Kanker Anal

561
kanker anal
Credit: Shutterstock

Diedit:

Kanker anal adalah jenis kanker yang jarang terjadi. Seperti namanya, kanker ini muncul di saluran anal (anus). Saluran anal merupakan tabung pendek di ujung rektum yang adalah jalur tinja untuk keluar dari tubuh.

Meski jarang terjadi dibandingkan jenis kanker lain, tetapi jumlah kasus kanker anal semakin bertambah. Menurut lembaga American Cancer Society, di Amerika Serikat saja ada 8580 kasus baru di tahun 2018, dimana 5620 diantaranya terjadi pada wanita dan 2960 pada pria. Diperkirakan ada 1160 orang yang meninggal akibat kanker ini.

Kesadaran akan penyebab, ciri-ciri, dan pengobatan kanker anal adalah penting untuk mengurangi angka kasus kanker ini, maupun kematian yang diakibatkannya. Artikel ini akan membantu Anda memahami apa saja penyebab kanker anal, ciri-ciri yang perlu diantisipasi, serta pilihan pengobatan yang umumnya tersedia.

Jenis-Jenis Kanker Anal

Terdapat setidaknya dua jenis kanker ini, yaitu karsinoma in situ dan kanker anal invasif. Karsinoma in situ kadang disebut sebagai awal dari kanker anal. Sedangkan kanker anal invasif merupakan jenis yang bisa atau telah menyebar.

Karsinoma In Situ

Adakalanya sel-sel abnormal di lapisan permukaan terdalam dari anus terlihat seperti sel-sel kanker, tetapi sebenarnya belum bertumbuh ke lapisan-lapisan terdalam mana pun. Keadaan ini disebut sebagai karsinoma in situ. Nama lain untuknya adalah penyakit Bowen.

Beberapa dokter menganggap keadaan ini sebagai bentuk paling awal dari kanker anal. Ada juga yang melihatnya sebagai jenis anal intraepitel neoplasia tahap lanjut, yang merupakan kondisi pra kanker, tetapi bukan kanker.

Kanker Anal Invasif

Terdapat beberapa jenis kanker berbeda yang dapat bermula di area anus:

Karsinoma Sel Skuamosa

Banyak dari kasus kanker anal adalah karsinoma sel skuamosa. Tumor-tumornya bermula di sel-sel skuamosa yang melapisi sebagian besar saluran anus dan marjin anus.

Karsinoma sel skuamosa pada saluran anus telah bertumbuh ke luar permukaan dan menuju ke lapisan-lapisan yang lebih dalam (berbeda dengan karsinoma in situ yang hanya ada di sel-sel permukaan).

Karsinoma kloakogenik (juga disebut karsinoma sel basaloid atau transisional) adalah jenis kanker sel skuamosa. Mereka berkembang di zona transisi, yang juga disebut kloaka. Kanker ini tampak sedikit berbeda jika dilihat dengan mikroskop, tetapi mereka berperilaku dan diobati sama seperti jenis karsinoma sel skuamosa lain di saluran anus.

Karsinoma sel skuamosa di marjin anal (kulit perianal) diobati sama seperti karsinoma sel skuamosa di area kulit lain.

Adenokarsinoma

Sebagian kecil kanker anal adalah jenis adenokarsinoma. Kanker ini bermula di sel-sel yang melapisi bagian atas anus dekat rektum. Mereka juga bisa bermula di kelenjar-kelenjar di bawah mukosa anus yang mengeluarkan sekresi ke dalam saluran anus. Kebanyakan adenokarsinoma diobati dengan cara yang sama seperti mengobati karsinoma rektal.

Adenokarsinoma juga dapat bermula di kelenjar-kelenjar apokrin (jenis kelenjar keringat di kulit perianal). Penyakit Paget adalah jenis karsinoma kelenjar apokrin yang menyebar melalui lapisan permukaan kulit. Penyakit Paget dapat menyerang kulit mana pun, tetapi paling sering menyerang kulit di area perianal, vulva, atau payudara. Ini tidak sama dengan penyakit Paget di tulang, yang bukan kanker dan merupakan penyakit berbeda.

Karsinoma Sel Basal

Ini adalah jenis kanker yang bisa berkembang di kulit perianal. Tumor-tumornya jauh lebih umum muncul di kulit yang terkena sinar matahari, misalnya di wajah atau lengan, dan hanya ada sangat sedikit kanker anal yang jenisnya karsinoma sel basal. Mereka sering diobati dengan operasi pengangkatan kanker.

Melanoma

Kanker ini bermula di sel-sel pada kulit atau lapisan anus yang menghasilkan pigmen bernama melanin. Hanya sebagian kecil kanker anal yang merupakan jenis melanoma. Melanoma jauh lebih umum terjadi di kulit pada bagian tubuh lainnya.

Jika melanoma ditemukan di tahap awal perkembangannya (sebelum mereka bertumbuh ke bagian kulit lebih dalam atau menyebar ke kelenjar getah bening), maka bisa diangkat dengan operasi, dan potensi kesembuhannya masih sangat baik.

Tapi karena melanoma anal sulit dideteksi, maka kebanyakan jenis kanker ini baru terdeteksi saat perkembangannya sudah terlanjur jauh. Bila mungkin, seluruh tumor melanoma akan diangkat saat operasi. Jika seluruhnya diangkat, maka penderitanya mungkin akan sembuh. Bila melanoma telah menyebar terlalu jauh sehingga tidak bisa diangkat seluruhnya, maka perawatan lain akan disarankan oleh dokter.

Tumor Gastrointestinal Stromal

Kanker ini jauh lebih umum terjadi di lambung atau usus kecil, tetapi adakalanya dapat bermula di area anus. Jika tumor ini dapat ditemukan di tahap awal, mereka bisa diangkat dengan operasi. Jika sudah menyebar ke luar anus, mereka akan diobati dengan terapi obat.

Informasi mengenai kanker anal di artikel ini akan berfokus pada jenis karsinoma sel skuamosa, yang sampai saat ini adalah jenis kanker anal yang paling umum diderita orang-orang.

Penyebab Kanker Anal

Penyebab kanker anal masih belum ditemukan dan terus diteliti. Meski begitu, para ahli telah menemukan beberapa faktor tertentu yang mungkin bisa memperbesar risiko seseorang untuk terkena kanker ini.

Baca juga:  Obat Kanker Anal Alami Khas Indonesia

Awal Mula Kanker Anal

Pada kanker anal, tumornya terbentuk akibat pertumbuhan abnormal dan tak terkendali dari sel-sel di anus. Anus adalah area paling ujung dari saluran gastrointestinal (pencernaan). Saluran anus terhubung ke rektum di luar tubuh.

Anus dikelilingi oleh otot bernama sfingter. Sfingter mengendalikan proses buang air besar melalui pergerakan kontraksi dan relaksasi. Anus adalah bagian dari saluran anus yang terbuka ke luar.

Saluran anus dilapisi oleh sel-sel skuamosa. Sel-sel ini terlihat seperti sisik ikan jika dilihat melalui mikroskop. Kebanyakan kasus kanker anal berkembang dari sel-sel skuamosa ini. Karena itulah kanker-kanker tersebut dinamakan karsinoma sel skuamosa.

Titik dimana saluran anus bertemu dengan rektum disebut zona transisi (peralihan). Zona transisi mempunyai sel-sel skuamosa dan sel-sel kelenjar. Mereka menghasilkan mukus (lendir) yang membantu tinja, atau feses, melewati anus dengan lancar.

Kebanyakan kanker anal merupakan jenis karsinoma sel skuamosa, tetapi jenis adenokarsinoma juga dapat berkembang dari sel-sel kelenjar di anus.

Faktor Risiko Kanker Anal

Para ahli telah meninjau sejumlah faktor risiko yang ditemukan berkaitan dengan penyebab kanker anal. Faktor-faktor itu meliputi:

Human Papilloma Virus (HPV)

Beberapa jenis HPV berkaitan erat dengan kanker anal. Sekitar 79 persen dari penderita kanker anal terinfeksi HPV 16 atau 18, dan 8 persen dari mereka terinfeksi jenis HPV lainnya.

Berganti-ganti Pasangan Seks

Ini menaikkan risiko untuk terinfeksi HPV, yang pada akhirnya, menaikkan risiko kanker anal.

Seks Anal

Pria dan wanita yang melakukan seks anal memiliki risiko lebih besar untuk mengembangkan kanker anal. Pria yang positif HIV dan pernah melakukan hubungan seks dengan pria lain diperkirakan 90 kali lebih rentan untuk menderita kanker anal, dibandingkan dengan orang lain pada umumnya.

Kanker Lain

Wanita penderita kanker vagina atau serviks, dan pria yang menderita kanker penis mempunyai risiko lebih besar untuk terkena kanker anal. Hal ini juga ada kaitannya dengan infeksi HPV.

Usia

Kanker anal, seperti kebanyakan jenis kanker lain, lebih mungkin terdeteksi pada usia tua.

Sistem Kekebalan yang Melemah

Penderita HIV atau AIDS dan mereka yang sedang menjalani pengobatan imunosupresan setelah transplantasi organ memiliki risiko lebih besar.

Merokok

Para perokok punya risiko jauh lebih tinggi untuk mengidap kanker anal dan jenis kanker lain daripada yang tidak merokok.

Penyakit Lesi Anal yang Jinak

Penyakit iritasi usus atau irritable bowel disease (IBD), wasir, fistula, atau cicatrices diduga berkaitan dengan kanker anal. Peradangan yang disebabkan oleh lesi anal jinak dapat meningkatkan risiko kanker ini.

Ingatlah bahwa beberapa orang yang terkena kanker anal rupanya tidak memiliki faktor-faktor risiko di atas. Sehingga dapat dikatakan bahwa adakalanya penyebab kanker anal tidaklah diketahui secara pasti. Meski begitu, kita semua perlu lebih waspada apabila merasa memiliki faktor-faktor risiko seperti di atas.

Pencegahan Kanker Anal

Karena banyak kasus kanker anal masih tidak jelas apa penyebabnya, maka para ahli menyimpulkan bahwa sampai saat ini belum ada cara mencegah kanker anal yang benar-benar ampuh. Tetapi ada hal-hal yang bisa kita upayakan untuk sebisa mungkin menurunkan risiko kita terkena kanker ini.

Salah satu hal yang memperbesar risiko kita adalah infeksi HPV. Infeksi HPV dapat terjadi selama bertahun-tahun tanpa menimbulkan gejala-gejala apa pun, jadi kita tidak bisa mendeteksinya hanya dari gejala fisik. Bahkan jika seseorang tidak memiliki kutil (atau gejala khas HPV lain), itu bukan jaminan dia tidak terinfeksi HPV dan tidak akan menularkannya ke orang lain.

Vaksin HPV

Tersedia vaksin untuk melindungi kita dari sejumlah infeksi HPV. Vaksin melindungi dari HPV sub-jenis 16 dan 18. Beberapa vaksin juga dapat melindungi dari HPV sub-jenis lainnya, termasuk beberapa jenis yang menyebabkan kutil di anus dan kemaluan.

Vaksin-vaksin hanya bisa digunakan untuk membantu mencegah infeksi HPV—mereka tidak akan mampu menyembuhkan infeksi yang sudah terjadi. Agar lebih ampuh, vaksin harus diberikan sebelum seseorang aktif secara seksual.

Menggunakan Kondom

Kondom mungkin bisa memberi perlindungan terhadap HPV (dan HIV), tetapi tidak bisa sepenuhnya mencegah infeksi. Satu penelitian menunjukkan bahwa jika kondom digunakan dengan benar, maka dapat menurunkan risiko infeksi HPV kemaluan pada wanita—tetapi kondom harus digunakan setiap kali berhubungan seks. Penelitian ini tidak meninjau efek dari penggunaan kondom terhadap infeksi HPV anus.

Kondom tidak sepenuhnya mencegah karena mereka tidak melindungi setiap area tubuh yang dapat terinfeksi HPV. HPV masih bisa ditularkan dari orang lain melalui kontak antar kulit dengan area tubuh yang terinfeksi HPV yang tidak tertutup oleh kondom. Akan tetapi, kondom tetap memberi perlindungan terhadap HPV.

Menggunakan kondom untuk pria juga tampaknya membantu lebih cepat menghilangkan infeksi HPV kemaluan pada pria maupun wanita. Menggunakan kondom juga penting karena mampu melindungi diri dari AIDS dan penyakit menular seksual lainnya yang bisa ditularkan melalui cairan-cairan tubuh.

Baca juga:  5 Ciri-Ciri Kanker Anal yang Paling Mudah Dikenali

Mengatasi HIV

Bagi penderita HIV, sangatlah penting untuk mengonsumsi obat-obatan (dikenal sebagai highly active antiretroviral therapy, atau HAART) untuk membantu mengendalikan infeksi dan mencegahnya berkembang menjadi AIDS. Hal ini menurunkan risiko terjadinya infeksi HPV jangka panjang serta anal intraepitelial neoplasia (sejenis kondisi pra-kanker anal), yang akhirnya membantu mengurangi risiko kanker anal.

Tidak Merokok

Merokok adalah salah satu faktor risiko penyebab kanker anal. Jadi, berhenti merokok akan sangat mengurangi risiko kita untuk mengembangkan kanker anal maupun berbagai jenis kanker lainnya.

Walaupun sampai saat ini belum diketahui cara mencegah kanker anal yang benar-benar ampuh. Tetapi kita semua bisa melakukan hal-hal di atas untuk berupaya meminimalkan risiko kita terkena kanker anal.

Ciri-Ciri Kanker Anal

Kadang, penderita penyakit ini sama sekali mengalami gejala kanker anal apa pun. Tetapi sewaktu muncul, ciri-ciri kanker anal yang pertama terlihat biasanya adalah perdarahan ringan. Awalnya, kebanyakan orang akan menganggapnya sebagai perdarahan akibat wasir.

Oleh karena itu, untuk membedakan mana perdarahan yang disebabkan oleh kanker anal, cobalah perhatikan beberapa tanda-tanda kanker anal berikut:

  • Perdarahan dari rektum
  • Rasa gatal di rektum
  • Benjolan atau massa di lubang anus
  • Rasa nyeri atau ‘penuh’ di area anus
  • Tinja mengecil atau perubahan lain pada BAB
  • Keluar cairan aneh dari anus
  • Kelenjar getah bening membengkak di area anus atau selangkangan

Sering kali, ciri-ciri kanker anal di atas lebih umum disebabkan oleh masalah-masalah lain yang bukan kanker, misalnya karena wasir, fisura dubur, atau kutil di anus. Tetapi jika Anda mengalami gejala-gejala tersebut, sebaiknya segera periksa ke dokter agar penyebabnya cepat ditekan dan ditangani.

Pengobatan Kanker Anal

Dokter akan memutuskan jenis pengobatan kanker anal yang dibutuhkan pasiennya berdasarkan beberapa faktor, antara lain seberapa besar ukuran tumornya, apakah sudah menyebar atau belum, lokasinya, dan kondisi kesehatan pasien. Pilihan pengobatan yang umumnya tersedia adalah operasi, kemoterapi, dan terapi radiasi.

Operasi

Jenis operasi yang akan dijalankan bergantung pada ukuran dan letak dari tumornya.

Reseksi

Dokter bedah akan mengangkat tumor yang masih kecil serta sebagian jaringan di sekitarnya. Operasi ini dapat dilakukan jika bagian otot sfingter di anus belum terkena kanker. Setelah operasi, pasien seharusnya masih bisa BAB.

Reseksi abdominoperineal

Anus, rektum, dan sebagian dari usus akan diangkat, dan akan dilakukan kolostomi. Pada kolostomi, ujung usus dikeluarkan ke permukaan perut. Sebuah kantung diletakkan di atas stoma, atau bagian pembukaannya. Kantung itu untuk mengumpulkan tinja di luar tubuh. Pasien yang menjalani kolostomi tetap bisa hidup normal, berolahraga, dan aktif secara seksual.

Kemoterapi dan Radioterapi

Sebagian besar pasien kemungkinan akan disarankan melakukan kemoterapi, terapi radiasi (radioterapi), atau keduanya.

Terapi radiasi mungkin dikombinasikan dengan kemoterapi untuk menghancurkan sel-sel kanker anal. Pengobatan dapat diberikan secara bersamaan atau bergantian. Metode pengobatan ini akan meningkatkan kemungkinan mempertahankan otot sfingter anal dari pasien. Dengan begitu, tingkat kelangsungan hidup dan pemulihan pasien juga meningkat.

Kemoterapi menggunakan obat-obatan sitotoksik yang mencegah pembelahan sel-sel kanker. Obat tersebut diberikan secara oral atau melalui suntikan.

Radioterapi menggunakan sinar berenergi tinggi untuk menghancurkan sel-sel kanker. Sinar radiasi dapat diberikan secara internal (dari dalam tubuh) maupun secara eksternal (dari luar tubuh).

Efek Samping Radioterapi dan Kemoterapi

Radioterapi dan kemoterapi memiliki efek samping, dan menggabungkan keduanya bisa membuat efek samping tersebut jadi lebih berat. Efek-efek samping tersebut misalnya:

  • Diare atau sembelit
  • Rasa nyeri dan melepuh di sekitar area anus
  • Lebih rentan mengalami infeksi selama pengobatan
  • Kelelahan
  • Hilang selera makan
  • Mual atau muntah
  • Bisul di mulut atau mulut terasa sakit
  • Rambut rontok
  • Penyempitan dan kekeringan di vagina
  • Jumlah sel darah putih rendah, sehingga gampang infeksi
  • Anemia, karena jumlah sel darah merah rendah
  • Jumlah trombosit rendah, sehingga gampang memar atau berdarah
  • Kulit kering
  • Ruam (bintik-bintik merah di kulit)
  • Gangguan otot dan saraf
  • Batuk berlebihan dan kadang susah bernapas
  • Masalah kesuburan

Saat hendak memutuskan jenis pengobatan kanker anal, pastikan untuk mendiskusikan semua pilihan yang ada, termasuk apa tujuan dan efek samping dari pengobatan tersebut. Anda mungkin merasa harus cepat memutuskan, tetapi penting juga untuk memberikan diri Anda waktu untuk menyaring informasi yang sudah diterima. Jangan ragu-ragu bertanya kepada tim dokter yang menangani Anda.

Pengobatan Kanker Anal secara Alami

Sewaktu mempertimbangkan berbagai pilihan pengobatan, Anda mungkin juga menemukan alternatif obat kanker anal yang lebih alami. Memang, biasanya pengobatan alternatif tidak dianggap sanggup menyembuhkan kanker. Namun ingatlah bahwa tidak ada satu jenis pengobatan pun, termasuk secara medis, yang bisa menjamin kesembuhan kanker.

Meski begitu, pengobatan alternatif diperlihatkan mampu membantu mengurangi keparahan dari gejala-gejala kanker serta efek samping dari pengobatan medis. Dokter bisa membantu meminimalkan efek samping dengan obat-obatan, tetapi kadang itu saja tidak cukup, sehingga banyak orang mencari pengobatan tambahan di luar medis.

Sarang Semut Papua

Salah satu obat kanker anal alami yang dapat dipertimbangkan adalah Sarang Semut Papua. Penelitian telah menunjukkan bahwa herbal ini mengandung senyawa aktif bermanfaat seperti flavonoid, tokoferol, polifenol, serta beragam kandungan mineral yang bertindak sebagai anti-oksidan dan anti-kanker.

Hendo Saputro, seorang ahli herbal yang memperkenalkan Sarang Semut sebagai tanaman obat, menyatakan bahwa orang-orang yang menggunakan herbal ini banyak yang memperoleh pemulihan yang benar-benar tuntas.

Kepada Majalah Natural, Ia menyatakan bahwa rata-rata yang meminum rebusan herbal ini memperoleh hasil positif setelah seminggu, bahkan ada yang 3 hari sudah merasakan hasilnya. Mirip seperti itu, para penderita kanker yang mengonsumsi produk ekstrak Sarang Semut juga mengakui bahwa mereka sudah mulai merasakan manfaatnya hanya dalam 1 – 3 bulan saja!

Bahkan banyak dari mereka yang juga menjalani pengobatan medis kemudian mengkombinasikannya dengan kapsul ekstrak Sarang Semut, dan mereka merasakan proses pemulihan kesehatan yang lebih signifikan daripada hanya mengandalkan pengobatan medis.

Itulah sedikit alasan mengapa herbal dapat dipertimbangkan sebagai alternatif alami untuk pengobatan kanker anal. Namun, sekali lagi, sebelum menentukan jenis pengobatan yang akan dijalani, pastikan Anda sudah membicarakannya baik-baik bersama tim dokter maupun keluarga.

Demikianlah artikel ini yang memberikan informasi seputar penyebab, ciri-ciri, dan pilihan pengobatan yang umumnya tersedia untuk kanker anal. Semoga dengan membaca artikel ini, kita semua jadi lebih sadar dengan kesehatan diri maupun keluarga tercinta kita.

Advertisement
Alinesia