Bagikan Artikel Ini:

Terakhir Diedit:

Selama ini cuka apel sudah lama dikenal sebagai salah satu herbal yang bermanfaat untuk kesehatan. Bahkan secara medis, sejumlah fakta juga membuktikan manfaat dari cuka apel.

Meski demikian, sejumlah temuan juga membuktikan bahwa cuka apel tak seaman yang salam ini dipercaya orang. Ada sejumlah efek samping cuka apel yang perlu diwaspadai.

Apa Sebenarnya Cuka Apel?

Tentu saja cuka apel adalah cairan sari apel yang telah difermentasi. Proses fermentasi ini menyebabkan gula dalam cairan apel ini diubah menjadi gula alkohol, yang kemudian diubah lagi secara kimiawi menjadi asam asetat.

Kadar asam asetat dalam cuka apel sekitar 5 % dan tergolong jenis asam yang ringan. Menurut pengungkapan centerchem.com, cuka apel setidaknya mengandung asam sitrat, asam gliserin, asam glikolin, asam fumarik, asam fenol, dan masih banyak jenis asam lain. Asam-asam ini dihasilkan oleh pertumbuhan bakteri dalam cuka apel.

Selain itu dalam cuka apel juga terkandung vitamin C yang tinggi, fosfat, magnesium, mangan, dan zink dalam kadar kecil. Dalam cuka apel juga tersimpan unsur flavonoid dan fenol yang relatif tinggi.

Ini menjadikan cuka apel sebagai salah satu cuka dengan manfaat terbaik dibandingkan jenis cuka lainnya. Sejumlah manfaat dari sari apel masih bisa Anda peroleh dari produk fermentasi ini.

Sekilas Mengenai Manfaat Cuka Apel

Kebanyakan dari Anda mungkin sudah beberapa kali mendengar mengenai manfaat dari cuka apel. Banyak klaim yang mengatakan bahwa cuka apel ini juga lebih baik dari jenis-jenis cuka lain yang banyak ditemukan di pasaran.

Tetapi tentu saja bicara soal efek samping cuka apel, tak akan dapat lepas dari ulasan mengenai manfaat dari produk turunan apel ini. Untuk itu kita akan coba ulas secara singkat apa saja sebenarnya manfaat dari cuka apel ini.

1. Sebagai Astringen Anti Bakteri

Dalam riset di tahun 2007 the Food Biotechnology Department in Seville, Spanyol terungkap bahwa dalam komponen asam asetat pada cuka apel terdapat komponen anti bakteri yang sangat kuat.

Selain itu, juga terbukti terapi inflamasi dengan cuka apel akan membantu meredakan peradangan dan membantu mengurangi efek kemerahan dari radang. Membantu melegakan radang yang terbentuk, atau juga kerap dikenal dengan istilah manfaat astringent.

2. Stimulan Regenerasi Sel

Sejenis asam dalam cuka apel dikenal dengan sebutan alfa hidroacid (AHA) dikenal memiliki manfaat menstimulasi sel-sel dalam tubuh untuk melakukan proses regenerasi. Membantu mempercepat pematangan sel baru lebih awal dan membantu mengangkat sel mati lebih efektif.

Komponen mineral dan asam dalam cuka apel dikenal pula membantu memperbaiki kondisi hidrasi tubuh. Membantu mengendalikan sirkulasi dan mendorong oksigen lebih maksimal menuju sel. komponen fungsi yang rupanya akan berperan dalam proses regenerasi sel.

3. Aktivitas Anti0ksidan

Sebagaimana dijelaskan bahwa dalam cuka apel tersimpan komponen fenol dan sejumlah jenis flavonoid, termasuk di antaranya antosianin dan asam askorbat. Khusus yang terakhir adalah jenis anti oksidan turunan dari vitamin C.

Manfaat anti oksidan dalam cuka apel akan membantu meningkatkan kerja liver, mencegah proses oksidasi sel dan proses penuaan dini sel dalam tubuh. Komponen anti oksidan lain bahkan berperan dalam proses penyerapan lipid dan mencegah diabetes, kolesterol tinggi hingga keluhan hipertensi.

Efek Samping Cuka Apel

Meski diketahui memiliki banyak manfaat bagi tubuh, terbukti pula adanya sejumlah efek samping cuka apel yang perlu Anda waspadai. Selain juga sejumlah laporan membuktikan beberapa orang memiliki sensitivitas tinggi terhadap komponen dalam cuka apel.

Sebenarnya, selama Anda menggunakan cuka apel dalam batas wajar, efek samping cuka apel dapat dikendalikan. Menurut sumber healthline.com, setidaknya tubuh Anda masih metoleransi asupan cuka apel hingga maksimal 30 ml per hari.

Baca juga  Manfaat Buah Apel bagi Kesehatan

Itupun bilamana Anda tidak dalam kondisi sakit yang membuat Anda hipersensitif terhadap komponen dalam cuka apel. Upayakan untuk lebih banyak minum karena adanya efek diuretik yang kuat dari cuka apel. Selain air akan membantu meredakan efek korotif dari asam dalam cuka apel. Apa saja efek samping cuka apel yang perlu Anda waspadai?

1. Menunda Pengosongan Pencernaan

Cuka apel memiliki kemampuan menurunkan daya serap tubuh terhadap gula dengan cara memperlambat proses masuknya makanan menuju usus.

Manfaat dari cuka apel untuk memperlambat proses berjalannya makanan menuju usus dijelaskan dalam the European Journal of Clinical Nutrition tahun 1998. Ada dua manfaat dengan melambatnya proses pencernaan ini.

Pertama akan membantu Anda tetap kenyang lebih lama dan membuat Anda makan lebih sedikit. Selain itu, dengan melambatnya pencernaan, tubuh akan semakin sedikit menyerap kandungan gula dalam sari makanan. Karena sebagian gula sudah diproses oleh bakteri baik dalam tubuh, hingga tak diserap oleh tubuh.

Akan tetapi, melambatnya proses pencernaan ini tak lantas bebas efek samping. Karena melambatnya proses pencernaan ini juga bisa menyebabkan proses penyerapan makanan tak bekerja maksimal. Sejumlah nutrisi dalam makanan turut tak terserap baik oleh tubuh.

Dan bagi penderita gastroparesis, hal ini justru akan memperburuk kondisi kesehatan pasien. Pada dasarnya mereka sudah mengalami masalah perlambatan proses pengosongan perut, dan mengonsumsi cuka apel akan memperburuk kondisi tersebut.

Pasien bisa mengalami masalah naiknya asam lambung, kembung, keluhan pada esofagus, mual dan dorongan muntah. Beberapa pasien akan mengalami masalah konstipasi dan nyeri lambung.

2. Memicu Hipoglikemia

Sebagaimana dijelaskan bahwa cuka apel sangat baik membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan daya serap tubuh terhadap gula, maka pada dasarnya cuka apel memang sangat bermanfaat untuk membantu menurunkan kadar gula dalam darah.

Hanya saja, manfaat ini kadang justru menjadi bumerang bagi pasien diabetes yang sudah menjalankan terapi diabetes. Karena terapi cuka apel akan berpadu dengan terapi diabetes yang dijalankan. Pada akhirnya pasien akan memiliki resiko tinggi mengidap hipoglikemia.

Akan lebih baik berhati-hati dalam mengonsumsi cuka apel bila Anda adalah pasien diabetes dan telah menjalankan terapi diabetes medis. Pastikan untuk rutin memeriksa kadar gula darah sehingga dapat menemukan dosis yang tepat untuk disesuaikan.

3. Memicu Gangguan Pencernaan

Kandungan asam dalam cuka apel terbilang cukup tinggi meski dapat dikatakan sebagian dari komponen asam tersebut memiliki kinerja yang lemah. Dan pada pasien dengan kondisi pencernaan yang sudah lemah, asupan makanan dengan kadar asam tinggi dapat menyebabkan iritasi pada lambung dan usus.

Sedikit kontradiktif mengingat cuka apel juga lama diyakini memiliki manfaat membantu meredakan masalah GERD dan acid reflux. Hal tersebut dijelaskan dalam Repository Arizona State University tahun 2016.

Tetapi di sisi lain, komponen asam dalam cuka apel justru memicu reaksi lambung. Dimana lambung akan memproduksi asam lambung berlebihan. Di sisi lain, ketika terjadi iritasi pada area usus dan lambung, justru paparan asam dari cuka apel dapat memperburuk keadaan.

Beberapa pasien juga mengeluhkan efek samping diare dan mual-mual. Selain karena efek samping cuka apel berupa perut yang terasa lebih penuh, pasien dapat pula mengalami diare karena efek tingginya komposisi air dalam usus yang terjadi akibat masuknya makanan berkadar asam tinggi ke dalam usus.

4. Merusak Gigi

Paparan asam dalam kadar tinggi pada gigi dapat menyebabkan keroposnya lapisan gigi terluar. Ini karena email, lapisan terluar gigi sangat sensitif terhadap paparan asam.

Sebagaimana dijelaskan dalam International Dental Journal 2005, makanan asam dapat merusak kepadatan tulang dan gigi. Juga dapat menyebabkan ikatan antara lapisan terluar gigi dengan komponen di dalamnya juga akan melemah.

Baca juga  Tahukah Anda Berbagai Manfaat Cuka Apel?

Dan cuka apel yang notabene mengandung kadar asam asetat tinggi terbukti dapat mengelupas lapisan email gigi. Mengoleskan gigi dengan cairan cuka apel dengan ph 7 dan membiarkannya selama satu jam akan memicu pengelupasan email gigi hingga 20%.

Untuk mengurangi resiko kerusakan gigi, Anda disarankan untuk mengonsumsi cuka apel dengan menggunakan sedotan. Cara ini akan mencegah kontak antara cuka apel dengan gigi.

5. Melukai Tenggorokan

Asam yang tersimpan dalam cuka apel juga tak berbeda dari kebanyakan asam lainnya yang ketika berada dalam jumlah berlebihan dapat menyebabkan efek iritasi. Efek korotif ini semakin memburuk ketika terpapar pada membran lendir yang terdapat pada tenggorokan, mulut dan kerongkongan.

Sehingga bila Anda rutin mengonsumsi cuka apel setiap hari, Anda akan mengalami resiko iritasi pada rongga-rongga yang dilalui oleh cairan tersebut sebelum masuk ke dalam perut.

Anda bisa mengurangi konsentrasi asam dalam cuka apel dengan mencampurkannya bersama air biasa. Tambahan air akan cukup efektif mengurangi efek korotif dari asam.

6. Menyebabkan Hipokalemia

Hipokalemia adalah kondisi ketika tubuh kekurangan potasium. Kondisi ini bisa sangat berbahaya dan memicu sejumlah reaksi tubuh seperti aritmia, sirkulasi darah, masalah metabolisme, konstipasi dan lain sebagainya.

Diduga, mengonsumsi cuka apel berlebihan akan menyebabkan kadar asam dalam tubuh meningkat. Mekanisme alami dalam tubuh akan bekerja otomatis untuk menyeimbangkan kelebihan asam ini dengan melepas sejumlah unsur basa, termasu potasium.

Padahal untuk setiap sel tubuh membutuhkan potasium untuk menjaga kinerjanya. Potasium juga memiliki peran penting pada kepadatan tulang. Dengan lepasnya potasium untuk menetralisir kelebihan asam pada tubuh, maka kadar potasium dalam tubuh akan drop.

Bagian tubuh yang paling banyak mendapatkan imbas dari masalah ini adalah tulang. Anda dapat menemukan pasien yang mengalami pengeroposan tulang karena pengaruh masalah ini.

Menurut healthline.com Anda dengan masalah hipokalemia atau juga diharuskan mengonsumsi obat-obatan yang berpengaruh menurunkan kadar potasium dalam tubuh termasuk digoxin ( terapi jantung ) atau terapi diuretik disarankan untuk tidak mengonsumsi cuka apel.

7. Menimbulkan Iritasi Kulit

Beberapa sumber juga menyarankan Anda untuk menggunakan cuka apel sebagai terapi topikal untuk Anda oleskan pada permukaan kulit. Efek anti bakteri dan astringent di dalamnya dipercaya membantu sejumlah keluhan kulit, termasuk jerawat. Sedang kandungan asamnya akan membantu mengendalikan produksi asam dan meningkatkan kekencangan kulit.

Tetapi banyak pakar dermatologi justru tidak menyarankan Anda menggunakan cuka apel sebagai terapi kulit yang rutin. Efek asamnya yang mencapai di atas ph 7 dianggap terlalu asam untuk dipaparkan pada permukaan kulit.

Asam dalam dosis tinggi dan terpapar pada kulit dapat memicu reaksi luka seperti terbakar. Dapat mendorong terbentuknya inflamasi dan memicu kulit yang kering dan terlalu sensitif.

Bilapun Anda tertarik merawat jerawat dengan cuka apel, gunakan dalam jumlah terbatas dan pada waktu-waktu tertentu saja ketika jerawat memburuk. Hindari penggunaan rutin dengan kadar tinggi dan waktu yang lama.

Itulah sejumlah efek samping cuka apel yang sebaiknya Anda waspadai. Cuka apel dikenal memiliki kandungan bahan alami yang sehat dan bermanfaat bagi tubuh. Tetapi juga menyimpan sejumlah bahaya yang akan mendera Anda bila Anda mengonsumsi atau menggunakannya di luar aturan pakai yang disarankan.

Cindy Wijaya

Cindy sudah menulis beragam artikel kesehatan sejak tahun 2014. Senang meriset serta berbagi tentang berbagai topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Saat ini bekerja sebagai penulis dan editor untuk Deherba.com. Tinggal di “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan.