, dan kelas 5 SD. Setelahnya Anda dapat mengambil vaksin booster untuk setiap 10 tahun sekali bila dirasa perlu.

Selain itu, mengupayakan gaya hidup sehat disertai lingkungan yang bersih dan sehat menjadi bagian penting yang berperan dalam pencegahan difteri, sebab penyakit ini mudah menjangkiti orang-orang yang tinggal di kawasan yang tidak bersih.