• Home
  • Blog
  • Campak
  • Campak: Rubella, Bagaimana Cara Mengobati dan Mencegahnya?

Campak: Rubella, Bagaimana Cara Mengobati dan Mencegahnya?


By Fery Irawan

Apa itu Rubella? Ini adalah penyakit campak yang menyebabkan ruam kulit atau bintik-bintik merah pada sekujur tubuh. Jenis campak ini disebut juga dengan campak jerman. Campak Jerman tidak sama dengan campak biasa, walaupun cirinya hampir sama—yang membedakan adalah jenis virusnya dan infeksi virus tidak separah campak biasa. Virus ini dapat timbul kembali jika tidak diberi vaksin.

Penyebab Rubella

Campak Jerman disebabkan oleh virus yang disebut Rubella dari kelompok Togaviridae. Virus ini juga menular melalui udara dan cairan tubuh, seperti bersin atau batuk. Campak ini sering disebut campak 3 hari, karena ruam yang timbul biasanya datang dan pergi selama 3 hari saja. Penularan penyakit ini tidak hanya dari kontak dengan penderitanya, proses kehamilan dan persalinan juga dapat meningkatkan resiko infeksi virus ini terhadap bayi yang akan lahir.

Gejala Rubella

Munculnya gejala campak jerman berupa ruam berwarna merah terjadi pada minggu ke-2 atau ke-3, namun sebelumnya pasien akan mengalami demam hingga 38.9°C yang disertai dengan gejalanya (pilek, hidung tersumbat, sakit kepala, mata merah, dan nyeri sendi). Namun tidak hanya itu gejalanya, pembesaran kelenjar getah bening (pada dasar tengkorak, leher bagian belakang, dan belakang telinga), setelah itu barulah ruam muncul dan menjalar keseluruh tubuh.

Pengobatan Rubella

Campak jenis ini tidak memerlukan pengobatan yang spesifik, karena dapat hilang dengan sendirinya. Pengobatan hanya diberikan oleh dokter specialis saja. Seringkali pengobatan hanya bersifat meredakan perasaan tidak nyaman saja, dokter sering menganjurkan agar pasien berada di ruangan yang terisolasi dan menjauhi wanita yang sedang hamil, karena dapat memperbesar resiko penularan virus. Obat yang digunakan untuk meredakan nyeri ialah acetaminophen yang diberikan dokter.

Pencegahan Rubella

Virus campak jerman dapat diatasi dengan imunisasi pada saat sang anak masih balita, tepatnya pada usia 12 hingga 15 bulan sejak kelahirannya. Lalu pemberian vaksin untuk kedua kalinya akan berlangsung pada saat mereka mencapai usia 4 dan 6 tahun. Pemberian vaksin juga dapat dilakukan pada saat balita berusia 6 bulan, bila ia harus ikut serta dalam suatu perjalanan.

Jika Anda memiliki penyakit yang berkaitan dengan sistem imun, ingatlah bahwa vaksin tidak direkomendasikan untuk wanita yang sedang hamil atau yang berencana hamil dalam periode 4 minggu kedepan. Beberapa orang yang memiliki alergi terhadap kandungan gelatin, antibiotik neomycin, dan dosis vaksin sebelumnya juga perlu menghindarinya.

Walaupun jarang terjadi, efek samping dari vaksin juga dapat terjadi dengan persentase sebanyak 15% berupa demam, setelah 7 hingga 12 hari sejak vaksinasi. Efek samping lainnya adalah reaksi alergi dan nyeri sendi. Namun hal ini tidak berarti Anda tidak butuh vaksinasi, hal ini tetap perlu dilakukan guna menghindari terjadinya komplikasi dan penyebaran wabah campak Jerman.

Tentang Penulis 

Fery Irawan

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting oleh Fery Irawan seorang editor sekaligus penulis yang antusias dan sadar untuk memberikan informasi kesehatan yang tidak berat sebelah. Aktif menulis beragam artikel kesehatan selama beberapa tahun terakhir. Ia selalu berupaya menyampaikan informasi yang aktual dan terpercaya, sesuai dengan ketentuan dan prinsip jurnalistik yang ada.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}