Sarang Semut Papua vs Bajakah Kalimantan untuk Obat Kanker Alami Anda?

272
Cara Alami Mengobati Kanker
Ilustrasi Obat Herbal (Credit: Fecundap stock / Shutterstock)

Diedit:

Apakah Anda mengikuti pemberitaan tentang tumbuhan Bajakah asal Kalimantan yang diklaim sebagai obat kanker payudara?

Di satu sisi pemberitaan itu dapat bermanfaat karena mendorong pengkajian lebih lanjut supaya khasiat Bajakah diteguhkan dan akhirnya dapat dikonsumsi oleh banyak orang.

Tapi di sisi lain, pemberitaan yang terlalu heboh justru bisa berbahaya karena memicu munculnya oknum-oknum yang berniat memanfaatkannya secara negatif.

Mereka mendompleng klaim bahwa Bajakah adalah obat kanker payudara, kemudian berusaha menjual kayu tanaman yang mereka sebut sebagai “Bajakah” asli. Padahal dalam bahasa aslinya kata “Bajakah” sendiri berarti jenis akar-akaran secara umum dan tidak merujuk kepada satu jenis tanaman tertentu. Kita perlu berhati-hati terhadap kayu “Bajakah” yang mulai banyak dijual terutama di toko-toko online.

Sebenarnya hal ini bisa dihindari jika khasiat Bajakah diberitakan dengan seimbang. Memang tanaman asal hutan Kalimantan Tengah ini punya potensi untuk dijadikan bahan obat kanker. Namun masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk meneguhkan klaimnya sebagai obat kanker payudara.

Agar lebih seimbang dalam menanggapi pemberitaan yang gempar akhir-akhir ini, kita bisa bandingkan Bajakah dengan tanaman yang sudah lebih dulu ditemukan sebagai anti-kanker sejak 2006, yaitu Sarang Semut Papua. Artikel ini telah merangkum empat perbandingan antara Bajakah Kalimantan dan Sarang Semut Papua. Sehingga Anda sebagai pembaca bisa mempunyai pandangan yang seimbang sehubungan penggunaan herbal dalam membantu mengobati kanker.

Sarang Semut Papua atau Bajakah Kalimantan untuk Obat Kanker?
Sarang Semut Papua & Bajakah Kalimantan (Gambar kanan: Repro bidik layar YouTube Kompas TV)

Perbandingan 1: Spesies Tanaman Bajakah Kalimantan

Kepala Badan Litbangkes, dr. Siswanto, DTM, MPH, menjelaskan bahwa dalam bahasa Dayak sebutan “Bajakah” memiliki arti “akar-akaran”. “Bajakah” hanyalah sebutan yang diberikan oleh masyarakat setempat, bukan nama jenis tanaman secara spesifik. Karena itu masih belum diketahui apa jenis atau spesies dari tanaman Bajakah yang memenangi kompetisi di Korea Selatan pada bulan Juli 2019 lalu.

Dr. Siswanto juga menyebutkan bahwa penggunaan tanaman Bajakah masih secara indigenous. Indigenous artinya tanaman itu diproduksi, tumbuh, atau hidup secara alami di wilayah tertentu, yakni hanya di hutan Kalimantan Tengah. Meski sudah lama dipakai oleh penduduk setempat, khususnya suku Dayak, tetapi tumbuhan ini belum diidentifikasikan secara ilmiah dan belum dibudidayakan sehingga persediaannya sangat terbatas.

Salah satu faktor penyebab tumbuhan ini masih sulit diidentifikasi dan dibudidayakan adalah karena lokasi habitatnya. Tumbuhan akar-akaran ini tumbuh pada tanah gambut (lunak dan basah) di pedalaman hutan yang lokasinya rimbun dan tidak banyak cahaya sinar matahari yang masuk.

Bagaimana dengan Sarang Semut Papua?


Meski terdapat lebih dari 70 spesies tanaman Sarang Semut, namun sudah dipastikan dengan jelas melalui penelitian bahwa yang bermanfaat untuk kanker ialah spesies Myrmecodia pendans. Salah satu penelitian ilmiah yang membuktikan kemampuan dari spesies ini dilakukan pada tahun 2015 oleh Janti Sudiono dan rekan-rekannya dari Universitas Trisakti.

Sebenarnya habitat spesies Myrmecodia pendans mirip seperti Bajakah, yaitu di pedalaman hutan Papua dan masih sulit diperoleh karena belum bisa dibudidayakan hingga sekarang. Dan tidak semua hutan di Papua yang ditumbuhi spesies ini.

Tetapi karena telah diidentifikasi dengan jelas dan pengkajian ilmiahnya sudah cukup, maka banyak orang mau berupaya keras untuk mencarinya. Mereka rela menelusuri sampai ke dalam hutan selama berhari-hari. Karena upaya keras mereka, saat ini ada cukup bahan baku Sarang Semut untuk diolah menjadi produk herbal. Meski begitu pemanfaatannya perlu tetap diatur dengan baik supaya tidak terjadi eksploitasi.

Perbandingan 2: Produk Olahan Bajakah Kalimantan

Pengolahan Bajakah untuk dikonsumsi tergolong sangat sederhana. Pertama-tama Bajakah dikeringkan dengan bantuan panas matahari, lalu setelah kering ditumbuk sampai menjadi bubuk. Bubuk Bajakah kemudian direbus dengan air selama 30 menit. Air rebusannya dapat diminum sebagai pengganti air minum setiap hari.

Baca juga:  Akar Bajakah Tunggal Obat Kanker Alami dari Hutan Kalimantan

Metode pengolahan yang sederhana inilah yang sering digunakan oleh masyarakat setempat. Mereka percaya bahwa mengonsumsi rebusan Bajakah mampu menghilangkan tumor pada tubuh. Meski begitu para pakar kesehatan menyarankan agar hal tersebut dibuktikan lebih dulu melalui pengujian dan pengkajian ilmiah yang memadai.

Karena bahan bakunya yang belum jelas spesiesnya dan masih terbatas, Bajakah belum diolah dengan metode yang modern dan sesuai dengan prosedur CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik). Kemungkinan nantinya akan dilakukan metode pengolahan yang lebih modern apabila bahan bakunya sudah teridentifikasi dengan baik dan sudah bisa diperoleh oleh masyarakat luas.

Bagaimana dengan Sarang Semut Papua?


Sebagai tanaman herbal yang lebih dulu ditemukan, Sarang Semut sudah banyak diolah. Memang sampai sekarang masih banyak orang yang mengolah dan mengonsumsinya secara tradisional, yakni dengan cara direbus. Namun kini sudah ada pabrik-pabrik farmasi yang mengolahnya dengan cara modern dan sesuai prosedur CPOTB, yaitu dengan metode ekstraksi.

Metode ekstraksi merupakan cara pengolahan yang sanggup memaksimalkan khasiat dari herbal tersebut. Karena itulah hasil olahannya, yang dalam bentuk ekstrak, memiliki khasiat yang paling tinggi dibandingkan dengan bentuk-bentuk olahan herbal lainnya.

Metode ekstraksi cukup rumit sehingga harus dilakukan oleh pabrik farmasi. Cara pengolahan ini dilakukan dengan menarik keluar zat aktif bermanfaat dari tumbuhan Sarang Semut. Lalu zat aktif itu dikemas dengan baik, biasanya menggunakan kapsul.

Saat ini sudah tersedia produk ekstrak Sarang Semut yang telah terdaftar di BPOM RI. Dengan begitu ada jaminan bahwa produk tersebut aman untuk dikonsumsi karena sudah lulus tes keamanan dan sudah diberikan izin oleh BPOM RI. Salah satu produk ekstrak Sarang Semut telah digunakan secara luas sejak tahun 2012 sampai sekarang.

Perbandingan 3: Bukti Khasiat Bajakah Kalimantan

Seorang dokter dan ahli nutrisi, Dr. dr. Tan Shot Yen, M.hum, menjelaskan bahwa penemuan Bajakah sebagai obat kanker masih perlu dibuktikan lebih lanjut, terutama dari segi kedokteran. Artinya penemuan itu harus dilanjutkan dengan pengujian dan pembuktian yang sesuai aturan ilmiah. Beliau menganjurkan agar klaim khasiat suatu obat atau tanaman jangan hanya dilandaskan atas testimoni dari satu orang saja.

Baca juga:  Akar Bajakah Tunggal Obat Kanker Alami dari Hutan Kalimantan

Satu testimoni yang dimaksud adalah kesaksian dari seorang warga asli suku Dayak yang ibunya berhasil pulih dari kanker payudara stadium 4 setelah mengonsumsi rebusan tumbuhan Bajakah. Meski ada warga suku Dayak lainnya yang juga mengonsumsi Bajakah untuk kanker payudara, namun satu pengalaman inilah yang ramai diberitakan di berbagai media massa.

Yang pasti, sampai saat ini masih sangat sedikit bukti ilmiah maupun empiris (berdasarkan pengalaman) untuk meneguhkan klaim Bajakah sebagai “obat kanker”. Dan bukti empiris yang sudah ada pun hanya terbatas pada jenis kanker payudara. Semoga ke depannya dapat dilakukan lebih banyak pengujian dan pembuktian khasiat Bajakah untuk pengobatan kanker payudara serta kanker-kanker lainnya.


“Testimoni adalah kesaksian yang experience based (berdasarkan pengalaman) . . . yang sangat ringkih [kekuatan buktinya] dan tidak bertanggung jawab untuk dianggap ‘mewakili semua orang lain seperti dia’ . . .  apa yang benar dan baik bagi satu orang, belum tentu benar dan baik juga buat orang lain.”

“Untuk kanker lebih ngeri lagi. Iya kalau itu kanker, bagaimana kalau hanya abses biasa? Dan dalam sejarah kedokteran belum pernah ada yang membuktikan kanker payudara stadium 4 mampu bertahan hingga seperti kesaksian dari keluarga yang ‘minum air rebusan Bajakah’.”

– Dr. dr. Tan Shot Yen, M.hum

Bagaimana dengan Sarang Semut Papua?


Telah dilakukan berbagai pembuktian dan penelitian ilmiah terhadap Sarang Semut. Salah satu yang paling disorot ialah yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa Sarang Semut kaya akan kandungan-kandungan yang punya kemampuan anti-kanker, seperti flavonoid, tanin, dan fitokimia lainnya.

Dari segi bukti empiris, Sarang Semut juga sudah mendapat banyak testimoni dari para penggunanya, bukan satu orang saja. Testimoni itu bukan hanya datang dari pengguna di tempat asalnya, Papua, tapi juga dari seluruh Indonesia. Mereka rata-rata menceritakan bahwa mereka mengalami hasil positif dalam waktu 3 bulan atau kurang setelah mengonsumsi Sarang Semut.

Reaksi positif itu misalnya rasa sakit yang menghilang, bisa kembali berjalan, bisa makan dengan normal, benjolan kanker mengecil, dan masih banyak lagi. Dan testimoni itu diperoleh dari para pengguna yang menderita berbagai macam kanker, bukan hanya satu jenis saja. Yang paling sering dilaporkan yakni kanker payudara, otak, paru-paru, serviks, rahim, kulit, prostat, hati, usus, dan kanker darah (leukemia).

Perbandingan 4: Kandungan Bermanfaat Bajakah Kalimantan

Sebelum dilombakan pada kompetisi di Korea Selatan, Bajakah terlebih dulu diuji di laboratorium Universitas Lambung Mangkurat. Hasil pengujian di laboratorium menunjukkan bahwa di dalamnya ada kandungan-kandungan yang dapat berfungsi sebagai antioksidan sekaligus anti-kanker.

Salah seorang peneliti pada waktu itu, Eko Suhartanto, mengatakan bahwa beberapa kandungan di dalam Bajakah antara lain flavonoid, tanin, dan senyawa fitokimia lainnya. Senyawa fitokimia adalah suatu komponen yang hanya ditemukan pada makanan sumber nabati (tumbuh-tumbuhan) serta bisa membantu mencegah dan mengatasi penyakit.

Sebenarnya kandungan-kandungan tersebut juga dimiliki oleh banyak tumbuhan lain, namun kadarnya berbeda-beda. Kandungan antioksidan Bajakah dilaporkan mencapai ribuan kali lipat lebih banyak daripada yang umumnya dimiliki jenis-jenis tumbuhan lain.

Bisa jadi potensi obat kanker yang dimiliki Bajakah berasal dari limpahnya kandungan antioksidan tersebut. Tentunya kita berharap supaya ada tindak lanjut dari hasil pengujian tahap awal itu sehingga kandungan-kandungan bermanfaat dari Bajakah bisa diidentifikasi dengan lebih jelas.

Bagaimana dengan Sarang Semut Papua?


Seperti telah disebutkan, penelitian oleh Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI menunjukkan bahwa Sarang Semut punya kandungan-kandungan yang bermanfaat sebagai anti-kanker, seperti flavonoid, tanin, dan fitokimia lainnya.

Jadi kandungan-kandungan yang disebutkan dimiliki oleh Bajakah rupanya juga dimiliki oleh Sarang Semut. Namun karena sudah lebih dulu ditemukan, Sarang Semut telah diteliti melalui berbagai pengujian secara ilmiah. Sehingga kandungan-kandungan di dalamnya teridentifikasi dengan lebih jelas.

Contohnya mengenai kandungan flavonoid, pada tahun 2013 dilakukan penelitian oleh Adam Mekonnen Engida dan rekan-rekannya dari National Taiwan University of Science and Technology. Dari hasil pengujian mereka menemukan bahwa aktivitas antioksidan dari ekstrak Sarang Semut dengan nilai IC50 terjadi pada 96.21 ± 9.03 μg/ml dari ekstrak.

Total kandungan flavonoid yang ditemukan yaitu 63.28 ± 1.75 mg QE/g dari ekstrak kering. Diidentifikasi juga ada lima senyawa flavonoid dalam ekstrak Sarang Semut, yaitu kaempferol, luteolin, rutin, quercetin, dan apigenin. Berdasarkan hasil-hasil tersebut, para peneliti kemudian menyimpulkan bahwa tanaman Sarang Semut merupakan sumber potensial untuk mendapatkan kandungan flavonoid.

Kesimpulan tentang Sarang Semut Papua vs Bajakah Kalimantan

Kita pasti senang dengan penemuan tanaman baru yang punya potensi menjadi obat kanker alami. Apalagi tanaman tersebut diberitakan mampu membantu pengobatan penyakit kanker yang sudah mencapai stadium akhir. Akan tetapi kita perlu tetap seimbang menanggapi pemberitaan yang heboh ini. Mengapa? Setidaknya ada empat faktor yang perlu dipikirkan sebelum buru-buru mengklaim Bajakah sebagai obat kanker.

Pertama, spesies tanaman Bajakah sendiri masih belum jelas teridentifikasi. “Bajakah” hanyalah sebutan yang diberikan masyarakat setempat untuk tumbuhan akar-akaran. Kedua, belum tersedia produk olahan yang modern dan sesuai prosedur CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik).

Ketiga, bukti ilmiah maupun empiris (berdasarkan pengalaman) masih sangat terbatas (sajauh ini dari satu orang saja) dan baru berfokus pada satu jenis kanker saja, yaitu kanker payudara. Keempat, kandungan-kandungan bermanfaat yang ada di dalam Bajakah masih perlu diidentifikasi dan diteliti lebih lanjut secara ilmiah.

Sarang Semut Papua Obat Kanker ALami

Bagaimana dengan Sarang Semut? Sebagai tanaman yang lebih dulu ditemukan, Sarang Semut punya sejumlah keunggulan dibandingkan Bajakah. Berbekal identifikasi spesies dan kandungan yang jelas dan memiliki bukti ilmiah maupun empiris yang memadai, Sarang Semut telah digunakan oleh ribuan orang untuk membantu mengatasi masalah kesehatan mereka.

Juga sudah tersedia produk ekstrak Sarang Semut yang terdaftar di BPOM RI sehingga para penggunanya bisa merasa lebih aman untuk mengonsumsinya secara rutin. Semoga nantinya Bajakah juga bisa mengikuti jejak Sarang Semut agar semakin banyak orang bisa mendapat manfaat dari tanaman ini.

Untuk membaca lebih jauh informasi tentang Bajakah silakan kunjungi artikel Akar Bajakah Tunggal Obat Kanker Alami dari Hutan Kalimantan dan untuk membaca lebih jauh tentang Sarang Semut Papua silakan baca artikel Sarang Semut Papua Hancurkan Kanker, Tumor, dan Benjolan Abnormal! 


Sumber Referensi Sarang Semut Papua vs Bajakah Kalimantan:

Dewi, Retia K. Keampuhan Bajakah Mengobati Kanker Dinilai Masih Terlalu Dini. Published: 2019-08-16. URL: https://sains.kompas.com/read/2019/08/16/134451623/keampuhan-bajakah-mengobati-kanker-dinilai-masih-terlalu-dini?page=all. Accessed: 2019-08-20

Setiawan, Angga. Heboh Bajakah Obati Kanker, Sudahkah Pemberitaan Kita Proporsional?. URL: https://sains.kompas.com/read/2019/08/14/100000923/heboh-bajakah-obati-kanker-sudahkah-pemberitaan-kita-proporsional?page=all. Accessed: 2019-08-20

Arnani, Mela. 5 Tanggapan Para Pakar atas Kontroversi Bajakah sebagai Obat Kanker. URL: https://sains.kompas.com/read/2019/08/16/203300823/5-tanggapan-para-pakar-atas-kontroversi-bajakah-sebagai-obat-kanker?page=all. Accessed: 2019-08-20

Anggraini, Ariska P. Pernah Dianggap Tanaman Mistis, seperti Apa Tanaman Bajakah?. URL: https://regional.kompas.com/read/2019/08/13/09075391/pernah-dianggap-tanaman-mistis-seperti-apa-tanaman-bajakah?page=all. Accessed: 2019-08-20

Anggraini, Ariska P. Diklaim Ampuh Sembuhkan Kanker, Apa Kandungan Tanaman Bajakah?. URL: https://lifestyle.kompas.com/read/2019/08/13/115518520/diklaim-ampuh-sembuhkan-kanker-apa-kandungan-tanaman-bajakah?page=all. Accessed: 2019-08-20

Sudiono, Janti, dkk. (2015). The Scientific Base of Myrmecodia pendans as Herbal Remedies. British Journal of Medicine & Medical Research. 8(3): 230-237. DOI: 10.9734/BJMMR/2015/17465

Engida, Adam M, dkk. (2013). Extraction, identification and quantitative HPLC analysis of flavonoids from sarang semut (Myrmecodia pendan). Industrial Crops and Products. 41: 392–396. DOI: 10.1016/j.indcrop.2012.04.043


Advertisement
Alinesia