Tanaman Obat Brotowali


By Cindy Wijaya

Tanaman obat Brotowali (Tinospora crispa) merupakan herbal asli Indonesia yang sudah sejak jaman nenek moyang kita dipercayai khasiatnya bagi kesehatan. Bagian yang paling sering digunakan dari tanaman ini ialah batangnya. Batang brotowali biasa direbus atau bisa juga dijadikan obat oles. Rasa rebusannya sangat pahit mirip rasa rebusan sirih sehingga banyak yang enggan mengonsumsinya.

Meskipun rasanya mungkin sangat tidak enak, namun dibalik itu terdapat khasiat herbal untuk membantu mengurangi nyeri rematik, menurunkan kadar glukosa darah, meredakan demam, dan bahkan bisa untuk mengobati malaria. Secara turun-temurun, batang brotowali juga biasa dimanfaatkan secara tradisional untuk mengobati penyakit kulit kudis.

Di Indonesia tanaman ini memiliki beragam nama sebutan di samping brotowali. Di beberapa daerah misalnya disebut dengan nama andawali, antawali, akar aliali, daun gadel, dan putrawali. Brotowali termasuk jenis tanaman perdu yang memanjat. Tinggi batang brotowali bisa mencapai 2.5 m dan berukuran sebesar jari kelingking dengan bintil-bintil di permukaannya. Tanaman brotowali dapat hidup dengan baik di tempat panas.

Daun brotowali termasuk daun tunggal yang bertangkai dan bentuknya menyerupai hati dengan ujung lancip. Panjang daun kira-kira 7 sampai 12 cm dan lebarnya 5 sampai 10 cm. Bunga brotowali ukurannya kecil dan memiliki warna hijau muda. Tanaman ini biasa dikembangbiakkan dengan cara stek.

Senyawa Aktif Tanaman Obat Brotowali

Batang brotowali mengandung senyawa barberin, pikroretin, tinokrisposid, tanin, saponin, palmatin, kolumbin, pati, dan kaempferol. Senyawa lain yang dimiliki brotowali yaitu tinosporine, N-trans-feruloyl tyramine, N-cis-feruloyl tyramine, tinobuberide borapetoside A, borapetol A ceryl, berasitosterol, fitosterol, dan stigmasterol. Daun brotowali mengandung sejenis alkaloid serta sejenis zat yang disebut boorsma. Sedangkan pada bagian akarnya banyak terdapat senyawa berberin dan kolumbin.

Manfaat Tanaman Obat Brotowali

Brotowali sudah sejak lama digunakan dalam pengobatan tradisional, baik untuk penyakit dalam maupun penyakit luar. Kulit batang brotowali mengandung alkaloid berberina yang bermanfaat untuk membunuh bakteri pada luka terbuka. Karenanya air rebusan batang brotowali dapat digunakan untuk mencuci dan membersihkan luka.

Zat pahit pikroretin yang dimiliki brotowali sanggup menstimulasi kerja saraf agar organ pernapasan bisa bekerja dengan baik dan juga berfungsi untuk menurunkan panas demam. Mengenai khasiat brotowali sebagai antidiabetes, sudah dilakukan penelitian menggunakan mencit. Senyawa aktif dalam brotowali diperlihatkan mampu merangsang produksi insulin melalui sel beta Ca2+ pankreas.

Di wilayah Indo-Cina, seluruh bagian tumbuhan brotowali digunakan sebagai obat penurun demam. Di Filipina, brotowali dianggap sebagai obat mujarab yang khasiatnya mirip tanaman kina, yang biasa digunakan untuk pengobatan malaria. Di Bali, batang tanaman obat brotowali digunakan untuk mengobati sakit perut, sakit kuning, demam, dan sebagai obat oles untuk meringankan sakit pinggang dan sakit punggung. Dan di Jawa, air rebusan batang brotowali kerap dimanfaatkan untuk mengobati luka, gatal-gatal, serta menurunkan demam.

Tentang Penulis 

Cindy Wijaya

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting oleh Cindy Wijaya seorang editor dan penulis beragam artikel kesehatan. Ia senang meriset dan berbagi topik-topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Tinggal di “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}