Menginang: Bermanfaat atau Merugikan?


By Fery Irawan

Jika Anda sedang menginang, ada baiknya untuk menghentikan kebiasaan ini sekarang juga. Jika tidak, sebaiknya Anda tidak mencobanya. Jika ada anggota keluarga, rekan, atau sahabat Anda yang masih menginang, ingatkanlah mereka! Mengapa?

Perkembangan Kebiasaan Menginang di Indonesia!

Menginang tak hanya populer di Papua Nugini ataupun di pulau Jawa saja, beberapa kawasan di Indonesia seperti: Sumatera Utara tepatnya di pegunungan Karo, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, dan Nias juga melakukan kebiasaan menginang atau sering juga disebut menyirih.

Di beberapa wilayah yang disebutkan tadi, seringkali menggunakan kebiasaan menginang dalam merayakan upacara pernikahan. Lain halnya dengan masyarakat di Papua, mereka seringkali melakukan kebiasaan ini layaknya merokok. Maka tak heran jika disana ada stiker yang bertuliskan “Dilarang Makan Pinang” bahkan di Jayapura sendiri ada plang dengan tulisan “Dilarang Meludah Sembarangan”.

Percayakah Anda jika ludah yang dihasilkan oleh orang yang menginang dapat menghancurkan sebuah jembatan? Tentu ini bukan ludah seorang saja, jika 500.000 pejalan kaki yang lewat melakukannya terus menerus, ini dapat mengakibatkan korosi pada jembatan yang terbuat dari 26.500 ton baja. Ya, hal ini dialami oleh jembatan Howrah di Kalkuta—India. Timbul pertanyaan, bagaimana dengan kondisi kesehatan gigi orang yang menginang?

Fakta Kandungan yang Digunakan dalam Menginang!

Untuk dapat mengambil keputusan, ada baiknya untuk memerhatikan fakta berikut yang akan memberikan ulasan tentang menginang—bermanfaat atau merugikan?

Daun Sirih—bagian tanaman merambat yang satu ini memang dikenal bermanfaat sebagai antiseptik yang mampu membunuh bakteri, penghilang rasa nyeri, dan mengurangi pertumbuhan bakteri. Disamping itu semua, kandungan dalam daun sirih dapat menghentikan pendarahan dan mengencangkan gusi dengan cara mengerutkan jaringan sel yang ada.

Namun, jika Anda mengunyahnya setiap hari justru dapat membuat kering rongga mulut sehingga terjadi sariawan. Mengunyah daun sirih saat menginang juga akan menyebabkan papilla lidah mengerut, sehingga dapat mengganggu fungsi lidah dalam mengecap.

Buah Pinang—bahan utama dalam menginang ini dapat merangsang sistem saraf pusat dalam memberikan sensasi menyenangkan dan bersinergi dengan daun sirih dalam menghentikan pendarahan ataupun mengencangkan gusi. Sayangnya, zat yang dapat memberikan efek menyenangkan ini bersifat mencandu.

Selain itu, buah pinang menghasilkan pewarna merah jika berada dalam kondisi basa, seperti pada rongga mulut. Pewarna ini tidak bagus bagi kesehatan gigi Anda dan dapat menyebabkan busuknya gigi ataupun gusi. Parahnya, zat yang ada pada biji pinang dapat menyebabkan tumor.

Kapur Sirih—bahan ini memang dikenal dapat menetralkan asam yang dihasilkan oleh bakteri jika bercampur dengan air. Namun, bukan berarti Anda dapat mengunyahnya untuk membersihkan bakteri yang ada di dalam rongga mulut Anda. Kapur sirih bersifat mengikis sehingga email gigi dapat hilang secara perlahan dan digantikan dengan penumpukan karang gigi yang dapat menyebabkan peradangan pada gigi dan gusi.

Gambir—getah tanaman perdu ini diyakini berkhasiat dalam mengobati diare, sakit perut, radang tenggorokan, dan disentri. Tapi, efek samping yang dirasa sama seperti kapur sirih.

Demikianlah informasi seputar menginang—apakah bermanfaat atau merugikan Anda? Apa keputusan Anda? Pilihan yang dibuat menentukan mutu kehidupan Anda sendiri!

Tentang Penulis 

Fery Irawan

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting dan di-review oleh Fery Irawan seorang editor sekaligus penulis yang antusias dan sadar untuk memberikan informasi kesehatan yang tidak berat sebelah. Aktif menulis beragam artikel kesehatan selama beberapa tahun terakhir. Ia selalu berupaya menyampaikan informasi yang aktual dan terpercaya, sesuai dengan ketentuan dan prinsip jurnalistik yang ada.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}